
Brian tersungkur bersama kursi yang diduduki nya. Inka melotot kan matanya shock, melihat Brian terjatuh. Ia berdiri hendak membantu Brian. Tapi tangan besar dan kokoh menahan nya. Inka menolehkan kepalanya melihat sosok pria yang memukul Brian.
Inka melebarkan matanya melihat suaminya ternyata yang memukul Brian.
" Baby... Jangan coba coba membantunya.." Serunya.
Brian tersenyum kecut, tak salah lagi pasti inilah hasilnya jika berani menyentuh istri nya.
"Kau ini kenapa, tiba tiba memukulnya. Kak Brian ayo bangun..." Bukan hanya Brian yang kaget Inka memanggilnya kak. Tapi lebih kaget lagi Sean, pria itu mengepalkan tangannya. Apakah mereka sedekat itu, memanggilnya kak.
Inka melepaskan cengkraman tangannya dan hendak membantu Brian bangun.
"Baby jika kau membantunya, saat ini juga ku patahkan tangannya.." Sean menggertak giginya emosi. Istri kecil nya ini benar benar keterlaluan. Tidak kah Inka tau saat ini ia sedang cemburu buta.
Inka memanyunkan bibirnya yang mungil, suaminya ini seenaknya saja memukul orang.
"Tak apa Ana.. Aku bisa sendiri.." Sean menyalak tajam mendengar kata Brian, apa katanya tadi Ana. Brian memanggil nama istrinya Ana. Sean menyadari jika Brian memanggil nama belakang istrinya, kurang ajar sekali dia.
Buk... Buk...
"Argh... Hubby apa yang kau lakukan, "
Inka shock saat melihat Sean justru memukul Brian lagi.
Sean menarik tangan istrinya pergi dari sana. Jangan sampai dia membunuh pria bajingan itu.
Sepanjang jalan pulang Inka menggerutu bibirnya, suaminya itu sungguh keterlaluan. Dia sendiri bebas berpelukan dengan wanita lain, masa dia hanya makan saja tak boleh.
Sementara Sean mengumpat Brian, pria itu sungguh membuatnya terbakar cemburu. Brian sungguh memanfaatkan keadaan. Sean juga sebal dengan istrinya. Sudah menikah dua kali tapi polosnya tak berubah.
Istri nya sungguh tak bisa membedakan mana pria biasa, dan mana pria yang menaruh hati padanya.
Mengingat istrinya makan dengan sendok yang sama membuat dadanya bergemuruh lagi.
"Ku patahkan tangannya, jika berani lagi." Sean mengumpat Brian.
Kenzo hanya menggeleng kan kepala nya. Ia tau Sean marah, Kenzo menyayangkan Nona muda nya. Nona nya itu memang sangat polos, tak tau saja jika makan dengan sendok yang sama, artinya sama saja dengan berciuman. Pantas saja tuannya marah dan ponselnya yang menjadi sasaran empuk kemarahan nya. Wanita polos dan lugu itu memang benar benar membuat Sean bertekuk lutut di hadapan nya.
Sean melirik ke arah istrinya, dan Inka menyadarinya.
"Apa.." Selaknya galak.
Sean menggerutu sendiri wanitanya ini benar benar. Dia yang salah dia juga yang galak.
Brakk....
__ADS_1
Inka menutup pintu mobil dengan keras, Sean memegang dadanya kaget. Tak percaya istri mungilnya berubah jadi singa.
"Kau lihat Ken.. Dia yang kedapatan berselingkuh, dia juga yang marah. Awas saja ku hajar nanti malam..." Kenzo tersenyum tipis, tuannya itu sudah menjadi budak cinta.
Sampai di dalam Mension, Sean mengerutkan keningnya mendapati Inka yang melihat ke arah nya. Dan lagi tangannya berkacak pinggang. Ada apa? Sean berpikir apa dia punya salah,?
"Ba_" Belum selesai kalimat Sean,Inka lebih dulu memotong perkataan nya.
"Mandi dengan kembang tujuh rupa, jangan masuk ke dalam kamar. Awas saja jika masih ada bau wanita itu..." Sean melebarkan matanya. Istri kecil nya tau....
Inka berbalik cepat meninggalkan suaminya.
Sambil menghentakkan kakinya menuju kamarnya.
"Baby...." Sean tersenyum kecut, rupanya istrinya yang marah bukannya dia.
"Ken...Carikan kembang tujuh rupa, sekarang ",
Kenzo mengeryit kan alisnya, buat apa kembang tujuh rupa?
"Ken..." Sean berteriak mengagetkan seisi Mension.
"Ya tuan.."
Kenzo berbalik, dan pergi meninggalkan tuannya. Mencari apa yang tuannya inginkan.
Pelayan mengangguk dan mengambil akan handuk baru milik tuannya.
"Ina untuk apa..?"
"Tuan yang menyuruh Nona..." Inka mengangkat alisnya sebelah, tak lama ia tersenyum miring. Suaminya tak berani kan mengambilnya sendiri, jelas saja dia tidak mau, menyebalkan.
Sean melepas pakaiannya dan memakai handuk selembar yang pelayan berikan. Semua pelayan yang melihat tuannya, menundukkan wajahnya.
"Huh... Gara gara wanita sialan itu, aku harus bertelanjang di depan pelayan."
"Ina... Buang baju itu.." Pelayan itu mengambil setelan baju tuannya yang di tanggalkan nya.
"Dimana Kenzo, kenapa lama sekali,"
Sean berdecak jengkel, "Memangnya dia mencari bunga di kuburan apa.. Dia pikir aku orang mati.. Huh.." Pelayan tersenyum tipis, semenjak kedatangan nona Inka, banyak yang berubah dengan Tuannya. salah satunya dia bisa mengontrol emosi nya.
Sean berendam di dalam bathub yang di isi dengan kembang tujuh rupa.
Sean berjanji akan memberikan pelajaran untuk kucing nakalnya, telah menyuruhnya mandi dengan kembang. Untung saja dia laki laki jika perempuan pasti seisi Mension akan mengira Suzanna.
__ADS_1
Bukankah jika pria tandanya ia memuja wanita itu,...Sean bergidik ngeri membayangkan nya.
Sean berjinjit memasuki kamarnya, ia tak ingin berakhir dengan tidur di luar. Mana mau dia....
Ia mengelus dadanya lega, rupanya istri mungilnya sudah tidur. Ia berbaring perlahan di samping istrinya. Pelan ia masuk ke dalam selimut tebal itu.
Cup...cup...
Gara gara wanita sialan itu,hampir saja ia berakhir di luar tidurnya.
*
Brian mengompres bibirnya yang pecah, tapi ia bahagia bisa berdekatan dengan wanita yang selalu membuat nya tak bisa tidur. Wanita yang membuat hari hari nya kacau. Wanita yang selalu ia bayangkan jika sedang bercinta dengan Bella.
Mengingat Bella, Brian berpikir mungkinkah ada maksud tersembunyi. Brian yakin itu, Bella bukan wanita yang gampang menyerah.
Apapun itu Brian ingin menjadi seorang yang bisa melindungi Inka.
Andai saja ia lebih dulu bertemu dengan nya, mungkin saat ini dialah pria paling beruntung.
*
Sementara di rumah sakit, seorang wanita sedang terbaring lemah. Seto beserta istrinya menunggunya. Bukankah yang ia tau Bagas telah menceraikan Clarisa. Itu artinya talak itu dulu tak berlaku. Meski saat ini anak itu pergi, setidaknya saat Bagas menceraikan Clarisa dalam keadaan masih hamil.
Bagas mengeraskan wajah nya, ia benar benar muak dengan Clarisa. Sandiwara apalagi yang sedang ia mainkan.
"Mom... Dad... "
"Risa..." Semua mata memandang wajah pucat Clarisa, tak terkecuali Bagas.
"Shet.." Clarisa mendesis sakit di bagian inti tubuhnya.
"Kau baru saja keguguran Risa...." Clarisa menoleh menatap wajah mommy nya. Ia memejamkan matanya, tak berani mengangkat wajahnya memandang Bagas.
"Baru sebulan lebih kau membohongi ku dengan pura pura keguguran Risa.." Orang tua Clarisa terkesiap mendengar penuturan Bagas. Apa maksudnya ini....
"Apa yang kau inginkan sebenarnya Clarisa. Berpura-pura keguguran,lalu kau keguguran betulan. Sementara aku sendiri tak pernah sekalipun menyentuhmu selama empat bulan lamanya. Dan Dokter bilang usiamu baru saja berumur sebulan Clarisa. Heh.... Kau sungguh wanita yang sangat murahan.."
"Bagas..." Seto berteriak keras, siapa yang mau anaknya di katai murahan, meski mungkin saja itu benar.
" Jangan pernah lagi melibatkan saya lagi tuan Seto. Apapun yang anak anda lakukan itu sama sekali sudah bukan urusan saya. Jadi jangan lagi coba menipu ku Clarisa..."
Bagas berlalu pergi meninggalkan mereka, ia sungguh muak dengan sandiwara Clarisa.
Bagas berpikir mungkin inilah akibatnya telah membuang berlian dan menggantinya dengan batu kali. Hidup dan hatinya sungguh tersiksa.
__ADS_1
Di rumah sakit yang sama, wanita cantik itu keluar dari sana. Hari ini Bella sudah di perbolehkan pulang oleh dokter.