
Setelah bercinta dengan Alma dengan sangat luar biasa dan merasakan nikmatnya membuka segel kesucian, Galih tidak pernah lagi bercinta dengan wanita lain. Galih menjaga cinta dan kesetiaannya selama ia pergi ke luar negeri.
Tiga bulan kemudian, Galih pulang ke kediamannya dengan menggandeng tangan Leon adik tirinya Alma dan Doni mendorong kursi roda. Pak Pramono berdiri di sebelahnya Doni dengan senyum lebar.
Alma menutup mulutnya yang ternganga dengan linangan airmata haru bercampur bahagia. Alma melangkah pelan mendekati kursi roda untuk memeluk papanya sambil berkata, "A.......aku tidak bermimpi, kan?"
Papanya Alma yang sudah membaik kondisinya dan sudah bisa bicara meskipun masih harus duduk di atas kursi roda langsung menyahut, "Tidak, Sayang. Kamu tidak sedang bermimpi"
Alma langsung memeluk papanya dengan tangis bahagia. Lalu, Alma menoleh ke kanan saat ia mendengar suara Leon memanggilnya, "Kak! Kak Alma!"
Alma berjalan cepat dengan lututnya lalu memeluk Leon sebelum Galih sempat mencegah Alma untuk tidak berjalan dengan lutut.
Alma menciumi wajah Leon dan berkata, "Kamu masih ingat sama Kakak! Kita sudah lama nggak ketemu dan kamu masih ingat sama Kakak!"
Leon hanya meringis dan Alma kembali memeluk erat tubuh Leon.
Dion langsung berkata, "Biarkan Papa dan adik kamu beristirahat dulu, Alma. Mereka baru saja kembali dari perjalanan yang cukup panjang"
Alma bangkit berdiri dan langsung menoleh ke ke Doni untuk menganggukkan kepala.
__ADS_1
Alma mencium punggung tangannya Pramono dan berkata, "Pak Pram juga butuh istirahat"
"Iya, Non" Sahut Pramono dengan senyum bahagia.
Setelah semuanya pergi, Alma menoleh ke Galih dan berkata, "Terima kasih"
Galih menarik Alma masuk ke dala. pelukannya dan berkata, "Untuk apa kau berterima kasih? Kau tidak rindu padaku?"
"Rindu. Sangat rindu" Alma menunduk malu
Galih mengangkat dagu Alma dengan kepalan tangan dan berkata dengan senyum menggoda, "Kalau kau sangat merindukan aku, kenapa bukan kata rindu yang pertama kali kau ucapkan? Kenapa justru kata terima kasih?"
Galih mengecup kening Alma lalu berkata, "Aku mencintaimu. Aku akan lakukan apapun asal kau bahagia. Aku akan selalu membuatmu bahagia. Aku tidak akan biarkan kamu menyesali keputusan kamu memberikan segel kesucian kamu ke aku" Galih kemudian membopong Alma lalu berlari melesat ke kamarnya. Dia sudah tidak sabar ingin berduaan saja dengan Alma di dalam kamar.
Galih menggesekkan hidungnya ke hidung Alma, lalu mencium telinga Alma, mengigit telinga itu, menghisapnya dengan penuh kerinduan, lalu menyusurkan bibirnya ke leher Alma. Dia bermain-main cukup lama di leher favoritnya itu.
Galih kemudian menegakkan wajahnya saat ia mendengar Alma mengerang pelan. "Aku barusan memberikan stempel kepemilikan. Kau suka?"
Alma mengangguk pelan dengan rona malu di wajah.
__ADS_1
Galih menatap gemas wajah Alma dan ia memagut bibir Alma. Galih mencium Alma dengan penuh gairah. Karena dia memang sudah memendam cukup lama gairahnya. Di saat Galih siap meledak, Alma menahan dada Galih dan berkata, "Dokter berkata di usia sekarang ini sudah boleh berhubungan badan tapi tetap harus berhati-hati"
Galih menatap Alma dengan penuh tanda tanya, lalu pria tampan itu mengusap pelan perut Alma dan berkata, "Kau hamil?"
Alma menganggukkan kepala dan Galih langsung memekik, "Astaga!" Galih memagut bibir Alma dan memperdalam ciumannya lalu pria tampan itu menarik bibirnya untuk berjaya, "Aku sangat bahagia saat ini, Sayang. Terima kasih kamu mengijinkan aku menjadi seorang Ayah. Terima kasih sayangku" Galih kembali mencium bibir Alma dengan isak tangis bahagia.
Tiga tahun kemudian.............
Galih menarik Alma yang sedang menggendong putranya yang masih berumur tiga tahun ke dekatnya, lengan Alma yang bebas memeluk pinggang suaminya dan putra tampan mereka terimpit rapat-rapat di antara mereka. Jantung Galih terasa begitu penuh dengan kebahagiaan sehingga ia takut akan meledak. Dia tahu makna sesungguhnya dari kekayaan dan kesuksesan itu bukanlah harta berlimpah juga kedudukan yang tinggi. Tapi, dari keluarga kecil yang ia miliki. Melihat Alma dan Lucas dari ujung kepala sampai ke wajah mereka, Galih merasa sangat beruntung. Betapa diberkatinya ia memiliki Alma dan Lucas. Dan sekarang, ada benih kehidupan baru di perut Alma.
Pesta syukuran ulang tahun ketiga putranya dan pembukaan cabang baru perusahaannya menjadi lebih lengkap.
Galih langsung berteriak, "Alma hamil lagi!"
Semua tamu undangan sontak bertepuk tangan dan berteriak, "Selamat untuk kalian berdua!"
Alma mendongak menatap suami tampannya dan sesaat sebelum mereka berkumpul dengan keluarga juga sahabat mereka untuk menerima banyak ucapan selamat, Alma dan Galih saling menatap dengan sorot cinta murni, penuh kasih dan pengertian. "Aku mencintaimu" Kata Galih tidak peduli lagi untuk menyembunyikan emosinya.
"Aku juga mencintaimu........"
__ADS_1
Galih mencium Alma. Ciuman mereka saat itu dengan putra mereka di dalam pelukan menjadi gambar di halaman depan koran nasional dengan tajuk, Keluarga sejati idaman banyak orang.