My Ceo Love

My Ceo Love
Mengintai


__ADS_3

Byurr....


Cello membuka matanya perlahan, rasa perih dan sakit kepala seketika menyerangnya. Sadar dengan apa yang terjadi, tangannya terkepal erat. Matanya memanas mengingat istrinya berada di dalam mobil yang jatuh ke dalam jurang.


Tubuh nya bergetar hebat menahan sakit, jika Alicia benar benar pergi meninggalkan nya.


Air matanya mengalir begitu saja, bersama dengan air guyuran yang ia dapatkan. membayangkan ternyata benar ini bukanlah sebuah mimpi.


Tak jauh dari sana, seorang wanita tertawa terbahak bahak. Melihat betapa kacaunya pria yang ia puja.


Grisa wanita yang memakai pakaian serba tertutup itu mendekat ke arah Cello. Ia duduk di hadapan pria yang terlihat sangat menyedihkan.


"Hallo sayang.."


Cello masih tak bergeming sedikitpun. Ia masih terpukul dengan kejadian yang menimpa istrinya. Rasa sesak yang menderanya membuatnya bergetar tanpa henti.


Cih...


Grisa berdecih melihat Cello yang menangis. Ternyata cinta pria itu pada istrinya begitu besar.


"Aku tidak suka melihatmu menangis Cel. Menikahlah denganku Cel.... Aku akan melupakan dendam ayahku. Jika kau bersedia menikahi aku."


Cello masih bungkam, bibirnya terkatup rapat. Hanya ada pandangan kosong, mengingat Alicia, istrinya.


"Cel..."


Cello baru mengalihkan perhatian pada wanita di depannya. Setelah di berteriak keras di depan wajahnya.


"Menikahlah denganku, aku akan mengubur rasa sakit hati ku padamu. Dan aku juga akan melupakan dendam ayahku padamu, Cel.."


Cih...


Kali ini Cello yang berdecih mendengar kata kata Grisa kepadanya.


"Sampai matipun aku tidak akan pernah sudi menikahi wanita pelacur seperti mu."


Ya dalam situasi seperti ini saja Cello tak bisa mengontrol emosi nya. Masih saja memancing wanita yang terbakar cemburu dan dendam. Harusnya Cello bisa membohongi wanita itu dengan pura pura mau. Tapi nyatanya Cello bukanlah pria yang suka berpura pura.

__ADS_1


Grisa mengepalkan tangannya mendengar lagi lagi Cello menghinanya. Tak lama ia berdiri, membuka semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Cello yang melihat jika wanita gila itu melucuti pakaiannya berdecih. Tak lama ia tersenyum tipis melihat tubuh Grisa yang belang dan juga korengan. Hampir lima puluh persen tubuh itu terlihat belang.


"Lihat lah Cel, lihat tubuh ku menjadi buruk rupa seperti ini. Itu semua gara gara perempuan sialan itu."


"Berhenti menyebut istriku sialan, bajingan."


Cello berteriak keras pada Grisa. Ia terpancing mendengar wanita itu menghina istrinya. Sedangkan Grisa tertawa terbahak bahak lagi. Ia bahkan tak memakai bajunya kembali, berjalan mendekati Cello.


"Cello kau tau aku sangat mencintai mu. Asal kau tahu, luka ini semua bisa hilang jika aku melakukan operasi plastik kembali...Kau harus percaya padaku Cel. Aku sudah melakukan operasi plastik sebelum ini. Kau tau, aku sudah mengoprasi selaput daraku, agar kembali seperti semula. Itu semua ku lakukan hanya untuk mu Cel. Aku sangat mencintai mu.....


Tapi kau menghancurkan semuanya, Cello brengsek. Kau mematahkan hati ku dengan selalu bersamanya. Kau juga menjebak ku, melemparkan aku pada pria pria hidung belang. Mereka memperkosaku secara bergiliran, tidak.....


Mereka tidak memperkosaku secara bergiliran. Tapi mereka semua bersama sama menyentuhku secara bersamaan. Mereka mengoyak tubuhku secara bersamaan bukan bergiliran. Kau dengar Cello....


Hingga milikku sangat sakit, semua itu karna gadis sialan itu."


"Brengsek, berhenti menyebut istriku sialan."


Cello mengepalkan tangannya mendengar jika Alicia lah yang di salahkan.


Grisa tertawa terbahak bahak mendengar Cello lagi lagi masih membela istrinya.


"Brengsek..."


Bruk..


Cello bangkit dan ingin menerjang Grisa. Tapi sayang nya ia lebih dulu tersungkur di lantai bersama dengan kursi yang diduduki nya. Tawa Grisa bertambah pecah, melihat betapa menyedihkannya Cello.


"Wanita jalan seperti mu memang hanya pantas untuk mereka. Bukankah kau senang, bahkan kau sangat puas mereka semua bisa membuatmu menjerit."


"Brengsek"


Plakk..


Grisa menampar pipi Cello, ia berang Cello mengejeknya. Dadanya naik turun, membayangkan bagaimana dia yang berteriak keras saat puncak kenikmatan nya sampai. Apalagi mengingat dia dengan sendirinya yang menginginkan miliknya di sentuh lagi dan lagi.


"Kenapa? kau mengingat, bagaimana mereka yang menggilir mu. Kau pikir aku sudi memungut bekas mereka."

__ADS_1


"Cello..."


*


Alex mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi. Ia yakin wanita itu dalang dari semua ini.


"Tuan Alex, Kami sudah menemukan di mana tuan Cello."


"Ya kirim lokasinya."


Terdengar nada ya dari seberang telpon. Kemudian Alex mematikan ponselnya dan mengambil senjatanya. Ia juga memberikan pada lima anak buahnya yang bersamanya. Alex menyebar semua anak buahnya untuk mencari keberadaan tuannya.


Sudah dua hari tuannya baru di temukan. Entah apa yang wanita lacur itu lakukan pada tuannya. Sehingga dengan mudahnya tuannya, berada di tangan wanita gila itu.


Alex menyesalkan, jika tuannya tak memakai apa apa saat ia keluar dari apartemen. Padahal semua koleksi jam tangan Rolex nya, sudah tersimpan pelacak dan alat untuk memberi kode agar terhubung dengan anak buahnya.


Alex menghembuskan nafasnya perlahan, ia memikirkan bagaimana dengan nonanya. Apakah tuannya akan marah jika mereka justru mendahului mencarinya. Tidak mencari keberadaan nonanya terlebih dahulu.


Hah...


"Tuan.."


Lamunan Alex buyar saat salah satu dari mereka mengagetkan nya.


" Ya, kita pergi.."


Mereka semua pergi ke tempat dimana tuannya di sekap. Mereka juga tak bisa membayangkan. Bagaimana bisa tuannya bisa lengah. Apakah mereka mencampurkan sesuatu pada tuannya? Sehingga mereka bisa membawa tuannya.


Alex masih belum mengerti, dengan kejadian yang menimpa tuannya. Mungkin saja Cello di beri obat dengan dosis yang tinggi. Itu sebabnya tuannya lengah.


Lima jam lamanya berkendara dengan mobil. Alex dan anak buahnya sampai di dekat hutan. Sepi tak ada kampung ataupun rumah. Yang ada hanyalah pohon besar dan sebuah bangunan yang mencolok. Karna hanya bangunan tua itu satu satunya yang berdiri kokoh di sana.


Alex menyipitkan matanya melihat bangunan itu, sepertinya itu adalah gudang tua. Yang biasanya di manfaatkan oleh orang sekitar untuk berteduh saat mereka berburu. Ya karna bangunan itu jauh dari perkampungan. Lebih tepatnya di bawah gunung dekat hutan.


Ia mengkode agar anak buahnya berpencar. Tapi sebelum itu, ia melihat seorang pria datang membuka gerbang. Alex menyipitkan matanya melihat wanita itu datang dari dalam menghampiri pria yang baru datang dengan sepeda motor nya. Alex memikirkan dari mana pria itu datangnya. Tidak mungkin pria itu sampai kemari dengan motor cross nya. Mengingat untuk berjalan saja sangat lah sulit.


Dan ternyata Alex melihat ada sebuah jalan kecil yang terhubung dari dia lewat tadi.

__ADS_1


Alex mengepalkan tangannya, melihat Grisa memberikan amplop coklat tua yang sangat tebal. Rupanya Grisa menyewa preman jalanan untuk menyerang tuannya.


"Sialan..."


__ADS_2