
"Jadi Lincoln lah dalang dari semua ini.."
"Ya tuan.."
Sean tersenyum misterius, ia tau siapa Lincoln. Pria berdarah China itu tak lain adalah musuh bebuyutan nya.
"Aku pikir dia sudah menyatu dengan tanah. "
"Dia melakukan operasi plastik beberapa kali tuan, tapi wajahnya sebelah kiri masih meninggalkan bekas. Dia selalu memakai topeng di sebelah kiri wajahnya. Dia juga yang menjadi pimpinan Blood black saat ini."
"Kau mengenalnya...?"
Kenzo membalikkan tubuhnya melihat pria yang menguping pembicaraan mereka. Sementara Alves mengumpat Sean, bagaimana dia tau jika ada dirinya yang datang mendengar kan mereka.
"Tidak...!"
"Kau yakin, lihatlah wajah dengan benar.."
Alves mengalihkan pada layar komputer Sean, dan saat itu juga Alves membelalakkan matanya.
"Dia temanmu yang culun bukan, teman yang menolong mu saat kau menangis di pusara ayahmu ."
Alves menatap wajah Sean, pria ini sungguh sangat berbahaya.
"Bagaimana kau tau jika kami sempat berteman dengannya.."
"Itu hal yang mudah bagiku.. " Sean menjawab enteng pertanyaan Alves.
"Ken, bawa Brian ke Amerika, berikan pengobatan yang paling baik. Aku tak mau berhutang budi padanya. Istri kecil ku selalu bertanya siapa yang sengaja menabrakkan mobilnya dengan mobil yang akan menabrak nya..."
Sean menghembuskan nafasnya perlahan, inilah konsekuensi nya. Sean harus ekstra hati-hati menjaga istrinya.
Alves tersenyum tipis melihat William, "Seperti jika kau lengah sedikit saja banyak yang akan merebut nya dari mu."
Sean membelalakkan matanya begitu saja mendengar Alves berkata demikian.
"Aku tidak akan pernah membiarkan seseorang memiliki celah sedikitpun."
*
Nyonya Lika menyeka air matanya, inilah akibatnya jika telah mengusik William. Meskipun bukan William yang membuat putrinya meregang nyawa. Tapi tetap saja Lika, menyangkan nya. Nyonya Lika akan membawa jenazah Bella ke Jerman. Bella akan di makamkan di samping Daddy nya yang lebih dulu meninggalkan mereka.
"Maafkan aku..." Nyonya Lika menoleh ke arah Mario, mantan suaminya sendiri. Dan di sampingnya ada wanita, bukan dia istri barunya. Seketika nyonya Lika menyesal telah datang ke Indonesia. Dia sangat menyesal datang ke mari. Selain kehilangan suaminya, dia juga kehilangan putri nya.
"Hmm.. Kau akan menerima karma mu Mario.."
Setelah mengatakan itu ia pergi meninggalkan mereka berdua. Sore nanti ia akan terbang ke Jerman, membawa pulang jenazah putri nya.
__ADS_1
Ya Bella meregang nyawa di tempat kejadian, sementara Brian koma dengan luka yang sangat serius.
Rubi mengangkat sebelah sudut bibirnya, sekarang tinggal bagaimana caranya dia menyingkirkan perempuan kampung itu.
Tak ada yang tau jika sebelum Bella meregang nyawa, Rubi telah mencampurkan sesuatu ke dalam minuman Rubi. Cara licik ini agar Bella kehilangan kendali dan akan susah mengontrol emosi nya.
Satu persatu penghalangnya pergi untuk selamanya.
*
"Ah...." Inka mendesah saat puncak gunung kembarnya di hisap oleh suaminya.
"Baby, aku menginginkanmu.."
Inka membuka matanya, masih dalam keadaan mengantuk ia mengiyakan perkataan Sean.
Sean tentu saja senang bukan main, ia segera membuka pembungkus berenda milik Inka.
Sean membuka lebar-lebar paha Inka dan mendekatkan wajahnya pada lembah basah milik Inka.
"Uh...." Inka menggelinjang, perutnya yang buncit menghalangi pandangannya melihat apa yang dilakukan oleh suaminya.
Sean menjulurkan lidahnya, menyesap penuh hasrat.
"By..." Inka meremas rambut Sean yang memperdalam aktivitas nya.
"Ah...." Sean mendongak merasakan pijatan lembut pada perut bagian bawah nya.
Perlahan ia menggoyangkan pinggulnya, memompa tubuh tak berdaya yang terbaring pasrah di bawah Kungkungan nya.
Sean mempercepat gerakannya semakin liar saat gelombang dahsyat berpusat pada satu titik.
"Ah...." Sean melengkungkan tubuhnya kala gelombang dahsyat itu di capai nya.
Sean merasakan miliknya berkedut hebat menyemburkan cairan kental miliknya.
Nafas keduanya saling memburu, Sean mengeluarkan miliknya dari rumah nya. Dan bangkit mengambil tisu di nakas membersihkan milik nya dan Inka.
Cup...
Ia membenarkan selimut tebal yang tadinya teronggok di lantai, dan menyelimuti wanitanya.
Percintaan singkat nya tadi seketika membawa Sean kedalam mimpi.
Begitu juga dengan Inka, ia langsung mendengkur halus.
*
__ADS_1
Begitupun dengan Alves, pria itu sedang bergumul di atas ranjang hotel. Alves yang mabuk tak sadar siapa wanita yang menemaninya malam ini.
"Ah... Hentikan ini sangat sakit.."
Jeritan wanita itu justru membakar Alves untuk meraih puncaknya. Bunyi kulit yang bersentuhan menggema dengan suara rintihan.
"Ah..Ah..."
Alves menyentak lebih dalam lagi, sementara sang wanita mencakar punggung lebar Alves. Alves tak merasakan perih, yang ia rasakan saat ini adalah kenikmatan bercintanya dengan wanita di bawah tubuhnya.
"Ah..." Alves terkulai lemas di samping tubuh seorang wanita. Sementara sang wanita langsung.memejamkan matanya lelah. Rasa sakit yang luar biasa dan rasa lelah bercinta membuatnya terbang dengan cepat ke alam mimpi.
Siska mengerjapkan matanya, menghalau sinar matahari yang masuk kedalam jendela kamar hotel. Siska mendudukkan tubuhnya seketika saat mengingat kejadian semalam.
Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang. Siska menyipitkan matanya melihat segepok lembar uang pecahan seratus ribu.
Siska meremas kain seprei yang menutupi tubuh polos nya.
"Brengsek.."
Siska meringis merasakan ngilu pada pangkal pahanya. Ia mengambil pakaian yang dikenakan semalam, Siska terkekeh perih.
Saat ini dia seperti ****** yang habis di pakai di tinggalkan begitu saja.
Siska memakai cepat pakaian nya, dan menyambar ponsel dan uang di atas meja. Tangan nya terkepal meremas uang yang tergeletak begitu saja di atas meja.
Jadi dia menghargai keperawanan nya, dengan ini. Jika di hitung mungkin saja dua juta rupiah, ...
"Aku akan membalasmu bajingan,"
Siska memasukkan uang ke dalam tasnya. Bukan untuk di pakainya, tapi Siska akan melemparkan uang itu pada wajah pria bajingan itu.
Siska menangis tersedu di kost nya, ia tak menyangka pekerjaan nya membawanya pada penderitaannya. Baru satu bulan lamanya Siska bekerja sebagai housekeeping. Pekerjaan yang dulu tak mampu mencukupi kebutuhan nya. Jadi ia berinisiatif untuk melamar di hotel berbintang sebagai housekeeping. Dan kebetulan dirinya meminta sif malam, sehingga tak bertubrukan dengan pekerjaannya sebagai pelayan di kafe.
Alves sendiri mengusap wajahnya gusar, kenapa dirinya sampai hilang kendali. Gara gara memikirkan masalah yang menimpanya dia meminum banyak alkohol.
Sepulangnya Siska dari kamar hotel nya, Alves keluar dari kamar mandi. Ia sengaja meninggalkan wanita itu, ia belum siap dengan kejadian ini.
Alves frustasi saat matanya tak sengaja melihat bercak noda darah di seprei putih.
Alves mengambil kunci mobilnya, ia tak ingin menjadi pengecut bersembunyi saat sudah mengambil mahkota milik seorang gadis.
Ia akan bertanggung jawab, ia salah telah menghindarinya. Tapi tujuan Alves sebenarnya adalah, ia tak ingin menjalin hubungan dulu dengan seorang wanita. Alasannya, dia hanya ingin fokus membalaskan dendam nya pada pria yang sudah mengadu domba dirinya dan saudara sepupunya, William.
Tapi nyatanya saat ia melihat bercak merah pada seprei putih. Mau tak mau ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Ia pikir wanita itu adalah ****** yang di Kirim Boy untuk menemaninya. Tapi ternyata Boy sama sekali tak merasa melakukannya. Alves juga tau jika wanita itu adalah baru bekerja sebulan yang lalu.
__ADS_1