Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang
Fantasi Indah


__ADS_3

Galih kemudian bertanya ke Doni, "Bagaimana kondisi Papanya Alma?"


"Masih belum sadar dan kata dokter yang menanganinya, Papanya Alma akan terkena stroke saat sadar nanti dan jantungnya pun bermasalah"


"Itulah penyakit yang biasa hinggap di tubuh pria tua kaya raya yang sombong" Sahut Galih.


Doni sontak menyahut, "Berarti kau harus berhati-hati"


"Kenapa aku harus berhati-hati?" Galih sontak menoleh ke Doni.


"Kau kaya raya dan sombong kalau kau tua nanti. bukankah..........."


"Kau menyumpahi aku, ya?!" Galih sontak berteriak kencang.


Doni mengusap telinganya dan langsung menyahut, "Aku tidak menyumpahi kamu. Aku menyuruh kamu berhati-hati. Kau sendiri yang bilang kalau penyakit orang kaya raya dan sombong itu........"


"Aku tidak seperti Papanya Alma dan aku akan menjaga kesehatanku" Sahut Galih dengan cepat sambil mengarahkan pandangannya kembali ke depan.


"Menjaga kesehatan kamu?" Doni secara tidak sadar tertawa mengejek.


Galih kembali menoleh ke Doni, "Kau menertawakan aku?"


Doni melambaikan tangan kirinya dan berkata, "Nggak! Aku cuma heran saja, kok, ada orang berkata akan menjaga kesehatannya tapi setiap hari dia berkencan dengan wanita, kalau nggak gitu dia lembur, dan selalu mengonsumsi minuman beralkohol dan rokok"


"Sial! Kau tadi menertawakan aku berarti. Kau mau aku potong bonus kamu bulan ini, hah?!"


Doni sontak menoleh ke Galih dan berkata dengan wajah mewek, "Jangan, dong. Kasihani lah fakir miskin dan anak terlantar ini, hiks, hiks, hiks"


"Cih! Mana ada fakir miskin dan anak terlantar punya rumah di perumahan mewah dan punya dua mobil mewah" Galih mencebikkan bibirnya.


"Kalau begitu kasihani lah kaum jomblo akut ini, hiks,hiks, hiks"


Galih menghela napas panjang lalu menyandarkan kepalanya ke jok mobil.


Doni kembali mengarahkan pandangannya ke depan kembali karena dia masih mengemudikan mobil dan berkata, "Berarti nggak jadi dipotong bonus, kan?"


"Kalau kau mengantarku sampai ke rumah lebih cepat dari biasanya tanpa ngebut dan kena tilang, maka aku tidak akan memotong bonus kamu"


"Woookkeeyyy!" Sahut Doni sambil menambah tipis-tipis laju kecepatan mobil mewah yang tengah ia kemudikan saat ini.


Dua puluh menit lebih cepat dari biasanya, Doni berhasil membawa Bosnya sampai dengan selamat di rumah. "Sudah sampai" Doni menoleh ke samping dan dia melihat Galih telah turun dan menutup pintu mobil.


"Lho, hei! Kok, sudah turun? Memangnya kamu mau ke mana? Kenapa buru-buru turun?" Tanya Doni sambil melompat turun dari mobil mewahnya Galih.


"Siapkan mobil Van! Aku akan ajak Alma ke kota B" Sahut Galih sambil melangkah santai memasuki rumahnya.

__ADS_1


"Lho, untuk apa pergi ke kota B?"


"Untuk mencari pria yang menabrak Ratna"


"Hah?! Polisi,kan, cuma bilang kalau pria itu..........."


Galih menghentikan langkahnya dan sebelum Galih berbalik badan, Doni langsung menyahut, "Oke! Aku siapkan mobil Van dan semua keperluan kita untuk perjalanan ke kota B. Jangan potong bonusku!"


Galih menghela napas panjang lalu kembali melangkah ke depan dengan perlahan tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Galih menemukan rumahnya sepi. Lalu, ia bertanya ke Pak Gun, "Di mana wanita itu?"


"Nyonya muda naik ke atas setelah membersihkan semua ruangan dan kolam renang"


"Dia sudah makan?"


"Sudah. Nyonya muda masak sendiri tadi"


"Anak manja itu bisa masak?"


"Bisa, Tuan. Masakannya lumayan enak"


"Baiklah. Aku akan naik ke atas" Galih membelokkan badannya ke arah lift dan Pak Gun langsung membungkukkan badannya.


Tidak akan terdengar bunyi, Ting! Galih bergegas keluar dari dalam lift sebelum pintu lift terbuka sempurna. Galih ingin segera melihat Alma.


"Sial! Kenapa aku ingin segera melihat wanita itu? Ada apa denganku?" Galih sontak meraup kasar wajah tampannya dan memperlambat langkahnya.


Galih membuka pelan pintu kamarnya dan menautkan kedua alisnya saat ia tidak menemukan sosok Alma di semua penjuru kamarnya. Galih refleks membuka pintu kamar mandi yang berada di sisi kanannya dan dia juga tidak menemukan Alma di sana. "Apa dia di kamar ganti?"


Galih kemudian melangkah lebar ke ruang


ganti dan bergegas membuka pintu ruang ganti. Galih tertegun dan ketiga terpana kala ia melihat Alma tengah mencoba setelan pakaian dalam yang nyaris tembus pandang, bukan hanya tubuh perempuan itu yang membuat Galih tertegun dan terpana, tetapi sikap percaya diri Alma di depan cermin dan hanya segelintir wanita yang memiliki kepercayaan diri seperti Alma.


Alma menyadari ada seseorang yang tengah memperhatikannya dan wanita cantik itu langsung menoleh ke pintu masuk dan sontak berteriak, "Aaaaaaa!!!!" Sambil meraih jubah mandi untuk menutupi pakaian dalam yang tengah ia coba.


"Kau sempurna memakai pakaian dalam itu tapi lebih sempurna lagi kalau kau tidak memakai apa pun" Galih menyeringai mengejek.


Alma langsung memakai jubah mandi sambil mendelik, "Kenapa kau tidak berbalik badan saat aku teriak tadi, hah?!"


"Kenapa aku harus berbalik badan?"


"Kau.......dasar pria brengsek!" Alma berkacak pinggang dan kembali berkata, "Nah! Mumpung kau ada di sini aku mau nanya"


"Hmm" Sahut Galih singkat tanpa melepaskan pandangannya dari jubah mandi yang dipakai Alma.

__ADS_1


Alma merapatkan jubah mandinya sambil berkata, "Aku sudah mencoba semua pakaian dalam yang kamu belikan untukku. Semuanya pas. Ukurannya sangat pas di badanku. Kenapa kau bisa tahu ukuran pakaian dalamku? Kalau ukuran baju dan sepatu bisa terlihat secara jelas, tapi ukuran pakaian dalam?"


"Aku bisa mengetahui ukurannya dengan hanya sekali pegang" Galih menaikkan kedua alisnya dengan wajah datar.


"Kau........" Wajah Alma memanas saat ia kembali ingat apa yang pernah Galih lakukan padanya.


"Kenapa wajah kamu memerah sampai ke telinga? Kau mau aku mengulanginya lagi?"


"Tidak! Tetap berdiri diam di sana!" Alma langsung berteriak panik.


"Cih! Mulut kamu berkata tidak, tapi tubuh kamu berkata lain"


"Mana ada seperti itu" Alma mendelik ke Galih.


"Aku ada kabar buat kamu. Papa kamu belum sadar tapi adik kamu cocok berada di asrama"


Seketika itu juga kepedihan terpancar di mata Alma.


Melihat kepedihan yang masih terpancar di mata Alma, Galih langsung memutar badan dan memunggunginya. Jantung pria tampan itu berdebar kencang dan perutnya melilit. Galih bergegas berkata, "Kenakan pakaian yang biasa, yang nyaman untuk perjalanan panjang"


Astaga, aku ingin bercinta yang lama dengannya, sama-sama tidak mengenakan sehelai kain pun, dengan dia menyerah pasrah di bawah tubuhku. Batin Galih.


"Kita akan ke mana?" Alma bertanya sambil memakai dress warna cokelat muda dan polos dan berbahan katun dengan kerah berbentuk huruf V.


Hampir tak dapat menguasai diri, Galih mengabaikan pertanyaan itu. Merespons pertanyaannya Alma tidak akan mampu mendinginkan hasratnya. Dia harus menjauhi Alma dan dia harus keluar dari ruang ganti secepatnya.


Galih menyambar tas ranselnya yang selalu ia isi dengan beberapa setel baju, peralatan cukur, peralatan mandi, dan handuk. Karena sering bepergian ke luar kota, maka Galih selalu menyiapkan tas ransel beserta isinya setiap hari entah akan dia bawa atau tidak. Agar setiap kali dia pergi dadakan seperti di hari ini, dia tinggal menyambar tas ranselnya.


Alma langsung mengekor lalu berjalan lambat di belakang Galih, sangat dekat sehingga Galih seperti terkena kejutan listrik yang cukup besar. Getaran-getaran aneh dan unik merambat ujung-ujung saraf paling sensitifnya, mengirimkan denyut hebat ke semua nadi darahnya.


"Kita mau ke mana? Kenapa kau begitu penuh dengan rahasia?"


Alih-alih menjawab pertanyaannya Alma, Galih justru berkata, "Melangkahlah ke depan. Ada yang ketinggalan" Galih menghentikan langkahnya lalu ia bersandar ke tembok untuk memberikan jalan kepada Alma dan saat Alma berjalan melintasinya, Galih langsung memejamkan kedua matanya rapat-rapat.


Alma menoleh sejenak ke Galih dan bergumam lirih, "Dasar orang aneh!"


Galih mengerang pelan saat ia membayangkan dirinya mandi bersama Alma dan Alma memakai pakaian dalam yang tadi Alma coba.


Galih sontak menegakkan badannya dan membeliak kaget saat Doni menepuk bahunya sambil berkata, "Aku sudah siapkan semuanya dan Alma sudah masuk ke dalam lift untuk turun"


Galih melotot kesal ke Doni karena Doni telah membuyarkan fantasi indah di benaknya yang ingin ia nikmati berlama-lama.


"Apa?! Kenapa kau melototin aku saat ini? Apa salahku?" Doni bertanya dengan wajah penuh tanda tanya di depan Galih.


Galih hanya menggeram kesal lalu melangkah lebar meninggalkan Doni.

__ADS_1


__ADS_2