
Galih masuk ke dalam mobil dan langsung senyum-senyum sambil menyentuh bibirnya.
Doni menoleh ke Galih dan langsung berkata, "Sabuk pengaman, Bro!"
Galih menoleh linglung ke Doni, "Hah?!"
Doni mendesah kesal lalu berkata, "Pegang sabuk pengaman dan pakai, jangan pegangi terus bibir kamu!"
"Oh" Galih menarik tangan dari bibir lalu menarik sabuk pengaman untuk ia pakai.
Galih kembali tersenyum senang dan menyentuh bibirnya.
Doni melirik Galih dan sambil melakukan mobil, Doni bertanya, "Kau habis makan yang manis-manis, ya? Kenapa kau sentuh terus bibir kamu dan kamu senyum-senyum kayak gitu"
"Hmm" Sahut Galih dengan acuh tak acuh.
"Makan apa? Minta, dong" Doni mengulurkan tangan kiri ke Galih.
Galih melirik tangan Doni lalu berkata dengan ketus, "Minta? Enak aja! Makanan manis yang aku punya nggak akan pernah aku bagikan ke siapa pun"
Doni menarik tangan kiri dan kembali memegang kemudi. Lalu, pria berwajah ganteng lokal itu bertanya, "Memangnya enak banget makanan manis milik kamu itu?"
"Hmm"
"Pasti mahal karena kamu nggak mau berbagi bahkan denganku padahal kamu nggak pernah pelit, lho sama aku"
Galih menoleh tajam ke Doni dan berkata, "Kamu kalau diam ganteng, lho. Ganteng banget. Kenapa nggak diam aja dan berhenti kepo, cih!"
Doni mendengus kesal dan berkata, "Oke, oke! Aku akan diam dan nggak akan kepo lagi"
Beberapa jam kemudian, Doni mematikan lampu mobil dan meluncurkan mobil dengan pelan. "Kita berhenti di sini dan masuk ke bangunan tua itu dengan berjalan kaki"
"Kenapa?" Bisik Galih.
Doni menyahut sambil membuka sabuk pengaman, "Kata Brian, di dalam bangunan tua itu ada banyak preman garang dan kalau kita masuk secara terang-terangan, maka......." Doni tersentak kaget saat ia melihat Galih ada di depan mobil dan melangkah tegap menuju ke bangunan tua itu.
"Sial! Kenapa dia selalu saja begitu? Selalu meninggalkan aku tanpa pamit" Doni bergegas keluar dari dalam mobil lalu ia mengejar Galih setelah menutup dan mengunci pintu mobil.
Brian dan kelima anak buahnya langsung mensejajari langkah Galih dan Doni. Kedelapan pria gagah itu melangkah tegap menuju ke bangunan tua. Mereka sudah siap melawan Jack Gotti dan anak buahnya yang dikabarkan tengah melakukan transaksi ilegal di bangunan tua itu.
Namun, kedelapan pria gagah itu harus mengigit jari mereka saat mereka menemukan bangunan tua itu kosong melompong.
Tapi, mereka menemukan sebuah laptop.
__ADS_1
Galih menyalakan laptop itu dan ia melihat rekaman video Jack Gotti, "Galih Baskoro, aku tahu kau mengejarku. Aku tahu kau mengejarku karena aku telah menabrak lari pacar kamu dan calon anak kamu puluhan tahun silam. Aku akui kesalahanku.Tapi, jangan harap kau bisa menangkapku dengan mudah. Kau juga tidak akan punya bukti untuk menjebloskan aku ke penjara karena rekaman video ini akan hancur dalam hitungan lima detik. Hahahahahaha! Kau harus mencari cara untuk menangkapku dan itu tidak mudah, hahahahaha!"
Galih tertegun menatap rekaman video itu dan saat rekaman video itu hancur, Galih menoleh ke Doni, "Ternyata bukan Alma yang telah menabrak lari Ratna dan calon anakku"
"Memang bukan dan gadis yang bernama Alma waktu itu turun dari dalam mobilnya karena ia ingin menolong korban dan membawa korban ke rumah sakit tapi semua pengguna jalan waktu itu menuding Alma sebagai pelakunya, maka Alma kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan korban" Sahut Brian.
"Ternyata begitu. Ternyata aku salah menuduh Alma" Batin Galih dengan sorot mata penuh penyesalan bercampur syok.
"Lalu, kau akan melepaskan Alma setelah ini?" Tanya Doni.
"Nggak! Aku nggak akan melepaskan Alma. Alma selamanya milikku. Hanya milikku"
Doni sontak mengerutkan keningnya tanda tidak setuju, "Tapi, itu tidak adil untuk........."
"Dan sebelum satu tahun tergenapi, jangan katakan ke Alma tentang kebenaran ini" Sahut Galih dengan nada dan wajah tegas.
Doni hanya bisa menghela napas panjang dan Brian menepuk pundak Doni lalu berbisik, "Dia Bosnya"
Doni menoleh ke Brian lalu berbisik ke Brian, "Yeeeaahhh, kau benar"
Sementara itu di dalam vila, Alma menerima telepon dari Pramono, "Ada apa, Pak Pram Papa bagaimana keadaannya?"
"Papa Non belum sadar. Tapi, ada berita penting yang harus Pak Pram sampaikan"
"Papa Anda ternyata korupsi selama ini. Semuanya diberikan ke Ibu tiri Non. Papa Anda dituntut para pemegang saham, namun para pemegang saham akan memaafkan Papa Non kalau Papa Non bisa mengembalikan semuanya berikut bunganya"
"Berarti aku harus menemui ibu tiriku yang gila harta itu untuk mengembalikan semua yang sudah diberikan Papa ke dia"
"Iya, Non. Minta dia membayar bunganya juga" Sahut Pramono.
"Pak Pram tahu di mana Ibu tiriku sekarang ini?"
"Saya tidak tahu, Non"
"Baiklah Pak Pram. Terima kasih untuk infonya. Aku akan mencari sendiri keberadaan wanita gila itu" Sahut Alma.
Di dalam mobil yang sedang melaju di atas aspal, Galih menoleh ke Doni, "Kau sudah ajak Pramono asisten pribadinya Jacob untuk bergabung dengan kita?"
"Sudah"
"Lalu?"
"Dia bersedia. Dia bersedia karena ia ingin menjaga Alma. Alma sudah seperti putri kandungnya sendiri"
__ADS_1
"Bagus kalau dia mau. Tapi, kau tulis nanti di kertas kontak, jangan dekati Alma kalau tidak ada aku!"
"Oke" Sahur Doni dengan kerutan di kening.
Apa si patung arca ini mulai cemburu buta? Batin Doni.
Doni lalu melirik Galih dan berkata, "Papanya Alma korupsi dan dituntut oleh para pemegang saham. Kalau Papanya Alma bisa mengembalikan semuanya plus bunga, maka para pemegang saham akan memaafkannya dan tidak akan menyeret Papanya Alma ke jalur hukum"
"Terus?" Tanya Galih dengan nada santai dan tanpa menoleh ke Doni.
"Hasil korupsi Papanya Alma diberikan semua ke ibu tirinya Alma"
"Kau tahu di mana wanita itu sekarang?" Tanya Galih.
"Tahu. Wanita gila harta itu menikah lagi dengan konglomerat, namanya Ari Aryana"
"Grup AA?"
"Iya" Sahut Doni sambil melirik Galih.
"Oke, setelah menemui So Gotti brengsek itu, kita ke rumahnya konglomerat itu"
"Ari Aryana ada di pulau pribadinya saat ini. Dia tengah berbulan madu dengan ibu tirinya Alma"
"Oke, kita temui dia di pulau pribadinya"
"Pulau pribadi pria itu nggak bisa dijangkau dengan mudah dan......."
"Kita pakai helikopter ke sana. Dan, apa?" Sahut Galih dengan cepat.
Makanya jangan mutus omongan orang seenaknya. Nanya, kan, kamu sekarang? Batin Doni kesal.
"Dan, apa? Kenapa malah diam?" Galih menoleh ke Doni dengan wajah kesal.
"Oh, dan kebetulan lusa Ari aryana mengadakan pesta syukuran dan kebetulan lagi kita diundang"
"Bagus! Siapkan helikopter besok pagi karena sore harinya kita berangkat ke pulau pribadi konglomerat itu"
"Oke" Sahut Doni.
"Aku akan membantu Alma membereskan masalahnya dan aku yakin semuanya akan baik-baik beres dalam waktu satu tahun. Sekaligus aku akan membuat Alma jatuh cinta padaku" Sahut Galih dengan senyum lebar.
"Yeeaahhh, semoga harapan kamu itu tercapai dengan mulus, Bro!" Sahut Doni.
__ADS_1