My first last love

My first last love
Bab 11


__ADS_3

Bilal Pov


Hari ini minggu terakhir aku libur sebelum aku kembalo bertugas ke Makasar beaok malamj, aku berencana akan jalan-jalan ke balai kota setelah pulang dari caffe. Selama seminggu ini aku lebih memilih menyibukkan diri caffe agar tak ingat dengan masalah Kesya. Tapi rencana hanyalah rencana. Mamih mengajakku untuk belanja bulanan, karna memang keluargaku tak memperkerjakan ART.


"Al, hari ini kamu sibuk ga?"


" Engga kok Mih, kenapa emangnya?"


" Kamu temenin Mamih buat belanja bulanan yah, stok bulanan kita udah abis. Papih juga hari ini ada jadqa oprasi."


Sebenarnya aku ingin menolak tapi sebagai seorang anak aku harus berbakti pada orang tua bukan? Jadi aku mengiyakan.


" Ya udah tapi nanti agak siang yya Mih, biar sekalian Al mampir ke Caffe."


" Ya udah nanti jam 10.30 kita berangkat ya, biar ga telalu panas."


" Iya nanti kasih tau Al aja kalo mau berangkat."


Lalu aku masuk kembli ke kamarku di lantai 2. Di kamar aku hanya sibuk main game online di ponsel pintarku sampai aku ke bablasan udah jam 10.20 lagi. Aku langsung ke bawah untuk memanaskan mobil terlebih dahulu. Lalu kami berangkat ka mall yang biasa Mamih belanja bulanan. Kami atau lebih tepatnya Mamih belanja hampir 1 jam lamanya dari kita sampai di mall jam 11.


Setelah itu kami hendak ke caffe untuk makan untuk mengecek siapa takutnya ada masalah sekalian makan siang.


Tapi namanya juga perempuan tiap liat barang yang bagus dikit pasti pengen termasuk Mamih, yang melihat butik di pinggir jalan. Kalau dari liar kayaknya jualan gamis dan semacamnya padahal gamih Mamih tu udah banyak tapi tetep aja. Nama butiknya 'Mira's Butik',, Aku memarkirkan mobil di depan butik dan langaung turun.


Begitu masuk memang benar butik itu menjual berbagai macam gamis dan atasan khusus cewek. Ada perempuan yang langsung menghampiri dan ternyata dia Rara. Rara cukup akrab sama Mamih yang ternyata salah satu murid di sekolah Mamih ngajar mereka saling menyapa satu sama lain dan tak menganggapku ada. 'selau saja' gumamku. Ternyata butik itu milik Rara dan alu baru tahu, Mamih membeli satu butik berwarna coklat pilihan Rara. Tak terlalu buruk pilihannya sederhana tapi tetep cantik.


Setelah membayar kami pun keluar dan sepertinya hari ini aku harus ekstra sabar di kacangin sama cewek. Pas sampe pintu ada temennya Rara yang kemarin, Milea. Aku tau apa yang akan terjadi, jadi aku mimilih masuk mobil dan memarkirkannya. Aku memanggil Mamih agar cepat karna sejujurnya aku sudah sangat lapar.


Selama di perjalanan aku bertanya pada Mamih kenapa beliau bisa akrab dengan Rara.

__ADS_1


" Mih, kok Mamih bisa akrab sama Rara sih" Aku bertanya sambil tetap fokus ke jalan.


" Kamu kenal juga kenal sama Rara?"


" Iya, kita satu SMP Mih, waktu reunian kemaren juga ketemu."


" Oh,, Kamu tahu kan Mamih ini guru SMA DARMA BAKTI? Ya Rara sama Milea itu alimni sana, mereka kemana-mana berdua terus hampir semua guru juga pasti tau. Apalagi nilai Rara di pelajaran Mamih cukup bagus, dia anaknya aktif jadi Mamih cukup deket juga sama dia. "


Aku hanya ber'oh'ria saja. Dan satu hal lagi yang aku lupa kalau Rara alumni SMA DARMA BAKTI.


Aku melajukan mobilku menuju Caffe dan langsung masuk.


* Author Pov


Setelah sampai di rumah Humaira dan Milea langaung masuk ke kamar setelah menyapa orang tua Humaira sekalian ijin. Walaupun pasti di ijinkan tapi setidaknya itu untuk sopan santun...


Di rumah Bilal, dia sedang sibuk paking untuk terbang ke Makasar karna mendapat panggilan dari Komandannya kalau dia harus tiba di Makasar beaok pagi.


Setelah mandi dan mengganti pakaian dengan piyama, Rara dan Milea duduk di bawah karpet sambil menonton dilm dari laptop Humaira. Merwka. nonton sambil di temani cemilan yang Milea beli tadi siang meskipun hanya. tinggal sedikit tapi itu cukup untuk menemani mereka nonton. Setelah nonton mereka tak langsung tidur.


" Jadi, ceritaain maslah Bilal yang kemaren. Kamu udah janji loh ya." Milea menagih janji Humaira yang kemarin.


" Iya, iya bawel aku juga ga bakalan ingkar janji."


" Bilal yang kemaren itu ang Bilal yang sering aku ceritain aama kamu waktu kita masih sekolah dulu. Dia adalah Al yang udah buat aku jatuh cinta."


" Kenapa kamu selama ini ga bilang kalo dia orangnya?" " Kenapa kamu ga bilang kalo aku juga pernah ketemu sama dia dan dia itu mantannya Kak Siska itu kan dan sekaligus anak Bu Sarah yang waktu itu pernah jemput Bu Sarah juga?"


" Iya dia orang itu, mantannya Kan Siska sekaligus anaknya Bu Sarah. Tapi gak ada hal yang harus aku ceritain juga kan kalo dia orangnya." Humaira menjeda sejenak peekataannya

__ADS_1


" Toh aku sama dia juga ga ada hubungan apa-apa, ini eh bukan waktu itu tuh cuman cinta yang bertepuk sebelah tangan aja. Dia juga ga tau perasaan aku ke dia, dan sekarang aku udah ga punya perasaan apapun lagi sama dia. Gak ada yang haru di omongin lagi kan?" Lanjutnya.


" Iya emang itu tuh cuman masa lalu Ra, tapi aku ga habis fikir aja kenapa kamu sampe ga cerita sama aku kalo dia orangnya. Mungkin kalo aku tau dia itu cowok yang kamu maksud aku bisa bantu kamu dan cinta kamu mungkin ga bakalan bertepuk sebelah tangan gitu." Milea benar-benar tak gabis fikir bagaimana bisa Humaira menyimpan banyak rahasia.


" Ga ada gunanya juga kali Mi mau kamu tau ataupun engga. Kemungkinan yang kamu bilang tadi itu hanya "Mungkin" dan bisa saja dia menolakku."


" Jadi selama ini kamu liat si Bilal berduaan sama orang lain kamu biasa aja? Kamu ga ada rasa cemburu gitu?"


Milea mulai memancing sahabatnya itu agar bisa lebih jujur pada perasaannya.


" Cemburu....? Kalopun iya, aku juga


gak punya hak buat cemburu sama dia. Aku bukan siapa-siapa yang harus cemburu kalo dia sama orang lain." Humaira menjawab dengan nada biasa saja dia sudah sering merasakan hal itu tapi itu dulu dan bukan sekarang.


" Ra.... Aku sebenernya bingung sama kamu yang lebih memilih diam dan merasakan sakit hati melihat orang yang kamu cinta sama orang lain.....


Okey, mungkin sekarang kamu udah ga punya perasaan apapun sama dia. Tapi dulu kamu amat sangat cinta kan sama dia?"


" Mi.. Kamu pasti sering denger ada orang yang bilang bahwa cinta itu tak harus memiliki?" Milea mengangguk.


" Itulah yang aku lakukan waktu itu. Setidaknya dia bahagia walaupun dengan orang lain. Dan satu lagi, itu udah lama dan yang lalu biarlah berlalu sekarang kita cukup menatap mas depan bukannya terus berputar di kehidupan yang lalu."


Milea langsung memluk Humaira begitu mendengar penjelasan dari sahabatnya yang satu ini. Milea merasa terharu sekaligus bangga mengetahui sahabatnya ternyata selain setia dia juga memiliki hati yang begitu lapang dia menanggung rasa sakitnya sendiri tanpa ada yang tau. Semua orang berdikir kalau Humaira itu hidup tanpa beban apalagi sakit hati karna cinta karna sifatnya yang selalu ceria dan bawel. Dia menutupi rasa itu dengan caranya sendiri.


Setelah berpelukan cukup lama mereka memutuskan untuk tidur karna besok Milea juga harus bekerja.


Bagaimanapun keadaan hati kita, sedih, kecewa, marah, bahagia, tetap jalani semua itu dengan senyuman. Itu adalah fase kehidupan yang pastinya akan kita alami. waktu akan tetap berjalan walaupun hati kita sedang hancur sehancur-hancurnya, jadi jalani dan nikmati saja apa yang telah Tuhan takdirkan untuk kita.


Ingatlah bahwa roda itu berputar begitu pula dengan roda kehidupan. Mungkin Humaira dulu mengambil langkah yang salah dengan tidak mengungkapkan isi hatinya tapi percayalah rencana Tuhan selalu lebih indah dan akan ada masa dimana seseorang mencintainya dengan tulus bahkan melebihi cintanya pada Bilal.

__ADS_1


### TBC


__ADS_2