My Daisy.

My Daisy.
#46


__ADS_3

*


*


" El Tenanglah ini tidak seperti yang kau pikirkan." Ucap Marchel menenangkan adiknya yang terlihat sangat frustasi itu.


" Bagaimana bisa aku tenang kak. Aku tidak bisa bersama dengan Sean jika Begini," Sahut Michelle menangkup kepalanya.


" Sean hanyalah kakak tiri Daisy mereka tak berhubungan darah sedikitpun." Kat Marchel pada akhirnya.


Michelle mengangkat wajahnya dengan wajah yang berubah ceria sampai Marvel dibuat terbengong di buatnya. Bagaimana seseorang bisa merubah suasana hatinya secepat itu. Pikir Marvel.


" Really??" Pekik Michelle menatap Daisy meminta kejelasan.


Daisy menganguk. " Aku terpisah sejak bayi dengan ibuku dan ayah Sean menikah dengan ibuku itulah yang terjadi aku juga belum pernah melihatnya." Sahut Daisy. Yang membuat semua mata tertuju padanya.


" Sudah berhenti membahas hal ini. Intinya kau masih bisa bersama Sean jika pria itu mau bersamamu El." Ucap Marchel.


" Kak kau berbicara seakan Sean sama sekali tidak tertarik padaku saja?!" Ucap Michelle mencebik.


" Tapi bukankah itu kenyataan nya?!" Sahut Daisy polos. Yang membuat semua orang tertawa berbahak-bahak kecuali Michelle yang semakin cemberut dengan perkataan kakak iparnya yang masih bocil itu.


Setelah perkenalan singkat itu dan pembicaraan santai semua kembali ke kamar masing-masing. Mereka semua akan menginap di Mansion orang tuanya malam ini.

__ADS_1


Sesampainya di kamar Daisy langsung beranjak mandi begitupun dengan Marchel keduanya mandi bersama tanpa sesi adegan panas karena keduanya benar-benar sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang panjang.


" Kau sudah menghubungi kakak tiriku jika aku ingin bertemu ibuku, Honey?" Tanya Daisy yang sedang berbaring dengan kepala yang berada di dada suaminya.


" Hmm aku sudah mengabarinya kemarin." Sahut Marchel mengecup puncak kepala Istrinya.


Daisy mendongak menatap Suaminya. " Lalu bagaimana responnya?"


" Sean terdengar sangat senang pada saat itu." Jawab Marchel jujur. Karena memang saat Marchel menghubungi pria itu jika Istrinya akan bertemu dengan Nyonya Raline dan pra itu sangat senang dari nada suaranya.


" Benarkah? Kau tidak bohong agar aku tidak cemas kan?


" Untuk apa aku berbohong tentang itu, Honey. Pria itu memang terdengar senang dari nadanya berbicara." Sahut Marchel.


" Jadi kapan kita akan bertemu dengannya?" Tanya Daisy.


" Besok bisakah? Aku ingin menyelesaikan ini dengan segera." Ucap Daisy.


" Baiklah jika itu maumu. Aku akan mengatakan hal ini pada Sean besok pagi." Sahut Marchel dan membekap erat tubuh istrinya.


" Thank you." Lirih Daisy.


" Hm. I love you." Ucap Marchel.

__ADS_1


" I love you too." Sahut Daisy.


Keduanya pun terlelap dengan berpelukan erat.


*


Sementara itu di kediaman Girlbert.


" Sean apa sudah ada kabar dari suami Adikmu?" Tanya Raline yang sudah tahu jika Marchel adalah suami dari putrinya setelah Sean memberitahunya kemarin.


" Belum. Tunggu saja sampai besok. Marchel berkata kita tak boleh menemui Daisy sebelum dia sendiri yang memberi tahu kita, Mom." Sahut Marchel.


" Lama sekali Mommy sudah tidak sabar ingin bertemu Daisy." Ucap Raline.


" Bersabarlah, jika kau bertindak semaumu bisa jadi Daisy justru akan marah padamu, sayang." Ucap Martin.


" Daisy tak akan membenciku Karena aku tidak bisa menjaganya kan?" Ucap Raline memandang Martin.


" Tentu dia akan mengerti setelah kau menceritakan apa yang terjadi.


" Aku takut jika Daisy tak memaafkan ku." Ucap Raline lirih.


" Itu tidak mungkin Mom, yang kutahu dari bawahanku Daisy tumbuh menjadi gadis yang baik dia tidak mungkin setega itu pada ibunya." Sahut Sean.

__ADS_1


" Ya mommy harap Daisy bisa memaafkan Mommy." Ucap Raline.


...****...


__ADS_2