
"Lalu bagaimana dengan kita. Kita akan jatuh miskin. Ibu gak mau, ibu malu." Monik berseru keras.
"Memang dari dulu kita miskin Monik. Bukankah sudah pernah ku katakan. kita yang akan menyesal telah menyianyiakan perempuan itu."
"Tidak ....Tetap saja tidak bisa. Jika bukan karna Bagas pasti perusahaan itu juga sudah bangkrut. Lagi pula perempuan itu juga sudah lama kan numpang sama kita,"
Monik kekeh tak mau dengan keputusan Bagas.
"Monik ...Jangan keterlaluan kamu. Masih untung kita masih bisa makan sampai saat ini. Berkat Inka hidup mu sempurna," Harry membentak istrinya.
.
.
.
Sudah lebih seminggu lamanya. semenjak Albert berkunjung ke perusahaan. Kini hubungan Sean dan Inka semakin banyak perubahan.
"Baby suapi aku..." Kebiasaan Sean saat ini.
Inka dengan senang hati mengulurkan tangannya menyuapi Sean. Sementara Sean masih fokus pada pekerjaan nya.
Sean mengerutkan keningnya menoleh pada Inka. Inka nyengir saat menyadari Sean menoleh nya.
"Kau mengerjai ku Baby.."
"Tidak..."
"Lalu...." Sean menyeringai. Menutup laptopnya dan beralih memangku tubuh mungil Inka.
"Ha ha ha..."
"Kau mengerjai ku, hmm.." Inka menggeleng.
Sean menurunkan Inka di wastafel. Mencuci tangan nya, mengeringkan nya.
"Kita akan ke mana Hubby..."
"Butik..." Sean mengangguk.
Cit...
Kenzo menginjak pedal gasnya tiba tiba. Sean menjulurkan tangannya menahan tubuh Inka.
Ia mengeratkan giginya, saat tau siapa yang berani menghadangnya.
"Ada apa Hubby..."
Wajah Inka pucat pasi, melihat mobil yang di tumpangi nya di hadang.
Inka gemetar ketakutan, Sean menyadari bahwa Inka takut. Segera memeluknya.
"Tenanglah Baby...Jangan takut, hemm.."
"Siapa mereka..Kenapa mereka menghadang kita. Mau apa mereka... Hubby.? "
"Shut...Tenanglah Hmm .."
Kenzo turun ...Ia memiringkan kepalanya.
Melihat pria yang di yakini ketua dari kelompok itu.
"Serahkan perempuan itu,..Dan kau akan ku biarkan pergi.."
Kenzo tersenyum sinis" Kau ingin Nyonya kami... Dalam mimpimu sekalipun.
__ADS_1
Dor.. Dor..Dor..
Bruk...Bruk...Bruk...
Fuh.. Kenzo meniup ujung pistol yang ada di tangannya.
Tersenyum sinis melihat mereka.
"Sialan...."
Buk Bak Buk Buk mereka menyerang Kenzo. Kenzo dengan hati Kenzo melayani mereka dengan tangan terbuka.
Perkelahian pun tak terelakkan Kenzo masih setia menghajar mereka.
Sementara di mobil, Sean menyembunyikan wajah Inka di dada bidangnya.
Tak lupa ia juga mengelus punggungnya, Menenangkannya.
Sean mengeratkan gigi nya. Ia mengutuk siapa saja yang membuat wanitanya ketakutan seperti ini.
Sean melihat Kenzo membuka mobil.
"Kita pergi..." Kenzo mengangguk mengerti...
Sementara Inka wanita itu mendongak
"Hubby siapa mereka...?"
"Hanya preman jalanan Baby....," Inka mengangguk mengeratkan pelukannya pada Sean.
.
.
.
"Kau mau kemana Clarisa.."
Clarisa mematung mendengar Bagas memergokinya.
"A...aku mau ketemu teman..mas" Tergagap Clarisa menjawabnya pertanyaan Bagas.
"Kau yakin ingin bertemu temanmu malam hari Clarisa..." Clarisa diam..
Bagas tersenyum masam, dia pikir Clarisa benar benar mencintai nya. Ternyata Clarisa hanya mencintai hartanya. Terbukti dirinya yang tak lagi menjadi CEO.
Bagas belum berani bertemu Inka. Bagas kecewa pada ibunya yang seenaknya sendiri. Ibunya tak membiarkan dia menyerahkan hak Inka.
Dan Clarisa juga sama.
"Mas....Aku ingin pergi keluar, aku jenuh mas... "
"Club'.., Ingat Clarisa, aku tidak tau siapa ayah dari bayi yang kau kandung. Tapi setidaknya jangan membahayakan keselamatan nya."
"Aku perduli padamu, karna kau masih istriku."
Clarisa menatap Bagas nyalang....
Brakk...
Clarisa membanting pintu keras. mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Brengsek ..." Semua tak seperti yang di harapkan nya.
Clarisa memberhentikan mobilnya di salah satu club' terkenal di kota.
__ADS_1
Clarisa segera meminta satu gelas wine..meneguk nya.
Matanya mengedarkan pandangan.
Ia tersenyum lebar, saat matanya tak sengaja menangkap silent pria tampan.
Clarisa Menyipitkan matanya. Sepertinya dia pernah melihatnya.
Clarisa berjalan menuju tempat dimana pria tampan itu berada.
"Butuh teman..."
Tanpa sungkan Clarisa duduk di samping nya.
Pria itu hanya melirik wanita itu...
Clarisa tersenyum mendekat ke arahnya. Tangan lentiknya mencoba menyentuh tangan nya. Sean masih diam...
.
.
"Kenapa harus ke Club ...!"
CK..
Sean berdecak malas. Semenjak mengenal wanita pujaannya. Sean belum pernah datang ke Club malam.
Ia malas bertemu dengan perempuan ******. Ya semenjak ia mengenal Inka. Sean tak pernah sekalipun datang. Terkecuali saat ia mengetes kemampuan adik kecilnya dulu....
Sean tersenyum sendiri melihat ke arah bawah pusarnya.
"Kenapa kau tak meresponnya Hmm.."
Sean terkikik geli. Adik kecilnya ternyata tunduk dengan wanita mungil yang ia sebut kurcaci.
"Tuan... Rekan Anda sedang dalam perjalan ke Club. Apa Anda juga akan berangkat sekarang."
Ia mendengus... Kenzo mengagetkan nya saat ia memuji adik kebanggaannya.
"Hmm"
Dan di sinilah Sean, bertemu Rekan bisnis nya.
Sekaligus pria yang di bencinya.
"Bagaimana Tuan...Apakah Anda bersedia."
"Apa keuntungan yang ku dapatkan dengan semua itu."
Sean menyandarkan punggungnya dan merentangkan kedua tangannya.
"Salah satunya adalah anda bisa memasok bahan mentah secara berkala Tuan."
Sean mengangguk...
Tak lama pembicaraan mereka berdua mengalir begitu saja. Mereka berjabat tangan setuju atas proyek kerjasama baru mereka.
"Huh... Kau pikir aku tak tau apa tujuanmu."
Sean bermonolog saat pria yang baru saja menjalin kerja sama dengan nya menjauh.
Sean tersenyum miring. Ia tau apa tujuan pria itu.
Brian.. Pria itu jelas saja mengincar sesuatu darinya. Siapa lagi jika bukan Inka. Yang saat ini masih menjadi sekertaris nya.
__ADS_1
Brian tak tau saja jika perempuan yang ia incar adalah milik penguasa si raja Bisnis.