
Cello masih ingin menyangkalnya. Meskipun dalam hati kecilnya mengatakan pantas saja, dia sulit menjangkau identitas nya. Ia tak berpikir kemarin, jika Alicia putri William.
" Alice benci sama Om,"
Alicia melihat Cello yang mematung. Ia tersenyum kecut. Cello sungguh membuatnya kecewa. Apa Cello tau jika dirinya anak dari mantan ketua mafia.
Alicia berbalik, ia ingin meninggalkan tempat ini. Alicia marah dengan Cello, untuk apa pria itu menggali informasi tentang nya. Alicia benar benar marah. Tapi sebelum Alicia sampai pada pintu. Cello lebih dulu merengkuhnya dari belakang.
Hap....
"Jangan tinggalkan Om..." Alicia memutar tubuhnya.
"Om mengenal Daddy, Om tau siapa Daddy Alicia?"
Clek....
Radika masuk tanpa permisi, ia ingin mengadukan Alicia pada Cello.
"Tuan maaf, berkas yang anda minta terkena kopi. "
Radika menunduk dan melirik ke arah Alicia. Ia tersenyum tipis mengejeknya. Alicia yang melihat senyum Radika seketika melihat wajah Cello.
"Radika kau tau itu berkas apa? kenapa kau ceroboh sekali.!" Bentak Cello.
"Maaf tuan, nona Alice yang menumpahkan kopi di atasnya."
Cello beralih menatap Alicia, masih dengan wajah marahnya mendengar berkas itu rusak. Alicia menghembuskan nafasnya perlahan.
"Maaf Om, Alice memang sengaja menumpahkan kopinya."
Cello memejamkan matanya. Emosi yang sudah di ubun-ubun siap meledak.
"Alicia kau tahu itu berkas apa?"
Alicia menggelengkan kepalanya. Memang ia tak tau. Ia hanya sebal dengan nenek sihir Radika.
"Keluar..."
Alicia terkesiap, Cello mengusirnya. Ia tau ia salah. Tapi kenapa harus mengusir nya juga.
"Keluarlah Alicia, " Ia tak ingin marah dengan Alicia.
__ADS_1
"Tapi Om.."
"Alicia.."
Alicia berjengit saat Cello membentaknya. Ia langsung menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian ia pergi keluar dari ruangan Cello.
Sementara Cello mengusap wajahnya kasar.
Ia tadi tak bermaksud membentak Alicia. Pikiran nya kacau saat mengingat jika Alicia putri Bagaimana jika William menentang niatnya. Sebelum Alicia mengatakan dirinya adalah putri William. Orang kepercayaan nya sudah memberi tahukan lebih dulu.Itu sebabnya ia seperti tak rela jika Alicia putri William. Di tambah lagi berkas itu yang rusak.
Alicia mendengus, harusnya ia yang marah pada Cello, karna dia diam diam mencari informasi tentang nya.
"Kenapa harus Om yang marah, nyebelin...?"
Alicia berbalik, ia berjalan menuju meja Radika. Matanya melirik ke sana kemari. Ia lalu menempelkan permen karet di kursi Radika. Ia juga menumpahkan kopi yang masih separuh itu ke atas ponsel Radika. Ia pergi dengan senyum manis. Ia membayangkan bagaimana reaksi nenek sihir Radika jika roknya terkena permen karet.
Sepanjang jalan Alicia menggerutu bibirnya. Ia akan membalas Cello. Ia akan adukan jika Cello diam diam memata matai dirinya.
Cello masih tak percaya jika Alicia benar benar putri William. Cello gelisah di tempatnya. Ia masih kepikiran karena telah membentak Alicia.
Hari ini ada rapat penting, ia tak boleh meninggalkan meeting kali ini.
"Gadis sialan.."
Radika melihat roknya yang robek. Tangannya terkepal erat, gadis itu sungguh membuatnya terbakar emosi. Tunggu saja, ia akan membalasnya nanti.
*
Keesokan harinya Cello masih di apartemen milik nya. Ia lupa jika kemarin ia marah dengan Alicia. Ia pikir Alicia pulang di mension nya dan bermalam di sana. itu sebabnya ia tak menelponnya. Ia masih di sibukkan dengan kertas putih yang menumpuk.
"Dad, Kita langsung pulang?"
William menatap wajah cantik putrinya yang di tekuk. Kemarin ia bilang tak ingin pulang. Masih ingin berlibur di sini. Kenapa sekarang berubah,?
"Alice kenapa, hmm.."
Sean mengusap kepala Alicia, dan ia mengangkat tubuh nya mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan nya.
Inka yang melihat itu menggeleng kan kepalanya. Tak lama ia pergi ke kamar mandi. Ia sudah bosan memberi tahu suaminya. Jika Sean tak perlu berlebihan memanjakannya. Alicia sudah besar.
"Dad om Cello menyewa detektif untuk mencari informasi tentang Alice."
__ADS_1
Sean tersenyum, Cello memang bukan pria yang bisa di bohongi. Ia sudah menduga jika Cello akan berbuat demikian.
"Apakah Om mu itu berhasil."
Alicia menggelengkan kepalanya. Sean mengerutkan keningnya. Cello tak bisa menjangkaunya. Rupanya Cello belum bisa menandinginya.
"Ga tau, tapi Alice lebih dulu memberi tahukan nya Dad. Alice sebel.... kenapa Om Cello ga bertanya sama Alice?. Kenapa juga harus bersembunyi?.
Daddy tau, Om Cello suka mengurut yang di tengah pahanya Dad."
Mata Sean terbelalak mendengar kata Alicia. Apa maksud nya,? Apakah Alicia tau? Sean memicingkan matanya melihat Alicia.
"Alice tau dari mana..?"
" Alice lihat sendiri Dad, dia ngeluarin ingus gitu Dad."
Sean shock mendengar Alicia berkata melihat benda itu mengeluarkan ingus.
"Terus Om marah Dad, dia narik Alice, dan mandiin Alice ,"
"Apa?"
Alicia berjengit mendengar teriakkan Daddy nya. Begitupun dengan Inka, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Cello memandikan Alice."
Alicia mengangguk mengiyakan ucapan Daddy nya. Inka menautkan kedua alisnya. Apa yang mereka berdua bicarakan?
"Andhara Marcello, ku penggal kepalamu. Berani sekali kau menjamah tubuh putriku. Sialan..."
Wajah Sean merah padam menahan emosi. Mengingat tubuh putrinya, di sentuh oleh pria dewasa seketika darah naik. Alicia yang melihat Daddy nya marah tersenyum. Ia pikir Daddy nya marah, karna Cello mencari informasi tentang nya. Padahal Sean marah kerena tubuhnya di sentuh oleh Cello.
Tangan Sean terkepal, ia datang ke mari untuk bersenang senang dengan keluarganya. Tapi Cello membuat ia berang. Putrinya, Alicia telah di manfaatkan oleh pria karatan itu. Dia pikir putrinya bahan percobaan apa?.
"Daddy mau kemana?" Alicia heran dengan wajah Daddy nya.
"Memenggal kepala seseorang.."
Alicia kaget, benarkah Daddy nya se marah itu?
Alicia mengikuti langkah Sean. Ia was was jika benar Daddy nya akan memenggal kepala Cello. Tidak,... Alicia tak mau itu terjadi.
__ADS_1