
"Om mau cium Alice lagi..."
Cello menegakkan badannya, ia menetralkan perasaan nya. Dan memasang wajah biasanya lagi. Kenapa ia jadi bodoh....
"Jangan membuat ulah di kantor, jika tak ingin di hukum.."
Alicia mencebikkan bibirnya, menatap sengit wajah garang Cello.
Cello yang melihatnya, menghembuskan nafasnya perlahan. Ia harus ekstra sabar menghadapi gadis pecicilan ini.
" Apa kau lapar, "
Alicia yang mendapat tawaran makan matanya berbinar. Ia langsung menggandeng tangan Cello cepat. Cello menggeleng kan kepalanya, melihat betapa senangnya gadis ini. Mereka berdua berjalan beriringan dengan Alicia yang bergelayut manja di lengan Cello.
Radika yang melihat mereka berdua dari jauh mengepalkan tangannya. Semenjak kedatangan Alicia, Cello bertambah jauh darinya. Ia harus menyingkirkan gadis ingusan itu.
Sore harinya, Alicia akan pulang ke apartemen miliknya. Ia sudah memberi tahukan jika ia akan pulang terlebih dahulu.
Alicia menghentikan langkahnya. Ia tau seperti nya seseorang telah mengikutinya. Alicia berbelok pada gang sempit. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok. Telinganya menangkap ada tiga orang pria sedang mengincarnya.
"Dimana gadis itu..."
"Brengsek..."
Salah satu pria mengkode temannya. Dan yang mendapat tatapan itu mengerti. Ia berjalan mengendap, mengintip di celah tembok. Begitu mereka mengetahui nya.
Alicia keluar dari persembunyiannya dan...
Buk..Ces..
Argh...
Dengan gesit Alicia langsung mengarahkan pisau miliknya. Pada lengan pria yang berjalan ke arahnya .
Perkelahian pun tak terelakkan. Alicia yang bertubuh mungil melawan tiga pria sekaligus.
Alicia melompat dan melemparkan pisaunya pada salah satu dari mereka lagi.
Argh..
Teman si pria shock, dia tak menyangka gadis kecil ini jago bela diri. Dan lemparan pisau nya tepat sasaran. Kedua teman pria itu mengumpat dan kembali mengarahkan pisau tajam nya pada Alicia. Beruntung Alicia bisa menghindari nya. Dan Alicia tak tinggal diam. Ia melawan dan menangkis pisau yang mengarah pada nya. Alicia sempat terhuyung karna pisau itu menggores lengannya.
Ia lalu tersenyum miring, melihat seorang pria yang memegang pisau tajam miliknya bergetar.
"kau ingin seperti kedua temanmu.."
__ADS_1
Dengan nafas yang terputus putus, Alicia memancing kemarahan mereka.
Pria yang terluka tangannya di belakang Alicia bangun dan mengambil kayu. Lalu melemparkannya pada Alicia.
Bukk.....
Dor....
Argh..
Cello menendang pria yang mengayunkan kayu pada Alicia dan menembaknya. Ia lalu membabi buta menghajar teman yang lainnya.
Alicia kaget, ia shock melihat kedatangan Cello. Dan yang membuat Alicia bertambah shock kepala Cello berlumuran darah.
Bukk...Bukk..
Argh....
Kedua temannya ikut terkapar, Cello menancapkan masing masing pisaunya pada dada mereka.
"Om...."
Cello menatap wajah cantik Alicia, entah kenapa dadanya sangat sakit. Melihat gadis itu di kroyok oleh segerombolan pria. Cello ingin sekali memeluk tubuh mungil itu.
Cello melangkah mendekati Alicia, yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Alicia memeluk tubuh tinggi dan kekar milik Cello. Ia pikir hari ini ia akan berakhir ditangan mereka bertiga.
*
Cello meraba luka goresan pisau di tangan Alicia. Ia memejamkan matanya. Tangannya terkepal erat.
"Tuan, dokter sudah datang..."
Tak lama seorang dokter wanita datang. Yang Ingin mengobati kepala Cello yang terkena pukulan kayu. Luka yang Cello dapatkan memang terbilang serius. Tapi Cello tak menghiraukan luka yang ia miliki. Tatapan matanya masih terfokus pada gadis yang terbaring tidur di sebelah duduknya.
Cello mengelus luka yang gadis itu dapat kan. Mengingat bagaimana gadis itu mendapatkan lukanya, dada Cello bergemuruh hebat menahan marah.
Alicia tertidur pulas saat menangis tadi. Cello menggendong Alicia pulang ke apartemen miliknya lagi. Dia tak bisa membiarkan Alicia seorang diri di apartemen nya. Dia juga tak bisa melihat mata bulat itu berkaca-kaca. Apalagi sampai mengeluarkan air matanya.
Entah apa yang Cello rasakan, tapi Cello tak bisa melihat gadis itu terluka.
"Periksa dia..."
Alex dan dokter tersebut mengalihkan pandangannya, pada gadis yang terbaring tidur di samping Cello. Grisa merasakan panas di dadanya melihat seorang gadis tertidur pulas di ranjang Cello. Siapa dia...
__ADS_1
"Tapi Cel lu_"
"Periksa dia.."
Dokter itu menghembuskan nafasnya perlahan. Yang seharusnya lebih dulu di obati adalah Cello. Pria itu berdarah di kepalanya. Bahkan darah itu sudah mengering.
Dokter Grisa menurut membersihkan luka di tangan Alicia lalu mengobatinya.
Sssh....
Alicia membuka matanya merasakan perih di lengannya.
Alicia menautkan alisnya melihat wanita cantik berbaju putih. Tak lama kemudian ia merasa perih lagi di lengan kirinya. Wanita itu mengoleskan anti septik pada lengan kirinya. Alicia bingung, kenapa kepala Cello masih berdarah.
Alicia tersenyum lebar mengingat Cello lebih perduli padanya. Di bandingkan dengan lukanya sendiri. Ia lalu bangun dan langsung mencium pipi Cello di hadapan Alex dan Grisa.
Cup....
Cello mematung di tempatnya duduk, ia tak menyangka Alicia mencium nya di depan Alex dan Grisa.
Alicia tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih. Ia sama sekali tak malu atau pun canggung.
Grisa yang melihat Alicia mencium Cello seketika dadanya bergemuruh panas. Apakah dia kekasihnya. Rasanya tak mungkin dia gadis belia.
"Om biarkan Alice yang mengobati luka Om Cello."
Dada yang semula terbakar kini kembali dingin. Mendengar gadis mungil itu menyebut Cello, dengan panggilan Om. Ah hanya ponakan...
Grisa tersenyum ramah mendengar Alicia ingin mengobati luka Cello. Tentu ia mengijinkan Alicia mengobati Cello. Yang pasti atas arahannya.
Alicia dengan telaten mengobati luka di kepala Cello. Ia sesekali akan meniup lukanya. Sedangkan Cello yang mendapatkan perlakuan seperti itu. Dadanya berdebar kencang, nafas Alicia membuat sesuatu di dalam sana bergejolak. Berdekatan dengan Alicia, sepertinya akan membuat Cello mati di usia muda. Ia harus menahan diri agar tidak merengkuh dan mencumbu Alicia.
Alicia meringis melihat luka yang cukup lebar di kepala Cello.
"Cel.... Sebaiknya jangan terkena air terlebih dahulu..."
Cello tak menjawab nya. Matanya masih ter fokus pada wajah Alicia. Grisa yang menyadari jika Cello, tak mengalihkan pandangannya pada Alicia mengerutkan keningnya. Bukankah mereka Om dan ponakan. Lalu kenapa tatapan Cello seperti menatap pada seorang wanitanya.
Grisa gelisah di tempatnya, apakah Alicia bukan keponakan Cello. Lalu siapa dia? dan bagaimana dia bisa ada di sini? Apalagi dia tidur di kamar milik Cello.
"Alex, bolehkah aku bertanya, siapa Alicia.? Em.. Kenapa gadis itu ada di apartemen milik Cello? Apa hubungan mereka sebenarnya?"
Keluar dari kamar Cello Grisa di antar oleh Alex. Wanita itu langsung memberondong Alex dengan pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di hatinya.
Grisa tak bisa memendamnya lebih lama. Ia harus tau ada hubungan apa mereka berdua.? Kenapa Cello menatap Alicia seperti tatapan cinta seorang pria kepada wanita nya.
__ADS_1
"Maaf nona, saya tidak berhak menjawab pertanyaan anda. Dan saya juga tidak berhak mencampuri urusan pribadi tuan Cello."
Jawab Alex... Pria itu segera membuka pintu apartemen. Dan mempersilahkan dokter Grisa untuk pergi.