My Ceo Love

My Ceo Love
Memjambaknya


__ADS_3

Sepulang kantor Inka berjalan tak semangat. Ia tidak berniat memberhentikan taksi.


Gara gara ciuman dengan Bos nya harinya tambah buruk saja. Inka bingung mau kemana, Dari arah yang berlawanan mobil Bagas masih setia menunggu istrinya. Bagas sengaja memberhentikan mobilnya jauh dari kantor Sean.


Bagas keluar mobil dan berjalan menuju istri nya. Saat di lihat istrinya keluar gerbang.


Hap...


"Sayang..... Ku mohon maafkan mas. Mas akan memperbaiki semua. Tapi jangan tinggalkan mas,mas ga bisa hidup tanpa mu,"


Bagas memeluk istrinya. Mencurahkan isi hatinya,berharap istri nya mau memaafkan nya.


Sementara Inka sama sekali tak membalas pelukan suaminya. Ia kecewa dengan suaminya sendiri. Di saat dirinya butuh dukungan, justru suaminya sendiri yang mematahkan semangat nya.


Bagas kecewa istrinya tak membalas pelukan nya. Mungkin dia masih marah, jadi ia harus bersabar meluluhkan istrinya lagi.


"Pulang sayang... Jangan begini,"


Bagas menuntun Inka masuk ke mobilnya.


Di dalam mobil, baik Inka maupun Bagas. Tak ada yang bicara, hanya sesekali Bagas melirik istrinya. Sementara Inka wanita itu memandang kesamping entah apa yang di lihatnya.


"Mas tolong ijinkan aku pergi"


Bagas menghentikan langkahnya saat hendak ke dapur, mengambil minum untuk istrinya. Ia menoleh ke arah Inka memandang dengan datar.


"Tak ada yang boleh pergi dari sini,!"


Inka menautkan alisnya apa maksudnya?


Inka menjatuhkan dirinya pada sofa ruang tamu . Dia lelah kalau harus berdebat lagi dengan Bagas suaminya.


"Kau sudah pulang.."


Monik menyapa Inka,ibu mertua nya itu berjalan berdua dengan istri kedua suaminya.


Inka menoleh suaminya yang baru saja mengambil jus jeruk kesukaan nya. Mencari maksud dari semua ini bagaimana bisa madunya ada di sini. Bersama ibu mertua nya.


"Dia akan tinggal bersama kita. Hanya memastikan sayang, apa benar ada calon bayi di rahimnya?,"


Bagas mencoba menjelaskan. Inka tersenyum masam bagaimana teganya suaminya. Memasukan perempuan lain di rumahnya. Meskipun mereka berdua telah menikah. Apa tak ada rasa kasihan padanya. Inka tak bisa membayangkan akan berbagi suami di rumah yang sama. Seketika dadanya sesak iya mati matian menahan air matanya agar tak jatuh.


Inka tak boleh lemah ia tak mau di Tindas. Sudah cukup dia bersabar, yang selalu dikatakan mandul.


Inka berdiri melangkah menuju kamarnya. Ia tak menjawab sapaan dari ibu mertua nya. Ia tak kuat menahan sesak. Jangan sampai air matanya jatuh. Mereka senang jika dirinya lemah. Inka tak mau mereka bersenang senang di atas penderitaan nya. Ia akan tunjukan bahwa dirinya tak lemah.


Inka membuka lemarinya ia kaget tangannya membuka tumpukan baju dan membolak-balikkan baju. Ini bukan bajunya iya memejamkan matanya.


"Ternyata bukan cuma suamiku yang kau rebut. Kau juga merebut kamarku"


Dadanya naik turun menahan emosi. Inka membuka laci, ia mengambil barang nya. Lalu


Inka turun menuruni anak tangga.


Ia lalu bergabung di meja makan.


"Maaf Inka ibu menyuruh ku mengemasi barang-barang mu,di kamar dan membawanya ke kamar tamu!"


Clarisa bicara dulu sebelum Inka bertanya. Ada senyum kemenangan di sudut bibirnya. Inka yang melihat itu tak kalah menunjukan senyum manisnya.


Dia tak boleh menangis jangan biarkan ular ini melilit mu lebih keras lagi. Inka bermonolog dalam hati.

__ADS_1


Sementara Bagas iya shock. Mendengar Clarisa memindahkan barang barang istrinya.


"Apa apaan kau Clarisa,jangan melebihi batasan mu"


Bagas berteriak keras memaki Clarisa.


"Maaf...."


Clarisa mengeluarkan air mata buaya nya.


"Jangan memarahi Clarisa. Ibu yang menyuruh mbok Darmi tadi membereskan barang nya. Karna mulai malam ini Clarisa yang akan menempati nya"


"Dan lagi, mbok Darmi akan di sini membantu Clarisa. Jangan sampai dia lelah jika benar benar ingin program hamil. Biar ibu cari pembantu lagi,"


Monik antusias memberi wejangan buat Clarisa. Supaya janin yang dikandung sehat.


"Bu Clarisa tidak hamil Bu,"


"Belum... Sebentar lagi dia pasti hamil. Makanya ibu menyuruh mu tidur dengannya,"


Inka yang mendengar itu meremas sendok nya.


Jangan lemah, jangan lemah dia hanya melafalkan mantra itu. Bagas yang melihat Inka hanya memohon lewat tatapan matanya. Ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Maaf... Aku sudah selesai. Permisi"


Inka melangkah ke kamar tamu. Yang mana katanya semua barang nya sudah berpindah. Yang akan menjadi kamar barunya.


Inka merebahkan badannya lelah. Ia tak bisa terus terusan seperti ini. Inka menyalakan kembali ponselnya, setelah seharian ia matikan. Ia sengaja karna malas bicara dengan Bagas suaminya. Tapi nyatanya semua harus ia hadapi. Lari juga tak akan merubah suaminya jadi miliknya seorang.


Begitu layar ponsel nya aktif. Ponselnya langsung berdering, sahabatnya Siska pasti khawatir padanya. Dia pulang kemari, Siska tak tau.


Siska nyerocos tanpa henti. Sementara Inka menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Gue di rumah Sis "


Inka terisak. Sementara Siska yang mendengar suara bernada serak itu hanya diam. Iya juga ikut menangis,melihat sahabatnya yang rapuh. Tak seperti sebelumnya. Inka selalu ceria dan penuh semangat.


"Wanita itu tinggal di sini. Aku juga pindah kamar. Wanita itu dan mas Bagas yang akan menempati kamar kami,"


Siska meremas ponselnya mendengar curhatan sahabatnya.Siska mematikan ponselnya dan pergi meninggalkan kost nya, menuju rumah bagas. Ia geram dengan suami Inka apa dia tak punya hati.


Di mana hati nurani nya,ketika tempat yang dulunya adalah milik ratu. Dia dengan teganya menggeser posisi nya dengan selir. Apa selir itu lebih cantik dari Inka. Seberapa cantik nya wanita ular itu. Sehingga Bagas berpaling,dasar laki laki biadab.


Sepanjangan jalan Siska mengumpati Bagas. Ia melajukan motor matic nya dengan kecepatan tinggi. Sudah tak sabar iya ingin meremas wajah wanita ular itu.


Sementara di kamar. Bagas dan Clarisa sedang berargumen. Bagas kaget semua yang ada di kamar nya. Berganti dari foto pernikahan di atas nakas sampai seprei juga tak luput.


"Apa maksudnya ini Risa?"


Bagas melotot ke arah Clarisa.


"Kenapa kau mengganti semua yang ada di kamarku Risa. Lancang sekali kau!,"


Bagas mencekik leher Risa.


"Mas lepaskan"


Bagas melepaskan cengkraman tangannya di leher Risa.


Uhuk.. Uhuk ..,

__ADS_1


"Mas kau kenapa. Aku juga istrimu mas. Ibu yang menyuruhku pindah di sini,"


"Ibu juga yang menyuruh mbok Darmi membereskan barang barang Inka, bukan aku.


aku juga perempuan mas. Aku juga sakit harus tidur di kamar kalian. Tapi aku tak punya pilihan mas. Jadinya aku mengganti semua letak posisi nya, dan juga seprei nya,"


Bagas hanya meremas rambut nya.


"Keluar Clarisa jangan melebihi batasan mu. Kamar ini milik istriku. Aku tak mung_."


Ucapan Bagas terpotong untuk mengusir istri sirinya. Karna mendengar suara ketukan pintu,lebih tepatnya gedoran pintu.


Tok tok tok..


Siska mengetuk pintu keras. Efek gondoknya pada suami Inka.


Clek...


"Siska mau apa kamu... Bikin ribut malam malam di rumah orang,"


Bagas kaget saat membuka pintu. Siska menatap nya seperti penjahat.


Sementara Siska beralih menatap wanita di samping Bagas. Ia menelisik dari atas sampai bawah. Sementara Clarisa yang mendapat tatapan mata gadis di depannya ini melotot tajam.


Siska tersenyum sinis pada Bagas.


"Jadi gara gara perempuan ini. Lo nyakitin perasaan sahabat gue,,"


Bagas diam, dia tau pasti sahabat istri nya ini. Tak terima dengan penghianatan yang di lakukan.


"Apa Lo buta Gas. Istri Lo jauh lebih cantik dari wanita gatal ini"


Clarisa yang mendengar dia di hina. Mendorong tubuh gadis itu. Iya tak terima di katai gatal. Meskipun itu benar.


"Brengsek Lo..., Eh dasar wanita murahan. Wanita gatal, ga laku Lo.... Ngerebut suami orang"


Siska balik menjebak rambut Clarisa.


Akh....


"Mas tolongin Risa. Lepasin sakit...,"


Risa meronta,meminta gadis itu melepaskan jambakkan nya. Sementara Bagas pria itu shock, tak tau harus berbuat apa.


Inka segera melerai sahabatnya,yang menjambak rambut Clarisa. Ia tadi di kamar mandi, sehingga tak tau jika sahabat nya datang membuat keributan.


"Sis... Lepasin ,"


Inka berseru


"Lepasin brengsek...,Mas tolongin Risa,"


Bagas masih diam. Ia linglung, melihat perempuan yang saling Jambak. Lebih tepatnya Clarisa yang di Jambak.


"Mas tolongin pisahkan mereka,"


Bagas terkesiap mendengar suara Inka. Ia baru menyadari bahwa Clarisa dan Siska sedang saling Jambak.


Vote dan hadiah 🤧


Jangan lupa like dan komen nya 😌

__ADS_1


__ADS_2