
"Menurut kamu, aku ini ada kelebihannya nggak?" Tanya Galih tiba-tiba.
Alma.aonrak menoleh ke Galih dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Galih mengulum bibir menahan senyum melihat Alma mirip dengan panda pipi gembul.
Alma memalingkan muka sambil bertanya, "Apa yang lucu? Kenapa kamu tertawa?"
"Nggak ada. Aku cuma senam mulut dan nggak ketawa, kok. Kamu belum menjawab pertanyaanku"
Alma kembali menoleh ke Galih, "Kamu nggak punya kelebihan"
"Hah?! Masa, sih? Bahkan wajahku pun nggak ada kelebihannya?"
Alma menggelengkan kepala dengan wajah santai.
Sial! Kenapa dia bilang begitu? Apa dia sudah tidak punya perasaan padaku? Apa dia sudah lupa kalau dulu dia sangat mencintaiku? Batin Galih dengan wajah cemberut.
Alma menyesap air mineral lalu menoleh ke Galih dan berkata, "Nggak usah cemberut. Aku bercanda"
Galih langsung semringah dan berkata, "Berarti ada, kan?"
__ADS_1
Alma bersedekap dan setelah mengamati wajah Galih, ia berkata, "Kelebihan kamu itu arogan, kejam, gampang emosi, aneh.paranoid, dan........."
"Stop! Itu pujian atau hinaan?" Galih mendengus kesal.
Alma langsung mengulum senyum menahan geli. Lalu ia memegang tangan Galih.
Galih terkesiap kaget, namun ia membiarkannya.
Alma lalu berkata, "Bolehkah aku berkata jujur? Aku selalu berkata jujur dan kalau tidak aku katakan aku akan selalu merasakan sesak napas"
Galih menautkan alis dan berkata, "Apa? Jujur soal apa?" Galih melirik tangannya yang masih digenggam oleh Alma.
"Aku menyukai kamu dan itu satu-satunya kelebihan kamu"
"Rasa suka ini melenyapkan semua kesalahan kamu dan kekejaman kamu selama ini. Aku memaafkan semua kesalahan kamu dan tidak memperhitungkan lagi semuanya"
Galih sontak diam mematung.
Dia bukan pendendam. Kenapa dia bisa begitu mudah memaafkan aku? Aku sudah menindasnya dengan brutal. Batin Galih.
Alma lalu melepaskan tangan galih dan berkata, "Itu hanya perasaanku. Aku cuma ingin jujur. Kalau kamu tidak punya perasaan padaku, maka tidak apa-apa dan aku akan ........ hmppthhhh!"
__ADS_1
Galih langung membungkam Alma dengan bibirnya.
Saat Galih melepaskan ciumannya untuk menatap Alma, wanita itu bisa melihat dengan jelas wajah Galih tegang karena gairah, sama persis seperti yang dirasakan Alma.
Galih mengerang dan tanpa meminta ijin dia membopong Alma dan mengajak Alma kembali berciuman. Dengan lebih intens, liar, dan menuntut. Galih kemudian menurunkan Alma di tepi tempat tidur lalu dia mendorong kedua sisi gaun hingga terlepas dari bahu Alma. Lima gemetar dalam penarikan sementara Galih menarikan buku-buku hatinya di punggung Alma. Lalu ia menurunkan lagi gaun itu jatuh dari dada hingga gaun itu teronggok apik jatuh ke lantai dan Alma tampak sempurna dengan balutan pakaian dalam sutra.
"Kau.........." Galih berkata dengan suara serak.
"Apa?" Alma bertanya dengan suara gemetar.
"Kau sangat indah, Alma" Suara Galih semakin terdengar serak.
Puncak gunung kembar mengeras di bawah tatapan panas yang menuntut dan Lama menjerit lirih saat pria itu menyapukan jemarinya pada puncaknya. Alma sampai harus menggigit bibir agar tidak menjerit keras.
Galih kemudian menarik tangan Alma dan berkata, "Lepaskan bajuku!"
Pria itu melihat ekspresi kaget di wajah Alma. Karena gemas melihat ekspresi lugunya Alma, maka Galih melempar Alma ke tempat tidur lalu mengungkung tubuh Alma sambil berkata, "Lepaskan bajuku!"
Alma mengangkat tangannya ke kemeja Galih dan melepaskan kancingnya satu demi satu dengan begitu berkonsentrasi sehingga membuat Galih merasa itu sangat aneh sekaligus berhasil menyentuh hatinya.
Dia benar-benar lugu. Batin Galih.
__ADS_1
Galih justru terkesiap kaget saat Alma menodong kemejanya lepas dan pria itu kemudian mematung menatap Alma dengan sorot mata sendu, namun jantungnya berdegup kencang dan peluh mulai tampak di pelipis Galih karena panasnya gairah.