My Ceo Love

My Ceo Love
Langkah Sean


__ADS_3

Sean memberikan lencana miliknya pada Cello. Cello menatap benda yang ada di tangannya. Cello bingung kenapa pria ini memberikan nya padanya?


"Hidup lah dengan kuat dan jalan yang baik, dan carilah orang yang akan menjadikanmu raja."


Mario menatap tak percaya pada Sean, Mario tau itu apa? dan kenapa Sean memberikan nya pada Cello.


"Aku ingin hidup damai bersama istri dan anak anak ku, ......


Kau harus tunjukan jika aku tak salah memilih mu....


Pergi lah ke Chicago, dan belajarlah di sana. Dia akan membimbing mu menjadi raja di atas raja. Jika kau sudah siap datanglah ke Hamburg mereka semua menunggu pemimpin yang sebenarnya."


Sean tersenyum tipis, mungkin saja Mario tak percaya atau Mario tak mengijinkan Cello. Tapi Sean yakin Cello akan menjadi pria yang lebih dari dirinya. Cello memiliki karakter yang Sean inginkan, sakit hati dan tak diinginkan oleh orang tercinta akan membuat karakter yang Sean inginkan.


Sean yakin Cello lebih bisa menjadi apa yang ia bayangkan saat ini.


Sean lalu pergi meninggalkan mereka berdua, yang penuh tanda tanya?


"Apa yang kau pikirkan Cello, kau tak tau itu apa. Sebaiknya kau kembalikan padanya , larilah sebelum dia benar benar pergi..?"


Mario menyelidik wajah Cello, Cello tak bergeming sedikitpun dari tempatnya.


"Apa Daddy akan mendukung apapun yang Cello ingin kan?"


Terang saja Mario mengangguk mengiyakan.


"Bisakah Cello mengambilnya dan menjadikan ini adalah keberuntungan Cello Dad..."


Mario masih diam, mencari kesungguhan di mata Cello.


"Cello tau ini apa Dad... Bisakah Daddy mendukung Cello..?"


Tanpa banyak bicara Mario memeluk Cello, ia mengangguk mengiyakan ucapan Cello. Mario mengusap kepala Cello..


"Ya jadilah yang kuat seperti yang kau inginkan, jadilah yang terbaik jika kau bertemu dengan nya. Tunjukan bahwa kau mampu.."


Sean tersenyum, ia yakin lima belas tahun lagi Red Blue akan menjadi kan Cello pria yang sesungguhnya.


Cup...


Sean tersenyum melihat dua orang yang sangat di cintai nya sedang di alam mimpi. Sean akan hidup bahagia bersama dengan wanita yang sangat di cintai nya.


Langkah ini sudah Sean pikirkan jauh jauh hari, sebelum ia mengirim Nico ke markas sebagai pengganti sementara.


Sean yakin Cello adalah anak yang terbaik, Sean sudah lama mengincar Cello. Sean tau Cello anak yang tak di inginkan.

__ADS_1


*


Sudah dua hari lamanya Siska mengurung diri, tak mungkin ia akan mengurung dirinya terus menerus. Nasi sudah menjadi bubur, tak mungkin yang sudah robek akan kembali seperti semula. Yang harus ia lakukan adalah melupakan kejadian itu.


Hidup harus berlanjut bukan... Jika ada yang ingin menikahinya, tentu saja Siska akan memberi tahukan bahwa dia sudah tidak perawan.


Siska mengepalkan tangannya, ia berjanji akan membalas pria brengsek itu, yang meninggalkan dirinya seperti ******.


Sudah sebulan lamanya Siska tak bertemu dengan Inka, dia sangat rindu dengan sahabatnya itu. Siska mengutuk William yang tak membiarkan istrinya memiliki ponsel. Jaman sekarang Inka harus di batasi dengan ponsel.


Dua kali ia menelpon Inka dan yang mengangkat nya tentu saja pelayanan. Dan Siska menelpon lagi tapi William lah yang mengangkat nya. Tentu saja Siska kapok, malas rasanya menelpon sahabat nya.


Siska menggerutu, ia mengumpat Inka, kenapa juga sahabat nya itu mau tidak menegang ponsel. Padahal ia ingin mencurahkan segala pada Inka.


*


Disinilah Siska, di depan Mension mewah milik William. Sudah hampir dua bulan lamanya Siska tidak bertemu dengan Inka. Siska akan meminta pendapat sahabat nya. Siska sudah tak mampu lagi memendamnya sendiri.


Pagi tadi Siska membeli testpack dan benar dia hamil. Tentu saja itu menjadi pukulan tersendiri bagi Siska. Tak ada saudara dan teman satu satunya adalah Inka. Maka dari itu ia nekat datang kemari, ingin bertemu dengan Inka.


Siska melangkah kan kakinya menuju pintu masuk saat penjaga Mension membuka pagar.


Siska mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Inka. Siska sangat rindu dengan temannya. Apa Inka sudah melahirkan.. Ah mungkin saja benar. Aku terlalu sibuk dengan memikirkan pria brengsek itu.?


Siska ciut di tempat nya berdiri, saat mendapati Sean William datang dari ruang kerjanya.


"Ada apa..?"


"Aku mau bertemu Inka, boleh kah tuan hanya sebentar saja..?"


*


Inka memeluk sahabatnya, ia juga geram dengan pria brengsek itu. Begitu bertemu tanpa ada yang ditutup tutupi, Siska menceritakan tentang kehamilan nya pada Inka.


"Ka gue turut berduka atas meninggalnya salah satu putra kalian."


" Terima kasih Sis.."


Sudah lebih dua jam lamanya Siska juga bermain dengan putra Inka, Xanders William.


Tak lama Siska pamit, ia tak enak dengan tuan William yang sedari tadi meliriknya terus.


Inka merasa iba dengan sahabatnya, ia menoleh ke arah suaminya yang baru saja duduk setelah Siska pergi.


"By..."

__ADS_1


Sean menghembuskan perlahan, saat kedua sahabat dan ini saling berbagi cerita. Sean menyelidiki siapa pria yang Siska maksud. Dan Sean tau jika dia adalah Alves.


Sean tidak ingin istrinya kepikiran, maka ia segera mencari solusinya. Semoga saja Alves bukan pria brengsek yang ia dengar.


"Aku yakin jika pria itu tau, dia pasti bertanggung jawab.."


*


Prang...


Siska menjatuhkan gelas yang ia bawa, dadanya naik turun melihat pria yang ada di hadapannya. Pria brengsek yang sudah merenggut keperawanan nya.


"Brengsek.."


Maki Siska, matanya memerah menahan tangisnya. Dia di perlakukan seperti ****** oleh pria asing ini. Dan tiba tiba pria ini ada di hadapannya.


Siska masuk kedalam kamarnya mengambil uang yang menjadi harga keperawanan nya.


Siska melemparkan uang pecahan seratus ribu itu pada pria di depannya, dan berhamburan jatuh ke lantai kotor.


"Aku tidak perlu uangmu brengsek... Kau pergi dari sini atau aku akan berteriak.?"


Alves memejamkan matanya, ia tau pasti ini reaksinya. Memang dia yang pengecut, tapi sebisa mungkin Alves akan meminta maaf pada wanita ini.


"Kau mau membawaku kemana...Hei lepaskan aku brengsek.."


Siska kaget saat dirinya berada dalam gendongan Alves. Siska meronta ronta ingin turun dari gendongan Alves.


"Diam atau aku akan menjatuhkan mu.?"


Seketika Siska diam, hanya matanya saja yang waspada.


Mungkinkah dia akan di jual dan yang lebih ngeri lagi dia akan di bunuh.


Jebret...


Pintu mobil di tutup kasar oleh Alves, Siska yang kaget beringsut. Ia belum siap jika harus di bunuh.


"Kau mau membawaku kemana... "


Siska bergetar hebat, ia merasa saat ini dirinya dalam bahaya.


" Tolong lah tuan, lepaskan saya. Saya janji tidak akan pernah mengganggu ketenangan anda. Biarkan kami hidup damai. Saya tidak akan meminta pertanggung jawaban anda."


Alves hanya melirik ke arah wanita berambut keriting yang sebentar lagi akan menjadi ibu untuk anaknya.

__ADS_1


Gabut 😔😔😔


__ADS_2