
* Author Pov
Setelah pulang dari Jawa, Bilal mengutarakan niatnya untuk meminang Rara kepada orangtua nya. Tentu saja orang tua Bilal sangat setuju dengan niat yang di utarakan oleh anakanya tersebut. Selain Ibu Bilal yang sudah mengenal Rara Ayahnya juga sudah tau tentang Rara. Meskipun baru bertemu satu kali, tapi Ayahnya sangat menyukai Rara.
Satu hal lagi menurut mereka, Al juga sudah dewasa jadi dia pasti tau apa yang terbaik untuk dirinya. Rencananya hari ini Al dan kedua orang tuanya akan menemui orang tua Rara. Karna sebelumnya Al sudah datang ke rumah Rara, untuk membuat janji.
"Assalamualaikum " Kata Bu Sarah begitu sampai di halaman rumah Pak Haris.
" Walaikumsalam...." Jawab Bu Intan keluar dari rumahnya.
" Eh kalian udah dateng. Mari Masuk Bu, Pak, Al mari... "
Mereka semua masuk ke dalam dan di sambut oleh Pak Haris. Sedangkan Rara masih di butik, mereka juga sengaja tidak memberi tahu dulu mengenai hal ini pada Rara dan itu juga keinginan dati Bilal.
" Kalian sudah datang ternyata, silahkan duduk... " Pak Haris mempersilahkan tamu untuk duduk.
" Baiklah saya orangnya tidak terlalu suka basa basi, jadi maksud kedatangan Nak Al dan Ibu Bapak ini ada apa ya? Ya meskipun saya sudah mendengar dari istri saya, tapi saya hanya ingin mengetahuinya dengan pasti. " Saat Al berkunjung ke rumah Rara memang hanya ada Bu Intan saja sedangkan Pak Haris sedang tidak ada di rumah begitu pula dengan Rara.
" Begini Pak maksud kedatangan kami kemari ingin menyampaikan hal penting bagi anak saya dan juga anak Bapak dan Ibu." Kata Pak Yadi.
" Saya dan keluarga saya hanya ingin menjalin tali silaturahmi dengam keluarga Bapak. Anak saya Bilal, ingin meminang Putri Bapak dan Ibu. Saya tahu mungkin ini terlalu mendadak bagi kalian begitu juga bagi saya dan istri saya. Mereka memang tidak sedang menjalin hubungan seperti berpacaran layaknya anak muda jaman sekarang, mereka memang hanya berteman untuk saat ini. Saya juga tidak tahu bagaimana perasaan anak Bapak kepada putra saya. Yang saya tahu, putra saya mencintai anak Bapak dan Ibu. Dan ingin memperistri putri kalian dan melaksanakan sunnah Rosul yaitu menikah. Kami tidak akan memaksa jika kalian memang tidak menerima lamaran putra kami. Karna keputusan ada di pihak kalian."
" Baiklah saya mengerti maksud Bapak. Tapi saya akan bertanya satu hal kepada Bilal."
Bilal yang sedari tadi hanya tertunduk sambil mengontrol detak jantungnya yang seperti pacuan kuda akhirnya menatap Pak Yadi.
" I.. Iya Pak?" Kata Bilal dengan terbata-bata dia sangat gugup.
" Heheh... Tidak perlu gugup seperti itu santai saja saya juga tidak akan menggigit kamu. Saya hanya ingin menanyakan satu hal."
" Apakah kamu serius untuk meminang putri saya Humaira?"
" Iya Pak saya serius ingin meminang Humaira."
" Putri saya itu banyak kekurangan nya, apakah kamu siap menerima apapun kekurang dan kelebihan dari putri saya? Sebelum semuanya terlambat saya hanya ingin memastikan kalau kamu memang akan membuat putri saya bahagia dan tidak akan pernah mengecewakannya. Rara itu Putri satu-satunya kami, dan kami ingin yang terbaik untuk putri kami." Kata Pak Hatis dengan serius sambil memandang Al.
" Kalau Bapak berbicara mengenai kelebihan dan kekurangan, saya rasa semua orang pasti punya kekurangan dan kelebihan termasuk saya sendiri. Niat saya menikahi Rara bukan untuk mencintai kelebihan nya saja dan membenci kekurangan nya. Saya menikahi Rara karna saya mencintai Rara dengan tulus, dan untuk menyempurnakan agam saya. Kalau saya mencari orang yang sempurna itu saya rasa tak ada yang sempurna di dunia ini Pak. Saya pasti akan menjaga Rara dengan baik, dan saya tidak akan pernah mengecewakan orang-orang yang saya sayangi termasuk orang tua saya, kalian dan juga Rara."
" Meskipun saya bukan yang terbaik diantara yang terbaik, tapi saya yakin kalau cinta saya pasti bisa membuat Rara bahagia. Kalau kalian merestui dan menerima saya untuk menjadi pendamping sekaligus imam untuk Rara. Saya akan sangat berterima kasih dan bersyukur. Tapi kalau tidak, saya juga tidak akan memaksa Bapak dan Ibu untuk merestui saya. Karna Rara pernah bilang kalau restu orang tuanya adalah hal yang terpenting bagi dia apa lagi jika itu menyangkut pernikahan. Saya memang ingin menikah dengan orang yang saya cintai tapi bukan dengan memaksa kehendak saya, saya ingin pernikahan saya kelak di awali dengan restu dari orang tua kami. Bukan hanya karna perasaan saya dan calon istri saya kelak."
Al menyampaikan jawabannya dengan sangat serius. Matanya memancarkan kejujuran dan keseriusan.
__ADS_1
Semuanya hanya diam mendengarkan dan menyimak maksud dark Al tersebut. Pak Haris juga hanya diam tanpa ekspresi sedikitpun, beliau mencoba untuk menelisik sebuah kebohongan di mata Al.
" Baiklah jika memang seperti itu. Saya sabagai orang tua dari Rara menerima niat baik kalian, Tapi semua keputusan untuk menerima atau menolak lamaran dari Bilal sepenuhnya ada di tangan Rara. Saya sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik dan merestui kalian. Karna yang akan menjalani bahtera rumah tangga itu bukan saya melainkan putri saya Humaira."
Semuanya tersenyum bahagia mendengar kata-kata yang di utarakan beliau tak terkecuali Bu Intan. Bu Intan memang Ibu dari Rara tapi segala keputusan yang menyangkut masa depan anak-anak nya ada di tangan Pak Hatis sebagai kepala keluarga.
" Terima kasih Pak, terima kasih banyak karna sudah merestui saya untyk menjadi pendamping dari Rara." Al langsung bangkit dan memeluk Pak Haris yang tak lama lagi mungkin menjadi Ayah mertuanya kalau Rara menerima lamaran Al.
" Tak perlu berterima kasih kepada saya, saya hanya menjalankan tigas saya sebagai seorang Ayah.. "Pak Hatis membalas pelukan Al sambil menepuk-nepuk punggungnya.
Begitu pula dengan Bu Intan dan Bu Sarah, mereka juga berpelukan sabagai calon besan.
" Terima kasih Pak karna sudah mau memberikan anak saya kesempatan untuk dapat meminang Humaira. Saya harap kita semua bisa segera menjadi keluarga." Pak Yadi mendekati Pak Haris lalu menjabat tangannya dan berpelukan.
" Kalau begitu kapan kamu akan melamar Rara Al? Kalo bisa jangan terlali lama yah, Mamih udah ga sabar buat bikin Rara jadi menantu Mamih. Biar Mamih juga ada temen kalo kamu lagi tugas." Bu Sarah sangat antusias dengan pernikahan anaknya meskipun belum tahu apa jawaban Rara.
" Rencananya sih Al mau ngelamar pas ulang tahunnya Rara."
" Ulang tahunnya Rara? Berarti 2 minggu lagi dong Al?"
" Iya Bu, saya mau ngelamar Rara di hari ulang tahunnya. Tapi nanti Al juga perlu bantuan dari kalian semua biar surprise nya berjalan lancar, Al juga mau minta bantuan sama sahabatnya Rar yang lain."
" Eh.. Iya biasain dari sekarang aja biar enggak terlalu canggung. Tapi kalo enggak mau juga gapapa jangan di paksain."
Mendengar hal itu sebenarnya Al sangat malu dan masih merasa canggung. Berbeda dengan orang tuanya yang senang dan mendukung hal itu.
"Iya, Al biasain darj sekarang aja, nanti Rara juga manggil kita sama kayak kamu Mamih sama Papih."
' Kenapa semuanya jadi heboh gini sih kalo nanti di tolak gimana? Tapi gak papa lah kalo udah deket nanti Rara juga seneng dan nerima lamaram ku. Amin' Gumam Bilal dalam hati.
" Iya Mah.. Pah... Mulai sekarang Al bakalan manggil Mamah sama Papah... Heheh.. "
" Nah gitu dong, terus nanti kita bantuin kamu apa aja?"
" Jadi gini nanti rencananya.... Bla.. Bla.. Bla.. "
Al membertahukan kepada semuanya rencana yang telah dia siapkan untuk melamar Rara.
" Oh kalo gitu Mamih setuju sama rencana kamu Al. Kita pasti bantuin kamu apapun yang terjadi iya kan?"
" Iya Mamah juga setuju sama rencana kamu. Dan Mamah yakin kalo Rara pasti nerima lamaran kamu."
__ADS_1
" Kalo Papih sama Pak Haris ngikut aja lah apa yang terbaik buat kalian. Kita pasti doain yang terbaik bukan begitu Pak?"
" Iya Kami para Ayah mengikuti kalian saja. Kamu tenang aja Al Papah pasti akan bantu kalian semaksimal mungkin."
" Ya sudah kalau begitu karna sudah sepakat kalo nanti pas ultah Rara Al bakalan ngelamar Rara, kami pamit pulang dulu Bu Intan, Pak Haris." Pak Yadi beranjak dari duduknya dan di ikuti oleh Bu Sarah dan Bilal.
" Kenapa buru-buru? Ini kan masih sore kita makan dulu, istri saya juga sudah menyiapkan hidangan spesial untuk kalian."
" Iya, kenapa buru-buru sekali? Kita makan dulu saya juga sudah memasak banyak. Nanti makanannya jadi mubazir." Pak Haris dan Bu Intan mencoba membujuk keluarga Al.
" Bukannya gitu Pah, Mah... Bukannya kita mau nolak ajakan kalian buat makan. Tapi, kalo kita gak pulang sekarang takutnya Rara keburu pulang nanti rencananya gagal." Bilal memberikan penjelasan kepada orangtua Rara.
" Iya, bukannya kami berniat untuk menolak, tapi memang benar kata Al. Kalau kami tidak pulang sekarang, takutnya nanti Rara keburu pulang." Kata Bu Sarah
" Rara itu biasanya juga pulang malem, butik biasa tutup jam 7 atau 8 malem. Masih lama pulangnya juga, lagian ini masih jam setengah empat. Kalian juga pasti belum makan siangkan?" Memang benar apa yang dikatakan Bu Intan karna keluarga Al sudah berada disana sejak pukul 12.30 jadi wajar kalau mereka semua belum makan siang.
" Baiklah kalau memang begitu, kami akan makan terlebih dahulu. Sayang juga makanannya kalau di buang."
" Nah begitu dong, mari..." Ajak Pak Haris pada yang lainnya.
Mereka semua makan dengan khidmat sambil sesekali membahas mengenai rencana pernikahan Al dan Rara.
Setelah makan, Al dan orang tuanya pamit pulang dan di antar oleh Pak Haris dan Bu Intan sampai gerbang.
" Kalau begitu kami pamit dulu Pak, Bu. Kita akan bertemu kembali saat acara ulang tahunnya Rara."
" Iya Pak, hati-hati di jalannya." Jawab Pak Haris.
" Mah, Pah Al pamit pulang dulu ya, nanti kita ketemu 2 minggu lagi. Kalian jaga kesehatan yah, jangan sampe sakit pas Al lamar Rara. Kalian harus hadir sama A iqbal juga."
" Iya Al, kamu juga harus jaga kesehatan, Mamah pasti doain yang terbaik buat kamu sama Rara."
" Kalau begitu mari Pak Bu. Assalamualaikum."
Al mencium tangan Pak Haris dan Bu Intan lalu bergegas ke mobil. Setelah mobil keluarga Al cukup jauh Pak Haris dan Bu Intan masuk kembali kedalam.
" Semoga Al adalah jodoh yang di kirimkan Allah buat Rara yah Pah. Mamah udah gak sabar pengen gemdong cucu dari Rara." Kata Bu Intan sambil memperagakan sedang menggendong seorang bayi.
"Iya Mah, Papah harap juga begitu. Papah rasa Al itu orang yang bertanggung jawab dan bisa membimbing Rara menjadi lebih baik."
### TBC
__ADS_1