My Ceo Love

My Ceo Love
Menahannya


__ADS_3

Cello mengangkat wajah Alicia. Ia lalu membungkuk kan tubuhnya. Menjangkau bibir mungil Alicia dan menyesapnya.


Cup....


Alicia mengerjap kan matanya, ia kaget dengan Cello yang lebih dulu menciumnya. Alicia melihat mata Cello yang terpejam. Iapun ikut memejamkan matanya.


Lama Cello memagut bibir mungil Alicia. Dan ia baru saja melepaskan nya saat merasakan Alicia memukul dada bidang nya.


"Om..."


Alicia memonyongkan bibirnya. Cello membuatnya tak bisa bernafas.


Cello yang melihat bibir mungil itu monyong, Menyambarnya lagi.


Kali ini, Cello lebih memperdalam. Seperti yang Alicia lakukan saat di kantor. Mengobrak abrik rongga mulutnya.


Cello juga mengangkat tubuh Alicia ke kamar mandi, dengan bibir yang masih menempel.


Cello menurunkan Alicia di bawah shower. Ia lalu menekan tombol air hangat.


Tubuh mereka basah kuyup. Cello melihat kemeja yang di pakai Alicia menempel, memperlihatkan bentuk tubuh mungil Alicia.


Cello lalu membuka kancing kemeja satu persatu. Dengan tangan yang gemetar, Cello sudah meloloskan kancingnya.


Alicia yang melihat Cello membuka kancing bajunya hanya diam saja. Ia sudah biasa, ketika ia sakit. Daddy nya yang akan merawatnya dan mommy tentunya. Itu sebabnya, Alicia berpikir mungkin saja Cello seperti Daddy.


Cello menelan ludahnya cekat. tubuh mulus dan putih milik Alicia terpampang nyata di depan matanya. Ia juga melepaskan pengait bra milik Alicia. Dan tak lupa, ia juga meloloskan kain berenda segi tiga milik Alicia.


Nafas Cello memburu. Hasrat yang bertahun tahun lamanya tak pernah ada. Kini datang hanya melihat tubuh polos gadis kecil di depannya.


Buah dada yang bisa di katakan besar, dan lagi mata Cello turun ke bawah.


Glek....


Jakunnya naik turun, melihat sesuatu di bawah perut Alicia.


" Om..."


Cello tersadar dari imajinasi nya. Ia menggelengkan kepalanya mengusir pikiran kotornya. Jangan sampai Alicia takut padanya. Alicia masih remaja dan dia pria dewasa.


"Om dingin....."


Cello terkesiap bibir mungil Alicia bergetar kedinginan. Ya gadis kecil ini masih polos pikiran nya. Dia pikir Cello akan memandikannya. Ternyata pikiran Cello yang kemana-mana.


Cello mengangguk dan meraih sabun cair di samping nya. Tangannya bergetar, antara ingin mendaratkan tangan nya menyabuni Alicia atau tidak.


Cello menggeleng kan kepalanya lagi. Ia tak boleh berfikir kotor, Alicia sudah kedinginan karena terlalu lama di bawah air.


Tangan Cello dengan telaten menyabuni tubuh mungil Alicia. Meski harus menahan sesuatu yang ingin ia ledakkan. Cello masih berfikir ia tak boleh merusak Alicia. Ia ingin mendapatkan Alicia dengan cara yang baik.

__ADS_1


Cello memam lnsangkan handuk dan melingkarkan handuknya pada tubuh Alicia.


Ia lalu membopong Alicia di atas meja wastafel.


"Tunggu di sini Ok..."


Alicia mengangguk, dan Cello berjalan menuju shower kembali l. Melepaskan semua yang menempel di tubuhnya dan dengan cepat ia membersihkan diri. Takut Alicia kedinginan menunggu dirinya.


Cello mengeringkan rambut Alicia. Dengan telaten ia mengarahkan hairdryer pada rambut panjangnya.


Sebelumnya ia lebih dulu berpakaian dan memakaikan baju untuk Alicia tentunya.


"Om luka Om basah.."


Cello tersenyum, luka itu dalam sekejap sembuh karna Alicia.


"Nanti Alicia yang ganti perbannya, hm..."


Alicia mengangguk cepat. Cello yang melihat itu tersenyum. Sungguh Cello harus bisa menahan sesuatu yang baru saja ia rasakan. Cello baru tau mungkin ini yang namanya, hasrat ingin menjamah tubuh mungil Alicia.


Cello membawa Alicia ke perusahaan nya. Ia tak tega meninggalkan Alicia dengan pelayanan di apartemen nya.


Dasar Alicia, gadis itu bahkan sudah melupakan kejadian kemarin. Yang hampir saja melukai dirinya sendiri. Gadis itu saat ini sudah pecicilan kesana-kemari.


Cello membiarkan saja yang penting masih dalam pengawasannya.


Radika mengepalkan tangannya melihat Cello yang tak fokus dengan meeting nya kali ini. Cello justru fokus dengan ponsel di tangannya.


" Hmm..."


Radika tau Cello memperhatikan layar ponselnya karna apa. Alicia.... Gadis sialan itu telah membuat Cello berubah.


Sementara Alicia, ia mengobrak abrik buku yang tersusun rapi di lemari milik Cello.


"Ish... Bukunya sama, "


Alicia memonyongkan bibirnya tak menemukan buku yang ia inginkan. Ia lalu berpindah duduk di kursi kebesaran Cello.


"Ah nyamannya...."


Clek....


Mario mengerutkan keningnya mendapati gadis belia duduk di kursi kebesaran putranya. Sedangkan Alicia yang melihat kakek tua masuk, ia segera berdiri.


"Opa cari siapa...?"


Mario meneliti gadis belia di depannya. Ia melihat dari atas sampai bawah, ia lalu menggelengkan kepalanya. Anak sekarang ....


"Opa cari siapa...? Om Cello lagi meeting. Jika ada perlu bilang saja ke saya Opa. Nanti Alice sampein. "

__ADS_1


Mario tambah bingung, gadis ini memanggil putra nya Om. Sementara Mario tak memiliki keponakan. Dan lagi Cello tak pernah menceritakan jika dia mengangkat ponakan.


Clek...


"Dad...."


Cello meninggalkan ruang meeting setelah tau jika Daddy nya datang ke kantor nya.


"Alicia menoleh ke arah Cello, dan berganti menoleh pria tua di sampingnya."


"Opa Daddy nya Om Cello..." Wajah penuh tanya Alicia sangat menggemaskan. Matanya mengedip ngedipkan lucu. Cello yang melihatnya gemas ia ingin sekali mencium bibir mungilnya.


Mario mendesah melihat sikap Cello. Kenapa putra nya jadi podofil. Mario tau putranya memiliki rasa dengan gadis belia di depannya ini.


Hemm....


Mario berdehem masih tak menyadarkan Cello. Ia berdehem lagi lebih keras, tak lama Cello tersadar dari lamunannya.


Mario menggelengkan kepalanya, Cello seperti remaja. Padahal usianya sudah tiga puluh satu tahun.


"Daddy ada perlu apa? Maaf Dad Cello akhir akhir ini jarang pulang."


"Opa, kenapa masih berdiri. Ayo duduk...."


Alicia menyerobot angkat bicara. Ia lalu menuntun Mario duduk di sofa.


"Om panggilkan aunty Radika dong."


Alicia bahkan tak sungkan memerintah Cello. Dan Cello, pria itu langsung merogoh saku celananya menghubungi Radika.


Mario menggeleng, putranya itu sejak kapan menurut sama seorang.


Tak lama kemudian Radika masuk kedalam. Ia tersenyum lebar melihat Mario. Ia tau jika Mario adalah ayah dari Cello.


" Selamat siang tuan Mario..."


Radika menunduk ramah. Matanya melirik ke arah Alicia. Ia berdecih dalam hati.


"Aunty ambilkan minum dong untuk Opa. Sekalian beli pizza nya juga. "Bibir Alicia tanpa di saring menyuruh Radika. Sedangkan Radika tak menggubrisnya.


"Aunty ga dengar ya..."


Radika melotot kan matanya mendengar Alicia lagi lagi menyuruhnya.


"Maaf nona saya di sini bekerja sebagai sekertaris."


"Aunty Alice tidak bertanya pekerjaan? Alice cuman nyuruh aunty ambil kan minum buat Opa, ya Om..."


Cello mengangguk cepat. Alicia tersenyum lebar.

__ADS_1


"Tuh kan apa Alice bilang.?..."


Mario menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum dengan tingkah bocah kecil itu. Sedangkan Radika mengeratkan giginya emosi. Gadis ini seenaknya saja menyuruh nya. Ia seperti raja di sini.


__ADS_2