
Neil yang mengikuti langkah sang majikan di buat bingung.
" Nona, anda mengaktifkan Bom nya?"
Alicia berdecak mendengar pertanyaan bodoh dari Neil. Bukankah dia juga sudah melihatnya.
"Nona bukankah di dalam sana ada tuan Cello. Lalu kenapa anda mengaktifkan sekarang. Tidak menunggu tuan Cello pergi. Bagaimana jika tuan Cello di sana tidak bisa keluar?".
Alicia berbalik dan melotot kan matanya pada pria yang berjalan di belakangnya.
"Kau pikir aku perduli?"
Neil yang mendengarnya mengerutkan keningnya. Bukankah dia suami nya?
"Nona tuan Cello suami anda bukan?"
"Lalu"
"Nanti anda akan menjadi janda di usia muda, jika tuan Cello meninggal?"
"Lalu"
Ha...
Lalu lagi....
"Sebenarnya siapa tuanmu?"
"Anda nona"
"Kalau begitu diam dan jangan banyak tanya?"
Alicia mengumpat Neil, pria itu sungguh cerewet sekali. Memangnya kenapa kalau Cello di sana. Biarkan saja, ? Pria menyebalkan itu yang sudah membuatnya hancur berkeping keping. Biarkan dia melihat siapa Alicia?
*
Cello berlari menuju pintu keluar. Bibirnya mengumpat perbuatan istrinya.
Nit....Nit...
Dom.....Duar......Duar.....
Cello terlempar jauh ke depan. Sementara Alicia tersenyum tipis dari jauh. Melihat markas itu terbakar habis. Ia yakin Cello sedang bersembunyi dan mengumpatnya. Pria itu pasti tak menyangka jika ia melakukan hal ini.
"Itu balasan nya telah menuduh ku, Om?"
Neil di belakangnya bergidik ngeri. Entah apa yang ada di bayangan nya. Nona mudanya, tega mengaktifkan Bom nya. Dan itu ada suaminya di dalam, tega sekali dia.
__ADS_1
Alicia yakin suaminya tak akan mati hanya karna Bom nya. Bukankah dia pemimpin Red Blue. Akan sangat konyol jika pemimpin Red Blue mati oleh Bom istrinya.
Alex merangkak mencari keberadaan tuannya. Ia mendongak memandang markas yang sudah hancur luluh lantak. Tak ada yang tersisa, semua hancur bersama dengan orang orang nya.
"Tuan...."
Cello terbatuk-batuk merasakan debu yang beterbangan. Wajah Cello merah padam menahan emosi. Jika benar ini perbuatan Alicia istrinya. Apa maksud nya, dia ingin membunuhnya?
*
Alex mengobati luka di lengan kiri tuannya. Sementara Cello masih tak bergeming sedikitpun. Ia tak percaya Alicia akan membunuhnya. Gadis itu apa dendam pada ku?
Berbagai macam pikiran buruk hinggap di kepalanya.
"Apa kau yakin dia istriku Lex?"
"Sepertinya iya tuan"
"Jadi benar dia mengibarkan bendera perang padaku? Dia akan merebut kembali Red Blue?"
Cello mengepalkan tangannya, ia geram sekaligus. Alicia Deandra apa ini tujuan mu sebenarnya?
Alicia membersihkan diri dan berbaring di ranjang yang empuk. Ia melirik ke arah jam dinding yang tergantung. Hari sudah sore, ia yakin Melvin sebentar lagi akan pulang? Mungkin saja pria itu mencarinya. Setelah sehari semalam ia tak pulang.
Melvin gelisah di tempatnya duduk. Ia mengawatirkan Alicia. Ia tak bisa kehilangan gadis belia itu. Cinta nya semakin hari semakin tumbuh. Meski gadis itu suka menyebalkan, itu tak membuat perasaan nya berkurang.
Setelah perceraian nya dengan Grisa. Melvin tak pernah dekat dengan wanita. Ia kecewa dengan mantan istrinya. Wanita itu telah membodohi nya dan merendahkan martabatnya sebagai laki-laki dan suami.
Melvin merogoh saku celananya mengambil ponsel dan menghubungi pembantu nya di rumah. Apakah Alicia sudah pulang?
"Apakah Alicia sudah pulang bibi?"
"....."
"Baiklah terima kasih.."
Ia bernafas lega mendengar Alicia sudah kembali. Ia pikir gadis itu seperti biasa, akan membuat onar.
"Siapa sebenarnya kau Alicia, dan apa hubungan mu dengan Marcello?"
Hari berganti pagi, Melvin menoleh lagi kearah atas. Gadis itu belum juga menampakan batang hidungnya.
"Bibi kau bilang Alicia sudah pulang, lalu kenapa dia belum juga keluar kamar? Apa dia sakit?"
" "Itu nona tuan?"
Melvin mengalihkan pandangannya pada wanita yang menuruni anak tangga. Ia bernafas lega gadis itu baik baik saja. Setidaknya tak ada luka di tubuhnya.
__ADS_1
"Kau memikirkan aku yang berbuat onar lagi om?"
Melvin memandang wajah cantik Alicia. Gadis itu benar benar sudah berubah. Tak ada pertanyaan lembut dan pandangan polos nya.
"Kau benar aku habis memasang Bom dan menghancurkan sebuah markas."
Melvin terkesiap mendengar penuturan Alicia. Gadis itu mengatakan dengan nada yang biasa. Seolah itu adalah sebuah lelucon.
Melvin menghembuskan nafasnya perlahan. Ia sungguh tak bisa menebak jalan pikiran gadis itu. Ia lalu meneliti pakaian Alicia.
"Aku mau pergi sebentar Om?"
"Ya, tapi jangan melukai dirimu sendiri,"
Setelah mengatakan itu Melvin pergi meninggalkan Alicia yang duduk termenung.
"Maaf Om, aku tak bisa membalas cinta mu?"
Gumamnya lirih, ia lalu menghabiskan sarapannya dan ia akan pergi menemui seseorang.
*
Alicia berjalan anggun masuk ke dalam kafe. Ia melirik ke arah wanita yang duduk di sudut ruangan. Tak lama ia tersenyum tipis melihat suaminya duduk bersama tunangannya. Ia geli sendiri menyebut Cello suaminya. Sedangkan pria itu sama sekali tak merasa jika ia adalah istrinya. Nyatanya dia bertunangan dengan wanita lain. Meski pernikahan mereka di tutupi, setidaknya jangan melupakan bahwa dirinya adalah istrinya.
Cello melirik wanita yang baru saja mendudukkan bokongnya pada kursi. Ia mengeratkan giginya emosi. Gadis itu bertemu dengan seorang pria, setelah membuatnya akan mati terpanggang. Sudah sebulan lebih ia menghilang dari nya. Dan hari ini ia melihatnya sedang berkencan bersama pria lain.
Cello berdiri dari tempatnya melangkah ke arah wanita yang berstatus sebagai istrinya. Grisa kaget ia mengikuti langkah Cello. Sebentar lagi orang tuanya akan datang. Jangan sampai Cello membatalkannya.
"Alicia Deandra, apa ini yang kau kerjakan selama ini. Berkencan dengan banyak pria. Kau sungguh terlalu murahan nona.?"
Tanpa basa-basi Cello melontarkan kata-kata pedasnya.
Alicia tersenyum mengejek, mendengar nada hinaan Cello padanya. Dia pikir ia akan menangis berguling melihat nya bertunangan dengan wanita lain.
"Nona Grisa, sebaiknya kau jaga tunangan mu nona? Jangan sampai dia berkeliaran mencari sesuatu yang membuat nya penasaran."
Cello terkesiap mendengar penuturan Alicia. Dia tau jika dirinya sudah bertunangan. Tak lama ia mengepalkan tangannya, Alicia akan membalasnya dengan berkencan bersama pria lain.
"Tuan Cello, selamat atas pertunangan kalian. Kau sangat serasi dengannya tuan?"
Grisa tersenyum penuh kemenangan. Alicia sudah tau jika dia tunangan Cello. Baguslah gadis itu sadar dengan posisi nya.
"Alicia apa ini semua perbuatan mu?"
Cello masih mengontrol emosi nya, dalam hati ia ingin merengkuh wanita yang menghilang dari jangkauan nya. Cello memang tak mencari tau Alicia dimana. Yang ia tau malam itu dia melarikan diri dengan Melvin. Seorang pria yang berstatus dokter sekaligus mantan suami Grisa.
Rasa marah dan benci yang selalu membuat nya tak bisa tidur. Seketika lenyap melihat mata bening dan bulat milik Alicia. Ia melihat tak ada mata polos dan ceria lagi darinya.
__ADS_1
Apakah Alicia membencinya? Seharusnya dirinya yang pantas membencinya?. Alicia sudah membunuh ibunya.?.
Cello juga tak mencari tau lagi siapa sebenarnya yang telah membunuh ibunya.? Mata hatinya sudah tertutup oleh kebencian terhadap istrinya.