Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang
Tunggu!


__ADS_3

Galih langsung masuk ke dalam mobil dan memilih duduk di samping Doni.


Alma masuk sendiri ke jok belakang sambil bergumam, dia suami macam apa? Setelah menikah tidak menemani istrinya duduk di jok belakang dan bahkan tidak membukakan pintu untuk istrinya. Sial! Aku akan hidup selamanya dengan pria aneh itu. Batin Alma sambil menyandarkan kepala ke jok lalu wanita cantik itu menghela napas panjang.


Di sepanjang perjalanan keheningan menguasai Galih, Doni, dan Alma. Saat Doni ingin menghidupkan tape mobil, Galih menepis tangan Doni dan melotot.


Doni menarik kembali tangannya sambil.menghela napas panjang dan keheningan tetap menguasai mereka.


Beberapa jam kemudian, Doni memarkirkan mobil mewah milik Galih di parkiran bawah tanah gedung pencakar langit yang sangat besar.


Galih langsung menoleh ke belakang untuk berkata, "Keluarlah dulu! Ada yang ingin aku bicarakan dengan Doni"


Alma tersenyum canggung lalu ia membuka pintu mobil lalu keluar dengan hati-hati. Setelah ia menutup pintu mobil mewah itu dengan pelan, Alma menyandarkan punggungnya di badan mobil.


Galih langsung menatap Doni dan berkata, "Dia belum mengenali aku. Jadi, bawa dia masuk setelah tiga puluh menit aku masuk"

__ADS_1


"Oke" Sahur Doni.


Galih kemudian melangkah keluar dari mobil, menutup pintu mobil tanpa menoleh ke Alma, lalu ia berjalan begitu saja meninggalkan Alma dan tanpa mengajak Alma.


Saat Alma ingin mengekor pengacara aneh yang sudah sah menjadi suaminya di beberapa jam yang lalu, Doni mencegah, "Jangan ikuti dia!"


Alma menoleh kaget ke Doni, "Kenapa?"


"Tunggu setengah jam lagi. Dia, emm, Bosku ingin mempersiapkan diri terlebih dahulu. Kita tunggu di sini selama tiga puluh menit barulah kita masuk menyusul Bosku" Ujar Doni sembari berjalan pelan memutari mobil.


Alma.kembali menyandarkan punggungnya di badan mobil dan tersenyum ke Doni.


"Tidak. Papaku juga perokok" Sahut Alma.


Doni tersenyum lalu menyulut rokok dengan pemantik korek api bergambar tengkorak.

__ADS_1


"Aku suka pemantik kamu" Ujar Alma sambil bersedekap.


Doni menoleh ke Alma sambil menghisap rokoknya lalu pria ganteng itu tersenyum dan berkata, "Ini milik Bosku. Limited edition. Hanya lima orang di Asia yang punya pemantik ini dan salah satunya adalah Bosku"


"Wah, Bos kamu sangat kaya, ya. Lebih kaya mana dia dan pimpinan grup Baskoro?"


Doni terbatuk-batuk karena ia tidak bisa.menjawab pertanyannya Alma saat ini karena pengacara yang ditemui Alma sebenarnya juga merupakan pimpinan grup Baskoro.


Kenapa dia bisa pangling sama Galih? Padahal dia dulu mengejar-ngejar Galih? Apa karena Galih punya jambang sekarang atau karena Galih lebih tirus wajahnya? Batin Doni.


Alma langsung mengibaskan tangan dan berkata, "Jangan dijawab kalau kamu tidak ingin menjawabnya, hehehehe. Bagaimana pun juga aku paham kalau seorang asisten pribadi seperti kamu pasti akan lebih membela bosnya dan akan mengatakan kalau bosnya yang paling hebat dan kaya"


Doni meringis lalu kembali berkata di dalam hatinya, pengacara yang kamu temui adalah pimpinan grup Baskoro juga, Alma. Aku harap kau tidak jatuh pingsan saat kau tahu kebenarannya nanti.


Doni lalu melangkah agak jauh dari Alma lalu pria ganteng itu duduk jongkok sambil menikmati rokok beraroma kony kesukaannya.

__ADS_1


Doni merokok untuk melepas.keresahan hatinya. Sebagai temannya Alma dia merasa tidak tega jika nanti ia melihat Alma diperlakukan dengan sangat kejam. Karena Galih Baskoro masih menyimpan dendam membara pada Alma Jacob. Namun, Doni tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan Alma karena dia butuh pekerjaannya dan dia sangat menyukai pekerjaannya.


Sementara itu Alma tengah bertanya-tanya sendiri di benaknya, pimpinan grup Baskoro itu seperti apa. Apakah dia tua, botak, dan berwajah menyeramkan seperti gangster yang pernah dia lihat di film-film Jepang. "Ya, pimpinan grup Baskoro pasti orang yang seperti itu. Tua, pendek, gemuk, botak, dan wajahnya menyebalkan" Gumam Alma kemudian sambil manggut-manggut untuk membenarkan benaknya.


__ADS_2