My Ceo Love

My Ceo Love
Kualitas kecebong


__ADS_3

"Semangat Inka, jangan tunjukan kelemahan Lo"


Ia menyemangati dirinya sendiri. Ia yakin suatu saat nanti akan ada hari bahagia untuk nya.


Inka mencoba untuk menebalkan muka. Sebisa mungkin ia tak meminta pada suaminya. Mulai hari ini Bagas bukan lagi tumpuan nya.


.


.


Hari hari dilalui oleh Inka terhitung sudah hampir sebulan Clarisa tinggal bersama mereka. Inka wanita itu tidak lagi menangis atau meratapi nasibnya. Ia akan menganggap ujian ini adalah bentuk dari awal kemandirian nya.


Bagas pria dewasa itu kerap kali membujuk Inka. Agar memaafkan nya,selama ini dia memang tidur sekamar dengan Clarisa. Tapi Bagas sama sekali tak menganggap Clarisa ada. Mereka tidur terpisah. Bagas tak mau lagi menyakiti Inka dengan bercinta dengan Clarisa lagi cukup sekali baginya menyentuh perempuan itu dalam keadaan tak sadar. Berkali kali Clarisa merayu dirinya baik di rumah maupun di kantor. Clarisa mencoba mendekati nya tapi Bagas sama sekali tak melirik. Baginya Inka adalah segalanya cukup sekali ia melakukan kesalahan dengan meniduri Clarisa. Meskipun itu Hak nya tapi Bagas tak mau istrinya Inka kecewa lebih dalam lagi terhadap nya.


Terhitung sudah hampir sebulan lamanya Inka masih tak mau memaafkan dirinya. Istrinya itu makin hari makin jauh darinya. Bagas tak tau lagi harus bagaimana. Tak jarang Bagas tidur di kantor menghindari Clarisa yang makin hari makin menjadi tingkahnya. Ia tak kuasa mengusir Clarisa dari rumah nya. Setiap ia bicara pasti Clarisa balik mengancam nya dengan bayi yang belum tentu ada.


Rumah tangga yang dulunya hangat dan penuh canda seketika jadi asing.


"Gila.. Lo udah berkencan dengan cowok ABG."


Siska menggeleng tak percaya. Yah mereka berdua sedang nongkrong di kafe favoritnya. Hari ini hari libur jadi Inka meminta sahabat nya untuk menemaninya nongkrong. Lebih tepatnya Inka pamer semalam ia habis berkencan dengan daun muda.


"Iya semalam, dia yang ngajak gue kencan,"


Inka mengaduk kopi late yang ada di depannya.


"Terus..."


Siska kepo bagaimana selanjutnya. Apakah sahabat nya ini langsung ke tujuannya.


"Apanya.."


Inka balik bertanya seolah dia tak tau. Siska memicingkan matanya


"Lo udah gelud sama tuh cowok"


Seketika Inka tersedak kopi yang di seruput nya.


Uhuk.. Uhuk..

__ADS_1


Memukul dada nya Inka mendelik ke arah Siska.


"Jangan ngaco deh Sis..,Anaknya masih ingusan gitu mana Maco di ranjang.?Ogah gue mau nyari yang bisa buat gue gak bisa jalan. Lah kalau anaknya masih ingusan yang ada gue yang rugi dong. Bayar mahal kualitas belum matang....


Belum tentu juga tuh bibit jadi kecebong. Yang ada juga belum Sampek udah buyar duluan. Kan gue dah bilang mau cari kualitas unggul kalau bisa yang Maco. Yang bisa buat gue gak bisa jalan seharian. Gue yakin kualitas kecebong gue bakal langsung jadi katak.."


Inka tersenyum sendiri membayangkan bagaimana hasil bibit kecebong nya jika kualitas nya matang.


Sementara Siska mendengar kata kata panjang kali lebar itu menganga tak percaya.


Siska maju menempelkan punggung tangan nya pada kening Inka. Gak panas


"Ishh Lo apaan sih Sis,,"


Inka menepis tangan Siska. Bibirnya mencebik.


"Emang gue sakit apa,"


"Bukan sakit Lo Ka..tapi stres tau gak,"


Inka mengedihkan bahunya.


"Sejak kapan Lo jadi gini Ka.. Dulu Lo gak seliar ini deh perasaan. Lo tuh kalem waktu sama Bagas. Lah sekarang Lo kayak wanita yang ada di perempatan tau gak,"


"Kan Lo yang bilang Sis gue harus jadi diri sendiri. Kenapa sekarang Lo gak dukung gue sih."


"Ya kali Lo bener mau nyari pria bayaran. Serius Lo niat,"


"Lo nyeremin tau gak Ka.."


Siska bergidik ngeri dengan ulah sahabatnya.


Mereka sama sama diam dengan pikiran masing-masing.


****


Prang...


Meja makan yang penuh dengan menu makan siang terhambur berserakan di lantai. Sean pria dewasa itu seketika emosi nya memuncak. Mendengar wanita nya berkencan dengan brondong.

__ADS_1


"Awas saja siapa yang berani menyentuh wanita ku akan ku habisi,"


Kenzo yang berdiri di samping tuannya setelah memberikan kabar terkini dari wanita tuannya hanya menundukkan. Ia yakin sebentar lagi ia akan di jadikan samsak tinju oleh tuannya.


Sebenarnya Kenzo juga merutuki ulah wanita itu. Bisa bisanya ia lengah mengintai sehingga wanita tuannya itu kencan dengan pria lain.


Ya Sean sudah tau niat Inka yang mau mencari pria bayaran. Saat iya tau niat wanita nya itu Sean murka dengan menjadikan Kenzo pelampiasan amarahnya. Sean pikir itu semua hanya bohongan, karna belakangan ini wanita itu tak menunjukan bahwa dirinya mencurigakan. Di tambah lagi Kenzo dan anak buahnya selalu mengintai kemana wanita itu pergi. Entah ada angin apa wanita itu semalam berkencan dengan pria dan lagi si pria masih ingusan.


Pikiran Sean berkelana bagaimana jika wanita itu sudah bertukar salivanya, membelit lidah dan


Argh...


"Awas saja kau kucing nakal, ku habisi kau. Agar tak berani lagi bertingkah. Akan ku buat kau tak bisa jalan bila perlu selamanya"


Pria itu di buat mendidih oleh Inka di siang bolong begini.


Sean keluar Mension dengan raut wajah yang kusut. Kenzo dengan sigap membukakan pintu mobil.


"Dimana dia sekarang,"


"Di kafe langganan Nona Tuan,"


Mobil melaju dengan kecepatan. Di kursi kemudi Kenzo sesekali melirik Tuannya yang saat ini berpenampilan kusut.


Begitu sampai Sean buru buru membuka pintu.


"Tuan..,Apa anda yakin akan bertemu dengan nona Inka seperti ini,"


Hati hati Kenzo berucap takut ia salah dan berakhir bonyok.


Sean pria dewasa itu melihat penampilan nya. Benar juga saat ini ia memakai baju tidur panjang. Huh Sean menghembuskan nafasnya, gara gara wanita itu ia hampir saja jadi bahan tontonan.


Sean mengambil setelan baju yang ada di paper bag. Selain tangan kanan asistennya ini memang patut di acungi jempol. Tapi kadang Sean tak melihat bagaimana cekatan nya Kenzo.


Pria itu duduk tepat di belakang Inka. Sean menguping wanita itu. Kenzo yang melihat tuannya itu hanya geleng kepala. Saat ini iya duduk berjauhan dengan tuannya.


Sean memasang telinga nya lebar lebar ketika teman wanitanya bertanya. Mendengar jawaban dari kucing nakalnya ia hendak menendang meja di depannya. Dadanya naik turun menahan emosi yang siap meledak.


Tak lama kemudian Sean tersenyum lebar mendengar wanitanya bicara lagi. Ah rupanya kucing nakalnya tak berselera dengan yang masih bau kencur. Tambah lebar senyumnya ketika ia mendengar kata hebat di ranjang. Sudah di pastikan dia yang menjadi kriteria sang pujaan.

__ADS_1


Sean berdiri meninggalkan kafe dengan senyum tak lepas dari wajah tampannya.


Kenzo yang melihat tuannya bergidik entah apa yang wanita itu tiupkan pada tuannya. Tak sekalipun dulu tuannya tersenyum apa lagi tertawa seperti sekarang. Cinta memang gila? Entah tuannya itu cinta atau hanya obsesinya semata. Kenzo tak tau tapi semenjak tuannya mengenal wanita mungil itu hari harinya di buat senam jantung. Kadang marah tanpa sebab yang jadi sasaran pasti dia. Kadang tak beda dari sekarang manis seperti kucing Angora.


__ADS_2