My first last love

My first last love
Bab 36


__ADS_3

*Humaira Pov


Sudah seminggu sejak aku dan Bilal pindah ke asrama. Tak ada masalah apapun dengan asrama, aku cukup suka rumah yang tidak terlalu luas, tapi menurutku itu sudah cukup dengan 2 kamar, dapur ruang keluarga serta kamar mandi.


Aku memang tak terlalu menginginkan rumah yang terlalu luas atau besar, karna aku ingin menjadi ibu rumah tangga jadi tak akan terlalu menguras tenaga saat aku membereskan rumah. Halaman depan yang asri, terdapat pohon mangga, jambu air, dan beberapa bunga. Tinggal di asrama tenyata tak seburuk yang aku pikirkan, meskipun aku belum mengenal semua orang tapi setidaknya di samping rumahku ada Ibu Retno. Beliau adalah istri dari Komandan Bilal. Sejak pertama kali kami pindah kemari, beliau sangat ramah pada kami.


Hari-hari aku jalani layaknya seorang istri, aku menyiapkan keperluan suamiku seperti pakaiannya dan membutkannya sarapan.


" Bi... Ayo bangun ini udah jam setengah lima." Aku menepuk-nepuk pipinya.


"Ehmmm.... Bentar lagi ya Mai..."


" Hak bisa!!! Ayo cepet bangun, terus mandi abis itu kita sholat subuh." Aku menarik tangan Bilal agar dia segera beranjak dari kasur.


" Eungg.... Uuu... " Dia memonyongkan bibirnya, sebenarnya aku tahu apa maksudnya tapi aku hanya menepuk bibirnya dengam telapak tanganku.


" Kamu mah... Aku gak bakalan bangun sebelum ini.. " Dia menunjuk bibirny dengan telunjuk.


Cup... Aku memgecup sekilas bibirnya lalu dia segera beranjak dari tidurnya dan menuju kamar mandi


Saat ini kami sedang sarapan.


" Euhm... Bi.."


" Kenapa Mai..?"


" Aku hari ini mau ke butik boleh ga? Udah lama juga aku gak kesana.."


" Boleh kok... Kamu mau kesana jam berapa? Kalo udah siang biar aku anter aja pas istirahat."


"Aku palingan berangkat sekitar jam 10 deh kayaknya. Nanti biar aku pesen ojol aja, gak usah di anter."


" Kamu yakin? Kamu kan belum tau daerah sini Mai, tunggu aku istirahat aja yah.. "


" Aku yakin kok Bi, kamu gak usah kuatir. Kalo aku nunggu kamu istirahat aku bosen di rumah terua Bi... Aku kan belum terlalu kenal sama yang lain palingan cuman Bu Retno doang. Kamu juga waktu istirahat itu ya di pake buat istirahat kalo kamu nganter aku nanti malah cape."


" Ya udah tapi nanti hati-hati ya, kalo ada apa-apa langsung hubungi aku."


"Iya, kamu gak usah kuatir."


" Kalo gitu aku berangkat sekarang yah takut telat buat apel." Bilal beranjak dari duduknya menuju ke depan begitu pula dengan diriku.


" Aku berangkat dulu ya Mai, kamu hati-hati di rumah, nanti juga kalo udah sampe kasih kabar. Satu lagi kamu lebih baik pulangnya nanti sore aja biar aku jemput."


" Iya-iya bawel, udah sana berangkat tadi katanya takut telat mau apel sekarang malah ngomong terus."


" Ya kan aku khawatir sama kamu Mai...


Aku berangkat ya. Assalamualaikum.. "


" Iya, kamu juga hati-hati yah di jalan. Walalikumsalam... "


Aku mencium tangan suamiku dan dia mengecup keningku. Hal yang selalu kamu lakukan setiap Bilal akan pergi bekerja.


Bilal masuk kedalam mobil, lalu melajukannya. Sebelum itu dia melambaikan tangannya dan aku pun membalas lambaian tersebut. Setelah mobil Al tak nampak dari pandanganlu aku masuk ke dalam untuk membereskan rumah.


Setelah urusan rumah beres, aku segera bergegas mandi dan bersiap. Sudah lama aku tak berkunjung ke butik. Terakhir kali seminggu sebelum aku menikah, dan itu sudah 2 minggu lebih. Setelah selesai, ku ambil ponselku dan ku pesan ojol. Perjalanan dari asrama ke butik cukup jauh membutuhkan waktu sekitar 45 menit.

__ADS_1


Aku turun dari motor dan memberikan uang ongkos. Aku segera bergegas masuk, dan ternyata sedang ada pelanggan yang di layani Milea. Aku ikut berpura-pura menjadi seorang pembeli juga. Aku asil melihat lihat sambil di dampingi Lita. Setelah pelanggan pergi aku langsung memeluk Lita dan Milea dengan bahagia.


" Aaahhh.... Aku kangen banget sama kalian..."


" Iya Mba sama Lita juga kangen sama Mba Rara. Mba apa kabar sama Mas Al?"


" Alhamdulillah kami baik, kamu gimana?"


" Alhamdulillah Lita juga baik."


" Kalo si dede apa kabar debay? Doain tante yah biar cepet isi, biar nanti debay nya ada temen buat main... "


Aku sidikit membungkuk untuk menyamakan posisiku dengan perut Lita yang sedikit membuncit seraya ku elus-elus perutnya. Lita memang sedang mengandung hasih buah cintanya dengan Nino, saat ini usia kandungannya sudah menginjak 3 bulan.


" Baik tante, aku tumbuh dengan sehat tan. Tante juga semoga cepet isi yah tan biar nanti aku ada temen buat main." Jawab Lita sambil menirukan suara anak kecil..


" Ahahaha...." Kami semua tertawa bersama


" Tumben kamu kesini Ra? Bosen yah tinggal di asrama?"


" Iya Mi, aku bosen banget diem di asrama terus. Ini tuh baru aja seminggu, gak kebayng deh kalo aku harus terus diem di asrama terus... "


" Emang kamu gak ada kenalan disana, tetangga deket gitu?"


" Ada sih sebenernya, Bu Retno yang tinggal di sebelah aku beliau juga baik orangnya. Tapi masa iya tiap hari harus gangguin Bu Retno terus kan gak mungkin. Beliau juga pasti punya kesibukan sendiri."


" Ouh.... Yang sabar ya Raraku sayang." Ucap Milea sambil memeluk ku.


" Oh iya, kita kayaknya harus cari karyawan lain deh."


" Kenapa emangnya Mba? Mba mau buka butik baru lagi?"


" Jadi lebih baik dari sekarang kita mulai cari karyawan yang bisa di amanatin."


" Iya sih kalo kayak gitu aku setuju. Lebih baik dari sekarang dari pada nanti dadakan, mending kalo langsung dapet kalo enggak bisa repot nantinya."


Kami pun melanjukan mengobrol sambil membahas beberapa hal, tapi saat terdengar suara lonceng otomatis kami hentikan bincang-bincang hangat kami.


Seperti saat ini suara loceng pintu butik berbunyi tanda ada orang masuk. Nampak seorang pria dengan pakaian casual masuk sambil tersenyum lebar.


Melihat orang itu raut wajah Milea langsung berubah jutek benar-benar jutek. Selama aku bersahabat dengan Milea, baru kali ini aku melihat Milea jutek kepada seorang pria. Biasanya kalau ada yang mendekatinya Milea hanya akan acuh tak menggubris dan bersikap seperti biasa.


' Kayaknya ada sesuatu yang terlewatkan nih... '


" Eh, Danis... Elo mau beliin baju siapa nih? Sampe pergi ke butik gue segala." Yah orang itu adalah Danis, sebenarnya aku tak tau pasti apa yang terjadi di antara mereka. Aku hanya bisa menerka-nerka kalau Danis mempunyai perasaan pada Mile. Sejak kami kumpul di rumah Bilal, aku tak pernah membahas hubungan mereka. Kalau pun aku chatingan dengan Milea hanya sebatas masalah butik dan K-pop.


" Gue kesini bukan buat belanja Ra! Tapi gue kesini mau.... Ketemu seseorang."


Katanya dengan masih mempertahankan senyum di bibirnya.


" Kalo elo kesini mau ketemu orang, kayaknya elo salah tempat karna di butik gue ini gak terima orang yang janjian buat ketemu. Kalo elo mau ketemu seseorang yah di caffe kek, di mall kek, atau di mana gitu.. Bukan nya di butik Danis..!!!" Ucapku pura-pura tak tahu dengan maksud Danis.


" Ihh.... Elo mah gak peka banget sih Ra?! Gue itu kesini mau ketemu sama bidadari gue Ra!! Sahabatnya udah kece gini masih aja gak peka!!!" Danis berjalan masuk dan menghampiri kami.


" Sahabat? Siapa yang elo panggil sahabat Nis? Perasaan kita dari dulu gak deket layaknya sahabay deh... " Canda ku seraya mengerutkan kening.


" Ya gue dong Ra! Gue ininlan sahabatnya si Al dari orok otomatis sekarang kita juga sahabat kan elo. istrinya si Al."

__ADS_1


" Oh iya?"


"Ohhh... Jadi gitu yah, gue udah bantuin si Al buat ngelamar elo. Sekarang elo malah gak mau ngakuin gue jadi sahabat lo... Habis manis sepah di buang ini mah namanya.. "


" Ppuahahahaha...." Tawa ku pecah ketika melihat ekspresi Danis yang berpura-pura merajuk.


" Elo jadi cowok kok sensian banget sih Nis.. Gue bercanda kali.."


" Tapi elo emang mau ketemu siapa di butik gue? Disini cuman ada gue, Lita sama Milea doang. Gak mungkin kan kalo elo mau ketemu gue atau Lita...?"


" Ya enggak lah, ngapain juga gue ketemu sama bini orang? Gue juga masih waras kali Ra! Gue kesini mau ketemu sama yayang bebeb gue Ra Neng Milea... Hehhee... "


Senyum yang sempat hilang hilang tadi sudah kembali tapi kali ini membutku ingin muntah. Danjs tersenyum dengan sedikit genit sambil menatap Milea.


Bukannya membalas senyuman Danis, Milea malah membalasnya dengan pelototan.


" Apa??!!! Yayang?!! Gue bukan yayang elo kali, terus tadi elo bilang apa bebeb? Neng? Ihh.... Jangan halu deh...!! "


Aku mengaga... Baru kali ini aku mendengar Milea dengan kata Elo-gue. Spertinya ada hal yang tidak aku ketahui tentang mereka.


Mendengar jawaban dari Milea, Danis tampak sangat kecewa lalu peegi begitu saja tanpa mengucapkan apapun.


Milea langsung berlari ke atas menuju kantor. Aku mengikutinya dan menyuruh Lita untuk diam disini takut ada pembeli yang datang.


Milea nampak sangat marah, wajahnya sudah sangat merah dan matanya sudah berkaca-kaca. Dia duduk di sofa yang menhadap ke arah luar. Aku menghampiri nya dan ikut duduk, ku tepuk bahunya.


" Mi... "


Dia menoleh lalu memelukku dengan sangat erat dan menangis sejadi-jadinya. Ku balas pelukannya seray ku tepuk-tepuk punggungnya agar diaerasa lebih baik. Aku tak berani bertanya apa pun, saat ini dia sedang menangis kalaupun aku ajak bicara pasti tak kan benar.


Setelah puas menangis, dia mulai beranjak dari pelukan ku. Matanya tampak sembab, hidungnya merah masih ada sisa air mata yang menggenang di sudut matanya.


" Maaf yah Ra, gara-gara aku baju kamu jadi basah.. "


" Gak papa Mi, santai aja.. "Jawabku tersenyum dia juga tersenyum...


" Aku tahu, saat ini pasti banyak pertanyaan dalam benak kamu. Kenapa aku bisa sampe kayak gini?"


Aku hanya mengangguk karna saat ini aku benar-benar bingung dengan apa yang terjadi barusan.


" Tapi kalo kamu emang belum siap buat cerita, gak papa kok kapan pun kamu siap but cerita aku pasti dengerin."


Milea menggeleng. " Aku udah siap kok buat cerita semuanya sama kamu. Jadi gini....... "




Ini sudah jam 7 malam waktunya butik untuk tutup. Kalau dulu butik akan tutup sekitar jam 8 kali ini butik tutup jam 7. Selain karna Lita yang hanya sampai jam 4 sore, aku juga tak tega kalau Milea harus pulang malam, karna jarak dari rumahnya ke butik sekitar 1 jam sedangkan dulu Lita hanya 15 menit juga sudah sampai.



Bilal sudah datang sejak setengah jam yang lalu, dia sudah berganti pakaian dengan. Dia pasti kelaparan sebenarnya aku tak tega, karna Al pulang jam 5 sore biasanya di rumah sudah tersaji makanan. Sedangkan sekarang? Dia harus menahan lapar dan menjemputku di butik.



Setelah selesai mengunci butik kami pun pulang, dan mampir terlebih dahulu ke aebuah restoran untuk makan malam.

__ADS_1



**### TBC**


__ADS_2