
*
*
Marchel merebahkan tubuh Daisy di ranjang King Size.
Marchel mengecup bibir Daisy sekilas. kemudian beranjak ingin menegakkan tubuhnya tapi diurungkannya karena Daisy melingkarkan tangannya dileher Marchel sampai wajah keduanya hanya berjarak satu inch saja.
" Cake ku, Aku mau Cake." Guman Daisy.
" Cake? Kau ingin Cake?" Tanya Marchel.
" Cake yang ku beli tadi." Sahut Daisy tanpa sadar.
" Aku ambilkan seben-----
Perkataan Marchel tak sempat selesai karena dengan tiba-tiba Daisy menjilati bibirnya mengecap dan menghisap.
" Hehehe Cake nya manis aku suka sekali." Ucap Daisy lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Marchel.
" What??" Marchel masih mematung dengan posisi menunduk.
" Apa dia baru saja mengira bibirku sebagai Cake?" Lirih Marchel dengan tangan yang memegang bibirnya.
Marchel tersenyum penuh arti melepaskan Jas dasi dan kemejanya dan kini pria itu sudah bertelanjang dada lalu ikut merebah tubuhnya di sebelah wanitanya yang sedang tertidur itu.
" Kau sudah memanfaatkan ku, Baby. Jadi kini giliran ku yang memanfaatkan mu." Bisik Marchel kemudian pria itu melakukan sesuatu yang dipikirkan otak cerdasnya.
Pria yang masih memiliki berkas yang menumpuk itu justru sedang berduaan dengan wanitanya yang sedang tertidur entah apa yang dilakukan pria itu di kamar yang sangat sunyi itu.
Sementara itu diluar Ruangan Marchel Ray dan Mike terlihat bingung saat melihat kedatangan Hansel dan Jesslyn secara tiba-tiba di perusahaan.
__ADS_1
" Ray, Bukankah itu orang tua Marchel?
" Hmm Sudah jelas jika itu Uncle Hansel dan Aunty Jesslyn bodoh!" Sahut Ray menatap kesal kearah Mike.
" Ck. Kita harus bilang apa jika mereka menanyakan Marchel? Dia pasti sedang ehem-ehem dengan wanitanya itu." Bisik Mike.
" Bilang apa adanya saja toh mereka juga tahu jika marchel akan menikahi wanita itu." Sahut Ray dengan berbisik lalu menampilkan senyum manisnya saat Jesslyn dan Hansel sudah berada di hadapannya.
" Uncle, Aunty kapan kalian tiba di Islandia." Tany Ray.
" Kita baru mendarat dan langsung kesini." Sahut Jesslyn menepuk kedua pria teman baik putranya itu.
" Dimana Marchel.?" Tanya Hansel.
" Marchel ada didalam." Sahut Mike lalu membuka pintu ruangan Marchel mempersilakan Jesslyn dan Hansel untuk masuk kedalam.
Hansel masuk kedalam dahulu sementara Jesslyn masih diluar bersama Mike dan Ray.
Ray dan Mike menganguk serempak.
" Bagaimana apa dia sangat cantik??
" Ya. Jujur saja dia sangat cantik tapi--.
" Tapi apa Ray?" Potong Jesslyn cepat dengan wajah yang penasaran.
" Cara tidurnya sangat tidak anggun sama sekali." Lanjut Ray.
" Benarkah??
" Iya sangat tidak anggun dan urakan cara berpakaiannya tak mencerminkan wanita elegan." Timpal Mike.
__ADS_1
" Tidak masalah justru wanita yang seperti itu sangat cocok untuk putraku yang kaku ." Sahut Jesslyn lalu masuk keruangan Marchel dengan senyum yang mengembang.
Ray dan Mike saling berpandangan.
" Baru kali ini ada seorang kolongmerat yang tidak mempermasalahkan sikap calon menantunya yang urakan." Celetuk Mike memegang tengkuknya.
" Keluarga Kolongmerat yang berbeda dari yang lain kurasa." Sahut Ray. Lalu ikut memasuki ruangan Marchel begitupun dengan Mike.
" Ray, Mike!" Panggil Hansel.
" Ya, Uncle. Sahut keduanya dari ambang pintu.
" Dimana Marchel,? Di sini tidak ada orang selain kita." Tanya Hansel yang tak melihat Marchel di ruangan besar itu.
" Mungkin ada di kamar pribadinya, Uncle." Jawab Mike.
" Oh. Ya aku lupa mengecek kamar itu." Hansel berjalan ke lemari besar lalu memencet sebuah tombol di samping lemari besar itu dan terlihatlah pintu yang sudah pasti pintu kamar pribadi. Hansel memegang Handle pintu kamar pribadi itu.
" Apa kau bodoh! Bagaimana jika Marchel sedang begituan di dalam sana." Ucap Ray pada Mike.
" Lalu sekarang bagaimana Uncle sudah akan membuka pintunya." Sahut Mike yang semakin gugup.
" Cepat cegah!" Ucap Ray yang juga ikut tegang.
" Unc
Ceklek.....
Terlambat. Hansel sudah berhasil memutar Handle dan perlahan membuka pintu yang terasa sunyi itu.
Ray dan Mike memejamkan matanya tidak sanggup jika apa yang dikhawatirkannya benar-benar terjadi.
__ADS_1
*