My Ceo Love

My Ceo Love
Ketakutan Sean


__ADS_3

Robert melepaskan ikat pinggangnya, ia menyuruh wanita bayarannya memuaskannya.


Robert melampiaskannya pada wanita yang ia bayar.


Pria paruh baya itu marah dengan Clarisa, dia tau Clarisa keguguran dari pembantu apartemen nya. Itu sebabnya ia menyuruh pembantunya menelpon Ambulans.


Robert jelas marah, ia marah pada Clarisa yang tak menuruti keinginan nya untuk meminum obat pencegah kehamilan. Robert tak mau putrinya marah padanya. Itu sebabnya Robert bersyukur Clarisa keguguran. Ia tak perduli dengan Clarisa, Robert hanya membutuhkan tubuh Clarisa bukan anak dari Clarisa.


Mereka berdua tenggelam dengan hasrat yang menggebu. Robert, pria paruh baya itu memang sangat menggilai wanita muda. Istrinya tak bisa memuaskannya, selain faktor usia ia juga sedang sibuk bersama anaknya Ellie. Jadi mereka tak tau kelakuannya di luar rumah.


*


Hoek...Hoek....


Pria tinggi dan kekar itu memuntahkan seluruh isi perutnya. Sean mendengus kenapa dengan dirinya. Sudah hampir seminggu dia muntah di pagi buta. Sean membasuh wajahnya dengan air.


Hari ini ia ada meeting pagi di kantor, jangan sampai dia muntah saat meeting berlangsung.


"Pagi Hubby....." Inka menampilkan senyum ceria nya. Istri kecil nya itu membawa susu segelas dan roti bakar untuk nya. Sean menggeleng istrinya memperlakukannya seperti orang yang sakit.


"Baby... Ayo ikut ke kantor..." Sean memeluk tubuh mungil Inka dan menghirup aroma tubuh Inka yang wangi.


Cup....


Tangan Sean merayap kedalam baju kaos longgar istrinya dan berakhir di salah satu di sana.


Puk... Inka memukul tangan suaminya.


"Kondisikan tangan mu by..." Sean menggeleng manja, wajah melasnya tak bisa Inka abaikan.


CK..


Inka berdecak melihat suaminya, ia membuka kancing bajunya dihadapannya. Sean tersenyum lebar, lalu segera menyambar dua buah yang menggantung di depan wajah nya.


Inka mendesis, Sean sungguh seperti bayi, menyusu di pagi hari sebelum pergi. Lama Inka membiarkan suaminya dengan maunya sendiri.


"Sudah..."Sean mengangguk nyengir. Ia lalu memasangkan lagi bra dan kaos istrinya.


"Baby ikut ya...."


"Ya iya...."


Cup...


Sean sungguh senang istrinya hari ini mau menemaninya ke kantor. Sementara Inka menyipitkan matanya,tak biasanya suaminya mengajaknya ke perusahaan. Jangan bilang dia pergi hanya untuk menyusuinya.

__ADS_1


*


"Baby, disini saja.."


Inka mendengus, mereka datang ke kantor untuk bermanja atau bekerja.


"Hubby kau bilang ada meeting pagi ini.. Sebaiknya sekarang bersiap, aku akan menunggumu Ok.."


"Benar akan menunggu di sini.." Inka mengangguk mengiyakan. "Jangan kemana-mana,aku hanya sebentar sayang..."


Inka tak menjawab, dia malu pada sekertaris suaminya. Sudah bolak balik sekertaris nya memanggilnya suaminya untuk meeting. Tapi Sean masih ndusel saja padanya.


*


Inka meneliti wanita yang ada di depannya, sepertinya ia pernah melihatnya. Tapi dimana?


"Apa Sean William ada..."Inka mengerutkan keningnya, mendengar wanita itu menyebut nama suaminya dengan nada tak biasa.


"Siapa kau...Tidak pantas rasanya jika seorang karyawan di ruangan CEO. Apalagi kau seorang wanita, sudah cukup kau jadi teman ranjangnya. Pergilah kau bukan tipe William, dia hanya membutuhkan tubuh mu. Sekarang aku sudah kembali dia tak membutuhkan mu lagi."


Inka mengepalkan tangannya, wanita ini tidak tau malu. Mengusir istri sahnya,dia pikir dia siapa. Hanya teman ranjang saja bukan. Inka mengumpat suaminya, suaminya itu keterlaluan. Mengundang wanita j*l*ng, saat mengajaknya ke kantor.


Inka mati matian menahan air matanya, saat ingat wanita itu yang memeluk suaminya saat di pantai. Inka bersumpah akan meninggalkan Sean jika benar adanya. Ia tak mau terjebak lagi dalam pernikahan bodoh dengan berbagi suami. Mungkinkah Sean melakukan ini semua untuk memiliki keturunan, seperti mantan suaminya dulu. Mencampakkan nya, hanya karna ia mandul.


Inka keluar ruangan CEO, berbarengan dengan Sean yang masuk kedalam.


"Sean..." Sean melotot kan matanya pada wanita yang memanggil namanya.


Cup....


Rubi mengecup dan ******* bibir tebal Sean. Ia mengalungkan tangannya pada leher Sean.


Inka mematung melihat pria yang menjadi suami nya bercumbu dengan wanita itu.


Sean shock mendapat serangan mendadak dari Rubi, ia mendorong tubuh Rubi menjauh dari tubuhnya. Ia spontan melihat ke arah Inka, istrinya menangis.


Inka tersenyum kecut, menghapus air matanya yang mengalir. Lalu matanya tak berkedip menatap wajah Sean.


"Kau mengajakku ke mari hanya untuk memperlihatkan ini padaku..."


Sean menggeleng kan kepala nya. Sean menatap nanar pada istrinya, sungguh Sean tak berniat melakukan itu. Tiba tiba saja wanita itu datang dan mencium bibir nya.


Inka berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua. Entah mengapa belakangan ini ia sangat sensitif. Bukankah kemarin ia mengatakan jika suaminya berselingkuh maka dia juga bisa. Lalu kenapa sekarang sakit sekali rasanya, melihat dengan jelas dengan mata kepalanya sendiri.


Sean mengalihkan pandangannya pada wanita yang menciumnya. Rubi tersenyum lebar, ia berhasil telah membuat wanita itu pergi. Itu artinya dia bisa leluasa untuk mendapatkan Sean William. Ia yakin Sean masih mencintainya, seperti dulu.

__ADS_1


Plak.....


Rubi tersungkur ke bawah, bibirnya mengeluarkan darah.


"Sean..." Serunya..


"Sekali lagi kau menyentuh ku, kau akan tau akibatnya.." Rubi menggeleng tak percaya, Sean nya berubah. Apakah Sean tak mencintai nya lagi. Rubi menggeleng, ia tak mungkin menyia-nyiakan pengorbanan anaknya.


"Sean, kau tak bisa memperlakukanku seperti ini. Aku datang kemari hanya untuk menuntut hak ku.." Sean mengangkat alisnya, hak apa yang di maksud Rubi.


" Mom...." Sean mengalihkan pandangannya pada anak berusia sekitar sembilan tahun.


"Daddy melukai mommy..."


Sean menatap manik mata coklat tua milik anak itu.


Rubi menggeleng,"Tidak.. Mommy tersandung dan jatuh..Ayo kau ingin melihat Daddy mu bukan. Beri salam padanya..."


Sean mematung, apa maksudnya ini...? "Dia putra kita..." Rubi berkata seakan tau mata Sean memandangnya Punuh tanda tanya.


Sean shock mendengar pengakuan Rubi, tubuhnya kaku. Putranya... Sejak kapan..


Inka yang mendengarnya mematung di tempatnya. Ia kembali lagi karna bertemu dengan anak kecil itu dan mengantarnya. Tak di sangka anak yang ia antar adalah putra wanita itu dan Sean suaminya.


Inka meringis menahan sakit yang luar biasa di bawah sana. Ia meremas perutnya, dan menunduk saat merasakan sesuatu mengalir di kakinya.


Brukk....


Sean mengalihkan pandangannya pada pintu yang masih terbuka, dan menampilkan sosok istri nya yang terkulai.


"Baby..." Sean berteriak keras memanggil istrinya yang tak sadarkan diri.


Sean melihat darah segar mengalir di kaki Istrinya. Tangan Sean gemetar menyentuh darah itu. Ia menggeleng kan kepalanya.


"Tuan... Bawa Nona ke rumah sakit," Kenzo datang berlari menghampiri tuan dan Nona muda nya.


" Ken..." Bibirnya bergetar menahan ketakutannya.


" Tuan..." Sean terkesiap mendengar bentakan Kenzo terhadapnya. Ia segera bangkit menggendong tubuh mungil tak berdaya itu.


"No Baby... Jangan tinggalkan aku.."


Sean menyesal telah menyakiti hati wanita yang sangat di cintai nya. Sean bertambah gemetar takut saat merasakan tubuh mungil Inka bertambah dingin.


"Ken..." Bibir Sean lirih menyebut nama Kenzo. Tak ada kekuatan sama sekali melihat istri mungilnya sakit.

__ADS_1


Mendengar suara lirih tuannya, Kenzo menambah kecepatan mobilnya. Sama seperti tuannya, kenzo pun gemetar takut melihat nona muda nya.


Rubi tersenyum miring, meski dalam hati bertanya siapa wanita itu. Ia tak perduli baginya tujuannya adalah yang pertama, mendapatkan Sean William kembali dengan nya.


__ADS_2