
** Authoor Pov
Setelah para dokter ke luar, Bilal mengikuti mereka dan...
" Pih..." Bilal memanggil salah satu dokter yang tak lain adalah Papihnya sendiri yah,, dokter Yadi adalah ayahnya Bilal.. Merasa di panggil Pak Yadi menwngik dan menyuruh yang lainnya untuk duluan.
Pak Yadi hanya diam, sebenarnya beliau bingung saat melihat anaknya ada di dalam tadi, karna tadi saat keluar setelah oprasi tak melihat Bilal, karna dia sedang pergi untuk membeli minumam.
" Keadaan Bu Intan beneran baik baik aja kan?" Pak Yadi hanya mengerutkan keningnya.
" Kamu ini ketemu Papih bukannya tanya kabar, malah tanyain kabar orang... Keadaan Bu Intan ya seperti yang kamu denger tadi beliau baik-baik saja. Kenapa kamu bisa ada disini? Kamu kenal sama mereka?"
" Kita kan sering ketemu Pih di rumah.... Syukur deh kalo gitu. Bilal masuk dulu ya Pih." Saat Bilal mau melangkah Pak Yadi memanggilnya.
" Al? "
" Kenapa lagi Pih? "
" Kamu belum jawab pertanyaan Papih, kamu kenal sama mereka?"
" Oh itu, anaknya Bapak yang di dalem itu temen SMP Al, kemaren kita kan abis kemping dan kebetulan Al yang nganter dia pulang eh ternyata ada kabar kalo Mamahnya di RS jadi Al anterin."
" Oh... Terus kenapa kamu masih disini? Kenapa ga pulang aja? Kan disana juga udah ada keluarganya."
" Iya sih, tapi Al takut ada apa-apa, kasian juga disini ga ada cowok, Pak Haris kayaknya udah lelah dan Rara dia itu orangnya gampang panik. Jadi Al ikut nungguin Bu Intan.. "
Pak Yadi mendengar jawaban dari anaknya hanya memicingkan matanya.
" Kamu yakin karna hal itu kamu masih disini? Bukan karna hal lain? Kalo Kesya tau kan bisa salah paham."
" Ya iyalah Pih kalo bukan terus karna apa? Masalah Kesya, Al sama dia udah lama putus dan ceritanya panjang nanti Al ceritain kalo udah di rumah."
" Okey... Kamu udah ngabarin Mamih kan? Dia pasti khawatir jam segini kamu belum pulang karna kamu janjinya kan pulang hari ini."
" Ya ampun Al sampe lupa, ( katanya sambil menepuk jidat) ya udah Al mau telfon Mamih dulu ya Pih."
Al langsung menghubungi ibunya dan pergi meninggalkan Pak Yadi. Melihat hal itu Pak Yadi hanya geleng kepala sambil tersenyum dan pergi untyk mengecek pasien yang lainnya.
Setelah 3 hari Bu Intan di rawat sahabat Rara berencana menengok, karna selama ini mereka masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
" Assalamualaikum" Kata mereka serempak saat memasuki ruang inap Bu Intan, ternyata disana tidak hanya Rara tapi juga ada Dokter Rava dan mereka sedang mengobrol bersama.
" Walaikumsalam. Masuk aja. " Jawab Rara lalu menyuruh mereka masuk.
Ada Ivi, Lia, Putri, Sinta, Fauzia, Nino dan juga Bilal. Azra tak bisa ikut karna masih di Paris. ( kalo lupa Azra itu seorang pilot ya)
Begitu masuk Bilal menatap Rava dengan tatapan yang sulit diartikan, hal tersebut juga tak luput dari Lia. Sebenarnya Lia yang notabenenya seorang Psikiater sudah merasa ada hal yang aneh antara Bilal dan Humaira.
* Flash Back On
Setelah kepergian Al yang menyusul Rara Lia mulai merasa curiga bahkan sejak mereka datang, saat yang lainnya sibuk bernyanyi Al sering kali tertangkap basah sedang memperhatikan Rara dan sekarang dia lebih memilih menemani Rara ketimbang ikut dengan yang lain.
Bahkan gestur tubuhnya pun mengatakan kalu dia ada ketertarikan pada Rara.
__ADS_1
" Guys guys,, kalian ngeras ada yang aneh ga sama si Al?" Mereka sekarang sedang di perjalanan menuju tempat berkuda.
" Aneh? Aneh gimana maksud loe Lia?" Kata Azra yang sedang fokus menyetir.
" Ya itu dia itu kayaknya ada rasa deh ke Rara, kalian liat ga pas tadi dia bilang mau nemenin Rara aja ekspresinya itu bukan kaya temen yang mau nemenin temennya tapi kaya orang yang mau ngajak jalan gebetannya.."
" Ah.. Itumah perasaan lo doang kali mereka bisa aja kok ga ada yang aneh."
" Ya emang bukan mereka Put tapi gue bilang si Al, gue yakin pasti ada apa-apa.. "
" Udah deh ya.... Naluri psikiater lo ga usah lo pake buat ikut campur urusan mereka, kalo pun iya si Al ada perasaan sama Rara ya udah kita dukung aja lagian gue rasa mereka juga cocok kok.." Timbal Ivi...
* Flash Back Off
Dan saat ini Lia juga melihat hal yang sama Al terlihat kurang suka melihat kedekatan dokter Rava dengan Rara bahkan dengan Ibunya, mereka tadi sedang bersenda gurau bersama dan Rara terlihat sangat bahagia...
' Gue yakin elo pasti ada rasa ke Rara Al, karna naluri gua gak mungkin salah.' Ucap Lia dalam hati sambil memperhatikan Al yang pandangannya tak lepas dari Rara dan dokter Rava..
" Sepertinya ada tamu, saya permisi dulu ya Bu, nanti saya periksa lagi kalau perkembangan ibu meningkat besok ibu sudah bisa pulang. Duluan ya Ra.. "
" Ga usah sungkan itu juga udah jadi kewajiban Kakak sebagai dokter." Dokter Rava lalu keluar sambil tersenyum menyapa sahabat Rara..
Setelah Dokter Rava ke luar sahabat Rara masuk untuk menyapa Mamahnya dan memberikan bingkisan yang mereka bawa sambil salim ke Bu Intan
" Itu siapa Ra? Kok elo manggil doker itu Kakak sih?" Nino meskipun dia cowok tapi tingkat ke kepoannya melebihi cewek..
" Elo mau tau aja apa mau tau banget?" Humaira bertanya dengan sedikit menggoda Nino, dia tau pasti Nino amat sangat ingin tau
Sinta:" Heh elo tuh ya, nengok orang sakit malah mau ngerumpi. Tanyain ke keadaan Mamahnya Rara, gimana udah sembuh atau apa malah nanyain dokternya ckckck"
Sinta benar-benar tak habis fikir dengan kelakuan Nino, saat ini mereka sedang di rumah sakit dan sedang menengok Mamah sahabatnya
bukan menengok Rara..
Fauzia: " Ehehh.... Maaf ya tante sahabat saya yang satu ini emang agak lemes, harap di maklum dia emang kadang suka ga tau tempat. Oh iya, tante udah mendingan?" Fauzia yang merasa tak enak atas sikap Nino, akhirnya lebih memilih untuk meminta maaf.. Sedangkan orang yang di bantu hanya nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
Bu Intan:" Iya, gapapa malahan bagus jadi lebih rame Tante juga selama disini bosen ga ada temennya cuman ada Rara sama dokter yang tadi aja. Makasih ya udah mau jenguk pake bawa bingkisan segala lagi padahal ga usah bawa apa-apa.. Keadaan tante sekarang alhamdulillah udah mendingan."
Putri:" Syukur deh kalo gitu. Maaf ya Tan kita baru sempet nengok, soalnya sibuk sama kerjaan."
__ADS_1
Rara:" Iya gue ngerti kok makasih udah sempetin datang."
Ivi:" Iya elo kayaknyang ke siapa aja sih Ra, kata kan temen."
Bu Intan:" Oh iya, kali itu temen-temennya SMP Rara kan ya? Ini Nino, Sinta, Fauzia, Putri, Ivi, sama Lia dan itu Bilal yang kemaren kan ya?"
Bu Intan menunjuk satu per satu dari mereka sambil menyebutkan namanya dan yang di panggil hanya mengangguk sambil tersenyum.
Nino:" Iya tante masih inget sama kita ternyata."
Bu Intan:" Iya soalnya kalian dulu sering main ke rumah jadi tante hafal apalagi sama kamu,(menunjuk Nino) kamu dari dulu ga berubah paling heboh kalo lagi kumpul. Tapi kayaknya ada satu lagi yang ga ada, Azra bukannya?
Lia:"Iya tante dia masih di Paris, jadi belum sekarang ga bisa ikut."
Bu Intan:" Paris? Dia lagi liburan disana?"
Rara:" Engga Mah dia itu pilot tapi mungkin juga sekalian liburan sih."
Begitu lah mereka semua mengobrol dan seaekali tertawa bersama ruangan yang selama ini sepi menjadi ramai dengan kehadiran dari sahabatnya.
Rara juga menjelaskan kalau Dokter Rava itu kakak kelasnya sewaktu SMA, dia juga bercerita kalau dulu Dokter Rava sering mengejarnya bahkan pernah nembak di depan kelasnya tapi ia tolak.
Sekarang mereka bertemu kembali tetapi perasaan Dokter Rava pada Rara sekarang hanya sebatas teman dan kakak adik saja makanya tadi dia memanggil kakak ke timbang Dokter saat tak ada orang rumah sakit.
Setelah itu sahabat Rara berpamitan pulang.... Dan saat sampai pintu Lita datang membawa makan dan bajunganti untuk Rara. Lita memang di mintau tolong oleh Rara untuk membawakannya baju ganti pada Intan. Selama Bu Intan di rawat Iqbal dan Intan memang tinggal di rumahnya untuk menyaipkan kebutuhan Pak Haris. Lita memang sudah mengenal semua anggota keluarga Rara termasuk Intan bahkan Keluarga Rara menyuruh Lita untuk tinggal bersama mereka tapi Lita menolak karna tak ingin merepotkan meskipun sesekali dia menginap.
Srek... pintu kamar terbuka menampilkan Lita yang membawa tas makan serta pakaian ganti untuk Rara.
" Eh Lita, kamu udah dari tadi apa baru dateng?"
" Lita baru dateng kok Mba, pas mau buka pintu eh udah ke buka duluan."
" ohhh... Ya udah masuk aja Mba mau anterin temen Mba dulu kamu temenin Mamah aja di dalem."
" Iya Mba... " Kata Lita menuju ke dalam sambil menyapa teman Rara dengan tersenyum dan mengangguk.
" Ekhem gak di kenalin nih Ra?"
" Elo mau mau kenal sama Lita No?" Nino langsung mengangguk pasti sambil tersenyum.
" Kenalin ini namanya Lita, dia kerja di butik gue dan udah gue anggep kaya adek gue sendiri, karna dia disini ngerantai sendiri dia dari Jawa. Dan Lita ini, Nino, Bilal, Sinta, Ivi, Putri sama Fauzia mereka sahabat- sahabat Mba pas SMP."
Humaira memperkenalkan mereka semua sambil bersalaman. Lalu mengantar sahabatnya sampai Lift, meskipun Nino ingin berkenalan lebih banyak lagi, tapi tak di hiraukan oleh Humaira...
**### TBC**
__ADS_1