My Daisy.

My Daisy.
# 23


__ADS_3

*


*


" Uncle Sorry, tapi bisakah anda lebih cepat sedikit lagi." Kata Daisy pada supir Taxi. Daisy takut Jika Marchel sudah pulang menginggat sekarang sudah pukul Lima sore waktu setempat.


" Tidakkah Nona melihat sendiri jika Jalanan sangat padat. Jadi walaupun saya ingin mengemudi lebih cepat tapi keadaan jalanan yang tidak mengijinkan." Sahut Sopir Taxi itu.


Daisy melihat jam di pergelangan tangannya dengan gelisah takut jika apa yang di khawatirkan benar terjadi dan tak tak punya tempat untuk tinggal malam ini yah saat ini satu-satunya yang bisa membantunya sekaligus memberikan keuntungan adalah Marchel.


Waktu yang seharusnya membutuhkan dua puluh menit untuk sampai di alamat itu menjadi sedikit lama yaitu Tiga puluh lima menit akibat dari padatnya jalan. Daisy ingin keluar dari Taxi tapi mengingat bahwa tak punya uang untuk membayar Taxi yang di tumpangi nya itu Dengan sopan Daisy meminta sang sopir untuk menunggu sejenak dan berjanji akan mengasih tips juga dan untungnya sang sopir sangat baik dan mau menunggu.


Daisy segera berlari ke lobby perusahaan dimana ada sebagian karyawan yang sudah pulang. Dalam hati Daisy terus memohon semoga Billionare itu masih ada disini.


" Permisi. Bisakah saya bertemu dengan Tuan Marchel Alexander Jhonson Rodriguez.?" Tanya Daisy pada resepsionis.


" Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" Tanya resepsionis dengan sopan.


" Ya. Saya sudah membuat janji. Bilang saja jika Daisy Caroline ingin bertemu.


" Baiklah. Mohon tunggu sebentar, Nona." Resepsionis itu menghubungi salah satu Asisten Marchel dan memvero tahu ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Presedir dan setelah mengucapkan Namanya adalah Daisy Caroline asisten itu segera menginformasikan pada Marchel secara langsung.


" Tuan, Marchel akan datang ke lobby," sahut seorang pria dari seberang telepon sesuai perintah dari sang atasan.


" Baik Tuan akan saya sampaikan pada Nona Daisy. Terimakasih." Jawab resepsionis kemudian mengahiri panggilaanya.

__ADS_1


Tak lama menunggu hanya sekitar lima menit sejak di beritahu oleh Resepsionis. Daisy melihat Marchel yang berjalan kearahnya dengan kedua tangan yang di masukkan di saku celana. Pria itu sangat tampan dan memiliki Aura yang begitu Kuat. Daisy berfikir bagaimana mana mungkin pria seperti itu mengajaknya untuk menikah? Rasanya tidak masuk akal saja bagi Daisy.


Marchel nampak tersenyum tipis selama berjalan menghampiri wanitanya. Sepertinya wanitanya itu memilih pilihan yang sangat tepat dengan menerima tawaran pernikahan darinya.


" Apakah kau sudah memutuskan akan menikah denganku, baby?" Tanya Marchel mengecup tangan Daisy di banyaknya karyawan yang berlalu lalang akan pulang itu.


Daisy menarik tangannya dan menatap tak suka dengan apa yang dilakukan Marchel apalagi banyak karyawan yang menatapnya aneh termasuk sang resepsionis tadi yang membungkam mulutnya dengan kedua tangan sudah di pastikan jika dia dalam keadaan terkejut.


" Oh god! Untung saja aku memperlakukan wanita itu dengan baik tadi. Jika saja aku bertindak tak sopan pada wanita milik Presedir baru ini sudah pasti aku akan di tendang dari perusahaan ini mengingat bagaimana dingin dan galaknya Tuan Marchel." Batin Resepsionis yang diam-diam membuang nafas lega.


" Aku kira Presedir dingin itu tak tertarik dengan wanita mengingat bagaimana dinginya dia pada semua orang, tapi apa yang baru saja ku lihat ini? Astaga ternyata sifat dinginya itu karena dia sudah memiliki kekasih. Pria seperti ini aku juga mau." Jerit Salah satu Karyawan.


" Benar, Teryata Tuan Marchel bisa melakukan hal manis seperti itu. Semakin meleleh hatiku!" Sahut karyawan yang lain.


Dan karyawan yang ada di gerombolan itu mengaguk setuju Karena wajah Daisy memang sangat cantik.


" Jangan dekat-dekat banyak karyawan mu sedang melihat kearah kita." Kata Daisy memberi peringatan saat Marchel semakin mengikis jarak diantara mereka.


" Kalau begitu ayo berbicara di tempat yang hanya ada kita." Sahut Marchel menarik tangan Daisy membawa wanita itu ke Mobil.


" Tunggu!. Bisakah kau meminjamiku lima puluh dolar?" Tanya Daisy.


" Untuk apa uang sedikit itu?" Tanya Marchel.


" Aku belum membayar Taxi dan aku menyuruh sopir taxi iti menuggu di depan kantor mu. Please bantu aku kasian Uncle itu sudah menunggu terlalu lama." Jelas Daisy.

__ADS_1


" Dimana Taxi nya? Tanya Marchel Akhirnya.


" Disana." Tunjuk Daisy pada Taxi yang terpakir tak jauh dari mobil Marchel.


Marchel menghampiri Taxi itu sembari menggandeng Daisy. Marchel mengetuk kaca mobil itu dan sang sopi membukanya.


" Ini untuk mu karena telah mengantarkan calon istriku dengan selamat." Ucap Marchel menyerahkan sepuluh lembar uang yang satu lembarnya bernilai 100 dolar.


Mata Daisy dan sopir itu membelalak.


" Itu kebanyakan aku kan hanya meminjam lima puluh dolar saja tadi." Bisik Daisy.


" Tak masalah itu bonus untuknya karena telah mengantarkan mu padaku." Sahut Marchel dengan berbisik.


" T-tuan apa ini benar untuk saya?" Tanya sopir.


" Iya. Ambilah!


Sopir taxi itu mengambil uang dari marchel dengan tangan bergetar.


" Terimakasih banyak Tuan. Nona. Semoga hubungan Anda terjaga sampai kalian menua bersama." Kata supir itu dengan tulus.


Marchel hanya mengangguk dan Daisy mengulas senyum pada sopir itu dan juga mengucapkan terima kasih karena bersedia menunggu. Kemudian Marchel kembali membawa Daisy ke mobilnya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2