My Ceo Love

My Ceo Love
Brian bahagia


__ADS_3

Bruk...


Rubi menubruk kan dirinya memeluk tubuh tinggi Sean.


"Maafkan aku...Aku sangat merindukanmu. Jangan benci aku Sean.."


Sean mematung di tempatnya berdiri, wanita itu memeluk dirinya.


Inka menatap nanar pada suaminya, bulir bening jatuh seketika.


Ia tak menyangka jika suaminya memeluk wanita lain selain dirinya. Inka berbalik dan segera pergi meninggalkan mereka, sakit rasanya untuk yang kesekian kalinya. Selain Bagas mantan suaminya sekarang juga Sean suaminya. Apa semua pria memang seperti itu,jika di luar sana.


Sean mengeratkan giginya emosi, wanita ini sungguh tak punya malu.


Sean memegang bahu Rubi menjauhkan nya.


Sungguh ia tadi sangat shock, hingga lupa siapa yang sedang memeluknya.


"Jangan pernah sekalipun menyentuh ku dengan tubuh kotor mu itu Rubi.." Gigi Sean gemerutuk melihat wanita itu tiba tiba memeluknya.


"Sean..." Rubi mendongak menatap mata tajam Sean. Apa maksudnya..?


"Jangan sekali-kali kau menyentuh ku, wanita seperti mu sungguh murahan sekali."


"Apa maksudmu Sean... Bukankah kita saling mencintai. Aku datang untuk kembali padamu, aku tak perduli lagi jika ayah mu menolak keberadaan ku. Aku akan bertahan demi cinta kita."


Sean tersenyum miring, cinta kita...? terdengar geli Sean mendengarnya. Sungguh wanita itu memang benar benar tak tau malu.


"Maaf, tapi aku tak mengenalmu... Dan kita memang orang asing bukan. Sejak kau meninggalkanku, aku sudah tak berniat mengenalmu. Bagiku kau hanyalah seorang yang tak patut di ingat." Sergahnya


Sean membalikkan badannya, benar wanita itu memang Rubi. Hah... Wanita masa lalu nya. Sean tak menyangka akan bertemu dengan Rubi kembali. Wanita yang membuatnya tak mengenal kata cinta tapi berubah saat dia mengenal Inka..


Sean melotot kan matanya, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istri nya. Gara gara perempuan itu ia sampai melupakan istrinya.


"****.. "


Sean kembali lagi ke tempat di mana dia meninggalkan Inka. Tak ada.. Kemana istrinya...?


"Wanita sialan.... "Sean mengumpat Rubi.. Niat hati hanya ingin memastikan bahwa wanita itu benar Rubi atau bukan. Justru Rubi bertingkah di luar dugaannya, memeluknya tak tau malu. Sean tak habis pikir hanya memastikan bahwa wanita itu Rubi, yang dulu meninggalkan nya, sampai melupakan istrinya.


Sean memastikan wanita itu bukan karna masih ada rasa cinta, tapi Sean memastikannya mengapa dia ada di sini. Bukankah Ayahnya Albert telah mengasingkan Rubi, lalu bagaimana dia bisa ada di sini.


Ya Albert telah mengirim Rubi Felisa ke kota terpencil dan sangat susah untuk akses internet. Sean tau Albert... Ayah itu telah menghilangkan jejak Rubi.


Hingga Sean tau, Rubi memang berniat menjebaknya.


Apa anak buah ayahnya melepaskan Rubi... Sean tak tau dan akan mencari tau.

__ADS_1


"Di mana istri ku..." Tanya nya di seberang telpon.


"(.....)"


"Cari istriku..."


Sean mengusap wajahnya gusar,apa Inka tau saat Rubi memeluknya.


"Brengsek..."


Sean kalut, kemana istrinya pergi ia tak membawa ponsel dan juga tasnya.


Pikiran buruk menghantui Sean, ia berlari kesana-kemari mencari keberadaan istri nya.


"Tuan.."


Kenzo datang di saat yang tepat, bersama lima anak buahnya.


"Cari istriku... Bila perlu sampai di lubang semut sekali pun. Sisir pantai ini... Sampai dia terluka sedikit saja, kepala kalian taruhan nya. "


Mereka semua berpencar mencari Nona muda nya.


"Baby...Ayolah jangan buat aku khawatir...


Maaf kan aku, jangan seperti ini. Kau bebas menghukum ku nanti, jangan tinggalkan aku.."


*


Inka menggerutu, bibirnya tak berhenti mengomel. Suaminya berselingkuh di belakang nya.


"Dia pikir hanya dia yang bisa, aku juga bisa... Lihat saja, Inka Riana bukanlah Inka yang dulu. Yang di selingkuhi diam saja. Inka yang sekarang ini bisa membalasnya.."


" Tuan Brian.." Mata bulat Inka berbinar setelah melihat pria yang dulunya pernah ia lihat beberapa kali.


Ia pikir ia akan tersesat karna tak bawa ponsel dan uang tentunya. Rupanya Tuhan masih sayang padanya, mengirimkan malaikat tampan untuk nya.


Sementara pria yang memiliki nama tersebut tersenyum lebar. Sungguh Brian tak dapat menyingkirkan rasa yang dimilikinya. Wanita itu memang racun yang sangat mematikan. Pesona, Inka Riana memang sangatlah tinggi.


Wanita polos,mungil dan cantik itu, seketika mengalihkan dunianya.


"Nona Inka, ada di sini... Dengan siapa..?"


Brian menoleh ke kanan kiri Inka, jelas tau jika Inka pasti tak sendiri. Suami posesif nya itu tentu tak membiarkan orang lain memandang istrinya itu.


"Aku sendiri..." Inka tersenyum manis.


Brian menoleh ke arah wanita cantik itu, mengerutkan keningnya. Tidak mungkin Sean membiarkan istrinya berkeliaran malam malamkan.. Pikir nya.

__ADS_1


"Tuan Brian, bisakah kau mengajakku makan.. " Inka nyengir kuda, memamerkan giginya yang putih bersih.


Brian tersenyum lebar mendengar wanita cantik itu,...


"Kenapa tidak..." Brian tersenyum mengajak Inka ke seberang jalan sambil menggandeng tangannya.


"Maaf jika aku menggandeng tanganmu.."


"Kita bergandengan kan memang mau menyebrang.." Inka tersenyum manis,


Sungguh Sean sangat beruntung bisa memiliki wanita cantik ini. Selain polos dan lugu dia juga sangat ceria. Tak bisa membedakan, jika Sean tau pasti akan menghajarnya bukan.


Tapi Brian akan memanfaatkan kesempatan ini, meski nantinya Sean menghajarnya. Tapi setidaknya Inka lah yang mengajaknya. Walaupun hanya sekedar makan, setidaknya ia pernah dekat dan bebas memandang wajah cantik nya.


Sean membanting ponsel Kenzo berkeping keping. Istrinya itu benar benar, dia bingung sampai hampir gila mencarinya. Sementara yang di carinya sedang berjalan bergandengan tangan dan lagi makan berdua suap suapan.


Terang saja Sean mengamuk, dan membanting ponsel yang menampilkan istrinya dengan orang lain.


Apalagi pria itu tak lain adalah pria yang ingin merebut nya.


" Tuan Brian, coba a... Tuan belum merasakan jika yang pedas lebih nikmat.."Brian terkesiap melihat sendok makan di depan mulut nya. Inka mengulurkan tangannya ingin menyuapinya.


"Ayo... Cobalah, ini sangat nikmat.." Bibir mungilnya terbuka, memperagakan agar dia juga membuka mulutnya.


Brian ragu membuka mulutnya, menerima sendok yang menjulur di depannya.


Hap...


Brian memejamkan matanya menikmati makanan yang Inka suapkan. Lidahnya sungguh seperti terbakar. Inka tersenyum lebar saat pria itu memakannya.


"Aku bilang juga apa, enakkan...Kau harus mencoba yang seperti ini.."


Inka menambahkan bubuk cabai merah di dalam mangkok Brian.


Brian melebarkan matanya, melihat mangkoknya di tambahkan bubuk cabai.


"Tapi...",


"Nanti juga terbiasa... Ayo coba lagi. Tidak banyak cabainya, aku tau kau tak suka. Apa salahnya kan mencoba.."


Brian mengangguk, ia melihat mangkok Inka dan mangkoknya tak Semerah milik Inka sih yang penuh dengan bubuk cabai. Tapi Brian ragu memakannya, karna memang dari dulu ia tak suka pedas.


"Nah ini dia ... Eskrim." Girangnya, sungguh Brian tak menyangka akan bertemu dengan Inka dan memandang wajah cantik nya dari dekat.


Inka memesan lagi eskrim stoberi kesukaannya, dia bilang habis makan pedas harus makan yang manis.


Buk....

__ADS_1


__ADS_2