
*
*
Daisy mengambil dua guling dan di letakkan di tengah ranjang. " Aku sudah menaruh batas. Awas kau kalau berani melawati batas ini aku akan menendang burung kebanggaan mu itu!" Kata Daisy dengan bada penuh ancaman.
" Jangan galak-galak dong baby, Siapa tahu nanti kau yang justru mencuri celah untuk mendekat kearah ku. Secara tubuhku ini sangat menggoda." Sahut Marchel yang mulai Memejamkan matanya.
" Cih.. Itu tidak mungkin terjadi!" Ketus Daisy menarik selimut dan mulai tidur dengan membelakangi marchel.
Marchel mengangkat sudut bibirnya sedikit. Pria itu diam-diam mengatur temperatur AC sedingin mungkin dan meletakkan remote di bawah bantalnya. " Kita lihat saja nanti siapa yang mendekat ke siapa." Batin Marchel terseyum licik.
Satu jam kemudian hawa dingin mulai menyeruak di kamar itu. Daisy yang tidak tahan dengan hawa dingin pun mengeratkan selimut dan semakin menggeser tubuhnya untuk mencari kehangatan. Marchel Membuang guling pembatasan ke sembarang arah Membuat tubuh Daisy tanpa sadar semakin mendekat kearahnya. Marchel yang saat itu bertelanjang dada apali pria itu memiliki hawa tubuh yang hangat membuat Daisy menempelkan tubuhnya ke badan Marchel. Daisy seakan lupa jika saat ini dirinya sudah tidak tidur sendirian melainkan bersama seorang pria.
Marchel pun senang rencananya berjalan dengan sempurna. Pria itu kemudian ikut membalas pelukan wanitanya. Daisy yang merasakan nyaman dan terasa hangat semakin mengeratkan pelukannya membebankan kepalanya di dada bidang Marchel bahkan kakinya pun melingkari tubuh Marchel.
" Manisnya calon Istriku." Ucap marchel lirih dan mencium puncak kepala Daisy. Kemudian pria itu memejamkan mata saling berpelukan dengan Daisy.
*
*
__ADS_1
Paginya Daisy terbangun dan mendapati dirinya tengah memeluk tubuh Marchel dengan kaki yang berada di perut sixpack pria itu.
Daisy melebarkan matanya dengan mulut terbuka lebar. " Apa yang kulakukan? Apa aku tidak sengaja memperkosanya lagi." Batin Daisy sembari menggelengkan kepalanya.
Dengan pelan dan penuh hati-hati Daisy mengangkat kakinya dari tubuh Marchel. " Jangan sampai pria kejam ini bangun dan berfikir aku telah melecehkan nya, mana dia sudah tidak pakai baju lagi. Apa aku juga yang membukanya." Batin Daisy masih menebak-nebak.
Hampir saja Daisy bisa menjauh dari tubuh Marchel tapi tiba-tiba pria itu bergerak dan menarik kepala Daisy ke bagian ketiaknya.
Daisy Mengumpat dalam hati. " Sial!! Mana gak pakai baju ada bulunya lagi untung wangi kalau bau jigong udah aku tendang dari ranjang kau!!" Gerutu Daisy dalam hati.
Rasanya Marchel ingin tertawa saat Wanitanya mencoba keluar dari ketiaknya dengan cara memelintir bulu ketiaknya. Apa wanitanya ini berfikir dengan cara itu dirinya akan kegelian dan merenggangkan lengannya? Ohh tidak semudah itu baby.
Marchel pura-pura terkejut dan melihat tubuhnya yang bertelanjang dada dengan linglung. Pria itu mulai ngedrama lagi.
" Oh my!! Ka-kau melecehkan ku lagi?" Marchel menutup dadanya dan bertindak seolah-olah dialah yang paling dirugikan.
" S-sembarangan kau. Menuduh tanpa bukti adalah tindakan tercela." Elak Daisy tidak berani menatap Marchel takut jika pria itu mengetahui kebohongan nya. Ya walaupun sebenarnya dirinya juga tidak yakin tapi mengingat tadi dirinya bangun dengan posisi yang seperti itu kemungkinan besar dirinyalah yang sudah bertindak tidak senonoh pada pria yang berekspresi tak berdaya di sampingnya itu.
" Tidak ada bukti? Lihatlah kau membuka bajuku dan kau menempel padaku, oh iya disana ada cctv jika kau ingin bukti." Kata Marchel menunjuk Camera di sudut atas padahal camera itu sedang dalam keadaan off. Marchel hanya menggertak saja supaya terlihat lebih realistis.
Daisy gelagapan. " Tidak perlu!! Baiklah aku mengaku salah. Aku tidak sadar melakukan itu." Ucap Daisy akhirnya.
__ADS_1
" Kau sudah menodai ku dua kali dan selalu berakhir dengan hanya kata maaf saja. Harga diriku sangat terluka." Kata Marchel.
" Lalu, apa maumu??
" Kita akan segera menikah secepatnya nanti aku akan menelfon orang tuaku untuk mengurus surat pernikahan kita." Kata Marchel.
" Kenapa tidak kita sendiri saja yang mengurus?" Tanya Daisy. Bukankah lebih baik mengurus sendiri dari pada merepotkan orang tua.
" Surat-suratku yang dibutuhkan untuk menikah ada di Indonesia. Jadi cukup dengan mengirim surat mu ke Indonesia dan semua akan beres diurus daddy ku." Sahut Marchel meraih kaos yang semalam sengaja ia lepas itu.
" Kau orang Indonesia?" Daisy sedikit terkejut dirinya memang tahu jika marchel adalah orang tersohor tapi Daisy tidak tahu pasti berkebangsaan apa pria itu.
" Hmm Aku di tugaskan sementara disini. Siapa sangka aku yang awalnya berniat bekerja justru menemukan Istri." Sahut Marchel.
" Ck. Ingat aku hanya Istri kontak mu!!" Ucap Daisy ketus.
" Whatever! Yang terpenting lahirkan keturunan untuk ku." Kata Marchel kemudian berlalu menuju dapur untuk membuat sarapan.
" Setelah kau melahirkan penerus untuk ku. Saat itulah kau tidak bisa lari dariku, baby." Batin Marchel.
" Dia pikir aku ini mesin pencetak anak?!!" Decak Daisy. Setelah Marchel meninggalkan kamar itu.
__ADS_1