
Dengan menundukkan wajah, Alma membuka kancing dress yang paling atas dan tersentak kaget saat Galih tiba-tiba berteriak, "Hei! Kau mau apa?!"
Dia emang pria gila yang tampan tapi sangat menyebalkan. Batin Alma dengan helaan napas panjang.
Alma.lalu menegakkan kepalanya dan menyemburkan kekesalannya, "Mau mencoba baju harus lepas baju yang aku pakai dulu, kan?! Emangnya aku mau apa?!" Alma masih berkata dengan nada halus dan berusaha bersabar.
"Cih! Kau pede sekali Miss Jacob!" Galih memandang Alma dengan jijik dan hina.
Alma sontak tersinggung dan sambil mendelik kesal, wanita cantik itu menyipitkan matanya lalu berkata, "Apa maksud kamu?"
"Siapa yang mau melihat tubuh kurus kerempeng dan jelek kamu itu, cih! Pede benar kau lepas kancing baju kamu di depan aku, cih!" Galih menyeringai mengejek.
Padahal saat Alma membuka kancing baju paling atas, jantung Galih mulai berdebar kencang.
"Kalau tidak mau melihatnya kenapa kamu masih di sini dan tidak keluar!" Alma berteriak kencang. Kesabarannya sudah habis sekarang ini.
"Ada toilet di sana. Kenapa kau tidak ganti baju di toilet sana. Lalu, kau balik ke sini untuk kasih lihat ke aku bajunya cocok nggak kamu pakai. Oh, atau kau memang sengaja ingin lepas baju di depan aku dan memamerkan tubuh jelek kamu itu di depanku? Oke, aku nggak keberatan, tapi maaf kau bukan tipeku Miss Jacob!" Galih terkekeh mengejek dan Alma langsung berbalik badan lalu berlari kencang ke toilet sambil berteriak, "Dasar brengsek!"
Begitu Alma masuk ke toilet dan menutup pintu toilet dengan sangat keras, Galih menghela napas panjang, memegang dadanya dan bergumam, "Gila! Kenapa jantungku berdebar sekencang ini? Lalu, kenapa aku berkeringat padahal AC di ruangan ini cukup dingin sedari tadi. Sial! Alma Jacob sudah membuatku gila"
Alma memandangi gaun yang tadi dia sambar masuk ke dalam toilet. "Kenapa ada gaun seksi ini? Kalau aku pakai gaun ini aku tidak perlu memakai pakaian dalam. Tapi perasaan aku tidak memilih gaun ini tadi" Alma kemudian menyeringai lebar kemudian ia bergumam kembali, "Oke, aku akan pakai ini di depan pria brengsek yang sudah menghina tubuhku. Kita lihat apakah dia akan tetap mengatakan tubuhku kurus kerempeng dan jelek"
Setelah memakai gaun seksi itu. Kemudian Alma keluar dari dalam toilet dengan langkah gemulai dan Galih sontak menegakkan badannya.
Sial! Baju apa yang dia pakai? Kenapa seksi banget dan dadanya tampak indah pada tempatnya. Galih refleks meraup wajah tampannya.
Alma menegakkan tubuhnya di depan Galih dan mata Galih refleks melihat kaki Alma yang telanjang. Galih mengagumi sepasang kaki yang indah, benar-benar indah, panjang, padat dan ramping.
Sial! Rutuk Galih sambil mengusap mulut dengan tangannya. Lama-lama dia bisa gila melihat Alma seperti ini.
"Bagaimana? Apa kau masih akan menghina tubuhku?"
Galih menghembuskan napas berat, lalu berkata, "Aku akan memberikan penilaian kalau rambut kamu digerai lepas"
Alma menghunjamkan tatapan maut ke Galih sambil melepas ikatan di rambutnya.
Galih sontak menahan napasnya saat ia melihat rambut panjang hitam Alma yang sangat indah tergerai di pundak dan tampak berkilauan. Rambut itu sebagian jatuh di atas dada Alma dan sebagian jatuh tepat di atas pantat Alma yang padat.
Galih seketika merasa sesak napas melihat kesempurnaan penampilan Alma di depannya. Pria tampan itu kemudian berdiri semakin tegak untuk mengambil napas secara sembunyi-sembunyi lalu berdeham pelan.
"Bagaimana?" Alma bertanya sambil menaikkan alisnya.
Galih langsung berkata, "Oke, lumayan. Sekarang pilihlah busana selanjutnya yang lebih tertutup untuk dipakai sehari-hari. Aku lihat kau mengambil celana jins dan beberapa atasan, kan. Cobalah!"
"Hanya lumayan kau bilang?" Alma mulai mengerucutkan bibirnya.
"Hmm" Sahut Galih dengan wajah datar padahal jantung Galih berdebar sangat kencang saat ini.
Alma menyipitkan mata, mendengus kesal, lalu menyambar jins dan satu atasan yang tadi dia pilih. Alma kemudian berbalik badan dengan gerakan seksi menggoda yang membuat Galih ingin berlari lalu memeluk Alma dari arah belakang saat ini juga. Namun, Galih masih bisa menahan diri dengan cara meremas pahanya sendiri.
Saat Alma menutup pintu toilet cukup keras karena kesal diperintah terus oleh Gailh dan
kesal karena pria brengsek itu hanya memberikan penilaian lumayan atas penampilannya.
"Sial!" Galih langsung menyandarkan kepalanya di sofa. "Dia sangat sempurna Ternyata. Sejak kapan Alma Jacob tampak sempurna di mataku? Wah, otakku mulai kacau, nih, dan .........."
"Bagaimana?"
__ADS_1
Galih menghentikan gumamannya dan langsung menegakkan badan untuk melihat penampilan Alma. Galih spontan membeliak kaget lalu berdeham untuk mengusir fantasi liar yang tiba-tiba menyusup masuk ke dalam benaknya.
Astaga! Dengan penampilan jins dan atasan sehari-hari dia tampak imut. Sial! Aku harus akhiri acara mencoba baju sekarang juga kalau tidak, aku bisa mimisan dan pingsan karena sesak napas. Batin Galih sambil bangkit berdiri.
"Bagaimana? Hei! Kenapa kau malah berbalik badan?!" Tanya Alma dengan meninggalkan nada suaranya karena Galih belum memberikan penilaian dan pria brengsek itu malah berbalik badan dan melangkah ke pintu
Galih membuka kunci pintu samb berkata, "Bawa semuanya ke kasir. Aku suka semuanya"
"Kenapa harus aku yang bawa?! Bantuin, dong, ini banyak banget!" Alma Memekik kesal.
"Aku yang bayar semua baju itu, maka kau yang bawa" Sahut Galih sambil terus melangkah keluar dari ruangan itu.
Alma mendengus kesal dan kembali berteriak, "Dasar patung arca nggak peka!"
"Menyebalkan sekali, dia" Gumam Alma sambil meraup semua baju ke dalam dekapannya dan mendengus kesal saat ia melihat ada beberapa baju merosot turun dari dekapannya.
Tiba-tiba muncul seorang pramuniaga dengan membawa troli belanja. Pramuniaga toko itu langsung tersenyum dan berkata, "Masukkan semua baju ke dalam troli ini, Nyonya Galih Baskoro, saya akan antarkan Anda ke kasir"
"Ah, iya, Mbak, terima kasih banyak" Sahut Alma dengan senyum lega.
Alma bertemu dengan Doni di kasir dan langsung bertanya, "Di mana Bos kamu?"
"Sudah masuk ke mobil. Dia lelah katanya"
"Lelah? Dari tadi hanya duduk melihatku, kok, bisa lelah?"
"Yeaahhhh, begitu lah dia" Sahut Doni dengan senyum lebar.
Beberapa jam kemudian Galih menoleh kaget ke Doni dan bertanya,"Ini........peternakan kuda milik Papaku? Kenapa kau bawa kita ke sini?"
"Bukankah tempat ini cocok untuk kamu dan Alma. Ada di tengah pegunungan, pemandangannya hijau alami, udaranya dingin dan segar. Cocok pengantin baru. Kamar di vila cuma ada satu dan aku akan menginap di pondok kecil yang berada di sana. Cukup jauh dari vila pondok kecil itu, jadi aku tidak akan mengganggu kamu"
"Sudah aku suruh bersihkan dari cicak. Aman" Sahut Doni.
Galih menepuk pundak Doni dan berkata, "Bagus! Aku akan transfer bonus ke kamu setelah kamu menemui Alma dan memberitahukan Alma peraturan yang aku buat tadi. Aku akan naik Paddy, dulu. Sudah lama aku belum pernah naik Paddy sejak aku memilikinya"
Paddy adalah nama yang diberikan oleh Galih ke kuda cantik yang ia miliki belum lama ini. Kuda betina berwarna putih bersih itu hadiah dari salah satu kliennya saat ia berhasil membuat kliennya itu memenangkan kasus perebutan tanah.
"Oke" Doni menyeringai lebar mendengar kata bonus.
Doni kemudian membuka pintu jok belakang dan berkata tanpa menyentuh Alma, "Alma, bangunlah! Kita sudah sampai"
Alma membeliak kaget, bergegas menegakkan kepala lalu memutar kepalanya untuk melihat keadaan di sekitarnya. "Indah sekali tempat ini" Pekik Alma kemudian.
Doni melangkah mundur dan membuka lebar-lebar pintu mobil saat ia melihat Alma ingin melangkah turun.
Alma kemudian melangkah ke depan dengan tatapan takjub dan Doni menutup pintu mobil secara perlahan lalu ia melangkah pelan mengekor Alma.
Alma memang sangat menyukai suasana pegunungan. Dia juga sangat menyukai warna hijau alami alih-alih bunga. Alma alergi serbuk sari seperti mendiang mamanya. Untuk itulah Alma membenci bunga. Bukan karena keindahan dan wanginya tapi karena ia alergi serbuk sari.
"Sebelum kamu berkeliling untuk menikmati pemandangan dan hawa sejuk di sekitar sini, kita masuk ke dalam bila dulu. Ada beberapa peraturan dari Galih yang harus kamu baca dan tandatangani"
Alma menoleh ke Doni dan dengan senyum cantiknya, ia berkata, "Baiklah"
Beberapa menit setelah mengatakan, baiklah, Alma berteriak kencang, "Peraturan macam apa itu?!"
"Sayangnya kamu tidak bisa menolak semua peraturan ini"
__ADS_1
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena kamu sudah membubuhkan tandatangan kamu di atas meterai"
Alma menatap nanar bagian paling bawah kertas yang ada di depannya. "Sial! Jadi kertas putih polos yang aku tandatangani kemarin sekarang dibubuhi peraturan-peraturan gila ini?!" Alma mendelik kaget dan Doni langsung mengulas senyum sambil menganggu-anggukkan kepalanya.
Alma hanya bisa menyandarkan tubuhnya dengan lemas di sofa.
"Oke, aku akan simpan semua berkas ini lalu aku akan mengambil semua barang belanjaan kita" Ucap Doni sambil bangkit berdiri.
"Ayo aku bantu. Barang belanjaan kita cukup banyak" Sahut Alma.
"Oke, dengan senang hati dan terima kasih" Sahut Doni sambil tersenyum ke Alma.
"Di mana patung arca yang bernama Galih Baskoro sekarang ini?"
"Hahahahaha, patung arca?"
"Iya, dia nggak punya ekspresi dan wajahnya selalu mengerikan. Garang dan dingin kayak patung arca"
"Hahahahaha, kalau aku kasih dia julukan gunung es karena selalu dingin"
"Hahahahaha, boleh juga julukan itu. Sekarang di mana dia?"
"Dia berkuda"
"Dia bisa berkuda?"
"Bisa. Dia bisa olahraga apapun"
"Aku juga bisa berkuda. Tapi aku tidak bisa berenang"
"Kenapa tidak bisa berenang?"
"Karena aku sebenarnya punya adik kandung dan adik kandungku meninggal tenggelam di kolam renang waktu dia masih berumur lima tahun dan aku berumur sepuluh tahun. Sejak itu aku takut mendekati kolam renang dan mendekati air yang banyak dan luas seperti di pantai atau laut"
"Oh, aku ikut prihatin mendengarnya"
"Terima kasih, Don"
Beberapa menit kemudian, Doni meletakan semua paper bag ke dalam kamar juga meletakkan tas kerjanya Galih. "Ada laptopnya. Tolong jangan sentuh tas kerjanya!"
"Ah, baiklah! Lalu, paper bag ini punya siapa?"
Alma menunjuk dua paper bag besar berisi kotak berwarna merah.
"Punya Galih"
"Oh, iya, benar. Dia beli lingerie untuk........."
Doni langsung memutus kalimatnya Alma saat telepon genggamnya berdering kencang, "Maaf, aku tinggal sebentar menerima telepon. Kau bisa beristirahat sebentar"
"Baiklah" Alma tersenyum ke Doni.
Mendengar kata laptop, Alma tergoda untuk mengambil, membuka, dan mencaritahu tentang perusahaan papanya. Kenapa perasaan papanya bisa jatuh di tangan Galih Baskoro.
Namun, Alma justru tertegun melihat video yang tampak sebagai ia klik. Video masa kecilnya Galih Baskoro. "Dia gemuk pas umur lima tahun. Dia lucu dan menggemaskan. Dia memang tampan sejak kecil. Hahahahahaha! Dia takut sama cicak! Hahahahahaha! Dia juga takut sama ayam! Lucu banget si gemuk itu berlari dari kejaran temannya yang membawa cicak karet dan menangis saat dikejar Ayam. Hahahahahaha! Lucu banget!!!!! Astaga perutku sampai sakit ketawa terus, hahahahaha! Lucu banget!!!!!!"
__ADS_1
"Lancang sekali kau membuka laptopku!" Galih berucap sembari mengangkat laptop tipis dari atas meja lalu menutup laptop itu dan setelah memasukkan laptop itu ke dalam tas kerja, Galih menghunus tatapan tajam ke Alma.