My first last love

My first last love
Bab 48


__ADS_3

*Author Pov


Malam ini Milea dan Danis akan berkunjung ke rumah Al. Sejak mereka pindah hanya hari kepindahan saja sahabat dan teman mereka berkunjung. Jadi, saat ini adalah kali kedua Danis dan Milea akan ke rumah Al.


" Jam berapa Milea sama Danis dateng kesini Mai?" Tanyanya saat keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya.


Kebiasaan Al yang satu ini memang sudah tak aneh lagi.  Bahkan sejak awal menikah, Al sudah seperti itu, ia akan berganti pakaian di kamar bukannya di kamar mandi.


" Katanya ini udah di jalan Bi, sekitar 30 manitan lagi mereka sampe." Rara sedang sibuk dengan ponselnya, dia sedang bebalas pesan dengan Milea sambil senderan di sofa.


" Oh...  Kamu udah siapin makanan?"


"Udah tadi sama Bi Asih, tapi cuman makanan ringan aja Bi sama snack."


Setelah berganti pakaian yang disiapkan oleh Rara, Al menghampiri dan duduk di sebelahnya.


" Kamu udah makan?"


"Belum kan nungguin kamu Bi." Rara masih fokus dengan ponsel pintarnya tanpa menatap ke arah suaminya.


" Kenapa harus nungguin aku? Lain kali kamu makan duluan aja yah gak usah nungguin aku dulu. Kamu kan harus minum vitamin tepat waktu. Ini udah jam setengah tujuh malem harusnya kamu minum vitamin jam 6."


" Tapi aku gak mau kalo makan sendirian. Aku maunya makan bareng kamu Bi..."


" Iya kalo aku gak pulang telat gak papa, gimana aku aku telat kayak hari ini? Terus kalo aku ada kerjaan mendadak dan pulang malem kamu mau terus nungguin aku gitu?"  Rara mengangguk.


" Mai... Kamu hatus makan tepat waktu Sayang." Al membelai lembut rambut Rara.


"Kalo kamu gak mau makan sendiri kamu ajak aja Bi Asih sama Mang Asep. Kamu gak mau kan sakit atau ada apa-apa sama anak kita?" Rara mengangguk.


" Sekrang kita makan dulu abis itu kamu minum vitamin. Mau makan disini atau di bawah?"


" Disini aja Bi."


" Ya udah kalo gitu aku ambil dulu makannya ya?" Al hendak bangun tapi tangannya di tahan Rara.


" Aku gak mau ditinggalin, kamu diem disini aja."


" Kalo aku gak ngambil makan, kamu mau makan apa Mai?"


"Kan ada Bi Asih, Bi Asih kan belum tidur  Bi..."


Al menarik nafas panjang. " Heuh.... Ya udah aku ambil telpon dulu Bi Asih nya ya. Kamu diem disini."


Rara mengangguk, Cup...  Al mengecup kening nya. Lalu beranjak ke telfon rumah di nakas. Setelah memberitahu Bi Asih, Al kembali duduk di samping Rara.


" Bi... Kamu mau anak cewek apa cowok?"


" Apa pun itu, mau cewek atau cowok yang penting kamu sama anak kita sehat dan selamat." Al menggenggam tangn Rara.


" Aku juga sama, mau anak kita cewek ataupun cowok. Kita pasti akan menjaga dan mendidik mereka dengan baik. Oh iya Bi.. Kamu udah punya nama kalo buat anak kita?"


"Aku udah ada beberapa nama sih Mai.  Tapi aku belum nentuin siapa namanya. Kalo kamu nyiapin nama gak?"


"  Enggak Bi... Nama buat anak kita biar kamu aja, aku ikut aja apa kata kamu. Bi.. pegang deh bayi kita gerak."Rara meletakan tangan Al ke perutnya.


" Iya, mungkin dia pengen ikutan ngobrol kali yah.Dede, Ayah udah siapin nama buat kamu nak. Tapi kamu harus lahir dulu baru Ayah bisa kasih tahu siapa nama kamu. Kamu juga harus sehat terus yah, jangan nakal."


Al berjongkok di bawah dan mendekat kan wajahnya ke perut Rara. Cup.... Ia mengecup perut Rara yang buncit.

__ADS_1


Cup... Al mengecup keningnya lalu memeluk erat Rara.


Tok... Tok... Suara ketukan pintu membuat Al melepaskan pelukannya.


" Tuan ini Bi Asih, mau anterin makan."


" Oh iya Bi.."


Ceklek... Pintu terbuka terlihat Bi Asih  di depan pintu dengan sebuah nampan. Disana ada sepiring makan malam dan satu poci serta 2 gelas.


Saat malam Rara memang terkadang suka haus, jadi Al sengaja meminta Bi Asih membawa poci.


" Ini tuan... "


" Iya Bi terima kasih, sekarang Bibi istirahat aja dulu. Nanti kalo ada apa-apa saya panggil. Oh iya nanti juga bakalan ada temen saya sama Rara, nanti Bibi jangan tidur dulu yah."


" Iya Tuan, nanti biar Bibi aja yang suguhin makanannya. Tadi Non Rara juga udah bilang. Kalo begitu saya permisi dulu Tuan."


" Iya Bi..."


Al kembali ke dalam setelah menutup pintu. Ternyata istrinya sudah duduk di lesehan di lantai depan meja sofa.


" Kenapa duduk di bawah? Duduknya di atas aja yah dingin." Al menyimpan makan dan minum di meja.


Rara menggeleng " Gak mau aku mau makan di bawah aja. Tapi kenapa makannya cuman satu piring? Kamu gak makan?  Kalo kamu gak makan, aku juga gak mau."


" Aku juga makan Mai...  Emang segini


banyaknya kamu bakalan abis sendiri?"


Kita makan sepiring berdua aja, kasian Bi Asih kalo nyuci banyak."


" Heheh... Iya, sekarang aku suapin. Aaa..." Al terus menyuapi Rara hingga makanan di piring hanya tinggal setengah.


" Aku udah kenyang, lagian dati tadi cuman aku yang makan. Sekarang giliran kamu yang makan biar aku suapin juga."


Rara mengambil alih sendok dan hendak menyuai Al.


" Kamu minum dulu terus minum vitamin. Udah itu baru aku makan."


" Gak bisa kamu harus makan dulu, kamu juga pasti laper. Dari pulang kamu belum makan apa-apa."


" Mai... Kamu harus nurut sama aku. Sekarang kamu minum dulu vitamin. Ini udah telat Mai, gak ada penolakan aku gak suka." Rara mengangguk.


"Nah gitu dong, sekarang minum dulu kamu belum minum." Al mengisi gelas dengan air lalu menyodorkannya dan membantu Rara minum.


"Sekarang minum vitaminnya."


Setelah Rara meminum vitaminnya, Al makan dengan disuapi Rara. Kalaupun Al menolak, akan sia-sia saja karna Rara akan menangis.


Ting. Tong.. Suara bel bebunyi. Bi Asih membukakan pintu nampak disana Milea dan Danis dengan keranjang buah.


" Ini temen nya Tuan Bilal?"


"Iya Bi, kami temen-temennya Bilal sama Rara. Mereka ada kan Bi?"


" Oh iya, silahkan masuk. Biar Bibi panggilin Tuan Bilal nya."


Mereka pun masuk kedalam, Al dan Rara ternyata sudah mendengar suara bel.

__ADS_1


Al dan Rara sesang menuruni tangga, tangan Al melingkar di pinggiran Rara. Ia takut Rara jatuh, lagi pula bukankah menjaga lebih baik dati pada mengobati?


" Hey,  kalian udah dateng?" Tanya Al yang sudah berada di ujung tangga.


" Iya Al. Apa kabar lo?  Udah lama kita gak ketemu."


" Alhamdulillah gue baik. Kalian apa kabar?" Al dan Danis saling berpelukan dan Al hanya bersalaman dengan Milea.


" Kita juga baik Al. Bumil apa kabar nih?"


Tanya Milea


" Alhamdulillah aku juga baik. Aaakkkhh....Mi..  aku kangen banget sama kamu..." Rara mengahampiri Milea dan memeluknya.


"Iya sama aku juga kangen banget sama kamu..... Ra...." Setelah melepas rasa rindu dengan berpelukan,mereka melepaskan pelukannya.


" Kamu kenapa jarang ke butik sih Ra?  Aku bete disana cuman sama si Tia. Dia itu orangnya jutek, terus aku juga gak suka sama sikapnya Ra..."


Milea dan Danis sudah menikah sekitar 4 bulan lalu. Setelah nasehat dari Rara, mereka jadi lebih dekat dan akhirnya menyetujui perjodohan itu. Milea juga masih bekerja di butik untuk mengisi waktu luang. Karna Milea juga belum isi.


"  Akhir-akhir ini aku sibuk sama senam buat bumil Mi. Aku juga agak males sih kalo sering-sering ke butik. Tapi nanti aku usahain deh ke butik kalo aku lagi ke luar."


" Hhmmmm Iya deh..."


Mereka  berempat duduk di sofa, tak lama Bi Asih datang dengan minuman dan cemilan yang sudah Rara dan dirinya buat tadi sore.


" Silahkan , cuman ada itu doang di rumah gue. Maaf yah seadanya."


" Iya gak papa Al, santai aja." Jawab Milea sambil menyeruput minuman yang di suguhkan Bi Asih.


" Oh iya Al gue mau tanya sesuatu nih sama elo."


" Tanya apa Nis?"


" Gue kan sama Milea udah nikah hampir 4 bulan nih. Sedangkan kita sampe sekarang masih di apartemen jadi gue berencana buat pindah. Nah Milea pengennya daerah sini biar ada temen Rara sama gak terlalu jauh juga buat gue ke kantor ataupun Milea ke butik."


" Oh terus?"


" Ya gue mau tanya-tanya aja nih sama elo. Kalo disini beli rumah atau tanah ke siapa? Gue gak punya kenalan soalnya."


" Kalo masalah itu sih, waktu itu gue juga di kenalin sama rekan gue. Tapi kalo gak salah, beberapa waktu lalu gue semoet ketemu sama Pak Rt. Katanya di deket sini ada yang mau jual rumah. Katanya sih yang punya mau pindah ke Solo, tempat asalnya."


" Serius lu Al?"


" Iya Nis, gue serius. Lagian buat apa gue boong sama kalian. Gak ada gunanya juga. Besok atau kapan-kapan deh gue kenalin sama Pak Rt. Biar lebih jelas lagi."


Mereka melanjutkan obrolan dengan berbagai hal. Termasuk masalah dokter untuk konsul, karna Danis juga ingin segera mempunyai anak.


Mereka mengobrol hingga larut malam. Bahkan Rara juga sudah tertidur di sofa, di pangkuan Al. Jam 10, Danis dan Milea memutuskan untuk pulang. Karna mereka juga sudah mengantuk belum lagi besok Milea harus ke butik. Sedangkan Danis maih amab, karna besok weekend.


Setelah mengantar Danis dan Milea, Al membereskan bekas makanan mereka. Al memang bukan termasuk majikan yang mengharuskan ART nya selalu bekerja. Al lebih suka melakukan hal sendiri, selagi dia bisa.


Setelah itu, Al menggendong Rara ke atas dan menidurkan Rara di ranjang dengan perlahan agar tak membangunkannya. Di lepas kan hijab Rara yang ia kenakan dan juga ikatan rambutnya.


" Selamat tidur Mai, mimpi indah ya." Al mengecup kening Rara.Lalu beralih ke perut Rara.


" Kamu juga selamat malam nak, Ayah harap kamu segera lahir dan nemenin Ayah sama Bunda." Tak lupa Al juga mengecup perut buncitnya.


Al juga menyelimuti Rara lalu membacakan do'a tepat di telinga Rara. Al beranjak ke sisi lain ranjang dan ikut berbaring sambil memeluk Rara.

__ADS_1


### TBC


__ADS_2