My Ceo Love

My Ceo Love
Pria misterius


__ADS_3

Suara ******* bercampur dengan bunyi kecipak kulit yang bersentuhan memenuhi ruang pribadi yang tak terlalu luas. Sudah terhitung tiga kali Alicia sampai pada puncaknya. Tapi Cello tak menunjukkan bahwa dirinya akan mengakhiri pergulatan pagi menjelang siang ini.


Ah...


"Om..."


Alicia meringis menahan sakit dan perih, bercampur dengan rasa yang luar biasa. Cello tak menghiraukan rintihan istrinya. Ia terus berpacu mencari kepuasan tersendiri. Ia bergerak liar, memompa tubuh di bawah kungkungan nya.


Ah....


Cello semakin bersemangat mempercepat gerakan pinggulnya. Ia merasakan gelombang dahsyat menghampiri. Tangan nya berpegang pada bokong Alicia. Dan meremas bokong polos Alicia saat pusat tubuhnya benar benar akan meledak.


Ah....


"Alicia...."


Cello mendongak, tubuhnya bergetar hebat, menahan sesuatu yang baru saja ia rasakan. Ia menyemburkan cairan kental miliknya, yang bertahun tahun di pendam nya. Nafasnya masih memburu, tak lama ia ambruk di samping istrinya. Sepuluh menit kemudian ia baru mengeluarkan miliknya dari Alicia.


Cup... Cup...


Ciuman bertubi tubi Cello layangkan pada istri tercinta. Cello sangat beruntung bisa memiliki gadis kecil nya. Alicia adalah perempuan pertama yang dekat dengannya. Perempuan pertama yang membuatnya jatuh cinta. Perempuan pertama juga yang melepas keperjakaan nya.


Cello menarik selimut dan memeluk tubuh lelah istrinya. Mendekapnya erat, tak ingin lagi Cello kehilangan seperti kemarin.


Alicia tidur dalam dekapan hangat Cello. Ia lelah melayani nafsu suaminya. Dua jam lebih untuk pertama kalinya Cello menggempurnya. Hingga nyaris saja tulang tulangnya lepas semua.


Dari luar ruang pribadi nya, Grisa mengepalkan tangannya. Mendengar suara jeritan dan ******* di dalam kamar pribadi CEO. Grisa kembali karna ia meninggalkan ponsel nya. Satu jam yang lalu ia sudah berdiri disana. Telinganya menangkap jelas aktivitas intim suami istri itu.


Rasa panas dan cemburu yang menjalar di sekujur tubuhnya. Membuat ia tak bisa pergi dari sana. Alhasil ia mendengar dengan jelas Cello yang mendesah menyebut nama Alicia.


Ia meneteskan air matanya. Di dalam sana Cello sedang bercinta dengan gadis belia. Benarkah dia adalah istrinya?. Atau mungkin saja hanya untuk membohongi?. Tapi nyatanya semua yang Cello ucapkan benar adanya. Saat ini mereka berdua sedang memadu kasih. Bercinta sampai mereka lupa jika ruangan itu tak terkunci.


Grisa memang tak melihat aktivitas panas mereka. Tapi pintu itu tak terkunci rapat. Jelas saja suara ******* dan jeritan Cello saat mencapai puncaknya, terdengar jelas di telinga Grisa.


Rasanya kaki Grisa berubah seperti jelly. Lemas ,tulang tulang nya bahkan tak mampu sekedar menopang tubuhnya.


Dert... Dert...

__ADS_1


Grisa berjengit mendengar suara ponsel yang bergetar di atas meja.


Clek...


Grisa mematung di tempatnya berdiri. Cello keluar dari kamarnya. Dan dia menatapnya tajam.


Cello menutupi tubuh polos Alicia. Ia mengambil pakaian yang tergeletak di lantai dan menggantinya lagi dengan yang baru.


Usai membersihkan diri Cello keluar dari kamar. Ia kaget melihat Grisa berdiri di depan kamarnya.


"Tak sepantasnya anda menguping nona,"


Nada rendah dan dingin menyapa gendang telinga Grisa. Grisa gugup sekaligus takut. Kaki yang semula lemas seperti jeli. Sekarang kembali seperti semula. Rasa takut dengan tatapan tajam Cello mengembalikan kebodohan Grisa.


"A_aku mengambil ponsel yang tertinggal."


Matanya menatap tak percaya pada wajah puas Cello. Pria yang di kejarnya empat tahun lalu, hari ini ia mendengar dengan telinga nya sendiri menyebut nama wanita lain.


Grisa pergi terburu buru, takut jika Cello bertanya lebih padanya.


"Awasi dia.."


Click....


Cello meremas ponselnya, pria itu memang licin seperti belut. Dia kerap kali mengganti identitas nya. Entah bagaimana caranya Cello harus memancing Jung keluar.


*


"Kau seperti mayat berjalan Rubi,"


Nada hinaan dan cemooh di lontarkan pria paruh baya di depannya.


" Bantu aku menyingkirkan anak itu....?"


"Apa imbalannya..."


"Aku bersedia bekerja lagi untuk mu,"

__ADS_1


Pria didepannya itu tertawa terbahak mendengar Rubi menawarkan bekerja sama lagi. Apa wanita tua ini bermimpi. Bagaimana mungkin ia akan bekerja sama lagi sementara Rubi wanita cacat tak bisa apa-apa?


"Rubi.. Rubi... Kau pikir apa yang bisa di andalkan dari wanita cacat seperti mu. Lihat lah dirimu sendiri. Kau bisa berjalan saja itu suatu keajaiban.?"


Rubi mengepalkan tangannya, jika ia punya kekuatan. Ia juga tak sudi meminta bantuan pria di depannya ini. Apalagi anak itu adalah istri dari putra Cello. Rubi tak terima Cello menjadi bagian dari wanita sialan itu.


"Ya aku akan membantumu, tapi kau harus tau, aku juga tak ingin putramu menghalangi jalanku. Jauhkan dia dari orang orang ku."


Mata tajam pria di depannya ini membuat bulu kuduk Rubi meremang. Ia mengumpat Inka dan putrinya. Ingin sekali Rubi menghabisi gadis sialan itu. Tapi jelas saja Cello putranya akan melindunginya.


"Ingat lah Jung, aku bisa saja membongkar rahasia mu selama ini. Bantu aku menyingkirkan perempuan sialan itu. Maka aku akan tutup mulut selamanya."


Gigi pria di depannya gemerutuk menahan emosi yang memuncak. Ia berdiri dan mencekik Rubi dengan kedua tangannya.


"Jung..."


Rubi terkesiap ia memukul mukul tangan Jung di lehernya.


"Bermimpi lah kau Rubi, sampai kapan pun kau tak bisa mengancam ku. Wanita seperti mu memang sudah tak layak bekerja sama dengan ku. Jadi jangan coba coba denganku."


Brukk...


Tubuh ringkih dan tua Rubi jatuh terhempas. Begitu pria itu melepaskan cengkraman tangannya dari lehernya. Rubi terbatuk-batuk dan menghirup udara sebanyak banyaknya. Ia tak menyangka Jung akan melakukan ini padanya.


Pria itu menginjak kaki cacat Rubi dan menekannya.


Argh...


"Kau tau Rubi, dirimu tak lagi berguna untuk ku. Wanita cacat seperti mu, sama sekali tak membuatku takut. Camkan itu!.."


Rubi meringis menahan sakit yang luar biasa. Kaki yang pincang dan hampir saja membusuk waktu di penjara Sean di injak oleh Jung. Rubi mengepalkan tangannya, sampai detik ini ia bisa menahan rasa sakit di kurung dan tubuhnya hampir busuk semua, ia masih bisa bertahan. Apalagi saat ini ia bisa berjalan meski dengan kaki yang pincang.


"Ya kau bisa percaya padaku kali ini. Tapi bantu aku, menyingkirkan anak perempuan sialan itu.?"


Jung tersenyum mengejek, wanita itu harus patuh padanya. Seperti sebelumnya, dia menjadi partner ranjangnya. Jung tertawa terbahak bahak mendengar permohonan Rubi. Ia semakin bersemangat untuk memperluas jaringan bisnis haramnya. Ia yakin Rubi akan mematuhinya.


Ya di pulau terpencil Jung memanfaatkan Rubi dan menjadikan Rubi budak **** nya. Rubi menurut, selama lima tahun ia membodohi Rubi. Dan memanfaatkan wanita itu. Jung menjanjikan ia akan mengeluarkan Rubi dari pulau terpencil itu. Dan Rubi akan melayani nafsu bejatnya. Tentu saja Rubi mengiyakan. Tapi entah kenapa Rubi percaya begitu saja pada Bella. Rubi sudah lama menunggu pria itu membantunya hingga Bella datang menawarkan bekerja sama dengan nya. Kebetulan saat itu Bella membenci orang yang sama. Rubi tak berpikir panjang mengiyakan perkataan Bella. Dari pada menunggu pria yang entah kapan akan mengabulkan permintaan.

__ADS_1


__ADS_2