
Saat Galih memasang sabuk pengaman, Alma berkata, "Aku ada jadwal mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Emm, sebelum pergi apakah aku boleh mengajar dulu?"
"Hmm" Sahut Galih.
Doni menoleh kaget ke Galih, "Hah?! Bukankah kau bilang kalau kita harus segera pergi ke kota......"
"Hmm!!!!" Galih melotot ke Doni dan Doni langsung menoleh ke jok belakang sambil menarik sabuk pengamannya, "Di mana alamat tempat kamu mengajar?"
"Aku sudah share lokasinya ke HP kamu" Sahut Alma.
"Oh, oke" Sahut Doni sambil melakukan mobil Van mewahnya Galih Baskoro.
"Berikan ponsel kamu!" Galih mengantungkan tangan di depan Doni dan Doni langsung meletakan ponselnya di tangan Galih sambil bertanya, "Untuk apa?"
"Aku akan pandu jalan kamu"
"Kan, ada HP holder di dashboard. Kenapa tidak kau pasang saja ponselku di sana"
Galih diam membisu karena dia sudah mulai asyik memainkan ibu jari di atas telepon genggamnya Doni.
Doni langsung berkata, "Yeeaahhh, baiklah! Terserah kamu saja" Lalu, Doni melihat Alma lewat spion dan memasang wajah mewek.
Alma mengulum senyum melihat tingkah konyolnya Doni.
Galih ingin melihat isi pesan text yang dikirimkan oleh Alma.
Oh, isi pesan text yang Alma kirimkan ke Doni hanya pesan text biasa. Aku nggak perlu cemburu..............hah?! What!!!!!!! Ku cemburu?! Untuk apa aku cemburu?! Tanpa sadar Galih menepuk jidatnya lalu meraup wajahnya.
__ADS_1
Mendengar suara orang menepuk jidat cukup keras, Doni melirik dan langsung bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu menepuk jidat kamu keras banget? Kau memikirkan apa?"
Galih memasang telepon genggamnya Doni ke HP holder yang ada di dashboard mobil sambil berkata, "Lain kali kalau mau pakai mobil ini, semprot dulu dengan obat nyamuk"
"Aku sudah melakukannya tadi. Perasaan nggak ada nyamuk. Apa di jok belakang ada nyamuk?" Doni melihat Alma lewat spion.
Alma menggelengkan kepala dan menyahut, 'Nggak ada"
"Tuh, Alma juga bilang nggak ada. Aku sudah bersihkan mobil dan semprotkan obat nyamuk dan tak lupa aku juga memasang minyak wangi lavender anti nyamuk" Sahut Doni.
"Itu karena darah kalian pahit, jadi nyamuknya nggak mau nemplok ke kalian" Sahut Galih dengan santainya sambil menyandarkan kepala ke jok mobil.
"Enak aja!" Sahut Alma dan Doni secara bersamaan.
Doni melihat Alma di spion dan mengulas senyum lebar begitu juga dengan Alma.
Galih melirik Doni dan melirik ke jok belakang lalu berkata, 'Kalau kamu terus melihat jok belakang lewat spion, aku akan potong bonus kamu sekarang juga"
"Aku bukan anak Pramuka jadi aku nggak akan menjadi pandumu" Sahut Galih.
"Ih, kok, garing candaannya, ya?" Sahut Doni dengan senyum lebar dan Alma sontak tertawa ngakak.
Galih sontak menoleh ke jok belakang saat ia mendengar tawa renyahnya Alma dan seketika ia mematung karena ia terpesona melihat tawa Alma. Alma jauh lebih cantik kalau tertawa dan Galih menyukai fakta itu.
Alih-alih menyemburkan protes karena Alma sudah berani menertawakannya, Galih justru mematung takjub dan tertegun melihat tawa cantik itu dan baru kali ini dirinya kembali menyadari bahwa seorang wanita memiliki tawa yang begitu cantik setelah Ratna.
Melihat Galih terus menatapnya, Alma menghapus tawanya lalu mengalihkan pandanganya ke jendela mobil dan Galih tesentak kaget. Seketika itu juga Galih mengalihkan pandanganya ke depan lalu menggeram ke Doni, "Jangan berisik lagi!"
__ADS_1
"Oke. Aku juga butuh konsentrasi untuk menemukan tempat Alma mengajar anak-anak Autis" Sahut Doni sambil sesekali melirik telepon genggamnya untuk mengikuti petunjuk map yang ada di sana.
Setelah menyetir selama satu setengah jam, Doni mematikan mobil,melepas sabuk pengaman dan berkata, "Sudah sampai"
"Terima kasih, Don" Sahut Alma.
Alma kemudian turun dari dalam mobil tanpa mengeluarkan kata-kata untuk Galih dan wanita cantik itu langsung masuk ke dalam bangunan berlantai tiga yang tidak begitu besar tapi juga tidak terlalu kecil.
Doni menepuk pundak Galih, "Aku terima telepon dulu"
Galih menyahut, "Hmm" Lalu, ia mengekor pelan langkah Alma saat Doni masih asyik menerima panggilan telepon.
Alma menyapa sebuah keluarga kecil lalu mengajak keluarga kecil itu ke sebuah taman.
Galih kembali mengekor langkahnya Alma dan duduk di bangku taman dan seolah tersihir melihat sebuah keluarga bermain di taman. Ibu, Ayah, dan anak perempuan mereka.
Kalau anak aku dan Ratna masih hidup, anakku seumuran gadis manis itu. Apakah Anakku laki-laki atau perempuan? Tapi, apakah anakku akan tumbuh sehat dan tidak ada gangguan tumbuh kembang seperti anak gadis itu? Yeaahhh karena Ratna masih sangat muda saat mengandung anakku. Kalau mereka masih hidup, apakah anakku akan tumbuh sempurna? Dan apakah aku akan bisa menjadi Papa dan Suami yang baik untuk Ratna dan anakku kalau mereka masih hidup? Kegelapan mengerikan membanjiri batinnya dan untuk pertama kalinya dia merasa iri pada keluarga itu sekaligus merasa bersyukur karena Ratna dan anaknya sudah bahagia di Surga sana.
Galih kemudian meraup wajah tampannya dan menghela napas panjang, lalu, bagaimana dengan dendamku?
Galih tersentak kaget saat Doni menepuk pundaknya dan berkata, "Lihatlah! Alma sangat telaten melatih dan menerapi anak Autis itu. Padahal kau lihat sendiri, kan, anak itu sangat sulit diatur. Kau pikir sendiri seorang, apa mungkin wanita selembut dan sesabar Alma, mampu menabrak lari Ratna?"
Galih mengamati interaksi Alma dan anak perempuan manis berumur sepuluh tahun yang menderita Autis.
Doni benar. Alma sangat sabar dan telaten menerapi anak itu. Apa mungkin dia tega menabrak lari Ratna?
Seketika itu juga dendam dan kebenciannya pada Alma yang sudah ia pupuk dan kembangkan sejak puluhan tahun silam, dikalahkan dengan kelaparan jasmani yang semakin menggelora dalam dirinya. Dia tidak memikirkan hal lainnya lagi kecuali ciuman panasnya beberapa jam yang lalu. Dia sendiri yakin kalau dia akan mampu menolak pesonanya Alma seperti yang ia lakukan pada teman kencannya yang sebelumnya. Dia tidak akan main hati. Dia tidak akan terusik dan tergoda. Tetapi ketegangan sensual yang sangat kental itu mengejeknya.
__ADS_1
Alma seolah mengundangnya saat ini. Interaksi Alma dengan anak Autis itu, senyum Alma, tawa Alma, kelembutan dan kesabaran Alma menerapi dan mengajari anak Autis itu, membuat Galih merasa diundang. Bahkan dalam dress sederhana dan tidak seksi itu, membuat wanita itu justru tampak semakin menggoda dan Galuh semakin merasa diundang untuk masuk ke dalam rasa kelaparan yang pekat, gelap, dan memohon untuk segera dipuaskan.
Tiba-tiba Galih merasa segala urusan di sekitarnya tidak penting lagi. Karena Alma telah memenuhi benaknya dengan banyak pertanyaan. Tapi hanya satu pertanyaan yang sangat menarik hati Galih untuk ia ketahui jawabannya. Pertanyaan itu adalah bagaimana rasanya kalau dia membenamkan diri dalam-dalam ke dalam tubuhnya.