
*
.*
Marchel sudah sampai di perusahaan. Diruangan Marchel sudah ada Mike dan Ray yang sudah menunggu selama tiga puluh menit.
Marchel masuk keruangan dan melihat dua temannya sudah berada di sana sembari menikmati kopi. Enak sekali hidup mereka bukanya bekerja malah menjadikan ruangan sebagai Caffe.
Marchel meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menatap dua sahabatnya itu dengan tatapan penuh intimidasi.
" jangan menatap kita seperti itu Chel! Kita tidak sedang makan gaji buta kita menunggu kedatanganmu sudah lama sekali." Kata Mike yang tahu arti dari tatapan temannya itu.
" Kemana saja? Tumben sekali kau datang sangat telat! Kau tidak seperti Marchel yang kukenal!" Timpal Rayden.
" Aku harus mengantarkan wanitaku pergi ke kampus Terlebih dahulu tadi." Marchel mendaratkan tubuhnya di Sofa bergabung dengan dua temannya itu.
" Ada apa ini? Apa aku ketinggalan berita besar?" Pekik Rayden heboh.
" Kasus yang kita selediki ada sangkut pautnya dengan wanitanya Marchel." Sahut Miike.
" Oh my god! Jadi kau beneran berakhir dengan gadis Cafe itu? Astaga jodoh teryata tidak ada yang tahu." Kata Ray.
" Namanya Daisy bukan gadis cafe. Jaga ucapan mu Ray!" Marchel berkata dengan nada yang tak suka karena wanita nya di sebut gadis Cafe.
" Oke. Sorry.
__ADS_1
" Sekarang Katakan ada apa kalian berkumpul di ruanganku di jam yang lagi sibuk sibuk nya ini?!
" Ini akan sedikit rumit Chel. Aku menemukan informasi jika wanita yang menjadi sekertaris sekaligus selingkuhan Fredly itu Bernama Raline Caroline ya nama belakangnya sama dengan nama Daisy. Tapi wanita itu sekarang sudah menikah dengan seorang pria kaya dan memiliki anak sambung bernama Sean Girlbert keluarga itu sekarang tinggal di Indonesia sejak Delapan belas tahun yang lalu. Hanya itu saat ini informasi yang kudapatkan." Ucap Rayden.
" Sean Girlbert? Aku seperti mengenal mana pria itu. Adiku Michelle pernah bercerita tentang pria dingin yang ingin di taklukannya dan kurasa dialah orang itu." Ucap Marchel yang merasa tak asing dengan nama Sean Girlbert.
" Apa menurutmu wanita bernama Raline itu sengaja membuang Daisy?" Tanya Mike.
" Mike, Kita tidak bisa menyimpulkan itu dengan hanya melihat informasi ini." Tegur Ray yang memiliki pemikiran yang lebih realistis.
" Cari tahu lebih dalam lagi aku merasa ada yang tidak beres." Sahut Marchel. Mike dan Ray mengangguk setuju. Memang informasi yang di dapatkan nya masih sangat sedikit.
" Bagaimana jika kita menanyai Nyonya Raline secara langsung?" Mike memberikan ide.
" Jika wanita itu adalah pelaku yang membuang Daisy apa menurutmu dia akan mengaku? Yang ada dia justru menutup sumber informasi yang lainnya!" Sahut Rayden yang tidak setuju dengan usulan Mike.
Pembicaraan pun berakhir kini ketiga pria itu beralih membicarakan tentang urusan pekerjaan.
*
*
Sementara itu seorang wanita paruh baya sedang memandangi foto seorang bayi perempuan. Foto itu sudah terlihat agak usang. Wanita menatapnya sembari menangis.
" Maafkan Mommy yang tidak bisa menjagamu sayang, Mommy mencintaimu sungguh." Lirih Wanita paruh baya itu meletakkan foto di dadanya.
__ADS_1
" Mom,?" Panggil seorang pria tampan pada wanita yang tengah menagis itu.
Wanita paruh baya bernama Raline itu menoleh kearah anak sambung yang begitu disayanginya itu. Delapan belas tahun yang lalu setelah putrinya diambil paksa oleh orang tak dikenalnya. Dirinya begitu terpuruk. berkeliaran di jalanan memanggil nama putrinya di saat itulah ada seorang anak laki-laki berusia empat belas tahunan mengulurkan tangan untuknya dan anak laki-laki itu bernama Sean Girlbert yang saat ini sudah berusia tiga puluh dua tahun.
" Mommy menagis lagi? Sudah berapa kali ku bilang Daisy pasti baik-baik saja." Ucap Sean pada ibu sambungnya itu walaupun ibu sambung Sean juga sangat menyangi Raline. Dirinya yang ditinggalkan ibunya sejak masih bayi pada saat Daddy-nya mengalami kebangkrutan karena kalah tender. Ibu kandungnya pergi begitu saja bersama pria lain. Saat bertemu dengan Raline yang berkeliaran Seperti orang gila. pada saat itu Sean hanya merasa iba dan membawanya pulang ke mansion tapi siapa yang tahu jika wanita yang di temukan di jalan itu begitu baik layaknya seorang ibu baginya dan dua tahun setelahnya tak terduga Daddy-nya jatuh cinta pada Raline dan menikahi wanita itu.
" Mom. Hanya merindukan adikmu saja Sean." Sahut Raline lelehan air mata terus merembes di pipinya.
" Stop Mom, jika Daddy tahu mommy menangis saat bersamaku Pria tua itu pasti akan menghajar ku!" Ucap Sean mencoba mencairkan suasana.
" Daddy mu memang selalu berlebihan dan sikapnya itu terkadang membuat mommy pusing." Sahut Raline yang sedikit lebih tenang.
" Sayang apa yang kau katakan? Aku bersikap seperti itu karena aku begitu mencintaimu." Ucap Martin Girlbert Suami Raline daddy dari Sean. Pria itu menggeser putranya dan memeluk istrinya.
" Apa kau merindukan putrimu?" Tanya Martin saat melihat foto bayi cantik yang ada di tangan Istrinya.
Raline menganguk."Aku merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya saat itu." Lirih Raline.
" Tenanglah Sean dan aku selalu mencarinya tapi sungguh tidak ada jejak yang kami temukan. Tapi kita tetap berusaha mencari Daisy." Ucao Martin menghibur Istrinya.
" Terimakasih. Sudah baik kepadaku dan menerima ku menjadi bagian dari kalian. Aku sangat berterimakasih pada kalian." Ucap Raline dengan tulus.
" Apa yang kau katakan sayang. Kami lah yang beruntung kau hadir dalam hidup kami." Ucap Martin mencium bibir Raline di depan Sean tanpa tahu malu.
" Dad!! Aku masih disini. Kalian sudah terlalu tua untuk bertindak mesra di depan umum." Kesal Sean.
__ADS_1
" Kau mengganggu saja! Daddy masih gagah dan tampan bahkan mommy mu sampai kualahan diranjang kau tahu stamina dady masih okey!" Kesal Martin.
Raline mencubit bibir suaminya agar tidak berbicara sembarangan pada Sean walaupun bagaimana pun putranya itu masih polos walaupun umurnya sudah menginjak tiga puluh lebih. Sean selama ini menjaga jarak dengan wanita karena trauma pada ibunya yang pergi meninggalkannya dan Daddy-nya disaat-saat terpuruk. Sean takut akan mendapatkan pasangan seperti ibunya oleh karena itulah pria itu tidak berani menjalin hubungan.