My Ceo Love

My Ceo Love
Membuang harga diri


__ADS_3

Malam harinya Grisa menunggu dengan gelisah di sebuah hotel. Ia sengaja mengajak Cello dinner di sebuah hotel mewah yang berada di pusat kota.


Matanya melirik ke arah pintu masuk, sama sekali belum juga ada, tanda tanda jika pria itu akan datang menemuinya.


Satu jam berlalu Grisa menunggu, hingga lilin yang ia nyalakan sudah hampir habis.


"Alicia,"


Dadanya bergemuruh hebat menahan sesak yang menghimpitnya. Cello benar benar sangat keterlaluan.


Sementara di lain tempat di kamar apartemen. Cello mendesah frustasi. Gara gara dia yang ingin memancing istrinya, keluar dari persembunyiannya. Ia menyetujui bertunangan dengan Grisa.


"Wanita sialan itu benar benar ingin di beri pelajaran."


Cello mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak menunggu Alex. Baginya cukup bertemu lalu pergi. Apalagi Alicia sendiri di apartemen milik nya.


Brakk..


Tangannya merapikan jasnya, lalu melangkah menuju kamar hotel di mana ia akan dinner berdua bersama Grisa. Senyum penuh misteri tersungging di sudut bibirnya.


Hampir saja Grisa menghancurkan meja yang berisi hidangan dan wine mahal yang tersaji.


Bibirnya terangkat melihat kedatangan pria yang di tunggu nya dari tadi.


Ia berdiri menyambut Cello, tapi Cello mengacuhkannya dengan langsung mendudukan dirinya, di kursi yang masih tersisa.


"Cel kau datang, ku pikir kau melupakan janjimu."


"Kapan aku berjanji padamu nona,?"


Grisa tersenyum kecut mendengar jawaban Cello. Ia lalu menuangkan wine pada gelas tinggi yang tersedia. Lalu memberikannya pada Cello.


"Maaf aku terlalu bahagia dengan kedatangan mu."


"Jangan terlalu berharap banyak nona Grisa. Kau yang menyetujui, kau juga yang menggelar acara pertunangan di perusahaan ku. Apa kau bertanya jika aku menyetujuinya nona?...."


"Cel..."


"Kau tiba tiba datang ke perusahaan ku membawa wartawan dan cincin pertunangan. Lalu memaksaku menyematkan di jarimu, nona?. Dengan alasan hanya pura pura bukan. Lalu kenapa sekarang kau berharap aku menjadi tunangan mu yang sesungguhnya, nona Grisa..."


Grisa meremas gaun yang dikenakan nya. Ia tak menyangka Cello benar benar tak meliriknya sedikitpun. Meski ia yang memaksa untuk bertunangan dengan nya.

__ADS_1


"Cel beri aku kesempatan sekali saja, aku janji akan membahagiakan mu. Bukan gadis yang suka berbuat ulah. Apa yang tak kumiliki dari dia. Aku lebih seksi di bandingkan dengan gadis itu Cel. Aku rela menjadi pemuas mu di atas ranjang. Asalkan kau mau bersama denganku, tak apa jika kau mencintainya. Tidak perlu kau mencintaiku, cukup aku menjadi temanmu di atas ranjang."


Cih...


Cello berdecih mendengar permintaan wanita di depannya ini. Dia sungguh seperti ****** di luaran sana.


"Nona, ****** di luaran sana jauh lebih terhormat. Dari pada dirimu, yang mengobral ************, demi mendapatkan kepuasan."


Hina Cello tak berperasaan, melontarkan kata-kata tanpa filter. Tak perduli dengan wanita yang di depannya akan tersinggung dan marah.


Wajah Grisa merah padam mendengar Cello dengan tega menghinanya, tanpa perasaan. Sungguh ia tak menyangka, Cello akan menghinanya sekejam ini.


Cello berdiri memutar tubuhnya, tapi Grisa menahan tangan Cello. Menyadari tangan Grisa menahannya, Cello menghempaskan tangan nya.


"Setidaknya minumlah terlebih dahulu Cel. Aku sudah memesannya, hargai sedikit saja Cel,"


Cello kembali duduk di kursinya. Melihat Cello kembali mendudukan dirinya, Grisa tersenyum. Ia yakin malam ini ia bisa menaklukan Cello. Sakit hati di hina bahkan di rendahkan tak berarti apa-apa setelah ia berhasil menjadi wanita satu satunya untuk Cello.


Grisa memberikan gelas yang sudah terisi wine pada Cello. Ia lalu menuangkan lagi untuk nya sendiri. Matanya melirik ke arah Cello yang meminum wine satu kali teguk.


"Yes akhirnya, hari ini ia akan menjadi milikmu seutuhnya."


Gumamnya dalam hati..


"Cel, empat tahun lalu, aku melihat mu untuk pertama kalinya. Dan aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Kupikir aku bisa memiliki mu seutuhnya. Ternyata kita hanya di takdirkan menjadi rekan bisnis saja tidak lebih."


Cello tak menjawab ia meminum lagi wine miliknya lagi dan Grisa bersorak dalam hati.


"Aku lebih menyukai wanita yang agresif nona Grisa. Seperti Alicia, dia nakal dan juga suka mabuk."


Grisa yang mendengar Cello menyukai wanita yang di sebutkan tadi juga meminum wine sama seperti Cello. Biarlah dia nanti yang akan mengendalikan Cello. Lagi pula Cello sangat suka dengan wanita yang agresif. Hanya satu gelas, tak akan membuatnya mabuk.


Cello menggelengkan kepalanya, matanya berkedip seolah pandangan mengabur. Dan tangannya memegang pelipisnya, memijit pelipisnya yang terasa pusing.


Senyum lebar menghiasi wajah cantik Grisa. Ia dengan sigap berdiri menghampiri Cello.


Hendak mencium bibir nya, tapi sebelum bibirnya menyentuh bibir Cello ia lebih dulu tersungkur.


"Aku bukan orang yang bodoh nona. Hanya dengan obat yang kau berikan padaku. Tidak akan membuatku terpedaya olehmu."


"Cel.."

__ADS_1


Ah...


Grisa mendesah dan meracau ingin di sentuh. Tubuhnya bergetar menahan sesuatu yang membuat nya gerah sekaligus berkedut di area sensitifnya.


Cello tersenyum tipis, melihat wanita yang tampak lugu dan polos. Tapi sangat menjijikan. Ia duduk bersila di sofa sambil menunggu wanita yang sedang meracau tak jelas. Cello tau wanita itu tak akan bisa menahan nya.


"Kau yakin tidak tau di mana ayahmu menyimpan barang haram itu."


"Cel tolong aku.."


"Aku akan menolong mu setelah kau beri tau dimana ayahmu menyembunyikan nya....


Baiklah jika kau masih bungkam nona"


Grisa semakin menggeliat, tangan dan kakinya di ikat oleh Cello. Tapi bibirnya meracau meminta di sentuh.


"Cel, sekali ini saja. Ku mohon aku sudah tak tahan."


Nafasnya memburu menahan gejolak gairah yang memuncak. Grisa seperti wanita gila.


Keringat sebesar biji jagung bercucuran di wajahnya. Cello tau Grisa masih mempunyai kesadaran walau sedikit. Itu sebabnya ia tak ingin mengatakan di mana ayahnya menampung barang itu.


Jika di rumah sakit tempat membuatnya. Tapi Cello tidak tau dia menampung dan menyimpan hasilnya.


" Ruang mayat di belakangan. Ayah ku menyimpannya di sana. Aku sendiri juga baru mengetahui nya. Cel, kumohon sentuh aku. Aku janji akan membawamu ke sana."


"Itu tak perlu"


" Itu tugas kalian. Terserah mau kalian apakan dia. Aku tak perduli.."


Cello melangkah pergi meninggalkan mereka dengan Grisa yang meracau dan menggeliatkan tubuhnya.


"Apa anda ingin kesana sekarang juga tuan?"


"Tidak, jangan gegabah. Mengingat pria itu di puja bagai dewa penyelamat. Biarkan dia dulu, tunggu hingga ia pulang"


"Lalu bagaimana jika nona Grisa mengatakan nya tuan.?"


"Aku yakin Grisa tak akan melakukannya. Bukankah Grisa tergila-gila pada ku. Jika ia mengatakan tentang aku yang mencurigainya. Dia yang akan menjadi sasaran ayahnya sendiri."


Alex mengangguk dan ia menoleh mendengar suara suara laknat yang masih terdengar hingga luar pintu. Entah apa yang mereka lakukan pada wanita yang berprofesi sebagai dokter bedah.

__ADS_1


Sementara Grisa yang melihat ada pria di depannya, begitu tangan nya di lepaskan. Ia langsung menerjangnya. Hasrat yang membumbung tinggi membuat Grisa menjadi piala bergilir oleh tiga pria sekaligus. Hingga wanita itu terkapar tak berdaya. Sampai waktu menjelang pagi.


Mereka meninggalkan Grisa tergolek tak berdaya di lantai dingin tanpa sehelai benang pun. Apalagi tubuh polos nya banyak sekali meninggalkan jejak bibir para pria yang memuaskannya. Entah apa yang akan Grisa lakukan jika saat sadar nanti mendapati dirinya yang seperti itu.


__ADS_2