My Ceo Love

My Ceo Love
Sebuah kepercayaan


__ADS_3

Alicia menatap tak percaya pada seseorang yang baru saja melepaskan timah panasnya. Ia lalu membalikkan tubuhnya. Dan melihat wanita tua yang berstatus sebagai mertuanya, terkapar tak berdaya dan berlumuran darah.


Ia lalu mengangkat tubuh ringkih dan lemah untuk di pangkuannya.


Seorang wanita tersenyum penuh kemenangan. Ia yakin Cello akan membenci gadis sialan itu. Ia membalikkan tubuhnya pergi dari sana. Tinggal menghitung jari lentik nya. Ia yakin Cello akan sangat kecewa dengan Alicia.


Ling Jung masih tak ingin mati sia sia di tangan Cello. Beberapa kali ia menembak Cello dengan timah panas nya. Tapi Cello sama sekali bukan lawan yang sepadan. Pria dewasa itu sangat lah lincah dan gesit. Padahal Cello hanya berdua dengan Alex. Sementara dirinya bersama anak buahnya yang banyak.


Jung mengumpat Rubi, wanita sialan itu. Gara gara dia, ia tertangkap oleh Cello. Padahal niat nya adalah ingin bertemu dengan putri nya lalu pergi lagi. Tak di sangka Cello mencurigainya dan membuntuti nya.


Dor....


Argh....


Jung tumbang dengan peluru di dadanya. Cello menghampiri, menekuk lututnya. Tak lama ia melayangkan kepalan tangan nya pada wajah Jung. Pria yang selama ini membuatnya geram.


"Tuan, bagaimana dengan markas Jung .."


Cello tersenyum tipis, akhirnya ia bisa menemukan markas pembuatan obat obatan terlarang.


Jung terkesiap, ia mengepalkan tangannya mendengar jika markas besarnya di temukan Cello.


Jung tertawa terbahak bahak mendengar Cello membanggakan dirinya. Dalam hati ia juga mengumpat Cello. Pria ini sulit sekali di kalahkan. Bahkan tak bisa di bohongi. Tapi ia yakin Cello akan kalah kali ini.


"Kau tau kenapa ibumu di sekap bertahun-tahun oleh William. William tak ingin ibumu menghalangimu menjadi pemimpin Red Blue miliknya. Dia menyandra ibumu sebagai tawanan nya, agar kau bersedia menikahi putrinya. Dan akan melepas ibumu saat kau benar-benar sudah menikahi putrinya."


Ling Jung tertawa lagi, ia semakin bersemangat menghasut Cello.


"Kau yakin putri William tak punya maksud tersembunyi."


Uhukkk...


Ling Jung memuntahkan darah segar. Cello benar benar pria yang akan melenyapkan lawannya. Tak memberinya kesempatan sama sekali.


Cello menatap nanar pada dua wanita yang sangat berarti baginya. Ia dan Alex langsung datang kemari saat sebuah pesan mengatakan jika ibunya dalam bahaya.


Alicia menatap wajah dingin Cello. Bibirnya kelu, yang hanya sekedar untuk membela diri. Alicia tau Cello salah paham dengan nya.


Cello menyingkirkan Alicia, ia membopong tubuh tak bernyawa ibunya. Dan pergi meninggalkan Alicia yang mematung, dengan pistol di tangannya.

__ADS_1


Alicia menatap nanar pada punggung Cello, sebelum Rubi menghembuskan nafasnya terakhir. Dia hendak menembak dirinya. Dan Alicia tentunya merebut senjata yang mengarah padanya.


Malam semakin larut, Cello termenung di dalam apartemen miliknya. Usai menguburkan ibunya, Cello mengurung dirinya sendiri di dalam kamar miliknya. Ia teringat kata kata Jung. Benarkah Alicia manfaatkan dirinya.? Meskipun Cello sudah ikhlas jika Alicia memanfaatkannya. Tapi Cello kecewa dan marah, kenapa Alicia sampai tega membunuh ibunya.


Ia tak menyangka Alicia akan membunuh ibunya demi ambisinya. Padahal Cello siap mengorbankan apa saja demi melindungi Alicia dari ibunya. Tapi Cello tak menyangka istrinya justru tega menghabisi nyawa ibunya.


Clek....


Alicia masuk ke dalam kamar mereka, ia yakin Cello ada di sana. Dan benar saja, Cello sedang termenung seorang diri. Ia menghembuskan nafasnya perlahan.


"Om...."


"Pergilah Alicia...?"


Alicia mendongak menatap wajah dingin Cello. Cello belum mendengar penjelasannya?.


"Tapi Om?"


"Pergilah Alicia...!"


Alicia berjengit kaget mendengar bentakan nyaring untuk nya. Tak lama ia tersenyum tipis, apa hanya segitu rasa kepercayaan Cello padanya. Apakah hanya sekecil itu cinta di hati nya.


Cello mengangkat wajahnya, menatap tak percaya pada Alicia.


Akhirnya gadis itu mengakui tujuan yang sebenarnya.


"Bagus lah jika Om tau tujuan ku sebenarnya. Jadi aku tak perlu lagi mengatakannya padamu."


Gigi Cello gemerutuk menahan emosi. Tangannya terkepal erat. Dengan telinga nya sendiri ia mendengar jika benar Alicia memanfaatkannya. Meskipun ia sudah tau, tapi dalam hati kecilnya masih menolak fakta itu.


"Kau sungguh wanita licik Alicia. Wajah mu yang polos itu sungguh membuatku jatuh ke dalam perangkap, wanita murahan sepertimu."


Alicia memejamkan matanya, sakit sekali rasanya mendengar Cello merendahkannya. Bukankah dia sendiri yang telah mengambil kehormatannya.


Alicia terkekeh kecil, mencoba menyembunyikan hatinya yang hancur berkeping keping. Ia membalas tatapan tajam mata Cello padanya.


Tatapan cemooh ia layangkan pada pria yang membuat nya hancur berkeping keping.


" Bukankah kau pria yang sangat naif Cello. Hanya dengan rayuan gombal gadis seperti ku. Kau mudah sekali terjerat. Ternyata mudah sekali menjerat pria seperti mu? Kau tau, ibumu adalah wanita yang sangat ku benci!"

__ADS_1


Alicia berteriak pada Cello. Bukannya meredam amarah Cello, dia justru membakar kebencian Cello terhadapnya.


Wajah Cello merah padam mendengar Alicia berkata demikian. Ia mengarahkan pistol di tangannya dan menarik pelatuk nya pada Alicia.


Alicia tersenyum mengejek, jika dia harus mati di tangan Cello. Alicia akan sangat bangga.


Bukk...


Dor...


Alicia terhuyung kebelakang, dengan dada yang terluka.


Bukk....


Prang....


*


Melvin menyusuri jalan yang sudah mulai gelap. Ia mencari cari keberadaan Alicia. Tadi pagi ia menurunkan nya di taman kota. Dan entah kemana lagi perginya gadis belia itu.


Ia menautkan kedua alisnya melihat sosok yang dicarinya, berjalan tertatih. Seperti nya gadis itu selalu saja membuat onar. Mungkin saja habis berkelahi. Secara gadis remaja seperti nya sangat lah labil.


Melvin mengeryitkan alisnya, kenapa Alicia tak mencari taksi untuk pulang. Melvin mengikuti langkah Alicia. Sementara Alicia tak tau ada seseorang yang membuntuti nya. Pikiran nya kacau ia tak fokus. Hanya Cello yang ada dalam pikirannya.


Melvin melirik kearah Alicia dan mendongak menatap gedung apartemen termahal di kota ini.


"Apakah Alicia tinggal di sini.?"


Melvin melihat nomor lift dimana Alicia tinggal. Lantai 37, Melvin langsung masuk kembali pada lift dan menyusul Alicia. Gadis itu pasti akan terkena marah dari orang tuanya. Dari mulai tawuran dan tak pulang seminggu dan menginap di rumahnya.


Ia akan mengatakan yang sebenarnya, jika Alicia menginap di rumahnya. Dan Alicia sendiri yang tak mau di antarnya pulang. Gadis seperti Alicia memang suka sekali bikin onar. Apalagi seperti kemarin Alicia akan kabur dari orang tuanya.


Melvin mencari keberadaan Alicia.


Ia mengumpat dirinya yang bodoh. Bagaimana ia tau apartemen milik gadis kecil itu tinggal. Melvin berbalik, percuma saja ia berada di sini. Masa iya harus mengetuk pintu satu persatu, untuk memastikan di mana tinggalnya.


Biarkan saja gadis itu di marah oleh kedua orang tuanya, biar kapok.


Melvin terkekeh geli membayangkan bagaimana Alicia akan di hukum oleh orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2