Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang
Ingin Memiliki


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa menit, Galih tidak kembali, Alma berdiri dan melangkah pelan menuju ke tempat di mana pesta besar masih digelar padahal sang pemilik acara sudah digelandang oleh pihak berwajib ke sel penjara.


Alma menemukan Galih berdiri di sebelah meja bundar dan tengah meneguk minuman yang warnanya persis sama dengan sampanye.


Alma kemudian berdiri di samping Galih, namun ia hanya diam membisu.


"Ada apa?" Galih melirik Alma.


"Tidak apa-apa" Sahut Alma.


"Kau marah atas apa yang sudah aku lakukan tadi?"


"Iya dan tidak. Maksudku, emm, awalnya iya tapi saat menyadari kau masih suamiku, aku tidak berhak untuk marah"


Galih mengendurkan wajah, terkesima dengan jawabannya Alma. Lalu, pria itu meneguk sampanye secukupnya.


"Aku tidak sengaja bertemu dengan Kak Danen. Apa kau marah karena itu? Tapi, kenapa kau marah? Dalam status apa kau marah? Suamiku? Toh, kita hanya menikah sementara, kan, kalau hutangku lunas aku bisa ajukan perceraian, kan?"


Alih-alih menjawab pertanyaannya Alma, Galih justru bertanya, "Kau pernah datang ke acara seperti ini sebelumnya?"

__ADS_1


'Pernah tapi tidak sebesar dan semewah ini"


"Kau nyaman berada di tengah pesta seperti ini?"


"Tidak. Kalau kau pasti menikmatinya, kan?"


Galih meneguk sampanye secukupnya dan menggeleng, "Tidak"


"Jadi kau tidak ingin berada di sini?" Tanya Alma dengan heran. "Aku lihat kamu menikmati pesta ini"


"Aku suka dihormati tapi tidak suka menjadi tontonan. kalau kau edarkan pandangan kamu pasti kau menemukan ada banyak pasang mata menontonku"


"Kalau begitu, bisakah kita pulang sekarang?"


Galih mengirim pesan text ke Doni untuk memesankan kamar VVIP di hotel terdekat karena dia sangat menginginkan Alma saat ini. Dia sadar sekarang dan benar-benar sadar, menolak kepuasan jasmaniah dengan membawa Alma ke tempat tidur hanya akan membuatnya merasa pusing apalagi di hatinya sudah ada cinta untuk Alma. Cinta yang entah kapan timbul itu membuat Galih merasakan bukan hanya pusing tapi juga sesak napas. Dan yang membuat Galih merasa sangat ingin memiliki Alma malam ini juga karena besok di pagi-pagi buta dia harus meninggalkan Alma berkunjung ke Paris mengejar si penabrak asli mendiang Ratna. Itu membutuhkan waktu berbulan-bulan kalau Alma tidak ia miliki sepenuhnya malam ini juga, Galih takut Alma pergi meninggalkannya dengan pria lain. Bisa jadi itu Danendra karena Galih lihat di mata pria itu, Alma sangat berarti.


Beberapa jam setelah turun dari helikopter, Galih mengajak Alma masuk di suite mewah, kamar VVIP itu sangat luas, tapi kosong. Hanya ada beberapa minuman berjajar di meja tetapi Alma tidak melihat ada makanan di sana. Camilan ringan seperti keripik kentang pun tidak ada. Alma menghela napas panjang lalu mengabaikan perutnya yang keroncongan dan mengambil sendiri segelas air karena Galih masih berada di dalam kamar mandi.


Alma belum makan apapun di pesta tadi. Alma pikir Galih tidak memperhatikannya dan Galih tidak akan bertanya apakah dia lapar atau tidak jadi Alma memilih minum segelas air putih untuk menipu perutnya yang keroncongan.

__ADS_1


Tanpa Alma ketahui, Galih memesan banquet jamuan makan malam mewah dan minta diantarkan ke kamarnya. Saat pintu diketuk dan Alma membukakannya, wanita cantik itu sontak ternganga lebar lalu bertanya dengan canggung ke pegawai hotel yang mengantarkan room service jamuan makan mewah itu, "Apakah Anda tidak salah kamar? Kami tidak memakannya"


"Ini kamar Tuan Galih Baskoro, bukan?"


"Iya, benar" Sahut Alma dengan mata membeliak senang. Dia melihat banyak makanan dan banyak kue di depannya. Semuanya tampak lezat dan menggiurkan.


Setelah pelayan hotel tersebut keluar dari kamarnya Galih Baskoro, Alma langsung mencomot roti manis dan langsung membersihkan mulutnya karena ia tidak ingin terpergok ada remah-remah roti manis di mulutnya.


Alma tersentak kaget saat ia tiba-tiba mendengar suara, "Enak nggak roti manisnya?"


Alma menoleh dengan senyum canggung lalu mengangguk penuh semangat.


"Makan apapun yang kau mau sampai kenyang. Nggak usah malu. Aku lihat kamu nggak makan apapun di pesta tadi"


Alma membeliak kaget lalu bergumam, dia memperhatikan aku ternyata.


"Kenapa malah bengong. Makanlah!" Sahut Galih sambil mencomot dimsum.


Galih tidak begitu menyukai makanan manis dan Alma sangat menyukai makanan manis. Galih senang bisa mengetahui makanan kesukaannya Alma tanpa banyak nanya.

__ADS_1


Galih menatap Alma dari samping dengan senyum geli karena Alma makan sangat lahap tanpa jeda. Mulut Alma sampai penuh makanan dan pipi Alma menggembung seperti ikan buntal.


Dia sangat kelaparan ternyata. Dia imut dan lucu banget, sih. Apa mungkin aku tega memilikinya malam ini juga? Batin Galih.


__ADS_2