My Daisy.

My Daisy.
#48


__ADS_3

*


*


*


" Honey, apa kau juga berfikiran sama sepertiku? Bahkan mungkin saja orang-orang itu adalah suruhan Margaret?" Kata Daisy pada suaminya setelah mendengar cerita dari Raline.


" Kemungkinan Besar iya karena hanya wanita itu yang memiliki dendam pada Mom Raline." Sahut Marchel.


" Kakak ipar? Eh jujur aku bingung harus memanggilmu apa?" Ucap Marchel pada Sean.


" Panggil aku Sean saja aku hanya lebih tua dua tahun darimu." Sahut Sean.


" Tapi kau kan kakak Daisy jadi kau menjadi kakak ipar ku.


" Honey, panggil kak Sean nama saja karena bagaimana jika suatu saat Kak Sean menikah dengan Michelle dia akan menjadi adik iparmu bukan?" Ucap Daisy yang kembali dengan mode polosnya.


" Ah kau benar, Honey." Sahut Marchel.


" Hei Apa yang kalian katakan itu tidak akan terjadi adikmu terlalu bar-bar dan agresif aku tak suka dengannya!" Ucap Sean kesal.


" Jangan terlalu benci kak. dulu aku juga benci dengan Marchel tapi sekarang aku bucin padanya awas nanti kakak kena karma baru rahu rasa." Ucap Daisy dan Sean hanya mendengus kesal.

__ADS_1


" Cepat katakan padaku apa yang ingin kau bicarakan tadi!" Ucap Sean pada Marchel.


" Apa kau sudah menyelidiki Margaret? Atas penculikan itu?" Tanya Marchel.


" Tentu saja belum. Mommy tak pernah cerita tentang Margaret sebelumnya padaku." Sahut Sean.


" Iya Sean benar itu salahku Karena aku tak pernah berfikir Margaret yang menculik Daisy karena setelah kejadian di Apartemen waktu itu Margaret sama sekali tidak pernah muncul dihadapan ku. Itulah mengapa aku tak pernah mencurigai Wanita itu." Ucap Raline dengan wajah menyesal.


" Kalian berdua bisa mencari tahu hal ini. Itu cukup gampang untuk kalian lakukan. Itu hanya informasi kecil." Ucap Martin.


" Ya. Akan ku pastikan wanita itu mendekam di penjara jika terbukti dia pelakunya." Ucap Marchel.


Lalu Raline dan Daisy berpelukan erat. " Terimakasih sudah percaya dan memaafkan Mommy." Lirih Raline.


Daisy menganguk. " I Miss You. Selama ini aku bertanya bagaimana rupa ibuku dan teryata Mommy sangat cantik." Ucap Daisy.


" Hmmm Terimakasih sudah mewariskan kecantikan mom padaku hingga aku berhasil menjerat Pria kaya seperti Marchel." Ucap Daisy yang membuat semua orang Terkekeh.


" Honey aku mencintai semuanya yang ada pada dirimu buka hanya wajah cantik mu saja." Ucap Marchel.


" I know Honey, I love you." Kata Daisy yang masih berada di pelukan Mommynya.


" Hmm Aku lebih mencintaimu." Sahut Marchel yang tidak malu menunjukkan kebucinanya di hadapan Sean dan Martin.

__ADS_1


Raline ikut bahagia melihat putrinya mendapatkan suami yang baik dan terlihat sangat mencintai Daisy.


" Ngomong-ngomong Mommy akan menjadi Oma loh." Ucap Daisy lalu melepaskan pelukannya dari Raline.


" Really?? Kau hamil sayang?


" Ya aku hamil baru tiga mingguan." Sahut Daisy dengan senyum bahagia.


" Oh my, betapa bahagianya aku. Putriku telah ketemu dan aku juga mendapatkan seorang cucu." Ucap Raline.


" Ahh Tak kusangka aku akan menjadi Opa." Celetuk Martin.


" Dad. Kau memang sudah tua dan itu wajar jika kau akan menjadi Opa." Ucap Sean.


" Kau! Dasar anak kurang ajar!! Aku masih muda dan bugar." Sahut Martin tak terima.


" Sayang apa yang dikatakan Sean tidak salah. Lihatlah kau sudah memiliki Uban." Ucap Raline.


Martin mencebik apa-apan istrinya itu justru membela Sean. Menyebalkan sekali!, Harusnya aku mewarnai rambutku tadi. Pikirnya.


" Uban hanyalah warna saja Sayang, yang terpenting kebugaran dan stamina ku masih okey." Ucap Martin Sombong.


" Daddy Mertua teryata memiliki sifat yang persis dengan Daddy Hansel jika menyangkut hal seperti ini." Kata Marchel yang melihat kesamaan sifat antara Martin dan daddy nya yaitu mengelak tua dan sombong.

__ADS_1


" Ya. Karena kita berteman dekat tentu saja mirip." Sahut Martin.


...******...


__ADS_2