My Ceo Love

My Ceo Love
Kemarahan Radika


__ADS_3

Sepanjang jalan Alicia menggerutu, sesekali ia menendang apa saja yang ada di hadapannya.


Duk...


klinting....


Alicia terlonjak kaget saat mendengar suara bukk. Ia mendongak melihat kearah dimana suara tersebut. Seorang pria berseragam dinas menampilkan wajah garang nya. Alicia tersenyum masam, matanya melirik ke sana kemari mencari celah untuk kabur.


"Kau...."


Set....


Secepat kilat Alicia melarikan diri dari kejarannya pria berseragam polisi. Dari sebrang jalan Alicia melihat mobil yang hendak berbelok putar arah.


Wus...


Alicia menghadang mobil yang sedang melaju dan berputar arah.


Alex yang mengemudikan kendaraannya, segera menekan pedal rem. Ia di buat kaget karena tiba-tiba saja seseorang menghadang mobil yang di kendarai nya.


Radika mengumpat gadis berambut kuncir itu. Gara gara dia kepalanya terbentur basbor mobil. Ia geram dan turun dari mobil, dengan wajah garang nya memaki gadis kecil itu.


"Apa kau mau mati hah... minggir..?"


Alicia yang masih dengan nafas memburu tak mendengar ocehan wanita cantik itu. Ia justru berlari dan menabrak bahunya masuk kedalam mobil.


Radika melotot tajam pada gadis itu, Ia berbalik membuka mobil. Tapi sayang Alicia mengunci dari dalam.


"Om jalankan mobilnya,!!"


"Hey buka pintunya...?"


Alicia tak menggubris teriakannya. Ia justru


melongok petugas yang mengejarnya. Wajahnya gusar, mobil yang di kendarai belum juga berjalan.


"Om..." Rengeknya.


Sementara Cello, ia menikmati wajah penuh ketakutan gadis belia yang duduk di sampingnya. Ia mengikuti arah pandang mata Alicia, bibir nya tersenyum tipis. Brandal kecil....


Alicia melihat petugas hendak menghampiri mobil Cello. Alicia meremas tangannya ketakutan. Jangan sampai ia tertangkap, Alicia menggelengkan kepalanya dan turun ke bawah bersembunyi.


"Jalan..."


"Baik tuan..."


Radika shock melihat mobil yang di tumpangi nya melaju meninggalkan dirinya.


"Tuan.... Tuan...."


Radika berteriak di tengah jalan. Wajahnya merah padam, saat ini ia menjadi pusat perhatian. Ia mengepalkan tangannya, bagaimana bisa, dirinya di tinggalkan begitu saja. Ia yakin gara gara gadis sialan itu.


"Brengsek..."


"Nona, apa anda melihat gadis kecil berlari ke arah sini.."

__ADS_1


"Tidak..."


Radika melambaikan tangannya dan masuk kedalam taksi dengan wajah merah padam. Gara gara gadis sialan, dirinya menjadi pusat perhatian.


Alicia bernafas lega, ia mengusap dadanya sambil cekikikan. Mengingat kejadian dia yang menendang kaleng dan tepat sasaran. Mengenai kepala plontos petugas yang sedang berjaga di lampu merah.


Alicia mengedarkan pandangannya dan mengeryit kan alisnya. Mobil yang di tumpangi nya melaju dengan kecepatan tinggi. Dia menoleh pada pria yang duduk di sampingnya.


Hah...


"Om.... Aish..."


Alicia mendesah kasar, dunia memang sempit. Kenapa juga harus bertemu dengan om robot ini.


"Om, saya mau turun...."


"Om, Alice mau turun..."


Mobil masih melaju kencang, Alicia memonyongkan bibirnya. Sudah tiga kali ia meminta turun. Yang ada dua pria di dalam mobil tak ada yang mendengarnya apalagi menepikan mobilnya.


Cello masih di posisi yang sama, dia sama sekali tak menggubris rengekan gadis kecil di samping nya.


Ia menoleh ke arah samping, bibirnya terangkat. Gadis kecil itu rupanya tertidur.


"Pelankan mobil nya..."


Cello membopong tubuh mungil Alicia, dan memasuki perusahaan. Semua karyawan di buat shock, CEO mereka membopong tubuh seorang gadis. Apalagi gadis itu, memakai jas nya.


Ya Cello memakaikan jasnya pada Alicia, gadis itu hanya memakai rok mini dan kaos yang lumayan ketat.


Cello membaringkan tubuhnya di kamar pribadinya, dan membuka sepatu kets nya. Tak lupa ia juga menyelimuti gadis tersebut.


Keluar dari kamar, ia melihat Radika sudah ada di dalam ruangannya. Cello berjalan santai ke tempat duduk nya. Membuka berkas dan membacanya.


Radika tersenyum masam, tidakkah dia merasa bersalah. Telah meninggalkan dirinya di tengah jalan. Radika mencoba memasang wajah biasanya, yang sebenarnya ia sangat kecewa dengan perlakuan Cello.


"Tuan,... "


Radika menggigit bibir bawahnya, ia ingin mengetahui kenapa dia harus di tinggal di tengah jalan. Tapi sepertinya Cello memang tak pernah menganggap nya.


Radika menghembuskan nafasnya perlahan, biar bagaimanapun ia juga harus tau. Apa alasannya, kenapa Cello tega sekali dengan nya.


"Kenapa meninggalkan saya di tengah jalan.."


"Alex... "


"Maaf nona kami lupa,"


Alasan yang konyol dan tak masuk akal. Radika mencoba untuk bersikap biasa.


"Tapi..."


"Keluar..."


"Tuan..."

__ADS_1


"Kalaupun aku meninggalkan mu di tengah lautan pun, aku sama sekali tak merasa bersalah. Kau tau sendiri, kau yang memaksa bekerja denganku. Jika kau keberatan, keluar dari perusahaan ku."


Radika mengepalkan tangannya, ia berbalik dan melangkah pergi. Sebelum dia benar benar keluar dia mendengar suara cempreng seorang gadis. Ia menoleh ke arah suara tersebut. Dadanya bergemuruh melihat gadis kecil itu, ada di sini. Dan yang lebih membuatnya marah gadis sialan itu keluar dari kamar pribadi Cello.


"Om..."


Cello mengalihkan pandangannya pada gadis imut yang menguap. Suara cemprengnya sungguh sangat khas gadis belia.


"Ini kantor Om.."


Masih tak bergeming, Cello fokus pada berkas di tangannya. Alicia berdecak kagum, melihat ruangan yang sangat mewah. Kaca jendela yang menghadap langsung ke arah laut. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.


Alicia mengambil ponselnya dan berselfi, mengambil beberapa gambar dirinya sedang berpose seperti remaja pada umumnya.


"Selin pasti ngiri nih..."


Ting... Gambar terkirim ke grup chat miliknya.


Ting Ting Alicia cekikikan, tak sampai satu menit teman temannya heboh.


"Njir... Gila dimana😳?"


"*Ah pengen juga liburan🥺"


"Sialan Alice ga ngajak kita,"


" Ngambek gue*.."


Dan masih banyak lagi chat yang masuk, Alicia memasukkan kembali ponselnya pada tas.


"Om bolehkah aku berkeliling di sini."


Alicia mencebikkan bibirnya, pria itu sungguh sangat kaku. Tak ada lemes lemes nya.


Alicia berjalan keluar, ia berdecak kagum. Tak hanya di dalam ruangan pria itu, ternyata di luarpun sama mewah nya.


Alicia berjalan sambil bersenandung kecil, Cello yang melihat dari layar ponsel nya tersenyum tipis. Hanya melihat gadis imut itu sepanjang hari, membuatnya tersenyum.


"Hey gadis sialan.."


Alicia kaget dan berbalik. Wanita cantik berambut gelombang menarik tangannya. Alice meringis merasakan sakit. Kuku wanita cantik ini mengenai kulit nya.


"Lepas gak aunty.."


Alicia menatap garang pada Radika. Masih tak mau melepaskan tangannya, tangan kiri Alicia meraih rambut panjang Radika dan menarik nya.


"Aw... Brengsek, lepaskan..!"


"Lepasin dulu tangan Alice,.."


Mau tak mau Radika melepaskan cengkraman tangannya.


"Sialan..."


Alicia menyipitkan matanya, dia ingat wanita cantik ini yang keluar dari dalam mobil yang membawa nya kemari. Ah mungkin saja ia marah karna tertinggal.

__ADS_1


__ADS_2