My Ceo Love

My Ceo Love
Takut kehilangan


__ADS_3

Grisa tak percaya, ia menekan dadanya yang bergemuruh hebat. Ia yakin jika Cello dan gadis kecil itu punya hubungan. Jika tidak kenapa Alicia berani mencium Cello. Sedangkan Cello, dia pria yang tak pernah ada hubungan dengan seorang wanita. Bagaimana mungkin Cello mempunyai hubungan dengan nya.


Grisa keluar dari apartemen dengan wajah muramnya. Apa yang Cello lihat dari gadis belia itu.?


Cello masih menetralkan jantung nya yang berdetak kencang. Alicia sungguh membuat nya jantungan. Gadis itu bahkan tak sedikitpun merasa canggung dengannya.


Usai mengobati lukanya, Alicia meminta pelayanan membuatkan bubur untuk nya. Dan saat ini, Alicia sedang menyuapinya.


"Maafkan Alicia Om.."


Alicia menundukkan wajahnya, ia tau dirinya yang bersalah. Tak seharusnya ia kekeh ingin pulang sendiri. Dengan melangkahkan kakinya Alicia keluar perusahaan. Ia hendak memesan taksi, tapi mata bulatnya melihat kucing kecil berlari. Alicia mengejarnya dan tak di sangka ia justru terlalu jauh mengejar kucing itu.


Alicia sekalian berniat ingin berjalan jalan sebentar. Seperti biasa Alicia tak bisa diam. Gadis kecil itu kesana kemari seperti ikan yang berenang di laut bebas. Tak di sangka, bahaya mengancamnya...


Alicia meneteskan air matanya. Ia teringat dengan mommy dan Daddy nya. Daddy nya tak pernah sekalipun membuatnya takut. Daddy nya selalu mengajari nya ilmu beladiri, dengan kasih sayang yang berlebih. Daddy selalu ada di saat ia membutuhkan bantuannya. Bahkan Daddy nya akan tau jika ia sedang dalam masalah sekalipun.


Begitupun dengan Xanders kakaknya. Alicia di mension di perlakukan bagai putri. Itu sebabnya, ia ingin menangis di pelukan Daddy nya.


Cello merasakan sakit yang teramat sangat. Melihat mata Alicia yang berair. Cello mengangkat wajahnya dengan kedua telapak tangannya.Ia menghapus air mata yang mengalir deras.


Alicia menubrukkan tubuhnya yang bergetar... Ia segukan di pelukan Cello.


"Om... Alice ingin pulang, rindu dengan Daddy..."


Deg....


Dada Cello bergemuruh hebat, Alicia merindukan Daddy nya. Apa yang harus ia lakukan?. Apakah ia menginginkan Alicia pulang ke negaranya.?


Batin Cello bergejolak. Ia ingin Alicia tetap berada di depan matanya. Ia ingin Alicia berada di dekatnya.


Cello mempererat pelukannya, ia juga mencium kepala Alicia berkali kali. Tiga puluh satu tahun lamanya. Baru kali ini Cello merasakan hati yang rapuh. Melihat gadis belia menangis tersedu di pelukannya.

__ADS_1


Apakah ini yang di namakan cinta, Cello tak tau.?


Dan bagaimana jika Alicia pulang ke negaranya? Apa yang harus Cello lakukan?


Cello membaringkan lagi Alicia yang tertidur karna lelah menangis. Ia mengusap sisa sisa air matanya. Tak lama kemudian Cello juga mencium kedua mata bengkaknya itu.


Cello termenung menatap wajah cantik Alicia. Wajah itu terlihat sangat merindukan seseorang. Ya Alicia mungkin saja anak yang paling di cintai keluarga. Tak seperti dirinya....


*


Sean gelisah di tempatnya duduk, wajahnya menunjukan jika dia merindukan putrinya.


Kenzo yang melihat tuannya gelisah, hanya mendesah lirih.


Kenzo tau tuannya, sedang berperang batin. Antara ingin mengunjungi putri nya, atau dengan niat awalnya. Ya William sudah tau jika Alicia disana bersama Cello. Sean yang dulunya ingin menjauhkan putri nya dari masa lalu dirinya. Justru Alicia tak sengaja bertemu dengan Cello.


Mungkin ini sudah menjadi takdir tuhan untuk nya. Sejauh apapun Sean menghindari masa lalu yang ingin ia tinggalkan. Tetap saja, masa lalu itu yang akan menghampiri nya.


Sepuluh hari yang lalu, ia sempat berdebat dengan batinnya. Yang mengijinkan Alicia pergi ke Las Vegas. Sean takut jika Alicia terlibat dengan masa lalu yang ingin ia tinggalkan. Tapi Sean tak tega melihat mata bulat Alicia berbinar penuh kegembiraan. Akhirnya dengan berat hati ia mengijinkan Alicia pergi ke sana.


"Apa yang harus ku lakukan Ken....?"


Sean frustasi, ia ingin Alicia tetap menjadi gadis pada umumnya. Dengan susah payah Sean selalu menutupi identitas Alicia. Ia tak ingin pergerakan Alicia terganggu. Itu sebabnya ia selalu menempatkan seseorang untuk menjaganya. Tak seperti sekarang, ....


"Saya yakin Cello, jauh lebih bisa menjaga nona kecil tuan,!"


"Apa aku harus menelponnya agar ia pulang ."


"Terserah anda tuan, lagi pula sebentar lagi masa liburan semester usai. Saya rasa tanpa anda meminta pun, nona kecil akan pulang tuan... Ini untuk berlatih agar nona kecil tau dunia luar tuan. Dan anda juga harus tau. Suatu saat nona kecil akan di bawa pergi oleh suaminya tuan."


Sean melirik sengit ke arah Kenzo.

__ADS_1


Sean mengusap wajahnya kasar, benar kata Kenzo. Suatu saat anak yang dulunya manja padanya akan berganti manja dengan pria lainnya.


Semalam suntuk Cello duduk di samping Alicia. Cello sama sekali tak memejamkan matanya. Ia takut Alicia demam karna lukanya. Padahal Alicia sama sekali tak demam. Tapi entah kenapa Cello tak bisa memejamkan matanya. Entah itu karna ucapan Alicia yang merindukan Daddy nya.? Atau karna membayangkan Alicia yang pergi dari hidup nya.?


Alicia mengerjapkan matanya yang bulat. Ia melihat Cello yang tidur, dengan wajah mendongak bersandar di kursi.


Alicia tak ingin mengganggu tidur Cello. Meski ia tau jika tidur seperti itu, akan membuat sakit badannya.


Alicia menurunkan kakinya, ia sangat lapar. Kemarin sore Alicia tidak sempat makan. Itu sebabnya ia ingin meminta pelayanan membuatkan ia sup.


Cello mengerjapkan matanya. Semalam ia tak bisa tidur, Cello tak ingin Alicia pergi meninggalkan dirinya. Ya Cello baru menyadari mungkin saja ia menyukai Alicia. Gadis belia yang di kenalnya beberapa hari yang lalu. Sementara dengan cinta, Cello tidak tau. Ia bodoh soal cinta.


Deg....


Jantung Cello hampir terlepas dari tempat nya. Alicia tak ada di kasurnya. Kemana dia?....


Cello bangkit dan mencari keberadaan Alicia. Cello tak bisa membiarkan Alicia pergi begitu saja darinya.


Dengan wajah panik nya Cello mencari Alicia di kamar mandi dan lainnya. Tak ada....


Clek....


Cello mengalihkan pandangannya pada pintu yang terbuka. Ia segera berlari memeluk tubuh mungil Alicia. Ia mengecup kepala nya itu.


Hampir saja Cello di buat gila, karna tak menemukan keberadaan nya di kasur nya.


Sementara Alicia yang tak tau dengan Cello yang tiba-tiba saja memeluk nya kaget.


"Om Alice sesak..."


Cello sadar ia begitu kuat memeluk tubuh mungil Alicia. Ia lalu melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Jangan pergi lagi..."


Alicia hanya mengangguk. Ia tak tau apa maksudnya itu? Yang ia tau mungkin saja Cello masih menghawatirkan dirinya tentang kejadian kemarin sore.


__ADS_2