
Josh dan Alex sampai di kantor. Alex lebih dulu masuk ke dalam kantor karena tidak mau menjadi bahan gosip jika dia turun dari mobil yang biasa dinaiki CEO perusahaan ini.
Josh memarkirkan mobilnya di basement baru naik ke lantai paling atas yaitu ruangannya yang satu lantai dengan bosnya dan Alex sekretaris CEO.
"Alex apa saja jadwal CEO hari ini?" tanya Josh pada Alex yang baru menyalakan komputernya dan merapikan posisi duduknya.
"Hari ini ada rapat divisi untuk laporan rutin pekanan pada jam 10.00, dilanjutkan pertemuan dengan Mr. Keenan Barack pada pukul 11.00. Tuan Barack meminta bertemu di restoran karena pertemuannya bertepatan pada jam makan siang. Apakah ingin reservasi tempat dulu?" tanya Alex.
"Okey, tapi jika pertemuan di luar, apakah kamu bisa menghubungi sekretaris Tuan Barack barangkali bisa ditunda atau kamu bisa mewakili perusahaan bertemu dengannya? Karena aku yang memimpin rapat di sini. Oh ya kamu hubungi dulu sekretaris tuan Barack barangkali dia sudah reservasi tempat." ucap Josh.
"Okey sir. Saya akan menanyakannya. Terima kasih." ucap Alex sopan
"Okey, selamat bekerja Alex." ucap Josh sebelum masuk ke dalam ruangan asisten.
Alex mencari nomor telepon sekretaris Barack Company dan mendapatkannya lewat perusahaannya.
*Dalam sambungan telepon*
"Hallo, apakah saya berbicara dengan sekretaris Mr. Keenan Barack?" ucap Alex
"Perkenalkan nama saya Alexandra Rose sekretaris dari Mr. Dean Anderson. Apakah pertemuan antara Tuan Barack dan Tuan Anderson bisa dijadwalkan ulang karena Tuan Anderson sekarang sedang ada urusan keluarga?" tanya Alex melalui sambungan telepon.
"Hai, Sweetheart...How are you? Apa Dean sedang sibuk dengan urusan keluarganya? Urusan keluarga mana? Tuan Michael atau Angela?" tanya Keenan melalui sambungan telepon milik sekretaris nya. Saat tahu yang menelepon adalah Alex, Keenan langsung meminta handphone sekretarisnya.
"Saya baik Tuan, maaf Tuan Anderson sepertinya tidak bisa menghadiri pertemuan ini. Apakah bisa dipending pertemuannya di lain waktu?" tanya Alex
"No Alex, hal ini tidak bisa ditunda, karena aku harus memberikan proposal proyek yang kemarin sudah kamu bicarakan. Kamu saja yang datang mengambil proposalnya. Aku akan mengirimkan lokasinya. No regret Alex!!!" ucap Keenan dengan penekanan.
__ADS_1
"Okey Sir, saya akan ke sana. Terima kasih atas pengertian anda." ucap Alex mengakhiri teleponnya.
...----------------...
"Katty, buatlah reservasi di restoran yang romantis dekat sini. Siapkan pakaian terbaik untukku dan gaun indah serta sepatunya yang ukurannya hampir sama denganmu. Aku akan makan siang dengan wanita cantik." ucap Keenan dan langsung mendapat cibiran dari sekretarisnya.
"Wanita cantik mana lagi yang kamu incar? Ini sudah ke seratus kalinya kamu bilang akan bertemu wanita cantik, tapi berakhir malapetaka. Siapkan pakaian cadangan sebelum kamu disiram air minum lagi." ucap Katty yang juga merupakan sepupunya.
"No Katty, i'm sure, wanita ini akan menjadi wanita terakhir dalam kamus hatiku. Sekarang aku akan mulai mengakhiri petualanganku bersama para wanita, entah mengapa aku jatuh hati pada wanita ini. Apalagi wanita ini juga disukai oleh rival bebuyutanku." ucap Keenan.
"Hati-hati, cinta dan obsesi beda tipis. Jika kamu jatuh cinta maka cintailah dengan serius, tapi jika hanya obsesi semata sebaiknya hentikan, karena nanti akan menyakiti kalian berdua." saran Katty kepada Sepupunya itu.
...----------------...
Sopir Keenan sudah sampai di depan gedung kantor Anderson Tech pada pukul 11.00, sekretaris Keenan menginformasikan kepada Alex jika sudah ada sopir yang menuju lantai atas membawa sesuatu yang harus dipakai Alex saat bertemu dengan Keenan. Namun karena Alex tidak suka dengan hal seperti ini, apalagi Keenan adalah sahabat sekaligus klien bisnis Dean. Ini urusan pekerjaan buka urusan pribadi.
"Tidak apa-apa, mari kita berangkat." ucap Alex dari bangku penumpang di bagian belakang.
Setibanya di restoran, Alex langsung diarahkan ke dalam ruangan VIP yang sudah dipesan oleh Tuan Barack.
"Hai, Rose. i'm so glad to meet you." ucap Keenan langsung memberikan tangan untuk dijabat oleh Alex.
"Hai, Mr. Barack Nice to meet you too." ucap Alex dan membalas jabat tangan dari Keenan.
Betapa senangnya Keenan karena bisa menyentuh tangan Alex yang membuatnya seperti tersetrum ribuan volt listrik dan ingin segera menghentikan waktu agar bisa terus menggenggam tangan yang membuat hatinya berdesir.
"Maaf Tuan, ini saya kembalikan." ucap Alex sambil mengembalikan paper bag yang dibawa sopir tadi.
__ADS_1
"Apa ini? Oh dress yang aku pesan. Why? Apa kamu tidak suka? Kalau begitu baju seperti apa yang kamu suka, nanti bisa aku segera belikan." ucap Keenan Jumawa
"Sorry, bukan itu maksudku. Aku mengembalikannya karena tidak nyaman dengan pemberian anda. Kita hanyalah kolega bisnis, dan anda juga sahabat dari Tuan Dean, jadi tidak pantas jika saya menerima hadiah seperti ini." ucap Alex sambil menunduk, Alex berpakaian kerja dengan rok selutut dan kemeja dengan kerah berputar, rambut coklatnya tergerai indah dengan sedikit poni yang selalu lepas jika Alex tertunduk sehingga berulangkali harus menyematkan kembali poninya agar tidak menghalangi pandangan.
"Ha-ha-ha, wow Rose, it's so amazing. I love you Rose, really i falling in love with you. Would you marry with me?" Tanya Keenan to the point dan membuat Alex terperanjat.
Alex hanya diam karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa, bahkan untuk menolak pun sulit dikatakan. "Hei, jangan bengong seperti itu. I'm serious Rose, really i falling in love with you at the first sight dan sekarang aku sangat-sangat ingin menjadikanmu istriku dan ibu dari anak-anakku." ucap Keenan lagi.
"Maaf Tuan Barack, apa yang anda katakan sangat mengejutkan. Sungguh saya baru kali ini ditanya seperti itu dan saya tidak punya stok kosakata yang tepat untuk menjawabnya." jawaban dari Alex.
"ha-ha-ha, kamu lucu sekali Rose. Tenang saja, aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang, tapi aku serius dan akan menunggu jawabanmu." ucap Keenan dengan mode serius.
Makanan yang dipesan pun datang, sesuai dengan restoran nya. Makanan yang dipesan pun sangat mewah, steak daging sapi yang masih mendesis karena masih panas dan sampanye yang berwarna putih bening menjadi teman makan siang kami ini.
"Bagaimana hubunganmu dengan Dean?" pertanyaan dari Keenan yang membuat Alex sedikit tersedak karena baru akan menelan makanannya.
"Bisakah anda membiarkan saya menelan makanan ini dulu baru bertanya. Anda membuat rasa makanan ini menjadi hambar." ucap Alex dengan bibir manyun dan kening mengkerut.
"Haha, okey. Sorry, bisakah kamu tidak manyun. Bibirmu itu sedang menggoda untuk segera kucium." ucap Keenan.
Alex pun langsung melipat bibirnya dan menjilat bibirnya yang masih tersisa saus dari steak.
"Oh no, Rose mengapa kamu menjilati bibirmu. Aku jadi ingin ikut menjilatinya juga, maukah kubersihkan saus itu di bibirmu?" ucap Keenan yang langsung membuat Alex melemparkan lap yang menutupi pahanya namun bisa ditangkap oleh Keenan.
"Okey, okey, enjoy your food. Aku akan menikmati makanannya juga tanpa melihatmu. Jujur aku sangat terpesona olehmu, apapun yang kamu lakukan membuat darah di tubuhku berdesir panas." ucap Keenan mengembalikan lap Alex lalu menunduk dan memotong steaknya.
...****************...
__ADS_1