
"Aku telah mengambil harta kamu yang paling berharga?" Alma bertanya dengan wajah kebingungan.
Galih menganggukkan kepala dan mengulas seringai mengerikan di wajah tampannya.
"Hei! Aku baru sekali ini masuk ke rumah kamu dan semalam aku dibawa ke sini dalam keadaan tidak sadarkan diri. Bagaimana mungkin aku mengambil harta kamu yang paling berharga?"
Galih diam membisu, namun dia menghunus tatapan mematikan ke Alma.
"Aku juga baru bertemu dengan kamu kemarin. Apa maksud kamu dengan mengambil harta berharga kamu? Lalu, la.......lalu......pem......pembunuh? Aku seorang pembunuh?" Alma menepuk dadanya dan menatap Galih dengan wajah polos tak berdosa. "Apa maksud kamu?"
"Kau ingat tabrak lari di jalan protokol Arjuna empat. Seorang gadis ditabrak dan dibiarkan begitu saja sampai mati. Semua saksi mata saat itu mengatakan kalau seorang gadis cantik turun dari mobil sedan mewah dan itu kau! Kau! Kau sudah menabrak Ratna kekasihku dan calon anakku yang Ratna kandung saat itu lalu kau lari, dasar pengecut! Dan lebih parahnya lagi kau gunakan uang Ayah kamu untuk membebaskan kamu dari hukuman"
Alma tersentak kaget dan sontak mundur tiga langkah ke belakang dengan gontai sambil terus menatap nanar pria tampan di depannya.
Melihat reaksinya Alma, Galih tertawa mengejek dan sambil mengusap kasar airmata yang membasahi pipinya tanpa ia sadari, Galih berkata, "Ingat kau sekarang?"
"A.....aku tidak menabraknya. Tapi aku memang meninggalkannya di sana karena aku takut disalahkan. Aku turun karena ingin membawanya ke rumah sakit la....lalu banyak orang menudingku sebagai pelakunya padahal a.....aku ti.....tidak melakukannya dan ........" Alma duduk bersimpuh di atas lantai dengan wajah kebingungan dan tangannya mulai gemetaran. Rasa bersalah karena meninggalkan gadis itu dan akhirnya gadis itu mati, kembali mendekap erat dirinya dan membuat Alma linglung. Alma kemudian terisak menangis dan bergumam, "Aku tidak menabraknya, sungguh! Tapi aku memang meninggalkannya sendirian di sana. Aku menyesali perbuatanku. Andai saja aku nekat mem........... Ah! Sakit!" Alma meringis kesakitan saat kedua tangan Galih mencengkeram kedua bahunya dan memaksanya berdiri.
__ADS_1
Galih lalu mendorong Alma sampai punggung Alma menabrak daun pintu ruang kerjanya. Galih kemudian mengungkung tubuh rampingnya Alma dan setelah menggertakkan gerahamnya, Galih berkata dengan nada dalam, "Kau menjijikkan! Kau pembunuh! Kau juga penipu! Kau menipu hukum dengan uang Papa kamu saat itu!" Galih meninju daun pintu di samping kanan kepala Alma dan Alma refleks memejamkan mata rapat-rapat dan isak tangisnya terdengar semakin keras.
"Kau mengatakan aku penipu, pembohong, mensiasati kamu, cih! Lalu, kau sendiri apa, hah?! Dasar pecundang menjijikkan!"
Alma sontak membeliak kaget karena ia tidak terima dikatakan sebagai pecundang yang menunjukkan dan di sela Isak tangisnya ia berteriak, "Aku bukan pecundang yang menjijikkan. Aku tidak menipu hukum! Aku dibebaskan karena kurangnya bukti. Ada dua orang saksi yang mengatakan melihat mobil berwarna putih menabrak gadis itu dan mobilku sedanku tidak berwarna putih kau tahu, kan, mobil sedanku tidak berwarna putih! Lalu, soal uang Papaku, asal kau tahu, Papaku pergi meninggalkan aku seorang diri saat itu. Dia pergi bersama pacar mudanya ke luar negeri dan membiarkan aku sendirian. Lalu, kau pikirkan sekarang darimana aku dapat uang untuk bebas dari jerat hukum kalau Papaku pergi meninggalkanku saat itu, hah?!" Alma mendorong Galih di sisa tenaganya lalu dia kembali duduk bersimpuh di atas lantai dengan wajah lelah dan penuh dengan airmata.
Galih mundur tiga langkah ke belakang dengan langkah gontai.
Apa aku salah menuduh Alma selama ini? Nggak! Nggak mungkin salah. Dia pasti pelaku tabrak lari itu. Pasti! Batin Galih.
"Apa yang kau rencanakan sekarang, hah?! Kau boleh menyelidikinya lagi. Bukankah kau ini pengacara yang sangat hebat? Selidiki kembali semuanya dan kau akan temukan fakta kalau aku bukan pelaku tabrak lari itu" Pekik Alma sambil menghunus tatapan tajam ke Galih.
Alma kemudian memegang sandaran sofa lalu dengan perlahan ia bangkit berdiri. Setelah mengusap airmata di wajahnya dengan dua punggung tangan secara bergantian, Alma melangkah mundur dan bersandar di tembok dan berkata dengan suara melemah, "Aku lelah. Katakan saja apa rencana kamu saat ini biar aku bisa segera mengambil tindakan"
Galih mengamati wajah Alma. Tanpa riasan rambut panjang hitam yang sedikit basah acak-acakkan dan kusut. Namun, di mata Galih, Alma tetap luar biasa seksi dan Galih harus terus berjuang menahan reaksi tubuhnya, lagi.
Galih ingin melindungi dan menenangkan Alma sekaligus ingin bercinta dengan wanita itu. Saat ini juga.
__ADS_1
Galih kemudian mengamati sweater yang dikenakan oleh Alma saat ini. Di balik sweater longgar miliknya itu, yang Alma kenakan, Galih dapat melihat lekukan dada Alma bahkan siluet puncaknya yang lembut. Dari lekukan yang mengesankan itu, Galih menurunkan bola matanya dan menemukan sweater itu jatuh di atas perut ramping hingga paha yang padat dengan warna kulit putih pucat seperti salju dan berbentuk indah.
"A.....apa yang kau pikirkan saat ini? Kenapa kau memindai diriku? Kau melihatku dari rambut sampai ke pa....pahaku?" Alma mengikuti gerakan bola mata Galih.
Alih-alih menjawab pertanyaannya Alma, Galih melangkah lebar lalu melompat untuk kembali mengungkung tubuhnya Alma. Lalu, Galih mengangkat sebelah tangannya dan menyapukan punggung jemarinya ke pipi kanan Alma yang lembut. Bahkan sentuhan sederhana itu sudah mampu membuat Galih bergairah, temperatur tubuhnya naik drastis, dan saat pria itu mengeluarkan suara, "Kau bisa menebak apa yang aku pikirkan saat ini?" Suara Galih terdengar sangat rendah dan serak.
"A....apa?" Alma mengerjap dan bernapas lebih keras, lebih cepat. "A.....aku tidak berani menebaknya"
Galih kembali mengusapkan punggung jemarinya ke pipi kanan Alma dan bergumam, "Aku sangat membencimu untuk masa lalu dan saat ini"
"A.....aku sudah bilang kalau aku bukan pelaku tabrak lari itu dan aku dibebaskan karena kurangnya bukti" Sahut Alma sambil berusaha mendorong dada Galih untuk menjauh darinya, namun usaha Alma tidak berhasil. Galih bergeming dan pria itu masih terus mengusap lembut pipinya kanannya.
"Aku akan tetap membenci kamu sampai semua terbukti nyata. Aku akan selidiki ulang semuanya dan kalau sampai terbukti kamu adalah pelakunya, aku akan langsung membunuhmu dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan berbelas kasihan lagi seperti saat ini"
"Cih! Kau katakan berbelas kasihan? Kekejamanmu yang seperti ini kau katakan kalau kau tengah berbelas kasihan?"
Alih-alih menjawab pertanyannya Alma, Galih justru berbisik, "Aku belum pernah melihat wanita seperti kamu. Hanya dengan melihatmu saja aku ingin mencicipi tubuhmu saat ini juga. Apa kau sengaja memakai sweater-ku ini untuk memancing rasa penasaranku dan memancing gairahku?"
__ADS_1
Plak! Alma langsung menampar keras pipi Galih Baskoro.