My Ceo Love

My Ceo Love
Hak waris


__ADS_3

"Mas...kenapa kau memaksa sekali, Bekerja. Tangan mu belum sembuh. Dan lagi Dokter menyuruh mu operasi kan.Jangan mensortir tenaganya mu mas. Kamu belum sembuh ...


wajah mu juga masih bengkak..."


Clarisa bicara panjang lebar tentang kondisi Bagas. Suaminya itu pagi tadi memaksa pergi ke kantor. Dengan alasan pekerjaan penting. Padahal Clarisa tau suaminya itu tidak ingin melihat dirinya.


Clarisa hanya takut kondisi tangan Bagas semakin parah.


Bagas memanggil Romi ...


"Iya tuan.."


Romi datang dengan dua orang pria paruh baya.


"Selamat siang tuan Bagas.."


"Ya siang pak Ruhut..., Silahkan duduk."


Mengangguk mengerti...


"Bagaimana Pak... Apakah sudah siap surat pengalihan hak waris."


"Sudah tuan.."


Clarisa bingung hak waris apa?.


Sang pengacara menyodorkan berkasnya. Bagas membuka dan membaca kertas tersebut.


"Apa Nona Inka bersedia menerimanya tuan. Secara dia tidak tau menahu.?"


"Itu Hak nya.." Saut Bagas...


"Hak waris apa...Dan untuk siapa.?" Clarisa menyela pembicaraan mereka.


"Hak waris perusahaan ini untuk Nona Inka. Dari men....." Belum rampung bicara. Clarisa memotong perkataan si pengacara.


"Apa...Apa apaan kamu mas. Kamu memberikan perusahaan ini untuk mantan istri mu. Lalu bagaimana dengan aku yang masih istri mu....


Saya tidak setuju. Perusahaan ini tidak akan beralih tangan pada siapapun. Termasuk mantan istrinya.


perusahaan ini milik anak yang ku kandung.


Bukan wanita itu..."


Clarisa berapi api mengatakan pendapat nya. Ia protes dengan keputusan suaminya.


Tidak wanita itu tidak boleh mendapatkan sepeserpun harta mas Bagas. Batin Clarisa.


"Tapi Nona,...Ini semua .."

__ADS_1


"Apa kalian tidak dengar Hah.., Jangan gila kamu mas. Kamu akan memberikan perusahaan ini untuk mantan istri mu itu....


Perempuan sialan itu sudah mencuci otak mu mas. Sehingga kau rela memberikan segalanya untuk nya. Jangan gila mas.. Anak kita mau makan apa...?"


prang...


Bagas membanting gelas berisikan jus.


"Apa kau punya sopan santun sedikit Clarisa.? Punya hak apa kau bicara demikian.


Asal kau tahu Clarisa, perusahaan ini memang milik Inka. Dan akan kembali pada pemilik nya.


Sebaiknya Kau pergi dari sini. Jangan mencampuri urusanku.. ..Lagi gara gara kau aku kehilangan istri ku." Bagas masih menyalahkan Clarisa.


Kedua pengacaranya hanya diam saja. Mendengar sepasang suami istri itu sedang bertengkar.


Tentu saja pengacara itu tau siapa Clarisa.


Clarisa mematung di tempatnya. Benarkah perusahaan ini milik Inka bukan milik Bagas suaminya.


"Kenapa Clarisa,...Kau menyesal telah menikah denganku. Kau berpikir bahwa aku adalah pria kaya begitu. Kamu salah Risa, semua kekayaan ku itu semua milik inka."


"Tidak mungkin ...." Clarisa menggeleng kan kepala nya sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Tak percaya dengan yang di dengarnya.


Setengah jam berlalu, Clarisa masih dalam kondisi yang sama. Berdiri,.. Ia shock mendengar kenyataan pahit ini. Ternyata Bagas suaminya tak sekaya yang ia bayangkan.


.


.


.


"Argh..." Inka kaget saat tubuhnya melayang. Sean pria itu mengangkat tubuh mungil Inka dan memangku nya.


Inka cemberut dan memanyunkan bibirnya. Saat tau Sean yang mengangkat nya.


Cup...


pria itu gemas segera menyambar bibir mungil Inka yang sengaja di manyun kan.


"Ini sehat Baby...Kau harus banyak makan makanan bergizi. Mulai hari ini dan seterusnya kau tidak boleh makan makanan pedas lagi... Ok.."


"Kenapa begitu.. Tuan." Sean mendelik kan matanya mendengar Inka menyebutnya tuan.


Inka nyengir kuda ia lupa bahwa Sean marah kalau ia memanggil tuan.


Cup...


Inka menundukkan kepalanya. Pasti saat ini wajahnya sudah merah. Sean tersenyum lebar kekasihnya sudah berani mencium nya.

__ADS_1


"Love you..."


Sean berbisik mesra pada Inka.


"Baby jangan banyak bergerak. Nanti kau membangunkannya."


Sean menggeram tertahan saat Inka bergerak.


"Ya udah turunkan aku..."


"No ... Begini saja..."


Sean mengambil salad sayur dan menyuapkan pada Inka.


Sean mengangkat tubuh mungil Inka. Menggendongnya ...


Inka melingkar kan tangannya pada leher Sean. Inka menyembunyikan wajahnya malu saat mereka berpapasan dengan pembantunya.


"Baby, aku sudah tidak sabar memilikimu,.... Tidur berdua denganmu."


"Ishh mesum.." Sean terkekeh saat Inka mencubit perutnya.


.


.


.


"Apa ...Kenapa bisa,Ini tidak bisa di biarkan. Perempuan itu tidak boleh memiliki nya Risa. Bagaimana dengan mu !


kita harus menyingkirkan perempuan itu, Risa."


"Mom' bagaimana jika benar mas Bagas menyerahkannya pada wanita itu. Aku tidak mau hidup miskin mom'"


Clarisa frustasi ,Ia menjambak rambutnya sendiri. Tak di bayangkan jika hidup yang ia impikan tak akan seperti ayangannya. Clarisa tentu saja malu. Malu dengan teman teman Clarisa.


"Bagaimana dengan orang yang kau sewa waktu itu, Risa."


"Risa tak tau mom'. Jangankan untuk membunuhnya, mencelakai nya saja mereka tak bisa menjangkaunya mom'. Inka seperti nya punya bodyguard yang melindunginya. Semua nya seperti sia sia mom'"


"Tidak Risa kau harus bicara pada ibunya Bagas."


Jeslin menyeringai, melihat Clarisa mengangguk. Risa tau apa yang sedang di rencanakan mommy nya.


Sementara di rumah orang tua Bagas. Monik terduduk lemas, Ia shock mendengar bahwa perusahaan yang selama ini bukan miliknya.


Monik diam seribu bahasa, seperti nyawanya tercabut dari raganya.


"Apa kau yakin Gas..." Ayahnya buka suara.

__ADS_1


"Ya Bagas yakin yah... Ini saatnya menyerahkan pada Inka. Bagas pikir kita masih berjodoh sampai maut memisahkan. Dan Bagas tidak memiliki anak dengan Inka. Jadi otomatis Bagas harus menyerahkan pada Inka"


__ADS_2