My Ceo Love

My Ceo Love
Kenyataan


__ADS_3

Pagi menjelang, kedua anak manusia yang saling berpelukan itu tak mengindahkan matahari yang sudah meninggi.


Cello mengerjapkan matanya. Ia tersenyum lebar melihat wajah cantik Alicia di depannya.


Tak lama ia terbelalak saat merasakan tangan Alicia berada di atas aset berharga nya.


Ia memejamkan matanya, nafasnya memburu menahan hasrat yang membuncah. Tangan Alicia mengelus dan meremas batang yang tegak berdiri.


Ah.....


Cello mengutuk bibirnya yang kelepasan. Sungguh Cello tak tau ini apa? Tapi perasaannya seperti terbang dan nikmat luar biasa.


"Alice..."


Nafas Cello tersendat sendat. Matanya juga sudah berkabut. Haruskah iya menerjang Alicia.


Sementara Alicia, dia meraba raba boneka kesayangan. Ia tersenyum tipis mendapatkan yang di carinya. Seperti biasa, tangan nya akan mengelus dan ******* ***** kaki boneka nya.


Tak tahan, Cello bangkit dan berlari ke kamar mandi. Alicia yang kaget karna benda yang ia kira boneka. Tak ada di tangannya membuka matanya. Ia mengerutkan keningnya, tak lama ia mendudukkan tubuhnya.


Hoamm....


Alicia menguap dan merenggangkan kedua tangannya.


"Om kemana...?"


Alicia ingat semalam ia tidur dengan Cello. Alicia mengarahkan pandangannya mendengar suara gemercik air.


Cello mengumpat tangan Alicia. Ia mencoba meraba dan meremas batang milik nya sendiri. Dan melakukan nya seperti yang Alicia lakukan.


Lama ia melakukannya hingga untuk pertama kalinya ia memuntahkan lahar miliknya.


" Alicia.."


Dalam pelepasannya, Cello menyebutkan nama gadis nakal itu.


Nafas Cello memburu, ia baru merasakan yang namanya pelepasan. Tiga puluh satu tahun lamanya ia baru mengeluarkan bibit unggul nya, dan itu terbuang sia sia.


"Om ngapain..."


Alicia tak mengalihkan pandangannya, pada tangan Cello yang masih menekan miliknya. Cello berjengit kaget mendengar suara Alicia.


"****..."


Wajah Cello merah padam, melihat Alicia berdiri mengamatinya. Dan lagi matanya tak berkedip menatap pada tangan nya yang masih di bawah sana.


Blush...


" Alicia.."


"Apa itu yang keluar tadi Om...?"


Wajah penuh tanya Alicia, membuat Cello kelabakan. Jangan sampai Alicia tau apa itu tadi.

__ADS_1


Cello segera menarik Alicia ke bawah shower. Ia buru-buru melepaskan pakaian Alicia dan memandikannya. Alicia mengerucutkan bibirnya. Tak lama Alicia dan Cello keluar dari dalam kamar mandi.


Di meja makan, Cello sebisa mungkin bersikap tenang dan biasa. Yang sebenarnya jantung nya berdebar. Ia takut bibir Alicia berceloteh tentang kejadian di kamar mandi. Mau di taruh di mana mukanya.


"Alice mau kemana sekarang..?"


"Mau pergi ke museum Opa, kemarin kan ga jadi."


Mario mengangguk mengiyakan. Ia melirik ke arah Cello, ia mengerutkan keningnya. Mendapati Cello yang tak biasanya. Dia seperti gelisah....


"Cel kamu kenapa..?"


Cello hampir saja tersedak makanan, yang ia masukkan. Begitu pun dengan Alicia. Gadis itu mengalihkan perhatian pada Cello.


" Om Cello habis ngurut yang di tengah pahanya Opa, terus dia keluar kaya ingus gitu. Mungkin sakit,? sakit ga Om? "


Byurr


Uhukkk Uhukkk


Cello menyemburkan minum di mulutnya dan tersedak. Wajah nya merah padam, menahan malu yang luar biasa. Alicia sungguh membuat nya malu sekaligus geram.


Mario tertawa terbahak mendengar Alicia berkata lancar tanpa adanya filter. Gadis itu memang benar-benar sangat polos.


Cello tersenyum masam, hari ini ia benar-benar sial.


"Opa kenapa tertawa..?"


Mario menggelengkan kepalanya dan berkata tidak apa-apa. Tapi matanya melirik ke arah Cello yang menekuk wajahnya.


Alicia kembali ke apartemen miliknya setelah ia mengunjungi museum tadi. Ia akan menelpon Daddy nya jika besok akan pulang ke negaranya.


"....."


"Dad... Alicia malas pulang Dad, "


"....."


" Alicia senang di sini Dad... Di sini juga Alicia punya Opa dan Om. Mereka berdua baik. Tapi Alice harus sekolah Dad...."


Alicia menyentak kan kakinya sebal. Padahal ia masih ingin di sini.


Setengah jam lamanya Alicia mengobrol dengan Daddy dan mommy nya. Ia bersenandung ria mendengar sang Daddy akan menyusul nya kemari. Itu tandanya ia tak perlu membereskan barang-barang miliknya.


Alicia keluar apartemen miliknya. Tau jika Daddy dan mommy nya akan menjemput nya.Ia memanfaatkan waktu, sebelum Daddy nya datang.


Ia akan datang ke perusahaan milik Cello.


Dari jauh Radika mengepalkan tangannya melihat gadis kecil itu datang kemari.


" Alicia tuan Cello tak ada di ruangan nya..."


Alicia mengerutkan keningnya, benarkah Om Cello tak ada, kemana?.

__ADS_1


Tapi tak lama kemudian Alicia tersenyum tipis. Ia mengangkat sebelah alisnya mengejek Radika.


"Benarkah aunty..."


Radika yang melihat Alicia tak percaya padanya... Seketika emosi nya memuncak.


"Gadis seperti mu, mau apa datang kemari.! Ini bukan tempat wisata bagimu, nona."


Alicia menipiskan bibirnya, ia semakin senang mengejek perempuan itu.


"Oh ya... Tapi sayangnya saya ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini, nona. Ah satu lagi, kau harus terbiasa dengan kehadiran ku nanti. Kau tau aku dan Om Cello akan menikah."


Senyum lebar Alicia membuat Radika mengepalkan tangannya.


"Kau...."


Bruk....


Dada Radika naik turun, menahan emosi yang siap meledak. Berkas penting yang di atas meja terkena tumpahan kopi. Dan itu karna ulah Alicia.


" Ops....Maaf aunty..."


Ia lalu melenggang pergi meninggalkan wajah merah padam milik Radika. Ia perlahan mengintip ke dalam. Alicia tersenyum lebar melihat Cello ada di ruangan nya. Ia masuk perlahan dan berniat ingin mengagetkan nya.


Alicia berjinjit memasuki ruangan CEO. Iya mengerutkan keningnya mendengar Cello berbicara di telpon nya.


"Om mencurigai Alice.."


Lengkingan nyaring mengagetkan Cello. Ia langsung mematikan ponselnya dan berbalik.


"Alice..."


"Apa?"


Wajah Cello sangat ketakutan, apa Alicia mendengar pembicaraan nya. Ya Cello memang sedang mencari tau siapa Alicia sebenarnya.? Ia menyewa detektif di Indonesia untuk mengorek informasi tentang siapa Alicia. Dan Cello tak menyangka jika Alicia akan datang ke perusahaan nya sekarang.


"Alice "


"Alice dengar Om..."


Mata Alicia memancarkan kebencian terhadap Cello. Tadinya ia ingin mengagetkan Cello. Tapi ternyata dirinya sendiri yang di buat kaget, karna Cello diam diam mencari informasi tentang dirinya. Alicia kecewa, kenapa harus Cello melakukan itu.


Alicia mengingat pesan Daddy nya jika memang identitas nya telah di sembunyikan sedari dulu. Alicia tau alasannya! Tentu saja karna Daddy nya sayang padanya.


Itu sebabnya Alicia bisa bebas kesana-kemari seperti yang di inginkan nya.


"Alice, maafkan Om tidak bermaksud_"


"Om mau tau siapa Alice? Om bisa tanyakan pada Alice. Alicia Deandra putri Sean William dan Inka Riana."


Deg....


Dada Cello seperti di hantam oleh batu. Ia mematung mendengar Alicia menyebutkan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Kenapa Om..?"


Cello masih melihat bibir mungil Alicia. Ia tak menyangka akan di pertemukan dengan anak dari pasangan William dan Inka. Orang yang berjasa pada hidupnya. Tapi apakah William akan menerima dirinya jika ia menginginkan putrinya. Sementara dulu William pernah berkata, ia akan meninggalkan dunia hitamnya. Dan akan hidup bahagia dengan anak anaknya.


__ADS_2