Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang
Memijat


__ADS_3

Bruk! Galih langsung telungkup di atas kasur di depannya Alma yang tengah duduk bersila di atas kasur.


Alma refleks menarik kedua telapak tangannya dan saat ia melihat punggung telanjang di depannya, Alma sontak berteriak dan menendang Galih sampai pria tampan itu jatuh di atas lantai.


"Arrghhh! Mati aku!" Teriak Galih dan pria tampan itu berpura-pura pingsan.


"Hah?! Mati?!" Mendengar kata mati, Alma langsung melompat turun dari atas ranjang lalu berlari ke depan ranjang untuk mengecek kondisinya Galih.


Alma melihat Galih terbujur kaku di atas lantai.


"Masak cuma aku tendang dari atas kasur dia pingsan? Sial! Apa dia punya penyakit bawaan seperti epilepsi atau penyakit gilanya kambuh?"


Gila, gundulmu! What! Epilepsi?! Kurang ajar bener dia bilang aku kena epilepsi. Awas aja kau! Aku akan kasih pelajaran berharga sebentar lagi.


Alma langsung bersimpuh di samping tubuh Galih yang terbujur kaku lalu ia mengecek nadi di leher Galih. Galih langsung menahan napas.


"Hah?! Kok gak ada tanda-tanda kehidupan?" Alma langsung menempelkan telinga kirinya di dada Galih tepat di saat ada langkah kaki masuk ke kamar


Galih membuka sebelah mata dan memonyongkan bibirnya untuk memberi kode ke Doni agar Doni menyuruh Alma memberinya napas buatan.


Doni menghela napas panjang dan berkata dengan malas, "Cepat beri dia napas buatan!"


Alma menegakkan kepalanya dan menoleh kaget ke Doni, "Hah?!"


"Hmm. Dia kalau kelelahan suka pingsan dan harus diberi napas buatan. Buruan! Dia bisa mati kalau tidak segera diberi na........"


Bruk! Alma langsung menempelkan bibirnya di bibir Galih dan Doni langsung berbalik badan lalu berlari kencang meninggalkan kamarnya Galih.


Saat mendengar pintu ditutup, Galih memeluk erat Alma dan membuka mata.


Alma tersentak kaget dan langsung menarik menarik bibirnya dari bibir Galih lalu meronta sambil berteriak, "Doni! Tolong aku!"


Galih langsung menyahut dengan senyum geli, "Doni sudah keluar dari kamar ini"


Alma terus meronta dan berteriak dengan mata membeliak, "Kau membohongi aku! Kau brengsek, Galih! Lepaskan aku!" Alma lalu menekan dada Galih dengan kedua tangannya karena ia ingin lepas dari pelukannya Galih.


Galih mempererat pelukannya sampai kening Alma menempel ke keningnya dan tersenyum mengejek lalu berkata, "Salah sendiri kenapa kau katakan aku kena epilepsi dan kena penyakit gila"

__ADS_1


Alma menarik wajahnya dan kembali berteriak, "Kau memang gila! Lepaskan aku!" Alma kembali meronta dan terus menekan dada Galih.


"Wah, kau menyukai dadaku, ya? Seksi, kan? Kalau kau ingin menyentuhnya aku akan ijinkan nggak perlu kau tekan terus seperti ini" Galih tersenyum mengejek.


Alma membeliak kaget, "Kau! Dasar kau ........." Alma tidak sanggup melanjutkan kalimatnya saking kesalnya. Lalu, wanita cantik itu menunduk.


Di saat Galih melihat wajah Alma mulai mewek, Galih langsung melepaskan pelukannya dan sambil menaikkan kedua tangannya ke atas kepala, Galih berkata, "Oke, aku lepaskan kamu. Jangan menangis! Aku paling benci melihat wanita menangis. Dasar cengeng!"


Alma menarik kepalanya dari wajah Galih lalu bangun dengan perlahan. Alma bergegas berbalik badan ingin segera meninggalkan Galih. Tapi dia kembali mendengar suara bruk! Alma menoleh ke belakang dan melihat Galih tidur telungkup di atas kasur.


Apalagi yang ia lakukan saat ini? Dasar sableng!


Galih berteriak, "Kenapa diam! Pijat punggungku cepat!"


"Ke......kenapa aku harus melakukannya? Nggak mau!" Alma melangkah maju dan Galih langsung berteriak, "Kau punya hutang sangat banyak padaku! Bukankah kau ingin mencicilnya agar cepat lunas dan pergi dariku selamanya, hah?!"


Alma menghentikan langkahnya dan berbalik badan dengan pelan.


Benar. Aku harus melakukan semua peraturan gila darinya yang sudah aku tandatangani. Salah satunya adalah memijat si gila itu. Oke lah! Aku akan giat melakukan semua peraturan si gila itu agar hutangku cepat lunas dan aku bisa cepat pergi darinya.


Alma kemudian melangkah mendekati ranjang lalu naik ke kasur dan duduk bersila di samping tubuhnya Galih yang telungkup.


"Masak? Apa kau tidak pernah memijat Papa kamu?"


"Tidak pernah" Sahut Alma dengan nada tegas.


"Wah, Papa kamu terlalu memanjakan kamu. Tapi aku bukan Papa kamu. Tak sudi aku memanjakan kamu. Buruan pijat jangan diliatin aja, cih!"


Alma langsung meletakan kedua telapak tangannya di atas punggung telanjangnya Galih.


Seketika itu juga Alma bisa merasakan jantungnya bergemuruh hebat seperti ombak.


Ini aneh. Ini lebih dari sekadar aneh. Kenapa jantungku tiba-tiba bergemuruh seperti ini? Batin Alma.


Kedua tangannya seketika itu juga goyah dan ia menarik napas dalam-dalam, berdoa semoga pria itu ridak bisa merasakan betapa gugupnya dirinya. Berdoa semoga dirinya tidak canggung.


Tidak sulit! Kata Alma kepada dirinya sendiri dengan galak di dalam hatinya.

__ADS_1


Semua orang melakukannya. Bahkan ribuan orang melakukannya setiap hari. Batin Alma untuk menenangkan dirinya sendiri.


Alma tidak bisa menghindari tugas memijat dan menyentuh kulit Galih. Dia tidak mungkin menghindarinya karena dia butuh tambahan uang untuk segera melunasinya dan Galih akan memberikan gaji yang lumayan untuk tugasnya yang ini. Mereka sudah sepakat.


Alma menurunkan kedua tangannya ke kulit putih bersih dan mengilap itu sambil bergumam di dalam hatinya, apakah ia akan membiarkan pria brengsek ini terus melakukan menindasnya sesuka hati, selamanya?


Aku harus rajin belajar dan meraih gelar dokter secepatnya. Jika aku menjadi dokter, aku akan punya uang lebih banyak, gaji yang lebih besar dan dia tidak perlu menyentuh pria brengsek yang bernama Galih Baskoro seperti ini setiap hari.


Alma menekankan pangkal telapak tangannya dalam-dalam ke daging Galih yang lembut dan halus. Lalu, Alma menggerak-gerakkan tangannya. Alma merasa senang karena pria itu memejamkan mata dan ridak bisa melihat wajahnya. Kalau tahu wajah Alma merona malu, pria ini pasti akan menertawakannya habis-habisan.


Kenapa aku harus merona malu? Dia ini pria brengsek yang tidak tahu sopa. santun. Dia ridak pernah mengucapkan terima kasih, maaf, dan tolong. Dasar bar-bar Batin Alma kesal. Kesal kepada dirinya sendiri dan kesal pada Galih Baskoro.


Sementara itu, Doni tengah asyik mengobrol dengan seorang wanita yang baru ia temui di peternakan kuda milik papanya Galih.


"Aku menyukai perkebunan. Hawanya sejuk dan pemandangannya indah. Bahkan semakin indah karena ada kamu, Salma"


Wanita manis dengan rambut dikepang dia itu tersenyum dan berkata, "Aku sudah menikah. Jangan gombalin aku" Wanita manis dengan rambut dikepang dua itu kemudian pergi melenggang santai meninggalkan Doni.


"Aish! Memalukan kau, Don! Bisa-bisanya gombalin wanita yang baru saja kau temui, sial, sial, sial!" Doni langung mengacak-acak rambut cepaknya dengan wajah sangat malu.


Sementara itu, di dalam kamarnya Galih, Alma masih memijat punggung telanjangnya Galih dan saat Alma menggerakkan tangannya turun sampai ke pinggang, tanpa Galih sadari ia mengerang.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Alma dengan gugup.


Galih menggeram alih-alih menjawab iya atau tidak untuk pertanyaan Alma.


"Aku tidak menyakiti kamu, kan? Maaf kalau aku menyakiti kamu"


Galih hanya menggelengkan kepala lalu bergeser sedikit. Handuk yang melilit pinggangnya ikut bergeser dan seketika itu juga Galih merasakan ada yang mendesak di bawah dan dia tidak ingin memusatkan perhatiannya di sana.


Sial! Pijatannya sangat nyaman tapi kenapa aku merasa tersiksa? Batin Galih.


Karena terus mengamati wajah Galih dan masih menunggu jawabannya Galih, tanpa Alma sadari tangannya terus bergerak turun sampai ke pantat Galih dan saat Galih berteriak kaget, "Sial! Jangan kau pegang pantatku!"


Alma tersentak kaget dan alih-alih menarik tangannya dari pantat Galih, Alma justru meremas kuat pantat Galih.


Galih sontak mengerang lalu meluncurkan sumpah serapah saat ia merasakan ada yang semakin mendesak di bawah.

__ADS_1


Arrrghhhhhhh! Kenapa jadi begini?!!!!!!! Galih seketika itu juga mengerang frustasi.


__ADS_2