My first last love

My first last love
Bab 31


__ADS_3

* Author Pov


Seminggu menuju hari-H, Humaira dan Bilal malakukan fitting baju pangantin untuk terakhir kalinya.  Semuanya sesuai dengan keinginan Rara, yaitu menikah setelah 100 hari setelah ulangtahunnya atau lamaran.


Selama kurang lebih 3 bulan, mereka mengurus surat-surat pernikahan ke KUA dan juga laporan untuk urusan militer, undangan,  gedung dan lain sebagainya.


Hari ini Al akan menjemput Rara di rumahnya pukul 10.00 lalu meluncur ke tempat WO. Mereka selesai fitting pukul 12.30. Karna masih siang,  Al berencana memgajak Rara jalan-jalan sebelum mereka di pingit seminggu kedepan.


" Ra.... " Mereka baru saja selesai fitting,  dan masuk ke mobil.


" Heumh....?"


" Gimana kalo kita jalan-jalan dulu sebelum pulang?"


" Kemana?"


" Ya kemana aja bebas,  mulai besok kan kita gak bisa ketemu jadi hari ini kita pergi berdua yuk?" 


" Enggak akh...  Aku mau langsung pulang aja, capek, kepala aku juga pusing." Canda Rara sambil memijit pelipis atasnya.


" Ayolah... Please..  Yah kapan lagi kita keluar. Apalagi selama ini kita sibuk sama urusan masing-masing eumh... " Al menatap Rara penuh harap dengan puppy eyesnya.


" Ppfftt...  Kamu lucu banget pengen nyubit tahu gak?  Uuuuhhhh...." Ia mencubit kedua pipi Al sampai merah.


"Sakit.... Lepasin akh... (Rara melepaskan cubitannya sambil masih terkekeh) Saaakit..... " Ujar Al sedih sambil memegang pipinya.


Humaira yang melihat itu secara refleks mengelus pipi Al dengan sayang.


" Emang aku nyubitnya kenceng banget yah?  Sorry..." Mendapat perhatian seperti itu membuat Al sangat senang karna Rara jarang berprilaku manis padanya.


' Kalo kayak gini terus,  aku rela di cubit sama kamu Ra setiap hari bahkan setiap jam asalkan nantinya kamu elus pipi aku kayak gini.' Batin Al memandang Rara yang masih mengelus pipinya.


" Ya udah deh sekarang kita pergi ke....  Ke pantai aja yah udah lama aku gak ke pantai gimana?"


" Okey siap meluncur..."


Mereka pergi ke arah taman yang jaraknya cukup jauh,  membutuhkan waktu sekitar 4 jam dari tempat WO.


Begitu sampai,  Rara langsung keluar dari mobil dan berlari menuju pantai. Tanpa menghiraukan Al yang masih di belakangnya.


Terlihat rona bahagia di wajah Rara,  senyuman tak pernah luntur dari bibirnya..


" Kamu seneng banget yah bisa ke pantai?" Al menghampiri Rara yang sedang bermain air di pesisir pantai.


" Hhmm... Aku udah lama gak ke pantai kayak gini. Terakhir kali itu kalo gak salah pas ultahnya Milea ke-20. Itu juga susah minta ijin ke Papah, kalo bukan karna orang tua Milea ikut pasti gak bakalan di ijinin."


" Lain kali,  aku pasti bakalan ajak kamu ke tempat yang kamu mau tanpa terkecuali."


" Kita kesebelah sana yu, mumpung lagi disini. Sekalian aja kita telusuri pantai..."


Ajak Al,  Rara pun mengiyakannya saat Al hendak menggandeng tangan Rara, eh si empunya udah ngeleos duluan....


' Ck... Susah banget sih mau pegangan tangan juga.. " Al hanya memandang Rara dari belakang sembari melihat tangannya yang gagal menggandeng tangan Rara...


" Kamu ngapain disana?  Katanya mau pergi ke sebelah sana?" Teriak Rara.

__ADS_1


Al menghampiri Rara yang sudah di depannya... Lalu set...  Dia memegang tangan Rara dengan erat.


" Aku gak mau kamu ilang, jadi kita pegangan tangan aja.  Kalo kamu ilang, bisa-bisa pulang aku di gorok sama Papah lagi... "


" Ya kali aku bakalan ilang di pantai kayak gini.  Aku tuh bukan anak kecil kali Al. Udah ah lepasin ga usah pegangan tangan kayak gini malu tahu banyak yang liatin."


" Al kamu itu denger gak sih kita jalnya gak usah pegangan tangan yah..."


Al berbalik " Ssstt...  Diem.. Mereka pada liatin karna kamu ngomong terus,  kalo kamu diem mereka juga bakalan acuh sama kita. Jadi kamu diem aja dan ikutin aku. Sini.. " Al menarik tangan Rara agar mereka bisa berjalan berdampingan.


Mereka akhirnya berjalan menelusuri pantai sambil bergandengan tangan.  Meskipun awalnya Rara menolak,  tapi tolakan itu tak berjalan lama.  Dia merasa aman dan nyaman saat Al memegang tangannya. Mereka saling menautkan jari masing-masing sambil berjalan menikmati angin sepoi.


Setelah sekiranya cukup puas,  mereka. memutuskan untuk pulang.  Tapi sebelum itu mereka menyempatkan diri untuk makan di salah satu restoran di pantai tersebut.


" Al?..."


" Kenapa?" Mereka sekarang sedang di perjalanan pulang menuju rumah Rara.


" Euhh...  Enggak  deng gak jadi."


" Kamu tuh yah,  kalo mau ngomong ya ngomong aja kali aku bakalan dengerin kok."


" Gini...  Sebenernya aku mau bilang sesuatu sama kamu. . "


Al mengerutkan keningnya.


" Emang kamu mau ngomong apa?"


" Nanti kalo udah nikah nih ya...  Kamu mau manggil aku apa?"


" Enggak kenapa-napa sih, Aku cuman mau nanya doang.  Kalo aku nih yah...  Aku mau manggil kamu dengan sebutan Bi... "


" Bi?  Kenapa? Eung bukan, maksud aku kamu mau manggil aku Bi apa Abi?"


" Bi aja.. Bi Itu bisa juga Beibi,  Abi dan nama kamu kan Bi... Lal.  Kalo aku manggil Kamu Al? Entar dikiranya gak sopan manggil suami nama. Aku juga mau manggil kamu denga sebutan lain biar beda aja sama orang lain. Kalo Aa?  Itu cuman buat A Iqbal aja, sedangkan Kakak?  Kamu itu bukan kakak aku juga. Mas?  Kita gak ada keturunan jawanya, lagian juga agak aneh orang tinggal di Jawa Barat gak ada jawa-jawanya manggil Mas. Akang?  Apalagi kayak tukang siomay.  Jadi aku mau manggil kamu Bi.. Aja gak papa kan?"


" Ouh...  Berarti aku juga harus punya nama panggilan dong buat kamu..  Apa yah...?"


" Kamu bisa manggil aku kayak biasa aja Rara. Gak perlu di ganti."


" Enggak  bisa... Kalo gitu aku manggil kamu Mai aja gimana?"


" Mai? Kenapa manggil aku Mai?"


" Iya Mai. Sama kayak kamu aku juga pengen punya panggilan yang beda buat kamu. Nama kamu juga kan Hu.. Mai..Ra jadi aku ambil dari nama tengah kamu yaitu Mai. And then You are my life,  you are my love, you'll be my wife, you are my soul, you are my  heart, you are my queen and you are my everything for me.... "


Humaira tersipu malu sambil menundukan kepalanya. Mendengar penuturan dari Al barusan hatinya berdegup dengan kencang dan pipinya mulai merah.  Al yang melihat perubahan Rara hanya diam dan tersenyum simpul memperhatikan Rara.


" Kamu kenapa nunduk terus? Udah ngantuk?"


" Euh..?  Enggak kok aku lagi nyari sesuatu aja tadi perasaan ada yang jatoh mana ya?"


Rara mencoba memgalihkan nya pada sesuatu agar tak terlalu gugup.  Tangannya bahkan sudah mulai berkeringat dingin saking gugupnya...


"Nyari apa biar aku bantuin."Al menepikan mobilnya dan mencoba membantu Rara mencari barang yang memang tidak ada tersebut

__ADS_1


" Eng..  Enggak usah gak penting kok barangnya juga. Lanjutin jalan aja udah malem nanti Mamah nyariin."


Al terkekeh melihat Rara yang salting. Sebenarnya dia sudah tau kalau Rara hanya mengalihkan pembicaraan saja dengan bilang mencari barang yang hilang. Menggoda Rara  sepertinya akan menjadi hobi baru Al apa lagi setelah menikah nanti..


" Ya udah kalo gitu.  Nanti aku cari aja yah kalo ketemu aku kasiin ke kamu." Ujar Al melajukan kembali mobilnya.


sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di depan rumah Rara. Al keluaf terlebih dahulj dan membuka kan pintu untuk Rara.


" Silahkan  tuan putri.. " Al membuka kan pintu mobil untuk Rara seraya menunduk dan satu tangannya dekat perutnya.


" Heheh... Apaan sih lebay banget.. "


"Sekarang kamu masuk,  jangan lupa sebelum tidur kabarin aku dulu, besok juga okey."


" Aku gak bisa kirim pesan sama kamu lagi.  Begitu masuk handphone aku pasti langsung di ambil sama Mamah dan gak bakalan di kasih sebelum kita nikah... " Kata Rara sambil tertunduk..


" Yah..  kok gitu sih,  masa kita tukeran pesan aja gak bisa sih? Jadi selama seminggu ini aku gak bakalan bisa komunikasi sama kamu gituh?  Gak bisa di diskon aja gitu handphonenya jangan di jabel?"


Rara menggeleng. " Aku juga udah bilang sebelumnya sama Mamah aku juga udah mohon-mohon sama Mamah, Papah juga.  Tapi keputusan mereka itu udah finish gak bisa di ganggu gugat. Maaf ya... " 


Kata Rara sambil mengayunkan tangan Al.


Al masih saja cemberut karna mulai sekarang hingga satu minggu ke depan dia harus memendam rasa rindunya hingga akad nikah nanti.


" Orang tua kamu kok kejam banget sih sama kita. Kalo gitu...."


Al merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Rara


" Peluk...."


Dia menggunakan senjatanya yakni Puppy eyesnya. Tapi hal itu tak berlaku untuk sekarang karna Rara menolaknya.


" Gak mau..!!!  Mendingan sekarang kamu pulang aja ini udah malem.  Kamu jangan tidur terlalu malem nanti sakit." Rara menurunkan kedua tangan Al ke sampingnya.


" Tapi kan ini untuk terakhir kalinya sebelum kita berpisah.  Satu minggu loh Ra,  bukan sejam ataupun sehari tapi SATU MINGGU HUMAIRA....!!  Yah heumh?"


Al kembali merentangkan tangannya. Tapi dengam cepat Rara menggeleng.


Sekarang Al tak punya pilihan lagi selain pulang dengan hati dongkol. Iya berbalik dengan menundukkan kepalanya setelah mengucapkan selamat malam kepada Rara....


Saat Al hendak membuka pintu mobil ada orang yang menepuk bahunya lalu...


Cup....  Rara mengecup pipi kanan Al dengan tiba-tiba lalu membisikan sesuatu.


" Good Night And I Love You Bi... "


Setelah membisikan hal itu Rara berlari kedalam rumah tanpa menengok ke Al sedikitpun. Dan meninggalkan Al yang masih tertegun sambil memegang pipinya.


" Apakah ini mimpi?  Kenapa Rara tiba-tiba cium pipi... Aaahhh......  Gue gak bakalan cuci muka sampe akad nanti.... " Seketika hatinya jadi berbunga-bunga lalu ia masuk dan melajukan mobilnya menuju rumah...


Sementara Rara, dia langsung masuk ke kamar dan menguncinya. Dia bersender di pintu sambil memgang dadanya yang terus berdetak kencang bahkan bisa terdengar dag...dig... dug.... saking kencangnya.


" Kenapa bisa kayak gitu sih?  Gimana kalo dia mikir macem-macem? Setan dari mana pula yang bikin gue berani nyium Al...  Aaarggghh.......!!!!!  Bego! Bego!! Bego!!! "


Ia merutuki dirinya sendiri sambil memukul-mukul kepalanya.... 

__ADS_1


### TBC


__ADS_2