Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang
Peraturan


__ADS_3

"Kamu ke kota B ingin mencari pria pengemudi mobil lain di jalan protokol tempat mendiang Kak Ratna ditabrak lari, kan?" Tanya Doni untuk mematikan.


"Hmm" Sahut Galih tanpa menoleh ke Doni.


"Lalu, kenapa kau mengajak Alma?"


"Aku tidak ingin dia kabur selama aku pergi ke kota B"


"Selama? Wah, gawat, nih! Emangnya kau mau berapa hari di kota B?"


"Yang namanya mencari orang dan menyelidiki butuh waktu berhari-hari, kan?"


"Sial! Aku cuma bawa baju ganti untuk sehari. Kenapa kamu nggak bilang kalau kita akan lama berada di kota B?"


"Kamu nggak nanya" Sahut Galih dengan masih memusatkan perhatiannya ke Alma dan muridnya Alma.


Doni meraup wajah ganteng lokalnya lalu menghela napas panjang lalu berkata dengan nada sedikit meninggi, "Yeeahhh, terserah kamu"


"Sial! Aku akan rogoh kocek pribadi untuk beli baju, dong"


"Aku akan belikan kalau kamu memilihkan penginapan yang bagus"


"Wah, deal, dong! Soal penginapan aku jagonya. Tenang aja. Tiga kamar, kan?"


Galih sontak menoleh tajam ke Doni.


Doni menautkan kedua alisnya dan sontak menyemburkan, "Apa? Apa salahku?"


"Kau bilang tiga kamar barusan?"


"Iya" Sahut Doni dengan masih menautkan kedua alisnya.


"Itu kesalahan kamu. Aku dan Alma sudah menikah. Jadi, aku dan Alma harus berada di dalam kamar yang sama"


"Oh, dua kamar. Oke!"


Galih melotot ke Doni dan Doni sontak menyemburkan, "Apalagi salahku?"


"Dua rumah bukan dua kamar. Kamu harus berada di rumah yang beda. Untuk aku dan Alma cari penginapan yang luas tapi hanya ada satu kamar"


"Wah, berat nih"


"Kalau kamu nyerah,maka semua biaya kamu di kota B kamu tanggung sendiri"


"Nggak! Aku nggak akan nyerah. Aku sedang cari,nih, penginapan yang seperti itu"


"Bagus" Galih mengacungkan ibu jari di depan Doni dan Doni ingin sekali menggigit ibu jari itu sekuat-kuatnya.


Saat Galih melihat Alma membungkukkan badan ke kedua orangtua gadis manis berumur sepuluh tahun yang menderita Autis itu, Galih langsung bangkit berdiri dan berkata tanpa menoleh ke Doni, "Alma sudah selesai"


"Tapi, Alma bilang ada murid lagi setelah ini"

__ADS_1


"Kenapa dia kasih tahu kamu dan tidak kasih tahu ku?" Galih menoleh ke Doni dengan sorot mata kesal.


"Lho, kok, nanya aku? Tanya Alma sana kenapa dia nggak kasih tahu kamu"


"Yang pekerjaannya asisten di sini siapa?"


"Aku" Doni menunjuk dadanya sendiri


"Lalu, kenapa aku harus nanya sendiri ke Alma?"


Arrghhhhhh! Ingin ku jitak si gunung es ini sekarang juga tapi aku takut dipecat, hiks,hiks,hiks. Doni menjambak rambut cepaknya.


Galih mengangkat dagunya ke arah di mana Alma masih berdiri di tengah taman sebagai kode agar Doni bertanya ke Alma sekarang juga.


"Aku nanya ke Alma, nih?"


"Hmm"


"Soal Alma tidak kasih tahu kamu jadwalnya Alma ke kamu?"


"Hmm"


"Kenapa harus sekarang? Itu nggak penting, kan?"


Galih mendelik kesal dan Doni langsung berkata, "Oke, aku nanya ke Alma sekarang juga. Tunggu di sini!"


Doni melangkah lebar ke tempat Alma berdiri tegak sambil bergumam kesal di dalam hatinya, dasar si gunung es menyebalkan!


"Galih nanya kenapa kamu nggak kasih tahu jadwal mengajar kamu ke dia?"


"Karena kamu adalah asistennya. Jadi, aku pikir aku kasih aja jadwal mengajar aku ke kamu. Kau merekam ucapanku barusan?"


"Iya. Dia nggak akan percaya kalau nggak mendengarnya sendiri"


"Kalau dia tidak percaya sama kamu, kenapa dia nggak nanya sendiri ke aku?"


"Karena aku asistennya" Sahut Doni dengan wajah mewek dan Alma sontak tertawa lepas.


Galih menatap Doni dan Alma dari kejauhan dengan wajah tidak suka.


Doni tersenyum lebar dan berbalik badan untuk memberikan rekaman suara Alma kepada Galih.


Sesampainya Doni di depan Galih, Doni langsung menyentuh layar telepon genggamnya dan terdengarlah suara Alma.


"Kenapa masih menatapku dengan tatapan aneh? Kau sudah dengar sendiri jawabannya Alma, kan?" Ucap Doni sambil memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam saku kemejanya.


"Kenapa dia selalu tertawa di depan kamu?"


Doni langsung berbalik badan dan Galih langsung menahan lengan Doni. Doni menoleh ke Galih untuk berkata, "Apalagi sekarang?"


"Jangan tanyakan ke dia soal ini. Aku akan tanya sendiri nanti"

__ADS_1


"Ah, syukurlah! Tugasku selesai, huffttttt, lega!" Doni bertepuk tangan dengan wajah ceria.


Galih langsung menarik lengan Doni sambil berkata, "Kita ke mobil dan sambil menunggu Alma, kita bikin peraturan baru untuk Alma"


"Aduh! Kok main tarik aja?!" Galih mendelik kaget.


"Masuk ke mobil!" Galih melepaskan tangan Doni dan dia langsung berlari kecil mengitari mobil untuk masuk ke jok penumpang.


Doni menunggu Galih masuk dan duduk dengan nyaman kemudian pria ganteng itu bertanya, "Oke, laptop sudah siap. Apa yang harus aku ketik sekarang ini?"


"Alma ingin membayar utangnya, kan, maka aku akan turuti kemauannya"


"Oke, katakan saja apa yang harus aku ketik"


Galih menyeringai lebar sambil bertepuk tangan lalu berkata, "Menjadi asisten rumah tangga, aku akan gaji dia per bulannya dua juta rupiah, lalu kalau dia mau membantuku mandi setiap hari maka aku akan membayarnya empat juta rupiah per bulan, lalu........."


"Tunggu sebentar! Melakukan pekerjaan rumah tangga itu lebih berat tapi kenapa gajinya lebih sedikit daripada memandikan kamu?"


"Siapa yang bikin peraturan di sini?"


"Kamu"


"Maka diam lah dan jangan banyak protes!"


"Oke, baiklah, terserah kamu saja" Sahut Doni dengan helaan napas panjang.


"Kalau dia mau memberikan ciuman selamat pagi di bibir sebanyak tiga kali, maka aku akan membayarnya sepuluh juta rupiah per bulan dan..........."


"What?!!!!! Peraturan macam apa itu?"


"Peraturan macam Galih Baskoro. Aku yang bikin peraturannya, kan?"


"Kamu ketik sendiri saja! Hati nuraniku tidak........"


"Kau lebih mementingkan hati nurani apa gaji kamu?"


"Maksudnya?"


"Kalau kamu tidak mau melanjutkan mengetik, maka aku tidak akan menggaji kamu bulan ini"


"Sial! Oke, baiklah! Katakan aku harus ketik apalagi sekarang!" Galih mendengus kesal.


"Kalau dia mau joging denganku setiap pagi, maka aku akan kasih dia lima juta rupiah per bulan. Lalu, emm, apalagi, ya? Kalau dia mau memijat aku tiap malam, maka aku akan kasih dia sepuluh juta rupiah per bulan"


"Wah, kalau seperti ini aku aja yang melakukannya. Gaji Alma per bulan lebih besar dariku. Aku saja yang melakukannya. Aku juga mau mencium kamu sebanyak tiga kali tiap pagi, gak masalah. Kan, hanya daging ketemu daging dan........"


"Kau mau aku pecat sekarang juga! Cih! Siapa yang mau kau cium setiap hari, hah?!"


"Nggak! Aku berubah pikiran. Aku akan tetap menjadi asisten kamu saja, hehehehe. Seumur hidup penuh kesetiaan dan pengorbanan, hehehehehe"


"Dasar gila!" Sahut Galih dengan tampang kesal.

__ADS_1


Hei! Elo yang gila, tahu! Batin Doni dengan wajah meringis.


__ADS_2