Musuh Tapi Sayang

Musuh Tapi Sayang
Enak


__ADS_3

"Lepaskan tanganmu dari pantatku! Sakit nih kau remas terus!" Galih mendesis kesal.


Alma tersentak kaget dan sambil berkata, "Maaf" Alma melepas pantas Galih, tapi dia masih meremas handuk yang terlilit di pinggang Galih.


Alma membeliak kaget saat ia melihat ada handuk di dalam genggaman tangannya. Wanita cantik itu sontak melemparkan handuk ke sembarang arah dan memejamkan mata sambil berteriak kencang, "Kyaaaaaa!!!!!!"


Wajah Alma langsung memerah seperti udang rebus saat ia membayangkan Galih ada di depannya tanpa sehelai kain pun.


Galih mengulum bibir menahan senyum sambil melompat turun dari ranjang.


Alma masih memejamkan mata rapat-rapat saat Galih berkata, "Hei! Wajah kamu merah kayak udang rebus,tuh, pffftttt! Lucu banget! Kau memikirkan apa, dasar mesum!"


Alma yang masih memejamkan mata rapat-rapat langsung menyemburkan, "Siapa yang mesum!"


"Buka mata kamu, pfftttt!"


"Nggak mau!" Alma menggeleng tanpa henti.


Galih berkacak pinggang dan tertawa tanpa mengeluarkan suara sambil membungkukkan badan. Lalu, pria tampan itu berkata dengan nada datar setelah ia berhasil menguasai tawanya, "Hei! Cewek mesum! Buka mata kamu! Kalau kamu nggak mesum, maka kamu berani buka mata kamu sekarang ini"


Alma yang merasa kesal karena dituduh mesum, akhirnya membeliakkan matanya dan berteriak, "Aku tidak mesum!"


Seketika itu juga Alma ternganga dan tertegun melihat Galih.


Galih sontak melepaskan tawanya melihat wajah tololnya Alma. Lalu, pria tampan itu berkata, "Lihat!" Galih menunduk sebentar lalu menatap Alma dan berkata dengan senyum geli, "Aku pakai celana renang. Emangnya kau membayangkan apa sampai wajah kamu merah seperti udang rebus tadi, pffftttt! Sumpah, wajah bodoh kamu saat ini lucu banget, hahaha hahahaha!"


Bug! Alma refleks melemparkan bantal ke wajah Galih lalu melompat turun dari ranjang dan langsung berlari kencang ke pintu. Alma merasa sangat malu saat ini.


Galih mengambil bantal yang terjatuh di atas lantai dan setelah melemparkannya ke ranjang, Galih berjalan menyusul Alma dengan tawa lepasnya, "Hahahahahaha! Dia lucu banget, hahahahahaha!"


Galih mampir ke lemari pakaian sebentar untuk mengambil kaos santai lalu melanjutkan langkahnya menyusul Alma.


Galih menemukan Alma tengah memasak di dapur.


"Aku sudah suruh Doni memesan makanan di restoran langgananku. Nggak usah masak!"


"Aku pengen masak sendiri. Aku nggak mau kalau nanti kau belikan aku makanan lalu kau tambahkan ke daftar hutang" Sahut Alma sambil meneruskan aktivitasnya memasak nasi goreng telur.

__ADS_1


"Hei! Aku tidak sepicik itu, cih! Sukanya,kok, main fitnah" Geram Galih.


Alma menyahut tanpa menoleh ke belakang, "Aku tidak main fitnah tapi bersikap waspada"


"Cih! Bodoh, sih, iya" Gumam Galih lirih dengan wajah kesal.


Alma menoleh sejenak ke belakang untuk bertanya, "Kau ngomong apa barusan?"


"Nggak! Aku nggak ngomong apa-apa" Ujar Galih sambil menggeleng santai.


Alma, "Oh, perasaan tadi aku dengar ada orang ngomong" Alma kemudian mengarahkan pandangannya kembali ke penggorengan.


Hmm! Baunya sedap banget. Batin Galih.


Sial! Eits! What! Ke......kenapa dia menggoyangkan pantatnya? Galih langsung meraup kasar wajah tampannya.


Emang kalau masak harus goyangkan pantat, ya? Shiiiiiiiiit! Kenapa dadaku berdebar kencang lagi, nih!" Gumam Galih lirih. Sangat lirih sambil memijit pelipisnya.


Alma yang tidak menyadari kalau pantatnya bergoyang saat ia menarikan spatula di penggorengan terus saja asyik menarikan spatula di penggorengan.


"Hei! Hentikan goyangan kamu! Ganggu banget!" Galih langsung berteriak dan bangkit berdiri saat ia merasakan perutnya bergolak aneh dan dadanya berdebar semakin kencang saat kedua bola matanya memandangi goyangan pantatnya Alma.


"Kau......kau go..... goyang tadi" Galih menunjuk pinggang Alma dengan mata menyipit dan bibir mengerucut kesal.


"Mana ada aku goyang. Aku hanya menarikan spatula dan ......."


"Pantat kamu ikut gerak. Kau goyang tadi. Sudahlah nggak usah dibahas! goyangan kamu juga jelek banget, makanya aku bilang ganggu banget, cih!" Galih lalu berbalik badan dan melangkah lebar sambil mengelus dadanya dan menghembuskan napas dengan keras untuk melepas rasa panas di sekujur tubuhnya.


Alma menatap punggung Galih lalu mengangkat Keuda bahunya sambil berkata, "Dasar aneh!" Lalu, Alma mengambil satu piring nasi goreng sederhana bikinannya dari dalam penggorengan dan membawa piring itu ke halaman belakang. Alma ingin menikmati nasi gorengnya sambil melihat pemandangan indah yang tampak di halaman belakang.


Galih terpaksa balik badan saat Doni masuk dan membawa tiga paper bag bertuliskan restoran langganannya.


Namun, saat sampai di meja makan yang berhadapan dengan dapur, Galih justru mengambil piring dan melangkah ke penggorengan untuk mengambil nasi goreng bikinannya Alma.


"Hei! Kok malah ambil nasi goreng? Siapa yang masak? Kamu?" Tanya Doni.


"Tentu saja.........."

__ADS_1


"Kamu?" Doni kembali bertanya dengan kedua alis terangkat heran.


"Bukan" Sahut Galih sambil duduk di sebelah Doni.


"Sudah aku duga kalau bukan kamu yang masak. Kamu, kan, nggak bisa masak. Masak air aja gosong"


Galih menepuk pundak Doni, "Sudah tahu kenapa masih nanya, cih!"


Doni terkekeh geli lalu bertanya, "Lalu, makanan ini untuk apa? Aku udah pesan susah payah semua makanan ini"


"Makan aja punya kamu. Punyaku masukkan ke lemari es, kalau laper nanti biar aku panaskan di microwave" Sahut Galih.


"Tapi.........." Ucap Doni sembari memasukkan semua paper bag yang ia bawa dari luar ke dalam lemari es.


"Tapi apa?" Tanya Galih dengan wajah yang mulai kesal.


Doni duduk kembali di samping Galih dan berkata, "Tapi, bukankah kita akan pergi ke kantornya Brian malam nanti dan.........."


Galih langsung menaruh jari telunjuknya di bibi Doni dan mendelik, "Sekarang diam! Aku mau mencicipi nasi goreng ini karena sumpah tadi pas Alma masak, baunya enak banget. Harum, semerbak, seolah tak hilang sepanjang hari"


Doni menepis telunjuk Galih lalu berkata, "Benarkah? Apa masih ada di penggorengan?"


"Masih" Sahut Galih sambil mengunyah nasi goreng bikinannya Alma yang sudah mendarat manis di dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Doni.


"Hmm" Galih mengacungkan ibu jarinya di depan Doni dan seketika itu juga Doni bangkit berdiri lalu berlari ke dapur sambil membawa piring.


Setelah mengambil nasi goreng bikinannya Alma, Doni duduk di sebelahnya Galih dan langsung mencicipi nasi goreng itu.


Galih menoleh ke Doni dan bertanya lewat soto matanya bagaimana menurut Doni hasil masakannya Alma.


Doni tersenyum lebar sambil mengunyah lalu pria berwajah ganteng lokal itu mengacungkan ibu jarinya di depan Galih.


"Indra penciumanku memang tidak pernah salah. Enak banget, kan, nasi goreng ini?" Ujar Galih dengan senyum lebar.


"Iya, kamu benar, Bro. Ini enak banget!"

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan kedua pria itu, Alma masuk ke dapur untuk menutupi penggorengan dan wanita itu sontak mendelik kaget saat ia melihat penggorengan telah kosong. Nasi gorengnya ludes tak bersisa.


Galih dan Doni sontak mengangkat kedua bahu mereka secara bersamaan karena kaget saat mereka tiba-tiba mendengar suara melengking, "Kenapa kalian makan semua nasi gorengku?! Nanti malam aku makan apa?!!!!!!"


__ADS_2