
Sementara itu di sebuah salon ternama yang ada di dalam sebuah mall besar, Mawar tersentak kaget saat kekasihnya datang menemuinya. "Mas Irel? Kenapa kemari?"
"Lho, kok malah nanya? Biasa, kan, aku datang ke sini tiap Sabtu untuk makan siang sama kamu. Aku kalau Sabtu, kan, libur"
Mawar mendengus kesal dan langsung bergumam di dalam hatinya, tapi aku tidak mengharapkan kamu datang hari ini, Mas.
Irel bekerja sebagai office boy di rumah sakit milik grup Baskoro. Irel pemuda yang baik dan sangat mencintai Mawar. Namun, Mawar yang gila harta mulai merasa muak dengan Irel. Tapi, dia tetap mempertahankan Irel karena kedua orangtua mereka menjodohkan mereka. Mawar sedang mencari waktu yang tepat untuk putus dengan Irel dan menjelaskannya ke kedua orangtua mereka.
"Kok, kalau bengong? Ayo kita makan siang"
"Baiklah" Mawar menyahut dengan malas.
Di dalam ruang kerjanya Galih Baskoro, Alma tengah memandang Galih yang diam seribu bahasa dan Alma melihat pria tampan itu terus menatapnya dengan sorot mata ambigu. Seketika itu juga kesadaran Alma pulih.
Wanita cantik itu mendorong Galih dan di saat ia ingin menampar Galih, Galih menangkap tangannya lalu menghempaskan tangan mungil itu dengan kasar.
Alma sampai mengaduh. Kemudian Galih mencengkeram rahang Alma dan menggeram, "Kau sudah menggigitku, menamparku, dan kau ingin menamparku lagi, hah?!"
Alma mendorong dada Galih sekali lagi sambil berteriak, "Lepaskan aku, brengsek!"
Galih menatap Alma dengan napas menderu. Galih tengah berperang dengan logika, dendam, dan perasaan unik yang menyusup hangat ke sanubarinya. Pria tampan itu kemudian mengambil kunci dari dalam saku celana kainnya, membuka kunci, lalu melangkah pergi meninggalkan Alma begitu saja.
Alma menghunus tatapan tajam ke daun pintu yang terbuka lebar dan kembali berteriak kencang sambil berjongkok, "Dasar brengsek! Aku benci kamu, Galih!!!!!"
__ADS_1
Galih melangkah lebar ke kamarnya dan bergumam, "Seharusnya aku yang berkata seperti Alma Jacob. Aku seribu kali lebih membenci kamu, cih!"
Galih berteriak kencang, "Arrrghhh!!!" Sambil menjambak rambutnya saat dia menyadari karena alasan-alsan yang sudah semakin jelas ia rasakan, saat bersama Alma, dia mengalami turbulensi gairah, lebih dari ketertarikan fisik. Ada sesuatu yang lebih berbahaya dan itu tidak boleh terjadi pada dirinya.
Untuk itulah Galih bergegas masuk ke kamarnya dan langsung meluncur ke kamar mandi. Galih tahu, dia harus mandi di bawah pancuran air dingin untuk memadamkan gairah, meredakan turbulensi, dan mengembalikan akal sehatnya.
Dan sekali lagi karena alasan yang sangat jelas, dia harus menghindari keterlibatan apa pun dengan Alma Jacob. Dia harus melindungi dendam dan hatinya.
Tunggu! Sejak kapan dia memiliki hati?
Selain Papa, perusaahan, profesi dan orang-orang terdekatnya, orang lain tidak penting.
Galih menyalakan pancuran air dingin sebesar mungkin dan membuka celana kainnya.
Galih menyisir kasar rambutnya yang berada di bawah pancuran air dingin dengan erangan frustasi.
Galih kemudian mematikan keran air menarik jubah mandi, memakainya dan membiarkan begitu saja rambutnya yang masih basah. Galih masuk ke dalam lift yang ada di sisi kana pintu masuk kamarnya. Dia turun ke lantai satu sambil berdoa semoga dia segera pulih dari siksaan sensual yang ia alami beberapa menit yang lalu.
Galih melangkah lebar ke ruang makan dan Doni langsung bangkit berdiri, "Ka.....kamu baru bangun?"
"Nggak!" Sahut Galih sambil membuat kopi sendiri.
"Kok, pakai jubah mandi dan rambut kamu masih basah, tuh" Doni memandang penampilan Galih dengan heran.
__ADS_1
"Bukan urusan kamu"
"Oke. Aku akan naik ke atas dan menemui Alma untuk membacakan peraturan yang kamu buat untuk Alma patuhi" Doni memutar badan dengan santai.
Galih tersentak kaget mendengar Doni ingin naik ke atas dan menemui Alma. Bayangan Alma memakai sweater-nya dan Alma tampak sangat seksi, Galih sontak menoleh ke Doni dan berteriak, "Tunggu!"
Doni menghentikan langkahnya, berputar badan dengan perlahan, lalu menghadap ke Galih dan bertanya, "Ada apa?"
"Jangan sekarang!" Galih langsung meletakkan cangkir kopinya dan mengarahkan badannya ke Doni.
Doni sontak menautkan kedua alisnya, "Lho, kamu tadi pagi menyuruhku mengerik cepat peraturan-peraturan yang kamu buat untuk Alma patuhi. Kau bahkan membangunkan aku di jam empat pagi dan sekarang kau bilang jangan sekarang? Kau gila atau masuk sekarang ini, hah?!" Doni mulai menghela napas kesal.
"Telepon butik Ratu. Suruh pemiliknya ke sini untuk membawakan semua model baju ukuran.........." Galih membayangkan badan Alma sebentar kemudian dia kembali berkata, "Ukuran M. Pakaian dalam juga ukuran M dan Cup B, iya, tebakanku pasti benar. Cup B. Juga suruh pemilik butik itu membawa semua model sepatu ukuran, emm, tiga puluh tujuh, juga tas dan aksesoris jangan lupa! Suruh pemilik butik itu memasukkan semua barang yang aku minta ke kamar ganti yang ada di dalam kamarku"
Sebelum Doni sempat menyemburkan protes dan menyemburkan beberapa pertanyaan, Galih melangkah lebar melintasi Doni dan meninggalkan Doni begitu saja.
Doni menutup kembali mulutnya dan setelah menghela napas panjang ia menelepon butik Ratu.
Galih kembali masuk ke dalam ruang kerjanya setelah ia memakai kaos santai dan celana pendek santainya. Galih melihat Alma duduk di tepi sofa. Pria tampan itu kemudian berdiri menjulang di depan Alma dan berkata, "Kembali lah ke kamar! Sebentar lagi ada orang butik yang datang membawakan baju ganti untuk kamu Tunggulah di kamar!"
Sebelum Alma menyemburkan pertanyaan, Galih sudah berbalik badan dan pergi meninggalkan Alma begitu saja.
"Dia orang gila atau apa, sih? Sikapnya berubah-ubah dan dia susah banget ditebak apa maunya" Gumam Alma.
__ADS_1