
*Author Pov
Begitu sampai di halaman, Humaira langsung keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan keras. Dia lanhsung masuk ke dalam kamar dam nenguncinya dari dalam. Baru saja dia mendapat kabar yang membahagiakan tentang kehamilan nya. Sekarang dia harus mendapat kabar yang tak enal dari suaminya.
Flash Back On
Saat ini Rara dan Al sedang berada di perjalanan pulang. Tangan kiri Al menggenggam tangan kanan Rara dan sesekali dia cium tangan itu.
Terlihat keduanya sangat bahagia, senyuman bahagia tak pernah luntur dari bibir keduanya. Tangan Rara yang satu memegang sebuah foto, foto hasil USG yang memperlihatkan janin yang kinj sedang ada dalam perutnya. Dia fokus pada foto itu dan seskali dia elus oerut ratanya.
Mobil berhenti saat lampu merah. Tiba-tiba Al mengingat ucapan Komandannya tadi siang.
" Mai... "
" Heummhh... " Rara masih fokus pada foto di tangannya.
" Mai... Tatap mata aku dulu." Rara menatap Al dengan senyuman yang masih mengembang di bibirnya.
" Aku mau ngomong sesuatu yang serius sama kamu. Tapi aku mau kamu harus janji dulu kalo kamu gak bakalan marah." Kata Al sedikit ragu dia menatap manik istrinya dengan penuh kesungguhan.
Karna bahagianya masih dalam mode on, Humaira mengangguk.
" Emang kamu mau ngomong apa sih Bi? Aku gak bakalan marah kok. Kecuali kalo kamu mau tinggalin kita, aku pastikan bakalan marah apa lagi buat cewek lain." Jawab Rara seraya mengusap perutnya dengan sedikit bercanda.
Deg!!!! Mendengar istrinya bilang 'tinggalin kita' hati Al menjadi tak tega.
" Mai... Aku gak bakalan ninggalin kamu dan calon bayi kita apa lagi buat cewek lain. Tapi.. "
__ADS_1
Al tak sanggup melanjutkan perkataannya. Al takut kalau Rara akan marah dan sedih.
Tapi, bagaimana pun dia juga harus tetap memberitahu istrinya dari pada dia harus menghilang begitu saja.
Sebelum melanjutkan kalimatnya, Al mengambil nafas dalam-dalam dja menggenggam erat tangan Humaira dan menatap matanya.
" Mai, kamu dengerin aku baik-baik ya. Kamu tahu kan kalo aku ini seorang perwira. (Rara mengangguk) Kamu juga ngerti kan kalo tugas seorang perwira itu cukup berat, kita harus mempertaruhkan jiwa dan raga kita untuk melindungi warga dan negara. Kira sebagai perwira harus selalu siap siaga untyk hal itu. Aku seorang TNI AL setidaknya akan selalu berhubungan dengan perarin/laut di Indonesia. Aku cuman mau ngasih tahu kamu kalo aku dapet tugas dari Komandan tadi siang. Aku harus pergi ke Papua karna perairan disana sesang kacau, banyak kapal asing yang berlayar disana tanpa izi, bahkan banyak dati mereka yang mengkalaim bahawa itu adalah wilayah negara mereka. Dan jumlahnya itu gak sedikit makanya banyak TNI dari wilayah lain yang dinkirim kesana untuk membantu termasuk aku. Karna ini menyangkut negara kita Mai, aku ingin memberikan yang terbaik buat negara kita ini. Udah menjadi tugaa kita sebagai perwira untuk tetap menjaga negara ini dari negara-negara yang ingin merebut. Kamu ngerti kan sayang Mai... Heumh?"
Al menjelaskan semuanya dengan hati-hati. Tapi, saat itu juga Rara menarik tangannya dari genggaman Al. Senyum yang sedari tadi terukir dj bibirnya hilang sekatika. Rara lebih memilih untuk memandang keluar jendela, dia tak mau memandang atau pun mendengar penjelasan apa pun dari suaminya.
Sebagai seorang suami Al cukuo paham dengan sikap istrinya. Mereka baru saja mendapat kabar yang membahagiakan tapi di saat yang bersamaan Al hatus pergi meninggalkan istrinya yang tengah hamil muda.
Selama perjalanan pulang, hanya hening yang menyelimuti mereka dan suara kendaraan yang berlalu lalang yang menemani. Tak ada pembicaraan apa pun yang keluar dari mulut mereka.
Flash Back Off
Tok.. Tok.. Tok..
" Mai... Sayang.... Rara... Humai... Istriku... Kamu dengerin aku dulu dong Mai.. " Tak ada jawaban.
Tok.. Tok.. Tok..
" Mai... Humaira... Ra!... Buka duu dong pintunya Sayang... Mai... " Masih tak ada jawaban, Al terus saja mencoba membujuk istrinya. Dia terus menggedor pintu dan memanggilnya.
Setelah cukup lama, Al lebih memilih untuk mengalah dan membiarkan dulu iatrinya untuk tenang. Kalau pun dia terus mengetok pintu pasti tak kan ada hasilnya.
" Ya udah kalo kamu masih pengen sendiri. Tapi marahnya jangan lama ya Mai... Sekarang mendingan kamu istirahat dulu aja. Goos night Mai Love you... " Al mencium pintu kamar sebelum dia beranjak pergi jntuk mengunci pagar dan pintu.
__ADS_1
Setelah itu dia ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi sekalian mengambil wudhu untuk sholat. Al memilih tidur tidur di kamar sebelahnya karna kamar utama masih di kunci oleh Rara dan dia juga tak ingin mengganggu istrinya yang mungkin sudah terlelap tidur.
Humaira Pov
Hati kua sangat bahagia mendengar pernyataan dari dokter, tak lama lagi aku akan menjadi seorang ibu. Tapi saat perjalanan pulan dari RS. suami ku memberiku kabar yang bisa di bilang tak baik bagiku. Mendengarnya akan pergi ke Papua untuk menjalankan tugas, hati ku sangat tak rela kalaj aku harus di tinggalkan sendiri saat ini.
Selama perjalanan pulang, aku tak ingin menatap wajahnya. Aku lebih memilih memandang ke arah luar jendela dan diam seribu bahasa. Sebenarnya saat itu juga aku ingin menangis sejadi-jadinya tapi ku rasa itu akan sia-sia saja.
Setelah sampai halaman rumah aku lari masuk kedalam ku kunci pintu kamar. Tubuhku merosot ke bawah kaki ku sudah tak sangguo lagi bertahan tangisan dan air mata yang sedari aku tahan akhirnya tumpah juga. Aku bersandar ke pintu, aku menangis tanpa suara ku tutup mulutku dengan tangan.
Perasaan ku sangat sangat kacau aku tak bjsa berfikir dengan jernih. Egois?! Sepertinya aku tak kan mampu. Sejak awal aku seharusnya aku tahu kalau menjadi seorang istri perwira itu harus kuat bila seandainya suatu saat nanti suami kita pergi meninggalkan kita demi mempertahankan negara. Tapi jika harus di tunggal secepat ini rasanya aku tak kan sanggup.
Air mataku terus saja mengalir tanpa bisa ku cegah, hingga rasanya sudah tak tersisa lagi air mata itu. Ingin rasanya aku egois dan melarang Bilal untuk pergi. Tapi aku harus tegar, yang seharusnya aku lakukan aaat ini mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk suamiku. Seharusnya aku bangga karna mempunyai suami seperti dia karna dia bukan hanya akan melindungi keluarganya saja tapi juga semua orang.
Setelah kurasa cukup tenang, ku buka kunci pintu aku mengedarkan mataku ke ruang tengah tak ada tanda-tanda keberadaannya. Aku lihat ke luar lewat jendela, aku melihat mobil Al sudah terparkir rapih di halaman rumah. Melihat itu aku sedikit lega karna setidaknya dia tak meninggalkan kami saat itu juga.
Untuk lebih menenangkan diri aku beranjak ka kamat mandi untuk mengambil wudhu dan menunaikan sholat isya.
Setelah sholat, akukeluar kamar lalu ku buka pintu kamar di sebelah ku. Ku lihat suamiku sedang terlelao tidur sambil memunggungi pintu. Ku tutup pintu dengan perlahan agar tak membangunkannya. Lalu aku beranjak naik ke kasur secara diam-diam, ku buka selimut lalu ku tuto tubuhku dengan selimut itu. Aku perlahan membaringkan tubuhku dan mendekat pada Al. Ku peluk dia dari belakang dan ku sandarkan kepala ku di punggungnya. Sedetjk kemudian Al berbalik dan memelukku dengan sangat erat.
" Maaf ya Mai... Aku gak bermaksud buat bikkn kamu sedih. Aku cuman gak mau kalo nanti kamu salah paham kalo aku gak bilang dulu sama kamu. Kamu mau maafin aku kan?" Bilal berbicara padakh dengan sangat lembut dengan mata yang masih terpejam.
Tanoa berniat menjawab, aku hanya menganggukkan kepala ku, Al membelai rambutku dan mencium keningku dengan sangat lembut. Hangat dan nyaman, itulah yang aku rasakan saat ini.
" Ya udah sekarang kamu tidur ya. Jangan terlalu dipikirin juga nanti kamu bisa sakit dan itu gak baik buat bayi kita.." Aku kembali mengangguk, mata ku mulai terasa berat dan terpejam hingga akhirnya aku terlelap tidur dalam dekapan Al.
### TBC
__ADS_1