My Ceo Love

My Ceo Love
Akhir Lincoln


__ADS_3

"Kau..."


Wajah Rubi pucat pasi melihat siapa yang ada di hadapannya. Mario, dari mana pria itu tau...


Seketika Rubi mundur beberapa langkah, Rubi takut jika Mario mengetahui tujuannya.


"Rubi Felisa, apa ini yang selama ini kau incar.."


Mario terkekeh kecil, mencoba untuk bersikap tenang. Seperti nya Rubi telah memanfaatkan dirinya demi ambisi semata.


Inka beringsut menjauh, menyadari dua orang di depannya ini bersitegang. Kenzo segera melepaskan pelurunya pada Rubi.


Dor...


"Argh.."


Semua orang terkesiap melihat Rubi yang tergeletak di lantai dingin dengan darah segar mengalir di kakinya.


Alves sendiri menghampiri Inka, wanita itu sepertinya sangat ketakutan terlihat dari tubuh nya yang bergetar. Alves melihat darah yang sedikit mengering di kaki Inka.


Alves membopong tubuh Inka membawanya keluar dari sana.


Inka sendiri hanya pasrah, matanya berkaca-kaca melihat sosok pria yang menolongnya.


"Suamimu yang menyuruh ku, dia akan datang setelah urusan nya selesai. Dia sangat mencintai mu, percayalah ..."


Inka bertambah segukan menelungkup wajahnya pada dada bidang Alves. Alves sendiri merasakan getaran aneh yang selama ini ia coba kubur, bangkit kembali. Alves sadar dirinya telah terjebak dengan perasaan yang salah. Tak seharusnya ia memiliki perasaan demikian.


Sean pasti akan memenggal kepalanya.


Mario menatap Rubi kasihan, biar bagaimanapun juga Rubi adalah istrinya. Baru seminggu dia menikah dengan nya. Dan Mario kecewa dengan keputusan Rubi yang manfaatkan dirinya.


Kenzo menarik paksa Rubi, membawanya keluar dari sana.


"Mario tolong aku... Lepaskan brengsek..Inka sialan, aku akan membunuhmu wanita kampung.."


Rubi berontak di tangan Kenzo, Mario sendiri mematung di tempatnya berdiri, melihat istrinya di tarik paksa oleh Kenzo. Pria yang terkenal dingin dan tanpa ampun itu membawa istrinya.


Kenzo tak jauh dari Sean, yang tak kenal ampun jika sudah menyangkut orang yang berharga bagi nya.


Kenzo tau Mario tidak akan bertindak bodoh, itu sebabnya mengapa Mario sama sekali tidak membuka mulutnya sedikit saja.


Uhuk...Uhuk...


Sean tersenyum miring, ia melepas paksa topeng yang selama ini menutupi wajah Lincoln.


Sean menekan pisau lipatnya pada luka bakar Lincoln.

__ADS_1


Lincoln berteriak keras, merasakan panas kala lukanya di sayat pisau tajam Sean.


"Brengsek kau Sean..."


Sean terkekeh melihat pria itu mengumpatnya, ia meraih remote control. Menyalakan televisi yang tadi menampilkan wajah cantik Inka, dan sekarang layar televisi itu menampilkan gambar seorang pria.


Lincoln melotot kan matanya melihat sosok pria yang ada di layar televisi. Layar itu menampilkan wajah buruk rupanya yang dulu, sebelum ia mengoperasinya. Lincoln terduduk lemas, inilah kelemahannya. Ia akan seperti orang hilang akal sehat saat tau wajah buruk rupanya.


Selain itu layar itu menampilkan markas Blood black miliknya di lumpuhkan. Blood black telah hancur tak tersisa. Sean telah meledakkan markasnya. Lincoln linglung di tempatnya berdiri, dari mana Sean tau markas Blood black miliknya.


Sean William rupanya lebih dulu bertindak gesit. Sean sudah memprediksi nya, dimana Lincoln akan kalah hanya dengan menekan psikis nya dan meruntuhkan markas Blood black miliknya.


Sebelum operasi wajah Lincoln saat itu memang sangatlah buruk dan berbau busuk. Inilah yang membuat psikis Lincoln jatuh, ia akan bergetar takut melihat wajah buruk rupanya.


Lima tahun lalu, Lincoln melarikan diri dari kejarannya dan daddy nya. Lincoln juga berniat menghabisinya dan mencoba merebut Red Blue miliknya. Dan dia kecelakaan, mobil yang di tumpangi nya terguling dan terbakar. Itu sebabnya wajahnya buruk dan membusuk.


Dor...


"Argh..."


Lincoln terduduk dengan kaki berdarah, ia mengerang menahan sakit menjalar di kakinya.


"Itu balasan telah membunuh Daddy dan pamanku.."


Dor...


"Argh.."


Dor..Dor...


"Uhukkk ..."


" Itu balasan telah menyakiti istri ku.."


Lincoln memuntahkan cairan merah kental dari mulutnya.


Bukk....


Sean menendang dan menginjak kepala Lincoln, menekannya dengan sepatu pantofel hitam miliknya...... Mata Lincoln melotot dan menghembuskan nafasnya terakhir kalinya.


*


Alves membawa Inka ke rumah sakit, ia gelisah menunggu Sean datang. Di dalam sana Inka sedang mempertaruhkan nyawanya.


Begitu sampai di rumah sakit, Inka langsung dilarikan ke ruang operasi. Inka telah pendarahan, dinding rahim Inka terluka. Mau tidak mau Inka harus melahirkan sekarang.


Sean berlari menuju ke arah Alves, dadanya naik turun menahan sesak yang menghimpitnya. Beberapa menit yang lalu Alves menghubungi nya jika istri nya harus melahirkan sekarang.

__ADS_1


Sean yakin, istrinya itu shock.


"Bagaimana keadaan istriku.."


Mata Sean memerah menahan bulir bening yang siap meluncur. Alves mendesah panjang tak tega mengatakan kondisi Inka.


"Katakan..?"


"istrimu pendarahan dan dia harus melahirkan anak kalian sekarang. Rahimnya luka, Rubi telah menendang perut istrimu.."


Sean memejamkan matanya, tangannya terkepal erat. Rubi Felisa...


Tes..Tes...


Pria kejam dan dingin telah meluncurkan tangis nya. Alves yang melihat Sean menangis menepuk pundak lebar saudara nya.


"Sebaiknya kau berganti pakaian Sean, bersihkan dirimu.. Aku yang akan menunggu di sini."


Sean tak bergeming sedikitpun, sudah lebih dari satu jam lamanya ia menunggu pintu ruang operasi di buka. Alves mendesah, ia tau Sean tak akan mempan dengan siapapun apalagi ini menyangkut wanita yang sangat dicintainya.


*


Mario berjalan linglung masuk ke dalam apartemen nya. Kejadian yang baru saja dialaminya seperti mimpi baginya.


Clek....


Mario berjalan mendekat ke arah putra nya, Cello.. Anak yang baru saja ia ketahui sekarang harus kehilangan ibunya.


"Dad..." Mario menoleh kearah Cello, "Mana mommy.."


Cello bertanya pada Mario, matanya mencari keberadaan seseorang.


"Tidur lah, besok kita akan pergi ke Amsterdam."


Cello masih diam, ia bingung. Untuk apa pergi ke Amsterdam. Dan dimana mommy nya...


"Mommy mu pergi meninggalkan kita, jadi Daddy ingin kita pergi ke Amsterdam. Kita lupakan kejadian selama disini. Kita akan melalui hidup baru di sana... Hanya kita!!"


Cello menitikkan air matanya, ia tau apa maksud Daddy nya. Dia bukan anak yang bodoh. Dia sudah mengerti, selama ini mommy telah menyakiti hati seseorang. Mungkin saja mommy nya telah di penjara atau mungkin saja di bunuh.


Cello menubrukkan dirinya memeluk Mario, selama ini Cello memang tidak mendapatkan kasih sayang Rubi. Rubi memang menyayangi nya, tapi Rubi memanfaatkan dirinya untuk ambisinya sendiri. Itulah sebabnya Cello kecewa dengan keputusan mommynya.


Mario mendekap erat tubuh kecil Cello, ia berjanji akan memberikan Cello segalanya. Mario tak akan membiarkan Cello sendiri.


Meski baru saja bertemu, mereka memang sudah memiliki ikatan batin antara anak dan ayah.


"Ya Dad.. Kita akan pergi dari sini, bawa Cello bersama Daddy.."

__ADS_1


Mario mengeratkan pelukannya pada Cello. Mungkin inilah yang Lika ucapan, dia akan menyesal dan akan menerima karmanya telah menyakiti perasaan Lika.


__ADS_2