
Grisam pulang kerumahnya dengan wajah merah padam. Bagaimana bisa putrinya mempermalukan dirinya dengan bertunangan dengan pria yang sudah beristri. Di tambah lagi ia stres belum juga menemukan keberadaan Jung yang menghilang. Entah di mana pria itu bersembunyi.
"Grisa.."
Teriaknya menggelegar di mension mewahnya. Ia sampai meninggal kan rumah sakit hari ini gara gara putrinya.
Padahal di rumah sakit hari ini sedang gaduh. Berita tentang dokter Ali Grisam yang mencampurkan bubuk pembuatan obat obatan terlarang dengan obat di rumah sakit.
Polisi bahkan sudah memblokade gerbang rumah sakit. Pasien yang berada di sana di pindahkan ke rumah sakit milik negara.
Sedangkan Grisam sedang berseteru dengan putrinya.
"Apa maksud mu bertunangan dengan pria yang sudah beristri Grisa. Apa kau mau mempermalukan Daddy dengan berita konyol mu itu. Dengar, jangan sampai publik tau jika pertunangan mu gagal. Daddy tidak mau reputasi Daddy jatuh....
Sudah cukup kau menyembunyikan pernikahan mu yang pertama. Daddy tidak mau ada lagi berita yang membuat Daddy stres."
Grisam menyipitkan matanya melihat benda yang di yakini tespek. Ia berjalan mengambil dan matanya terbelalak melihat dua garis merah di sana.
"Grisa, milik siapa ini?"
Grisam membanting benda itu di depan putrinya.
"Katakan siapa dia, apakah Cello.?"
Grisa menggeleng kan kepalanya. Ayah nya berang melihat gelengan kepala Grisa.
Ia mendekat dan mencengkeram erat kedua bahunya.
"Katakan siapa dia? Jika bukan Cello, siapa pria itu?."
"Aku tidak tau Dad, aku mabuk waktu itu".
"Grisa"
Plakk...
Grisa tersungkur di kasurnya mendapatkan tamparan keras dari ayah nya. Ia memegang pipi yang terasa panas. Ia juga menangis meratapi nasibnya sendiri. Tak tau siapa pria ayah dari anaknya. Apa pria yang tidur dengan nya di hotel saat mabuk di club'.
Atau salah satu dari mereka yang memperkosanya waktunya ia menjebak Cello.
__ADS_1
Grisa menangis tersedu. Nyatanya ia kalah dengan gadis belia itu.
"Tuan ada tamu di bawah,"
Takut takut seorang pelayan menyampaikannya. Mendapati tamu yang tak di undang, apalagi saat ini ia mendengar sendiri pertengkaran ayah dan anak ini. Matanya melirik ke arah benda kecil persegi panjang. Apakah nonanya hamil.....
"Daddy tidak mau tau Grisa, gugur kan kandungan mu."
Grisam melangkah pergi meninggalkan kamar putrinya. Kepalanya berdenyut nyeri. Nafasnya memburu menahan sesak. Ia berjalan menuruni anak tangga sambil sesekali memegang dadanya yang terasa sesak.
Grisam menyipitkan matanya melihat ada beberapa petugas polisi dari atas. Tak lama ponselnya bergetar, ia merogoh saku celananya. Tapi sebelum ponsel di tangannya sampai di telinga nya. Ponsel itu sudah mati duluan. Lalu ada pesan notif wa, dan membukanya. Matanya hampir saja keluar dari tempatnya. Asisten nya mengirimkan gambar wa padanya jika rumah sakit telah di ricuh di kamar mayat. Sang asisten tak mengetahui jika sebenarnya dia lah orang nya. Dia juga mengirim pesan jika ada yang mencoba untuk menjatuhkan namanya. Padahal dia tidak tau jika Grisam lah dalangnya....
"****, brengsek.."
Tubuh Grisam gemetar, ia kembali lagi ke atas. Polisi sudah mengetahui nya, jika dia menyimpan obat obatan terlarang. Dia berlari kembali ke kamar putrinya.
"Grisa, pergi dari sini!"
"Apa maksud Daddy?"
"Daddy bilang pergi dari sini, dan kau lihat keluar jangan sampai mereka datang ke mari."
Sementara Grisam kembali ke kamar pribadinya. Di ikuti Grisa di belakang. Ia bingung ada apa ayahnya, seperti orang ketakutan. Grisam membuka brangkas miliknya. Dan mencari berkas penting lalu memasukan uang dalam jumlah besar ke dalam tas.
"Daddy ada apa?"
"Di luar ada polisi'
Grisa menggeleng tak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa polisi sudah mengetahui bisnis haram ayah nya. Apa yang harus ia lakukan?
Tangannya terkepal erat, mungkin saja ini perbuatan Cello. Ia ingat saat dia ingin menjebaknya justru ia yang terjebak. Dan Cello menyewa gigolo untuk memuaskannya. Tak hanya satu orang, samar samar dalam ingatan Grisa ada tiga atau empat orang.
"Cello, cintaku kau balas dengan penghinaan terhadap keluarga ku. Jangan harap kau bisa tertawa lebar. Setelah kau menghancurkan aku..."
Brakkk...
Grisa terkesiap mendengar suara pintu di dobrak. Begitupun dengan Grisam ayahnya. Grisam memberikan tas besar dan senjata pada Grisa.
"Grisa kau harus bisa pergi dari sini,"
__ADS_1
"Dad..."
"Dengarkan Daddy, bawa ini dan pergi sejauh mungkin. Ingat balas kan dendam Daddy pada mereka."
Grisam memegang dadanya yang semakin sakit. Grisa meneteskan air matanya, melihat ayahnya.
Krekk...
Grisam mendorong ranjangnya dan di sana ada sebuah lubang sempit. Grisa tau itu adalah jalan rahasia. Grisa memandang wajah Daddy nya. Tak lama ia kemudian turun membawa tas berisi uang dan senjata di tangan nya.
Grisam menutup kembali dan tak lama kemudian Grisa mendengar suara ledakkan.
Dom...Duar....
Tubuh Grisa jatuh ke bawah dan berguling. Grisa tak siap ia terkena ledakan bom. Ayahnya meledakkan Mension mewah nya sendiri. Mungkin dia ingin dia selamat dan membalaskan dendam nya. Ayah nya ingin polisi mengira dia sudah mati. Grisa memejamkan matanya, tangan nya terkepal erat. Rasa panas di punggung dan tangannya tak ia rasakan. Dendam kepada Cello dan Alicia lebih membakar tubuhnya.
"Alicia Deandra...,"
Dengan nafas yang tersisa ia merangkak melewati lorong sempit dan gelap.
*
Cello terkapar di sudut kamar mandi. Semenjak ia keluar dari rumah sakit tempo hari. Setiap pagi ia di buat mual dan muntah. Ia sampai mengumpat Alex, yang tak becus membeli obat. Sudah dua minggu ini dia sakit karna mual.
"Om seperti anak mami, melihat begitu saja sakit. Apa kabar nya waktu ia membunuh dan menyiksa mereka. Aneh..."
Alicia mencibir suaminya, semenjak dari rumah sakit Cello bertambah parah sakit nya. Setiap pagi akan mengeluh lemas dan mual. Sedangkan malam di seperti srigala yang lapar. Huh menyebalkan....
"Tuan ini obatnya.."
Alex datang membawa satu kresek kecil berisi obat. Cello memasang wajah garang nya menatap Alex.
"Awas saja jika kali ini obat yang kau beli tak membuat ku sembuh? Aku yang akan meledakkan kepalamu."
Alex menunduk, ia sudah tau temperamen Cello. Pria itu tentunya akan melakukan apa yang ia katakan. Tapi Alek yakin bahwa Cello tak akan membunuhnya.
Tujuh tahun yang lalu, Alex hampir meregang nyawa karna peluru Cello. Cello menembaknya karna ia marah pada nya. Alhasil pria temperamen itu melepaskan timah panasnya. Tapi beruntung Alek selamat karna setelah menembaknya Cello membawanya ke rumah sakit.
Tak lama kemudian Cello mengusirnya. Tapi bagi Alek Cello adalah saudaranya. Alex sadar dirinya lah yang bersalah karna terhasut oleh musuh. Alex tak tau jika ia di manfaatkan oleh musuh. Hingga Cello berang, dan menembaknya. Tapi sebelum Cello melepaskan timah panasnya dia mengatakan jika ia lalai tak becus bekerja. Padahal yang sebenarnya Cello tau dia telah menghianati nya.
__ADS_1
Sudah lebih dari lima belas tahun Cello mengangkat Alex sebagai tangan kanannya. Alex tau Cello juga menganggap nya sebagai saudara. Tapi entah kebodohan dari mana datangnya ia bisa terhasut oleh musuh dan hampir menghianati Cello.