
Radika mengumpat dalam hati. Wajah cantik nya merah padam. Hari ini ia di permainkan oleh gadis yang masih belia. Radika mengalihkan pandangannya pada Cello. Berharap pria itu mengerti posisi nya.
Tapi Cello sama sekali tak melihat kearah nya. Radika merasa sangat kecewa dengan sikap Cello. Tak seharusnya ia di perlakukan seperti ini. Itu bukan tugasnya!
Meskipun setiap hari ia membuat kan kopi, tapi itu untuk nya. Dia rela setiap pagi membuatkan Cello kopi. Memang pada dasarnya Radika yang memaksa, jika Cello menginginkan nya. Ia dengan suka rela membuatnya. Tapi tidak dengan sekarang ini. Gadis ini sudah menginjak harga dirinya.
Radika mendesah kasar. Ia lalu berbalik dan pergi. Dengan wajah masamnya ia mengepalkan tangannya, mengumpat Alicia.
" Opa....Rumah Opa dimana, Alice mau main deh. Sebentar lagi Alice pulang ke negara Alice. Jadi Alice ingin mengunjungi banyak tempat wisata di sini. Opa mau gak temenin Alice."
Dengan berbinar Alicia mengungkapkan keinginannya. Sementara salah satu pria yang duduk di samping Alicia hanya diam. Ia menatap Alicia dengan tatapan yang entah.
"Memang Alice dari mana dan dengan siapa kemari.." Mario meneliti wajah Alicia. Wajahnya seperti mirip seseorang.
Alicia tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang putih. Ia bergelayut manja di lengan Mario. Sambil bercerita kesana kemari.
"Alice tuh ke sini sendiri, nyusul kakak. Nah kemarin kakak sudah pulang. Kakak di sini hanya lima hari......" Sambil mengacungkan kelima jarinya.
"Tapi Alice masih ingin di sini. Alice ingin melihat dunia baru. Jika di mension, Deddy selalu buntutin Alice. Sebel.... Makanya Alice di sini ingin jalan jalan. Tapi Om Cello gak mau temenin Opa.....
Opa temenin Alice yah..."
Dengan penuh harap, Alicia merayu pria tua itu dengan memijit lengannya. Mario tersenyum lucu. Alicia sungguh masih sangat polos. Alicia tak tau jika predator di sampingnya ingin menerkamnya. Sedangkan Cello matanya tak mengalihkan dari bibir mungil yang dari tadi berceloteh.
"Yah, Opa akan temenin ..."
"Alicia Opa..."
Dengan semangat ia memperkenalkan dirinya. Padahal dari tadi ia sudah bergelayut manja di lengan nya.
" Alice sayang deh sama Opa..."
Cup....
Alicia tersenyum lebar dan mencium pipi Mario. Saking girangnya, Mario akan mengajaknya jalan jalan.
Cello melotot kan matanya melihat Alicia yang mencium pipi Daddy nya. Ia sepertinya tak rela, jika Alicia mencium pipi seseorang. Meskipun itu Daddy nya sendiri. Ia menghembuskan nafasnya kasar.
Apakah selama ini Alicia seperti itu. Gadis polos itu bahkan tak tau. Antara pria dan wanita tak boleh sembarang berciuman.
"Alice, mulai besok tidak boleh mencium sembarang orang. Itu tak boleh, Ok..."
Cello geram sendiri, Alicia tak bisa membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak.
"Tapi Om pagi tadi duluan mencium Alice, ..."
__ADS_1
Mario menipiskan bibirnya, melihat Cello yang tersenyum masam.
"Mulai sekarang tak boleh Ok." Alicia mengangguk mengerti.
"Kalau Om yang mandiin Alice, masih boleh Om."
Tawa Mario pecah mendengar Alicia bicara. Ia tau itu hanya akal akalannya Cello saja. Sementara Cello salah tingkah. Sebagai pria dewasa ia tau Daddy nya menertawainya.
Radika yang hendak masuk ka dalam menghentikan langkahnya. Ia mengepalkan tangannya. Sudah sejauh itu kah Alicia meracuni Cello.
Gadis sialan, tunggu saja....
"Aunty....Kenapa berdiri di situ. Ayo sini, Opa haus ya Opa..."
"Ya..."
Mario melirik kearah Cello, dan mengangkat sebelah alisnya, ia tersenyum meledak.
Radika menurunkan jus jeruk di atas meja. Tak lupa ia juga membawa satu kotak pizza jumbo milik Alicia.
Alicia kegirangan mendapatkan pizza kesukaannya.
"Aunty tau, kalau pizza ini kesukaan Alice? Alice suka yang ada keju mozzarellanya aunty..."
Wajah cantik Radika tambah masam, mendengar pizza yang ia bawa adalah favorit Alicia.
Mario membuka obrolan yang sempat tertunda tadi. Radika memasang telinga nya lebar lebar mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Alice mau ke museum Opa... Terus ingin ke taman juga, terus ingin naik bianglala yang tinggi Opa."
Mario tersenyum dan mengelus kepala Alicia. Ia salut dengannya, walaupun berpakaian minim tapi otak masih bocah dan polos.
"Alice umur berapa sekarang sayang.?"
"Kata mommy tujuh bulan lagi delapan belas, Opa.."
"Delapan belas ya...."
Alicia mengangguk cepat, Mario melirik ke arah Cello. Cello yang di lirik oleh Daddy pura pura tak tau.
"Alice kalau punya suami ingin yang remaja seperti Alice atau yang udah dewasa.."
Mario memancing Alicia, ia ingin tau sejauh apa Cello mencintai dan memperjuangkan cinta gadis belia itu.
"Tergantung Opa..."
__ADS_1
Mario hanya berohria, tak lama ia berkata lagi.
"Kalau sekarang Alice udah punya pacar?.."
Alicia tersenyum malu, dan menunduk. Cello yang melihat wajah merona Alicia, dadanya berdebar kencang. Ia memasang telinga nya selebar mungkin.
"Udah opa..."
Uhuk Uhuk... Cello tersedak ludah nya sendiri, mendengar jawaban Alicia. Sementara Mario terkekeh, ia sepertinya sukses membuat putranya kalah telak...
"Om kenapa, Opa..?"
Mario mengedihkan bahunya, tanda tak tahu. Ia lalu mengambil potongan pizza dan melahapnya.
Cello gelisah di kursinya, ia masih kepikiran dengan gadis kecil itu. Hah... Cello menghembuskan nafasnya perlahan. Alicia sudah memiliki kekasih. Cello sepertinya tak rela, jika Alicia mencintai pria lain selain dirinya.
Cello membelalakkan matanya, ia ingat Alicia sangat pintar berciuman. Apakah dia sering melakukan dengan pacarnya?.
"Sialan..."
Cello mengumpat pria yang menjadi pacar Alicia. Dadanya bergemuruh, menahan cemburu yang membakar nya.
Tak lama ia berdiri dan pergi meninggalkan ruangan nya. Ia akan menyusul Alicia dan Daddy nya.
Mereka berdua pergi ke tempat, dimana Alicia sebutkan tadi. Cello tak bisa jika harus diam saja. Ia akan menanyakan siapa pria yang menjadi pacar Alicia.
Alicia pasti hanya di permainkan oleh pria ingusan itu.
"Yang namanya anak ingusan, pasti hanya untuk main main. Dia tak serius dengan hubungan mereka. Apalagi masih meminta uang ibunya."
Cello mengumpat pria yang menjadi kekasih Alicia. Sepanjang jalan bibirnya tak berhenti mengumpatnya. Padahal Cello tak tau siapa pria tersebut.
Alex mengerutkan keningnya, melihat tuannya berjalan sambil mulutnya tak berhenti mengomel menyumpahi seseorang. Tuannya juga berjalan cepat tak melihat kiri kanan. Padahal dari tadi Alex menyapanya.
"Tuan mau kemana...?"
Alex bertanya pada diri nya sendiri. Tak biasanya tuannya akan meninggalkan berkasnya, yang bernilai milyaran rupiah dengan urusan pribadi nya.
Radika mengejar Cello yang berjalan terburu buru. Ia ingin tau kenapa Cello pergi terburu buru.
Brakk...
Cello melampiaskan pada pintu mobilnya. Ia sungguh ingin mencekik leher pria yang menjadi kekasih Alicia.
Tinggalkan jejak ya mom.
__ADS_1
Beri VOTE dan hadiah juga.
Like komen 🤩